
Setelah pernikahan itu, aku tidak pernah lagi tahu kabarnya Mas Rio dan istri mudanya.
Akupun sedikit lega dengan ancaman mas Rio akan membawa Niko dariku dan itu tidak akan terjadi.
Sujud syukur aku panjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa, karena mas Rio mengatakan kalau dia tidak akan pernah membawa Niko dariku dan itu yang dikatakan mantan ibu mertuaku.
"Alhamdulillah bu, terima kasih bu, ibu udah banyak membantu lara, aku sangat bersyukur sekali" ucapku lewat telepon
"iya sama-sama sayang inikan buat kebaikan cucu ibu, maafkan ibu belum sempat menengok kalian, walaupun kamu sudah tidak jadi istrinya anak ibu, tetapi ibu tetap sayang sama kamu lara, dan juga Niko" ujar ibu Niken mantan ibu mertuaku
"iya bu terimakasih, lara juga sayang sama ibu, ibu selalu jaga kesehatan ya"...
Lalu aku tutup telepon dari mantan ibu mertuaku dan tersenyum dengan melihat ke kedua orang tuaku.
"Ada apa Clara?" tanya ibu
"iya nak ada apa?" tanya bapak juga
"mas Rio nggak akan bawa Niko dari aku bu, mungkin istri barunya tidak mau Niko tinggal bersamanya"...
"Alhamdulillah ya semoga Rio tidak berubah pikiran dan cucu Ibu selalu bersama kita" sahut Ibu penuh syukur
Mantan suamiku sudah bahagia dengan istri barunya.
Dan akupun harus melanjutkan hidupku dengan tidak selalu memikirkan hal-hal yang membuat hidupku semakin terpuruk.
Aku harus melihat kedepan demi masa depan aku dan anakku Niko.
Walaupun saat ini aku belum bisa membuka hati untuk orang lain tetapi setidaknya aku udah bisa ikhlas dan melupakan apa yang terjadi didalam hidupku.
"kamu nggak ingin menikah lagi" ujar Bapak tiba-tiba.
Aku hanya tersenyum sembari menyuguhkan teh hangat untuk Bapak.
"Bapak serius Clara, kamu tidak ingin melanjutkan hidupmu, kamu masih muda, dan kamu berhak bahagia" ujar Bapak kembali
"Aku udah bahagia ko pak, walaupun seperti ini, aku hanya ingin pokus merawat Niko sendiri dan sama usaha aku, lagi pula aku belum terpikir untuk menikah kembali, aku mau menikmati hidupku seperti ini" jawabku
__ADS_1
Bapak dan ibu saling menatap dan tersenyum ke arahku.
Aku tahu Bapak dan Ibu ingin yang terbaik untukku dan kebahagiaan aku.
Tetapi aku tidak ingin rasa sakit dalam hatiku terulang lagi bila aku menikah lagi.
Mungkin akan menjadi sama bila aku menjadi istri dan suami aku kelak menyakitiku kembali seperti mantan suamiku.
Ada rasa takut dan menjadi trauma bagiku bila aku menikah kembali. Aku takut masalah ini dan masalah itu menjadi bayangan rasa takutku.
Biarkanlah aku seperti ini hidup sendiri tanpa suami, bersama Anakku Niko dan kedua orang Tuaku dan aku akan bahagia bersama mereka.
"kamu itu berhak bahagia Clara, buanglah rasa takut kamu itu. jangan beranggapan lelaki itu semuanya penghianat, ada ko yang baik dan setia" ujar sindi sepupuku yang mau meluangkan waktunya untuk bertemu dan mendengarkan semua curhatanku
"ya walaupun aku belum menikah tetapi setidaknya aku berharap aku bisa bertemu dengan jodohku yang aku inginkan baik setia dan bertanggung jawab" ujar sindi kembali
"Amiin, semoga kamu sesegera mungkin menemukan jodohmu yang kamu inginkan"...
"iya semoga aja" sahut Sindi.
"Sindi aku ke toilet dulu ya?" izinku
"ya ampun... maaf ya mba saya nggak sengaja "ucapnya dan mengambilkan handphone aku yang terjatuh.
"terimakasih" ucapku
"maaf ya mba..." ujarnya kembali
"iya tidak apa-apa" sahut ku dan langsung memeriksa handphone aku yang terjatuh
"handphone nya tidak ada yang rusak kan?" tanyanya
Aku menggelengkan kepala dan tersenyum ke Arahnya.
"sekali lagi saya minta maaf" ucapnya kembali dengan tangannya menunjuk ke arahku seperti sedang mengingat sesuatu.
Aku mengangkat pundakku sembari berjalan meninggalkannya masuk kedalam toilet.
__ADS_1
"Aneh" bisikku
Saat aku keluar dari toilet dan akan menghampiri Sindi kembali ternyata orang yang menabrakku hingga membuat handphone aku terjatuh, sedang duduk dan mengobrol asik bersama Sindi.
"lohhh, ko kamu ada disini?" tanyaku bingung kenapa orang ini bisa bersama Sindi.
"kamu Clara kan, apa kabarnya ?" tanyanya.
Dan aku semakin bingung kenapa dia tahu Namaku sedangkan aku tidak tahu dia.
"iya, baik"...
Sindi tersenyum dan menatapku dan mengedipkan matanya ke arahku.
Aku duduk disamping Sindi dengan suara berbisik ke arah telinganya.
"dia siapa sih, sumpah deh aku tidak kenal dia?" bisikku
"dia Andrey" jawabnya Sindi dengan suara sedikit keras.
"Andrey????" aku bingung
"iya Aku Andrey, kamu lupa sama aku Clara, aku juga hampir tidak mengenali kamu saat bertemu di depan toilet tadi, dan saat aku ingat-ingat ternyata kamu Clara" jawabnya dengan wajahnya yang sumbringah.
Aku juga berusaha mengingat-mengingat agar aku ingat apakah aku mengenali dia, dan ternyata aku tidak ingat siapa dia dan siapa Andrey?
"ya Ampun Clara masa sih kamu tidak ingat dengan Andrey? dia itu dulu teman main kita. anak gendut yang suka makan banyak" ujar Sindi sambil tertawa
"itu dulu Sindi, ya sekarang aku udah sexsikan?" sahutnya
Aku tersenyum dan melihat ke arahnya sembari aku mengingat-mengingat siapa Andrey?
"Clara pasti lupa sama aku, tapi yang jelas akumah ingat sama dia" ucapnya
"iya aku ingat, kamu Andrey bukannya kamu dulu pergi sama keluarga kamu ke makassar" sahutku
Setelah aku mengingat-ingat dan akhirnya aku ingat juga, Mungkin karena terlalu lama tidak bertemu dengan Andrey dan membuat aku lupa kalau aku punya teman bernama Andrey, dan dia banyak berubah dari postur tubuhnya saja sudah membuat aku benar-benar lupa. Dia dulu Gendut karena banyak makan tetapi terbalik dengan sekarang dia lumayan gagah dan sedikit ganteng juga.
__ADS_1
Dulu aku berteman baik dengan Andrey bahkan hampir setiap hari aku bermain dengan dia, selain teman sekolah aku, di masa SMA dia juga tetanggaku karena rumahnya bersebelahan dengan rumah keluargaku.
Tiba-tiba Andrey dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke luar kota, dan membuat aku kehilangannya dan kehilangan tetangga dan teman yang sangat baik.