AIR MATA CLARA

AIR MATA CLARA
"Teman Lama 2"


__ADS_3

Pertemuan yang tidak disengaja, tetapi terjalin dengan baik ikatan silaturahmi yang tidak pernah terputus walaupun udah sekian lama tidak pernah berjumpa.


Teman lama yang pernah pergi akhirnya kembali seperti membawa semangat baru untukku.


Aku kaget saat membuka pintu ternyata Andrey yang datang.


"Haii..."sapanya


Aku tersenyum


" Siapa yang datang Clara?" tanya ibu dari dalam rumah.


"silahkan masuk" aku mengajak Andrey masuk kedalam


"terima kasih"...


Aku mempersilahkan Andrey untuk duduk, ada sedikit rasa canggung dalam hatiku ketika Andrey datang kerumah, karena sebelumnya aku tidak pernah menerima tamu.


"siapa nak?" tanya ibu tersenyum dan ada rasa aneh juga ada tamu laki-laki datang kerumah.


"halo tante apa kabar?" sapa Andrey


"Alhamdulillah baik" sahut ibu dan memandangku mungkin dalam pikiran ibu siapa laki-laki itu?


"ini Andrey bu, tetangga kita dulu, anaknya tante Ella sama Om Drian" terangku kepada ibu agar ibu tidak banyak bertanya kenapa ada tamu laki-laki datang kerumah.


"oh iya, ibu ingat tapi bukannya Andrey itu dulu gendut? ko sekarang berubah banget ya gantengngan lagi "....


"tante bisa saja" jawab Andrey agak malu.


"kamu mau minum apa biar tante buatin"...


"apa aja tante, terimakasih"


Lalu ibu berjalan menuju belakang untuk membuat minuman untuk tamu teman lamaku.


"mama" panggil Niko dan duduk dipangkuan aku.


"hei sayang udah selesai mainnya, o iyah Niko kenalin teman lama mama namanya Om Andrey"


"Haii Om aku Niko "


"Om Andrey"


Andrey tersenyum melihat Niko berlari menghampiri kakeknya saat kakeknya akan menghampiri kami diruang tamu.


"kakek" panggil Niko


Bapak ikut duduk dan bergabung bersama kami dan mungkin bapak ingin tahu siapa tamu laki-laki yang datang kerumah.

__ADS_1


"haii Om, pada kabar?" sapa Andrey


"baik,... kamu teman dekatnya Clara?" tanya bapak yang ingin tahu.


Andrey tersenyum dan melihat ke arahku.


"Andrey tetangga kita dulu pak anaknya mba Ella sama mas Drian yang sekarang rumahnya udah jadi minimarket" sahut Ibu sambil menyuguhkan minuman.


"oh, saya sampai pangling lihat kamu, saya kira kamu itu teman dekatnya Clara, bagaimana kabarnya ayah dan Ibumu ?"


"baik om, dalam waktu dekat ini ayah dan Ibu juga akan terbang kejakarta dan akan tinggal dijakarta kembali" sahut Andrey


Kedatangan Andrey disambut baik oleh keluargaku, bahkan Bapak sudah langsung akrab dengan Andrey, padahal baru pertama kali Andrey datang kerumah.


Ya karena sebelumnya sudah dekat, dan dulu memang tetangga paling dekat, jadi wajar aja Bapak langsung akrab dengan Andrey.


Aku tersenyum dibalik pintu saat aku melihat Bapak dan Andrey sedang asik main catur dan diganggu Niko.


Aku menggelengkan kepala melihat ulah Niko yang menggangu kakeknya main catur. Dan karena saking kesalnya sampai Andrey memeluk Niko erat sekali karena saking kregetnya.


"Clara ada apa ko senyum-senyum sendiri? tanya Ibu mengagetkan ku.


"ngak ada apa-apa ko bu, cuma lucu aja lihat ulah Niko yang sedang menggangu kakeknya" sahutku


"oh.... dikirain ibu kamu senyum-senyum sendiri, lihat yang lain" ujar ibu menggoda


Aku sudah melupakan hal yang terjadi pada hidupku mulai tersenyum ketika melihat anakku bahagia. Bahkan lebih bahagia ketika melihat anakku mulai ceria lagi.


