Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode27 : Menikah


__ADS_3

Semuanya kembali normal, Airene yang tadinya merasa aneh dengan kehadiran pengantar paket itu kini bisa melupakan kejadian yang baru saja di alaminya, namun hari ini nampaknya Airene begitu beruntung, dia di datangi oleh dua pria secara bersamaan, jika tadi adalah orang yang tak di kenalnya, kali ini yang datang orang yang lumayan di kenalnya.


Saat jam pelajaran sudah setengah jam berjalan, tiba-tiba kelas yang tenang jadi sedikit gaduh, beberapa berbisik kecil dengan teman di sebelahnya, ada juga yang memanjangkan lehernya menoleh ke jendela untuk melihat objek yang jadi bahan perbincangan itu, Airene yang juga ikut masuk ke kelas Ruhi ikut menoleh, terlihat seseorang dengan baju kemeja rapi tengah berdiri di lapangan dengan beberapa murid lainnya, seakan tengah bertanya.


“Eh, eh kenapa ini, ada apa?” tanya Ruhi dalam hatinya.


Airene yang penasaran ikut terkejut di tegur begitu, lekas di menunduk, sebab dia juga jadi bagian dari keributan kecil itu.


TOK! TOK TOK!


Suara ketukan itu pelan namun bisa menghamburkan ketegangan atas teguran Ustadzah Ana tadi.


“Assalamualaikum!” ucap pria itu.


“Waalaikumussalam!” jawab semuanya termasuklah Ruhi dan Airene.


Ruhi yang tengah berdiri di depan kelas sontak saja berjalan ke pintu dan mendekat sedangkan Airene mengintai, Ia memanjangkan lehernya karena Airene duduk di pojok dan betapa terkejutnya dia saat tahu siapa yang mengetuk pintu itu, Airene mengeryitkan dahinya.


“FAIS!”


Beberapa santri yang duduk dekat dengannya menoleh pada Airene saat mendengar Ia mengucapkan nama pria itu.


“Maaf Ustadzah sudah mengganggu jam pelajarannya, saya boleh bertemu dengan salah satu muridnya.”


Ruhi yang paham, memutar kepalanya melihat pada Airene, Airene yang juga sudah dapat menebak arah tatapan itu berangsur bangkit dari kursinya dan mendekat.


“Anak-anak, lanjutkan belajarnya dulu ya, Ustadzah tinggal sebentar!”


“Baik Ustadzah!” jawab semuanya.


Akhirnya Ruhi, Airene dan Fais berjalan menjauhi kelas menuju ruang lain untuk ngobrol.


“Ruhi kenalkan, ini Dokter yang merawatku di Rumah Sakit!” ujar Airene mengenalkannya pada Ruhi setelah ketiganya duduk bersama.


“Fais Akram” sambil memberikan tangannya.


“Anaya Aruhi” sambil menyatukan kedua tangannya.


Lekas Fais menarik kembali tangannya dan mengangguk faham.

__ADS_1


“Kenapa Dokter kemari?” tanya Airene langsung pada intinya, sebab di bingung, tidak ada angin tak ada hujan tiba-tiba Ia kedatangan tamu tak di undang itu, belum lagi Ia dan Dokter itu sudah tak punya hubungan pasien dan Dokter yang terikat seperti sebelumnya, kini Airene sudah sembuh walaupun belum seratus persen, tapi dia tak membutuhkan kehadiran Dokter Fais itu disini.


“Saya ke sini, karena ada yang mau di sampaikan, mumpung Ustadzah juga di sini…” Dokter tiga puluh tahun itu menghentikan ucapannya, dia terlihat santai namun nadanya bicaranya serius.


Airene dan Ruhi saling tatap, ada tanda tanya besar dalam otak keduanya, belum lagi nada bicara Fais itu seakan kalimat yang ingin di sampaikan olehnya ini bukalah kalimat yang main-main.


“Saya kesini mau ajak Airene menikah!” tatapnya tegas kedua wanita di depannya itu.


“HAAA!”


Kedua wanita itu terkejut bukan main, Ruhi yang tahu fakta sebenaranya spontan ingin menolakkan itu untuk Airene, tangannya bahkan sudah bicara dengan terangkat tanpa di sadarinya, telapak tangannya melebar untuk menolaknya, namun karena hanya dia yang tahu semuanya dia menarik kembali tangannya untuk menghilangkan kecurigaan, seketika otaknya di penuhi oleh hal-hal buruk jika Airene menyetujuinya, secara Airene kini tahunya kalau dia sendiri adalah gadis.


