Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 9 : Flashback-1


__ADS_3

Flash Back-1


Sesaat membaca pesan Mama, entah kenapa Akumengira bahwa Mama kali ini serius dengan ucapannya, Aku melirik Mama di kursinya sambil menelan liurku kuat-kuat namun Mama membuang muka padaku. Mama terlihat amat sangat marah.


“Ren, Airene  kenapa! ada masalah?” bisik Zoa. Rupanya Zoa ikut memperhatikan Aku yang sedari tadi sibuk dengan ponselku.


“Iniiii, Mama!” Aku pun melihatkan isi pesannya Mama pada Zoa.


Zoa pun membacanya pelan lalu beralih mentapku dan berkomentar. “Kenapa tante jadi peduli dengan prestasi sih Ren, bukankah dulu-”


 “Entahlah Zo,” sambarku. “Mama bilang kalau kali ini Aku membuat masalah lagi maka Mama akan bertindak,” lanjutku dengan gemetar.


Zoa terkejut dan menarik wajahnya dari sisiku serta menatap penuh tanda tanya, “Bertindak bagaimana Ren?” ucapnyasedikit keras, hal itu membuat Zoa menerima sebuah pukulan tipis.


PLAKKK


Sebuah pukulan mendarat di paha Zoa.


“Hutttts Oya diam!”


“Awwww. Yu Kenapa? Sakiiit tau,” rengek Zoa sambil mengelus pelan pahanya yang baru sajadi pukul Ayu.


“Kalian lagi bahas apa?, jangan berisik, nanti kita di tegur,” ujar Ayu  yang tetap memasang wajahnya  lurus mengahadap ke arah panggung.


“Iniiii, Airene  dapat peringatan dari tante!” jawabZoa yang juga kini ikut memasang arah pandangan serupa dengan Ayu.


“HAAAAH APAAAA!” Pekik Ayu, Ia tersentak dan langsung memalingkan wajahnya dengan segera ke arah Zoa dan aku, tapi satu yang tidak Ayu sadari suaranya barusan  membuat setiap orang yang memiliki mata kini menatap kami bertiga. Suasana menjadi hening seketika.


“AYU!” Zoa  melotot serta reflek menutup mulut Ayu,tak terkecuali aku.


“Ayuuuuu, Suutssss!” Aku pun menatap wajah Ayu serta memasang jari telunjukku di depan bibir sekedar memberikan Ayu peringatan.


“Lihat Tu!”. Zoa memalingkan wajah Ayu dengan paksa ke arah orang-orang yang kini menatap kami.


Zoa juga tampak kesal, mukanya seperti kepiting rebus menahan malu begitupun dengan Aku. Demi melanjutkan acara, Aku terpaksa  menyatukan kedua tanganku sambil tersenyum pada setiap tamu undangan dan semua orang yang hadir untuk meminta maaf atas insiden barusan.


  “Lu yang berisik Yu.” Lanjut Zoa kini  dengan penekanan.

__ADS_1


Atas kejadian ini juga,  Sang Guru Killer di sekolah ini menatap kami bertiga sangat dalam, dengan mata yang disipitkan dan jari telunjuk yang sudah menempel di antara bibirnya membuatku hanya mampu mengiyakan perintah gaibnya itu dengan anggukan kecil dan menelan sekali ludahku.


 Hal itu Aku lakukan bukan karena takut dengannya, tapi karena Guru ter-SAYANGKU itu duduk berdekatan dengan Mama. Namanya Ibu Rosidah, selama tiga tahun ini, aku, Zoa dan Ayu  tak pernah absen untuk mampir keruangnya  sekedar untuk mendengarkan arahan yang itu-itu saja, Haah Membosankan.


“Mari kita lanjutkan, siswa selanjutnya, kami panggil Artama Narendra dengan raihan nilai 97.5 Putra dari bapak Narendra dan Ibu Agnes kami persilahkan untuk menerima perhargaan.


 PROK PROK PROK


Tampak suasana kembali riuh dengan tepuk tangan dari adik kelas, orang tua wali murid dan guru disana, tak terkecuali Ayu Asyari, dia juga ikut bersorak dan bertepuk tangan, tapi mulutnya masih di bekap Zoa.


“Heeeem. Hmmmm hmmmm, Naren-dra, heeeem.” Ayu berontak, dipukulnya tangan Zoa yang masih  menyekap mulutnya.  Ayu yang masih dalam bekapan Zoa akhirnya terbebas karena Ayu memberikan perlawanan dengan menusuk pinggang Zoa dengan jarinya dan itu membuat Zoa geli dan melepaskan tangannya.


Bagaimana tidak! Artama adalah Pria yang Ayu elu-elukan, bagi Ayu, Artama adalah pria paling sempurna Se-SMP ini, belum lagi ditambah visual wajahnya yang sedikit mirip dengan Aktor Korea kesukaanya, Lee Min-Ho. Itu pun karena mamanya Narendra sedikit memilikidarah orang timur, tapi menurutku tidak ada miripnya sama sekali! Hutss jangan  bilang-bilang ya, nanti Ayu ngambek.


