Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 22 : Cantiknya


__ADS_3

【3 Hari kemudian, di pondok.】


“Ustadzah lewat!, Ustadzah lewat,” ucap beberapa santri.


Bak gayung bersambut, dua kalimat itu mampu menghentikan segara aktivitas santri yang mereka lakukan, entah itu sedang bercanda, belajar bersama ataupun sekedar berbincang kosong untuk mengisi jam istirahat mereka, semuanya sigap berhenti dan memasang posisi dengan menundukkan kepala hingga Sang ustadzah lewat, begitupun dengan Pak Kyai, ataupun Ustadz lainnya, semuanya memasang hormat pada guru-guru mereka.


“Eh, eh eh kenapa?” Airene menghentikan langkahnya, di tatapnya punggung Ruhi, wanita bergamis hijau lumut itu terus melangkah, hingga sedetik kemudian, Ruhi sadar jika Airene tak bersamanya, Ruhi berbalik dan mendekat.


“Kenapa Rin?”


“Itu mereka?” tunjuk Airene.


“Ouh, ngga usah takut, itu mereka menghormati yang lebih tua, dulu kita juga begitu, ini sudah tradisi Rin.”


“Kita dulu begitu juga?”


“Iya, apa kamu ngga baca di Diary kamu?”


“Ngga, belum ada aku baca bagian baris berbaris ini.”


Ruhi sedikit geli mendengar diksi yang Airene lontarkan, Ia sampai mengeluarkan suara saat tertawa. “Kamu Rin, ada-ada saja, ayo cepat jalan, kasihan mereka pegal lehernya kalau kelamaan nunduk.”


“Ya udah ayo, lain kali bilang dulu, aku kan kaget tiba-tiba di serbu begitu.”


Ruhi hanya bisa menggeleng mendengar celotehan sahabatnya itu, bahkan secuil garis senyum terbentuk untuk menanggapi Airene, keduanya akhirnya melewati para santri untuk ke kantor guru, sekaligus mengenal kan Airene dan juga menyampaikan niatnya yang ingin belajar sementara di pondok ini, namun selama berjalan itu Airene hanya bisa diam dan tak berani menatap wajah-wajah muslimah muda itu.


“Siapa itu yang sama Ustadzah?” bisik-bisik di antara santri.


“Ustadzah baru mungkin, atau juga hanya temannya Ustadzah.” Balas teman di sebelahnya.


“Cantik banget ya?, pengen gede nanti bisa secantik itu.”

__ADS_1


“Udah-udah jangan kebanyakan ngayal, nunduk aja yang bener.”


Kecantikan Airene yang bersanding dengan Ruhi mampu membuat Santri Putri heboh dengan paras keduanya, belum lagi kali ini Airene di dandani oleh Ruhi dengan memakai riasan tipis dengan gamis serta memakai stoking tangan dan juga kaos kaki membuat Airine menjelma bak Ruhi ke dua, hanya saja wajahnya yang berbeda.


“Aaaah, selamat!” Airene mengelus dadanya ketika berhasil melewati santri-santri tadi. “Nanti ataupun besok-besok aku ngga mau lagi ngekorin kamu, malu aku!”


Ruhi yang melihat tingkah malu-malu Airene, kini tersenyum simpul, Ia tak menyangka Airene bakal segugup itu lewat di depan mereka. Akhirnya setelah sampai, Ruhi mengenalkan Airene pada rekan kerjanya di sana dan tak lupa menyampaikan maksud dan tujuannya, semuanya menyambut baik kehadiran Airene, hingga waktu Dzuhur masuk, dan mereka pun turut melaksanakannya.


...----------------...


“Anak-anak Ibu sekalian, bersyukurlah kita jadi perempuan di jaman ini, kita di permudah akan segala hal, dulu jauh sebelum Islam datang, hak-hak perempuan di renggut, perempuan yang sudah menikah dan mengalami datang bulan di anggap najis, kotor, hina, mereka di buatkan rumah kecil dan tidak boleh makan dengan suaminya, serta tak boleh minum dengan anak-anaknya, lalu abad ke lima belas muncullah gerakan renaissance, tokoh-tokoh feminism muncul, sampai-sampai ada keinginan untuk tidak menikah dengan laki-laki sebagai bentuk balas dendam, lalu setelah Islam datang. Islam tidak mengeliminasi hak perempuan, man’ana salatin banatin, barang siapa membesarkan tiga anak perempuan, fa adabahu, kemudian dia didik dengan baik, waza wajahuna, dia nikahkan dengan orang baik-baik, walahul jannah, surga tempatnya.”


Seluruh santri mengangguk kagum mendengar penuturan Ruhi, ada yang saling tatap dan menglihatkan ekspresi bahagia, ada juga yang sampai meneteskan airmata karena merasa bersykur di jadikan wanita.