"mama, om Andrey baik ya" ucap Niko


Aku tersenyum


"iya" jawabku lembut sembari mengusap-ngusap rambutnya agar Niko cepat tidur.


"aku senang sekali bisa main sama om Andrey, nggak kaya papa yang selalu sibuk main sama aku sebentar aja tidak bisa" ucap Niko sedih.


"Niko bobo ya"... aku menyelimuti Niko dan memintanya untuk segera tidur agar Niko tidak membahas papanya agar Niko tidak merasa bersedih.


Aku tahu anakku sangat Rindu dengan papanya dan aku merasakan itu dari hati kecilnya anakku.


Tapi kini papanya tidak ingin tahu dengan anaknya. Dia sibuk dengan istri barunya bahkan tanggung jawabnya seorang ayah terhadap anaknya saja tidak ada.


Niko sudah terlelap tidur dan aku mengecup keningnya lalu aku meninggalkannya keluar kamar.


Aku terdiam dengan pandangan mata tertuju ke sebuah bingkai kecil yang ada diatas meja.


Air mata menetes begitu saja ketika aku melihat foto putriku Nara yang sedang tersenyum.


" ya Allah tempatkanlah putriku Nara di surgaMu dan jadikan dia bidadari surgaku" aku memeluk bingkai kecil yang ada fotonya Nara.

__ADS_1


"Clara" panggil Ibu lembut dan duduk disampingku


Aku melihat dan tersenyum ke arah Ibu dan menyembunyikan kesedihan didepan ibu.


Tangan ibu mengambil foto Nara yang ada dipelukanku.


Dan tersenyum melihat gambar Nara putri kecilku.


"Nara sudah bahagia di atas sana bersama Allah yang lebih mencintainya" ujar ibu menghiburku, Agar aku tidak selalu bersedih bila mengingat tentang kepergiannya Nara.


"kamu juga harus bahagia nak, ibu tidak ingin melihat kamu selalu bersedih" ujar Ibu kembali.


"Ibu, kata siapa aku selalu bersedih? aku sudah cukup bahagia dengan adanya Ibu Bapak dan juga Niko" sahutku agar ibu tidak terlalu mengkwatirkanku.


"Ibu ingin kamu itu mencari kebahagiaanmu.... Ibu lihat Andrey itu baik"


"maksud Ibu?"...


"kamu tidak tertarik dengan Andrey?"


"ya ampun Ibu, aku sama Andrey itu hanya berteman"...


"Ibu tidak bertanya kalau kamu sama dia ada hubungan. Ibu hanya bertanya kamu itu tidak tertarik dengan Andrey?"...


Aku diam


"dia baik dan perhatian juga sama Niko...dan ibu lihat sepertinya Andrey menaruh hati sama kamu. Apa salahnya kalau kamu mencoba membuka hati untuk dia?...


"Ibu, itu tidak mungkin kalau Andrey itu suka sama aku, kami itu hanya berteman. Lagi pula aku itu janda dan mana mau Andrey sama janda yang punya anak"...


Tiba-tiba Bapak menyaut dari belakang


"apa sih yang tidak mungkin kalau tidak di coba" sahut Bapak


"Bapak..."...


Ibu tersenyum melihat Bapak dan duduk disamping ibu..


"sepertinya Andrey itu laki-laki yang bertanggung jawab" ungkap Bapak


"Pak, Bu, mau Andrey itu baik atau laki-laki yang bertanggung jawab, intinya aku hanya berteman dengan dia dan tidak akan menjadi lebih, lagi pula aku sudah nyaman dengan statusku seperti ini..." jawabku


Walaupun hati kecilku aku tidak menginginkan status janda dalam hidupku tetapi takdir berkata lain dan aku harus sanggup menjalaninya.


Walaupun pahit dan sakit yang aku rasakan biarkanlah aku yang merasakan.


Karena jujur menjadi status janda itu tidak enak bahkan untuk didengar dengan kata janda saja sangatlah tidak nyaman.


Kedua Orang Tuaku mungkin lagi berusaha untuk mencari jodoh untukku, untuk menghilangkan status janda di anaknya, karena Orang Tua mana yang sanggup melihat rumah tangga anaknya berantakan bahkan harus berakhir dengan sebuah perceraian dan harus menyandang status janda terhadap anaknya.

__ADS_1


__ADS_2