
Melihat Ruhi, aku semakin ragu, sebab aku tak mengenal kepribadiannya, yang aku tahu dia kalem dan pendiam tapi ini jauh berubah dari yang aku bayangkan, bahkan membuatku menjadi takut padanya.
Dengan rasa takut yang lebih tinggi dari melewati jalan ke toliet tadi aku terpaksa mengikutinya ke Mesjid. Semakin kami dekat maka suara orang yang mengaji itu semakin jelas, saat semakin jelas, aku merasa mengenal siapa pemilik suata tersebut.
"Suara ini!"
...【"Membaca salah satu surah Alquran"】...
"Baguskan!" ucap Ruhi.
Aku mengabaikannya dan dengan beraninya aku berjalan mendekati jendela masjid tempat saff pria, aku berani begini karena aku mengenal pemilik suara ini, suara yang sudah aku cari seharian ini, suara yang akan menjadi alasan terkuat untukku bertahan di Pondok Pesantren ini.
“Suara abang-abang bertoa?” tebakku tanpa Ragu.
Dan benar dugaanku semalam, saat menebak pemilik suara ini pasti orang ganteng, dan Yess benar, dia adalah malaikat tak bersayap yang sedang lafalkan firman tuhanya dengan sangat merdu. Sankin bagus dan merdunya mataku basah karena lantunanya, aku terharu.
"Masya Allah, Abang Toa ku," ucapku kagum padanya yang kini duduk mengaji di dalam masjid, aku terhanyut dalam ilusi, sampai menempelkan kepalaku di jendela masjid.
"Siapa di sana?" tegurnya.
Mataku membulat sempurna, tak ku sangka suaraku membuatnya berhenti mengaji bahkan membuatnya berdiri, Aku semakin panik saat bayangan gantengnya semakin membesar terkena biasan lampu, Ia menghampirku yang mematung.
"Matilah kau Airene," gumamku, saat aku sedang panik, aku melihat ke belakangku ternyata Ruhi sudah tidak ada. " Ruhiiii, dimana dia " lanjutku.
"Sedang apa ya?"
Tanya pria yang lebih tinggi dariku itu, dengan memakai kurta dan kopiah, sosoknya sangat sempurna. Di tambah lagi suaranya yang khas itu, sayangnya aku tak bisa melihat wajahnya dari jarak sedekat ini, tapi seratus persen aku yakin, dia ganteng, dan aku hanya bisa tertunduk malu karena tertangkap basah olehnya, ini pertemuan yang tak direncanakan.
"Santri baru ya, lagi apa malam-malam kesini?" tanyanya lagi.
Aku semakin takut, otakku tak bisa di ajak kompromi di saat begini, aku tak tahu mau beralasan apa, aku masih menunduk sambil memainkan bajuku. " Hmm, aku, a-aaku ... itu!"
"Kenapa? coba bicara yang jelas," pintanya.
"Mampus,,, mau nafas aja takut, ini malah di suruh suara yang jelas, Ruhi mana siiii, awas aja!" Baru hendak mengutuknya karena berani meninggalkankanku. Akhirnya aku mendengar suaranya.
"Ih Airene, udah dapat mukenanya?" ujarnya seakan tengah berbicara denganku dari kejauhan.
Aku dan Abang bertoa lalu menoleh ke arahnya, terlihat Ruhi datang dengan mukena dan wajahnya yang sudah basah seperti baru berwudhu.
__ADS_1
"Eh, Assalamualaikum Kak." ucap Ruhi malu-malu sambil membenarkan posisi jilbanya tak lupa Ia pun ikut menunduk.
"Kenapa kalian di sini pagi begini, ini belum jam kalian!" ucapnya tegas.
"Oh maaf kak, kami bedua cuman mau sholat aja, dia mengajakku untuk sholat di sini, apa boleh kak?" balas Ruhi dengan lembut.
"Oh begitu, boleh, silahkan!" balasnya pula tak kalah lembut.
Aku tak menyangka Ruhi rupanya pandai bersandiwara, ternyata selain ia menunjukkan sisi lain dirinya, malam ini ia juga pandai bersilat lidah. Aku hanya bisa kagum padanya, dia juga telah menyelamatkan aku dari Pria yang aku kagumi ini. Tapi kurasa dia juga mengaguminya, itu yang dapat ku lihat dari sikapnya malam ini.
"Ya sudah, maafkan temanku ya kak, Kami ke belakang dulu, dia belum tahu aturan sini jadi mau masuk area sholat santri Putra," ujar Ruhi berdalih.
"Iya-iya, nggak apa-apa, besok-besok jangan salah lagi ya?" ucapnya lagi.