“Jadi intinya apa, anak-anak ibu yang di sini terlahir sebagai perempuan, kita harus jaga diri kita, kita bentengi diri kita, memang pandangan tentang laki-laki dan perempuan saat ini sudah setara, tapi ujiannya yang kini berbeda, jangan sampai gerakan-gerakan di zaman dulu itu muncul lagi, kita benahi diri sendiri, jaga pandangan jaga kehormatan kita, biar apa?, biar keturunan kita nanti jadi keturunan-keturunan yang baik pula, Ibu ingetin ya, bicara tugas perempuan itu bukan hanya, kasur, sumur dapur, tapi ada amal dia yang luar biasa, yaitu mendidik anak-anaknya, di balik perempuan yang tegar dan luar biasa maka lahirlah juga anak anak yang luar biasa juga, contohnya ya kalian semua yang ada di hadapan Ustadzah ini, kalian lahir dari Rahim wanita-wanita hebat, baiklah, cukup sampai disini pelajaran kita malam ini, Ustadzah akhiri wabillahitaufik wal hidayah, wasalaualaikum warahmatulahhi wabarakatuh."


“Waalaikumusalam warah matullahi wabarakatuh.” Sahut semua santrinya berbarengan.


Satu persatu mereka berbaris dan menyalami Ruhi untuk meninggalkan kelas hari ini, saat semuanya sudah kembali ke asrama, yang ada saat ini hanya Ruhi dan Airene, sesuai dengan rencana, Airene kembali ke Pondok setelah sekian lama tamat dari sini, Airene tinggal di rumah mertuanya Ruhi, yakni pemilik Pondok ini, yang tak lain Pa Kyai.


"Bagaimana hari ini Rin," tanya Ruhi pada Airene yang masih menatap buku yang di depannya, Airene terlihat masih membaca apa saja isi buku pelajaran yang di dapatnya selama ikut kelas Ruhi seharian ini.


“Alhadulillah Ustadzah, banyak yang di dapat,” ujar Airene bercanda.


“Aireneeee!” tatap Ruhi tajam karena di goda terus-terusan oleh temannya itu.


“Ya kan biar sama kayak anak-anak yang lain, mereka manggil kamu Ustadzah.”


“Ihh kamu bandel ya, anak-anak aja manggil gitu aku masih suka ngga nyaman, karena gelar begitu berat, tapi ya namanya untuk membiasakan anak-anak ya aku terima aja, aku sih maunya ibu aja biar gampang.”


“Udah terima aja bagus ko, nanti dari ceramah di depan murid, eh malah naik kelas jadi ceramah di depan ribuan jamaah.”

__ADS_1


“Alhamdulillah, aah jadi malu aku Rin.”


“Ya udah, kamu udah siap, aku balik ke kamar!” Airene bersiap untuk berdiri.


Dengan sigap Ruhi menahan. “Eh tunggu Rin, kita belum banyak ngobrol, sini dulu, seharian aku hanya interaksi sama murid.”


“Memangnya kamu ngga apa-apa, ini udah malam, kamu kan ada anak dan suami!” Airene merasa tak enak jika Ruhi banyak mengahabiskan waktu dengannya.


Semenjak kedatangannya pagi ini ke pondok yang di antar Papa dan Mamanya itu, Ruhi lah yang memperhatikan Airene, dia sudah seperti pengawal pribadi sahabatnya itu, tentunya dengan tidak melupakan tugasnya untuk mengurus suami dan anaknya yang masil balita.


“Kamu tenang Rin, tadi aku udah minta izin sama Mas firdaus sama Maryam buat ngobrol sama kamu, dan mereke izinkan, sebentar aja kok!” Ruhi kekeh meminta Airene tinggal dengannya, sebab kini tanggung jawab besar ada di pundaknya.


“Kenapa, apa yang mau kamu bicarakan?”


“Gimana, nyaman disini, aku perhatikan kamu kayak gimana gituuuu, aku takutnya-.” Belum habis Ruhi mendikte dirinya atas kekurangan fasilitas untuk tamunya itu, Airene segera memotong.


“Tenang aja, aku nyaman kok, di sini aku belajar banyak, aku dapat ilmu baru.”


“Bener ya, kalau ngga nyaman bilang aja, aku ngga enak kalau kamu ngga nyaman… Oh iya pelajaran hari ini ada yang ngga di mengerti?”


Dengan cepat Airene menggeleng, sebab seharian ini, Airene masih di kenalkan bagian-bagian dasarnya saja, makanya dia cepat merespon pertanyaan itu, dan juga hari ini dia langsung melakukan prakteknya di lapangan, seperti waktu sholat Dzuhur hingga Isya tadi, sejauh yang sudah di jalani Airene belum memiliki kendala berarti.


“Ya sudah kalau begitu, aku cuman mau tanya hal itu, kita juga harus kembali.”


Airene kembali menyetujui ajakan Ruhi, keduanya lekas bangkit dan membawa bukuya masing-masing, hingga sampailah di muka pintu, Airene lebih dulu memasang sandal barulah di susul oleh Ruhi, di sanalah Airene mengutarakan hayalannya yang membuat Ruhi diam bagaikan patung.


“Kalau di lihat-lihat punya anak kayak Maryam gitu enak ya Hi!”


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1


Apakah semuanya akan baik baik saja kalau rahasia demi rahasia itu terbongkar


Cek di eps selanjutnya ⬇️⬇️⬇️⬇️


__ADS_2