
“Kalau di lihat-lihat punya anak kayak Maryam gitu enak ya Hi!”
Ruhi yang sudah memasukkan kaki kanannya dan ingin menyarungkan kaki kirinya terhenti dengan hayalan yang seharusnya bukan hayalan lagi bagi temannya itu, Ruhi terpejam juga tertunduk, dadanya seketika sesak, air matanya terkumpul dengan cepat di kelopak mata dan seakan detik itu juga air matanya harus jatuh kala mendengar itu.
Ia tak kuasa mendengar pujian untuk anaknya itu, Ruhi paham betul bagaimana Zaid mendidik Aisyah, pujian yang sama itu harusnya dia ucapkan untuk dirinya sendiri karena memiliki Zaid dan Aisyah, antara Zaid dan Firdaus, Aisyah juga Maryam, bagai tak ada perbedaan, itulah yang membuat Ruhi mematung, antara dirinya dan Airene perbedaanya terletak pada takdir untuk bersama keluarga masing-masing, dan Ruhi sedikit lebih beruntung.
Tak mendapatkan balasan dan telingnya hanya mendengar suara jangkrik, akhirnya Airene yang membelakangi Ruhi, memilih berbalik untuk melihat guru barunya itu.
“Ruhi!”
Karena di panggil, Ruhi akhirnya mengangkat kepalanya dan lekas menyeka linangan air yang ada di kelopaknya, dengan cepat Ia berbalik dan menjawab.
“Kalau kamu ngga keberatan, anggap aja Maryam anak kamu juga, Maryam juga suka sama kamu, dia bilang kamu cantik-”
Airene terngaga dapat pujian itu, hingga sedetik kemudian dia sadar jika caranya mengeskpresikan diri atas pujiannya itu tak baik, akhirnya dia menutupi mulut yang terbuka lebar itu dengan tangannya.
“Dia bilang, Umi-umi, tante itu cantik ya, kulitnya putih, alisnya bagus, hidungnya tinggi,cantik bangeeet!” ujar Ruhi menirukan kegemasan anaknya itu pada Airene dengan mengepalkan kedua tangannya di dada di tambah ekspresi yang imut, mata terpejam dan garis senyum yang terbentuk bersamaan dengan giginya rapih.
“Aaaaah, gemes banget jadi pengen cubit uminya,” ucap Airene dengan mencubit pipi Ruhi. “Tadi dia diam aja aku di sana, bahkan abis salaman dia langsung sembunyi di belakang kamu.”
“Itulah, aku juga terkejut dia puji kamu, mungkin dia mengamati wajahmu Rin.”
“Mungkin kali ya. Aaah, semoga dia besok mau main sama aku, gemes banget soalnya, kecil-kecil udah mau di kerudungin dan ngga sedikitpun gerah, lucu banget!”
“Besok aku coba bujuk dia buat nyamperin kamu, mana tahu-.” saat ingin melanjutkan kalimatnya, ponsel Ruhi berbunyi. “Sebentar ya Rin, aku angkat dulu.”
Airene mengiyakannya, dan Ruhi sedikit menjauh, setelah beberapa menit Ruhi kembali.
“Besoklah aku ajak dia buat main sama kamu ya, mana tahu dia mau,” lanjut Ruhi setelah kembali dari urusan mendadaknya itu.
“Oke, semoga dia mau, umurnya berapa Hi?”
“Mau jalan empat tahun.”
“Ngga mau nambah lagi?” goda Airene sambil keduanya melangkah di jalan setapak itu.
“Aaah, kamu bisa aja, doain ya, secepatnya.”
Keduanya terus mengobrol hingga kembali ke kediaman masing-masing,
__ADS_1
...----------------...
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ada yang mengetuk pintu, dari suara ketukannya yang tak kuat itu, Airene yang tengah menghadap cermin untuk memperbaiki jilbabnya, mengkerutkan keningnya, suara ketukan itu tak sekuat saat Mama mertua Ruhi atau Ruhi sendiri yang mengetuk, suaranya sangatlah pelan.
Karena hanya ada suara ketukan tanpa ada kalimat lanjutannya, bangkitlah Airene dan membukakan pintu kamarnya, saat pintu kayunya terbuka, terlihatlah anak kecil dengan gamisnya sedang celinga-celinguk menatap pintu utama, seakan sedang mengawasi sesuatu, sikap fokusnya itu sampai tak menyadari jika pintu yang di ketoknya tadi sudah terbuka sekaligu menampilkan pemiliknya.