Seketika aku merasa tubuhku ringan tak berdaya dan terhoyong hendak tumbang sebab bagaimana bisa aku tak di mabuk kepayang oleh suaranya itu, lemah lembut dan juga wibawanya itu, cocok dengan kriteriaku.
“Eeeeh, kenapa?” ujar Ruhi sambil menahanku.
“Ngak-nggak, aku nggak apa-apa, maaf ya kak sekali lagi.” Aku tersipu.
"Baik kak, kami permisi! Assalamualaikum Kak Zaid." ucap Ruhi berpamitan.
"Waalaikumussalam" jawabnya dan kembali masuk ke Mesjid.
Aku tak dapat Menahan leherku untuk bergerak searah dengan berjalannya Ia kembali masuk.
"Ayoo jalan, nanti Kak Zaid curiga." Ruhi menarikku hingga ke belakang, tempat saff perempuan namun Aku seperti terpaku akan sesuatu. Ya aku terpaku karena Ruhi jelas menyebut nama pria itu.
"Tunggu-tunggu aku nggak salah dengarkan, kamu tadi sebuat nama Zaid kan?" ucapku menahannya.
Ruhi dengan cepat menutup mulutku "Hutsss nanti dia dengar, pelan-pelan.” Ruhi semakin menarikku menjauhi area putra. “Iya namanya kak Zaid, kamu ingat aku bilang semalam kalau aku sering dengar suara orang mengaji, ya itu suara kak Zaid." Jelas Ruhi.
Sambil berjalan Aku menutup mulutku tak percaya, ternyata ada juga hikmahnya di balik ketakutan dan rasa sakit perutku tadi, ternyata ada hadiah hebat yang ku dapat, satu aku tahu namanya, dua aku bisa melihat dia dari dekat, tiga bisa dengar suaranya sekali lagi bahkan lebih jelas.
"Ihh kenapa, kamu kerasukan ya Rin?" tegur Ruhi saat melihatku tersenyum sendiri.
"Iya Hi ... heeeem!"
__ADS_1
"iiih udah yuk Sholat dulu, aku tadi udah bohong sama kak Zaid masa aku juga bohongin Allah."
"Ayuuk!" jawabku hendak melangkah masuk ke mesjid.
“Eeeeh tunggu, kamu kan belum wudhu?" tebak Ruhi.
"Eh iya," ucapku Cengengesan.
"Daaah kita ke belakang, aku juga mau wudhu”.
Kami lalu berjalan ke tempat wudhu dan aku tetap terseyum bahagia karena telah mengenal sepihak kak Zaid walaupun ku rasa dia tak terlalu peduli denganku tadi, sebab dia lebih banyak mengalihkan pandangannya di depan kami tadi, tapi aku tak perduli yang penting aku sudah mengenalnya.
Menit berlalu, setelah sholat dua rakaat, aku dan Ruhi kembali ke kamar, dan di perjalanan Ruhi menyampaikan padaku tentang berita buruk, apa kalian sadar, ketika berita baik menghampirimu, terkadang berita buruk juga mengikutinya, itulah yang kini ku terima bahkan jarak waktunya hanya beberapa menit dari kabar baik itu datang.
Baru tadi ku sebutkan namanya dalam doaku, berharap bisa selalu bersama, tapi Ruhi mengatakan itu, dan mematahkan semangatku.
“Kau tahu Airene?”
“Apa?” aku tak menoleh, hanya senyum-senyum sendiri karena mengingat kejadian tadi, bahkan jawabku lebih lembut dari biasanya pada Ruhi.
“Kak Zaid akan kuliah ke mesir.”
DOOOOR!
Aku terhenti, senyumku langsung pudar, seketika halusinasi yang tadinya terbentuk sempurna di pikiranku, buyar semuanya, bagai tunas muda yang baru muncul di tanah tapi di injak dan patah begitu saja.
“Kenapa berhenti, Rin?, ayoo!” ucapnya yang kini sudah beberapa langkah di depanku.
Merasa tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan, aku memutar kepalaku pelan menatap Ruhi. “Apa k-k-kau bilang ta-di?”
“Kak Zaid mau ke mesir, dia mau kuliah kesana!” dengan gampangnya Ruhi mengulang kalimat tajam itu. Kalimat itu mampu mematahkan ekspektasiku.
“Ayolah, cepat! kita harus segera ke kamar, ngga enak nanti kalau ketahuan!” tarik Ruhi tangaku.
Aku tak menolak, bahkan tak berontak saat dia menyentuh tanganku, bahkan selama di perjalanan menuju kamar, aku hanya diam sambil membayangkan hari-hariku di sini tanpa mendengar suaranya lagi.
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...
Apakah Hari Airene akan suram di Pondok? Nexttt ⬇️⬇️⬇️