Ya beginilah Ayu, dia dan imajinasinya, dia langsung bereaksi seperti dimabuk kepayang jika melihat Artama berjalan atau hanya sekedar lewat saja di depannya. Terlebih lagi kini Artama mengenakan setelan Jas dan naik ke atas panggung untuk menerima prestasi yang juga tak kalah memuaskan dari Anaya Aruhi.


Sayang Artama seperti tak tertarik pada Ayu, padahal Wajah Ayu tak kalah cantik, dan bahkan jika Artama mau sama Ayu mungkin Aku dan Zoa bisa menyimpan rahasia ini demi kebahian Ayu, tapi sayang Artama dan Ayu tak pernah jadian, entah karena Ayu tak pernah mengungkapkan atau apa, Ayu juga tak pernah cerita masalahnya


ini pada kami,  dan kurasa satu sekolah ini tahu kalau Ayu amat menyukai Artama  dan kurasa Artama juga tahu itu .


“Aaaaa Oppa … my future husband ganteng banget. HUUUUUUUH,” Ayu Mengipaskan kedua tanganya ke wajah karena kepanasan melihat Artama yang begitu mempesona di matanya.


 “Bodo, AAAAA OPPA.”


 “Ayu udah jangan bikin malu.”


 “Udah Ren, nggak Guna ngalarang dia, nggak akan dengar dia, ni anak budeknya musiman kalau lihat Si Artama itu.”


 “Heeemmm.” Degan menghembuskan nafas dalam Aku hanya bisa pasrah kalau Ayu sudah begini.


 Benar kata Zoa, Ayu sangat kecanduan terhadap sesuatu yang berabau Korea, Entah itu music, drama dan filmnya, apapun itu yang ada Korea-koreanya dia suka, walaupun di saat ini belum banyak gadis-gadis seusia kami yang tahu apa itu Korean wave, tapi ada satu yang berbau Korea yang Ayu tak suka yaitu Korea Utara. Salah salah bisa di nuklir katanya.


 Tinggalkan masalah Ayu, singkat cerita seluruh anak kelas sembilansudah di panggil satu persatu untuk menerima hasil kelulusan, Tak terkecuali kami bertiga, Ayu di pertama, Zoa kedua dan sudah pasti Aku yang ketiga.


Ingat! Ini bukan urutan juara, tetapiurutan kami di panggil ketika penyerahan serta penerimaan cinderamata tanda


bahwa kami lulus dari sekolah ini, berada di urutan 50-an ya Kami biasa saja, tapi tidak dengan orang tua kami mereka pasti akan meledak-ledak nantinya. Ah Aku harus bersiap.

__ADS_1


   


...----------------...


-Rumah Sakit-Saat ini-


 “Agghhh, Kenapa ini ” Airene megangi kepalanya.


 Saat sedang bergelud dengan rasa sakitnya Airene tiba- tiba mendengar suara seseorang tapi Ia belum bisa melihat dengan jelas siapa yang menegurnya itu.


“Permisi! mbak tidak apa -apa?” tayanyanya.


“Tidak apa-apa.” sahut Airene, pandangannya masih buram, kepalanya terasa sakit, seperti ada yang menusuk-nusuknya.


 “Mbak kalau merasa sakit mari saya bantu!”


Seketika sakitnya mulai reda, Airene pun bisa membuka matanya pelan dan ternyata yang bertanya tadi adalah suster yang juga ada di sana mengawasinya.


 “Eh suster, saya tidak apa-apa kok, terima kasih bantuannya, saya disini aja dulu sebab saya  juga menunggu teman saya.”


 “Oke baiklah, kalau ada apa-apa panggil saja saya, saya di sebelah sana,” ujar suster itu.


 “Oke Sus, terima kasih sekali lagi.”


 Suster itu lalu pergi dan kembali mengurus Pasiennya, sesekali ia melihat Airene untuk mengawasi gerak-geriknya.


 Membaca cerita yang Ia tulis ternyata mampu membawa Airene mengingat sedikit potongan demi potongan kisah silamnya walaupun itu masih belum jelas, Karena  faktor itulah kepalanya menjadi sakit. Ia kembali membangkitkan kenangan lamanya.


 “Ayu kemana Ya! Lamanya?” Ia lalu melihat pada pintu utama rumah Sakit tempat di mana Ayu menghilang untuk


memastikan keberadaan Ayu.  “Hmmm kayaknya Ayu masih lama … terus aku harus apa?” Matanya kembali menatap lanjutan ceritanya tadi.  “Kalau aku baca lagi nggak apa kali ya? … Ya udahlah baca aja, Bissmillah!”


Airenepun melanjutkan ceritanya selama masih bersekolah itu, tepatnya yakni kisah dua belas tahun lalu. walaupun Ia tahu konsekuensinya jika memaksakan diri, berawal dari pusinglah Ia bisa kembali tertidur untuk waktu lama.


... Bersambung...


                                                                     

__ADS_1


...****************...


BUAT PEMBACA THOR JANGAN LUPA LIKE DAN SUBSCRIBE YA... HAHAHA COMMENT AJA YA


__ADS_2