Gadis bermuka bulat itu berbalik dan hendak mengetok ulang pintu tersebut, namun saat menatap lagi pada pintu di depannya beta terkejutnya Ia karena Airene sudah menyakan posisinya setinggi bocah empat tahun itu.
“Astagfirullah,” ucap dengan suara mungilnya. “Tante jangan bikin kaget, nanti kalau Yam kaget, dan teriak, ketahuan sama bunda.” rengeknya dengan memajukan bibirnya.
“Ouh maaf sayang, Yam sama Bunda main petak umpet?”
Dengan cepat bibir manyunnya itu bergerak saat kepalanya mengangguk mengiyakan pertanyaan teman Bundanya itu.
“Jadi Yam kesini mau ngumpet dari Bunda?”
“Iyaa! Bolehkah?” kini matanya memancarkan sinar kebahagiaan sebab maksudnya untuk mengetuk pintu itu bisa tersampaikan tanpa harus menjelaskan semuanya, ada harapan di bolehkan karena kodenya terbaca oleh Airene.
“Ayo-ayo masuk, sebelum bunda tahu!” dengan cepat Airene mengajak gadis setinggi pinggangnya itu masuk dan menutup pintu.
Setelah menutupkan pintu, Airene berbalik dan mendapati gadis mungil yang di pujianya malam tadi itu masih berdiri dan menghadap Airene.
Setelah di ajak, barulah Maryam duduk di sebelah Airene, selama di sebelahnya, Airene hanya diam mengamati Maryam yang mematung karena takut ketahuan oleh Ruhi, Airene mengamati Maryam mulai dari ujung kepala hingga turun kedahi, telunjuk Airene yang menjadi penopang badannya di kasur di jadikannya bagai pena untuk menggambarkan apa yang dilihat matanya, setiap garisan dan lekukakan Maryam tak seincipun lewat dari pena telunjuk itu, jika itu benar-benar pena berdawat, mungkin siluet Maryam akan tertuang sempurna bersamaan matanya yang juga selesai mengamati gadis berpipi kenyal itu.
TWING!
Ponsel Airene berbunyi.
“Sebentar ya Yam!”
Maryam hanya mengangguk.
“Apa Maryam ada di sana Rin?” isi pesan itu.
Airene terkekeh pelan membacanya, Ia bahkan sempat berbalik menatap Maryam yang masih saja diam. Airene pun membalas.
“Maryam tak ada di sini, heeee,” di akhiri dengan emoji kuning dengan kaca pembesar.
__ADS_1
“Oke!”
Setelah membalas pesan singkatnya, Airene mencoba untuk kembali membalik badannya dan melihat gadis mungil itu tengah menatap buku yang ada di kasurnya.
“Maryam pandai baca sayang?”
“Eh maaf tante, Yam ngga sopan.” Maryam tertunduk setelah tertangkap basah membaca buku Diary Airene.
“Ngga apa sayang baca aja, Yam pandai baca?” tanya Airene lagi sekaligus mengambil posisi duduk di kasurnya.
“Belum terlalu pandai tapi lumayan Tante.”
“Ouh, jadi kamu baca apa tadi?”
“Itu ada nama Bunda, makanya aku tertarik!” tunjukknya tepat pada empat kata yang bertuliskan nama Bundanya itu.
Airene pun kagum, sebab apa yang di ucapkan dan yang di tunjukknya itu benar pada nama Bundanya, Ruhi.
“Ya sudah, bagaimana jika menunggu Bunda mencari Yam, Maryam belajar membaca dulu dengan buku ini, mana tahu Yam suka sama bukunya sebab di dalamnya ada kisah Bunda.”
“Memangnya boleh Tante?”
“Bolehlah”
“Makasih Tante.”
“Sama-sama, ya sudah kamu baca bukunya, Tante mau benerkan jilbab tante dulu ya.”
Lekas Maryam menunduk setuju.
Setelah kembali fokus pada jilbabnya, Airene yang menatap pada cermin terus mengamati anak temannya itu, terdeteksi Maryam lebih sering membuka halaman selanjutnya dari pada membaca keseluruhan isi setiap lembarnya, Airene yang notabenenya sudah pandai membaca saja membutuhkan beberapa menit untuk pindah halaman, ini kan lagi bocah yang baru pandai membaca, sudah ketebak jika dia tak membacanya melainkan hanya membaca sekilas yang baginya menarik.
“Tante, kenapa ada nama Maryam disini?”
“Hah, kok bisa?” Airene sendiri bingung, sebab dia belum pernah bertemu nama lain selain tiga nama sahabatnya.
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1
Kok Bisa?...
Cek eps selanjutnya ⬇️⬇️⬇️