Ini benar-benar petir di siang bolong bagi perempuan yang baru sembuh itu, Airene sendiri hanya menutup mulutnya tak percaya karena di tembak di depan mukanya untuk di nikahi, belum lagi pria yang mau menikahinya itu bukan pria yang sembarangan, keluarganya juga sudah mengenal baik dengan pria bergelar Dokter itu, kalau pun di lihat dari kriteria, Fais masuk dalam kriteria idelanya Airene, yaitu pria yang lebih tua darinya.


“Saya serius, sejak saya menangani dia, saya tak bisa membohongi diri.”


“Jadi Dokter ke sini jauh-jauh untuk bilang itu?” ujar Ruhi mencoba untuk menengahi, bukan tanpa sebab Ruhi ikut campur begini sebab selama Airene di sini, tanggung jawab besar ada di pundaknya.


“Awalnya saya ada jadwal di kota ini, kalau saya tak menemuinya saya akan menyesal jika tak segera mengatakannya, makanya saya kemari dan mengatakan niat saya.”


Ruhi menatap Airene. “Jangan Airene!” gumamnya.


Airene mengangkat kepalanya dan berusaha untuk menatap pria yang di depannya itu, “Saya belum bisa menjawabnya sekarang!” jawab Airene setenang mungkin lalu kembali menunduk.


“Airene!” Suara Ruhi tinggi, sorot matanya tajam, bahkan alisnya hampir menyatu, Ruhi tak percaya mendengar jawaban Airene itu, tangannya mengepal kuat di pahanya.


Pernyataan Airene itu bisa membuat Dokter Fais berharap sebab akan ada jawaban Ya atau Tidak, yang berbahaya jika Airene setuju, maka entah apa yang akan berantakan kedepannya.


“Kenapa Hi?” Airene mentap bingung.


Ruhi bangkit “Astagfirullah! Maafkan aku Rin, ya sudah, kalian berdua bicara aja dulu, aku kembali ke kelas, tak enak jika kelas kosong terlalu lama.”


Airene hanya diam sambil kepalanya mengikuti arah jalannya Ruhi yang meninggalkan mereka secara tiba-tiba, kini tinggal Airene dan Fais, keduanya diam sejak di tinggal Ruhi, namun tak lama Maryam datang dan duduk di sebelah Airene.


“Bunda suruh aku ke sini.!” Ucapnya sambil duduk lalu memainkan bonekanya.


“Alhamdulillah!” ucap Airene dalam hati.


“Ada masalah semenjak di sini?” tanya Fais.

__ADS_1


Airene hanya menggeleng, kepalanya terus menunduk sambil fokus pada Maryam.


“Sebaiknya Dokter pulang jika sudah tak ada yang di bicarakan.”


Fais menggesek tangannya di paha, seakan ada yang mau di katakannya, dengan di tinggal oleh Ruhi dia berharap bisa ngobrol lebih jauh dengan Airene, tapi karena sudah di suruh pulang oleh Airene, Fais berdiri dan kembali memberikan tangannya.


“Aku pulang dulu!”


“Maaf.” Airene menolak menyalami tangan Fais.


“Assalamualaikum!”


“Waalaikumussam.”


Airene dan Maryam ikut keluar mengantarkan Fais, namun keduanya hanya sampai di teras tidak sampai ke mobilnya, tak lama Ruhi kembali menghampiri mereka.


“Udah ngobrolnya, cepatnya!”


“Ya karena udah ngga ada yang di obrolkan lagi, makanya ku suruh dia pulang.”


“Kamu ngga nolak permintaanya itu?”


“Entahlah, bukan tak ingin menolaknya, tapi bukankah kita harus membawa yang di atas untuk hal semacam ini.”


“Iya sih, kalau jawabannya iya, bagaimana?” Ruhi mengulumkan bibirnya, dia tak siap dengan jawaban yang akan di dengarnya.


“Ya kalau Iya, ya kenapa tidak” ujar Airene berlalu, pipinya sedikit panas setelah menjawabnya.


“HAAA! Kamu serius Airene?”


Airene berbalik.


“Lihat nanti saja, aku belum mengambil keputusan apapun, kalaupun jawabanku nanti setuju, aku juga tak ingin melakukannya dengan cepat, aku belum siap!” Airene melanjutkan jalannya dengan santai seakan apa yang babaru teilnganya dengar dari mulut pria yang baru di kenalanya itu hanyalah guyonan.


Ruhi terpaku melihat Airene yang meninggalkannya dan Maryam. “Ya Allah tolonglah ini, haruskah aku ambil keputusan penting itu.”


...BERSAMBUNG...


Akankah Airene mengIYAkan ajakan tersebut?

__ADS_1


Cek di Episode selanjutnya? ⬇️⬇️⬇️⬇️🥰


__ADS_2