Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 8 : Diary Ku 2


__ADS_3

...DIARYKU MEMORI KU...


Perkenalkan Namaku Airene Airenee Ratu Yandrahadi, Usiaku 16 Tahun. Saat ini aku dan kedua sahabatku, namanya Zoa dan Ayu, kami baru saja memasuki dunia pendidikan menengah atas, namun ini semua tak sesuai dengan apa yang aku dan dua sahabatku bayangkan dulu.


Kami tadinya berpikir akan memasuki SMA favorit kami, di mana di dalamnya terdapat priap-pria tampan dan kami bisa mengakhiri kehaluan kami selama ini sebab kami memiliki aturan dari orang tua kami yang tidak membolehkan kami bertiga memiliki pacar sebelum kami menaiki bangku SMA, dan akhirnya kami menuruti itu dengan syarat kami bebas melakukan yang kami suka. Liburan ke tempat yang kami mau, nonton konser artis idola kami dan hidup bahagia tanpa harus memikirkan berada di sepuluh besar setiap tahunnya.


Tiga tahun hidup dalam kehaluan dan bayang-bayang dunia pacaran terkadang membuat kami cukup kesulitan, tapi hari demi hari kami lewati akhinya kami lulus. Sekalipun kami selalu melihat keromantisan teman sekelas kami yang jika mereka update di media sosial dengan kekasih mereka, dengan kalimat-kalimamat romantis. Apa kami Iri, KAMI IRI, tidak salah dengarkan. IRI ! Oh jelas.


Bayangkan! mereka sayang-sayangan di depan kami, terus bisa BBM-an setiap saat, kalau di panggil sama kekasihnya eh di jawab “Dalem Sayang” jiwa jomlo kami meronta-ronta, tapi peraturan adalah peraturan, jadi aku dan dua sahabatku hanya bisa berimajinasi untuk mengatasi itu ! Menyedihkan sekali bukan.


Dan kini semua itu akan berakhir, kami bahagia, sebab ekspektasi kami bertiga kini jauh di atas rata-rata remaja seusia kami, uhh apalagi setauku di SMA itu ada bapak Olahraga Yang sangat menawan. Upss keceplosan ! Jangan salahkan aku tapi ini adalah perasaan yang tak bisa ku kendalikan, ketimbang memilih pria yang seusiaku, aku lebih tertarik dengan pria yang jauh lebih tua di atasku. Ya begitulah seleraku, berbeda lagi dengan selera Zoa apalagi Ayu. tapi apa mau di kata semua itu tampaknya sirna sekelip mata dan kami sepertinya akan memperanjang masa halusinasi kami tentang sosok pria yang kami idamkan karena suatu hal.


...----------------...


Setelah membaca dua halaman yang panjang itu, Airene kembali menatap Ayu yang disebelahnya. Airene mengerutkan keningnya.


“Kenapa?” Ayu menaikan alisnya.


“Zoa?”


“Kenapa dengan Zoa!”


“Apakah dulu kita selalu bertiga, dan kenapa sekarang dia tak ada di sini?”


“Ia dulu kita selalu bersama, dari kecil sampai kita dewasa, karena satu hal dia sekarang tidak bersama kita lagi.”


“Apa itu?”


“Hmm aku juga tak tahu alasanya, tapi yang jelas kamu cukup tahu kalau kita dulu pernah bertiga kemana-mana.”


“Nggak ngebantu banget jawabanya, tinggal jawab aja apa susahnya si Yu!” Omel Airene.


“Kalau aku jawab dan ceritakan semua sekarang itu tak akan merubah apa-apa,” ucap Ayu dalam hati,

__ADS_1


“Yu! Ayuuu…. Yeee malah ngelamun orang suruh jawab.”


“Oh bukannya begitu Ren, ingaaaaaat! kamu belum pulih, perkara Zoa itu akan membuat kamu kepikiran banyak hal karena terlalu banyak cerita di antara kita, jadi aku ngehindari itu, bila waktunya pas aku akan ceritakan semua”


“Janji ya!”


“Iya janji, Ya udah, segitu aja dulu.” pinta Ayu.


“Yaaah kan gantung Yu!” rengek Airene


“Udah lumayan tergambarkan bagaimana kita dulu, seru-seruan.”


“Yah apanya yang seru segitu, nggak bantu apa-apa, aku cuman tahu kalau kita dulu nggak bisa pacaran karena peraturan Mama.”


“Ya udah sabar, besok lagi ya, nanti kalau kamu kebanyakan ingat masa lalu, itu bisa bahaya.” Sahut Ayu lagi dan hendak mengambil buku itu dari tangan Airene.


“Eh nggak-ngak, lepas Yu.” Airene menyingkirkan tangan Ayu.


“Udah besok lagi Renn , kita ke kamar aja yuk! nanti Mama nyari.”


“Memangnya kamu tahu tempatnya?”


“Ya tahu lah, lantai 5 kamar VIP, kalau nggak tahu minta tolong aja sama suster,” sahut Airene spontan.


“Iiiiii, geramnya aku … Ya sudah kamu tunggu disini dulu, aku mau ke toilet sesak nih, mau buang Air.”


“Oke, pergi sana!” sahut Airene lagi tanpa memperhatikan Ayu, Ia focus pada lembaran selanjutnya.


Ayu lalu pergi dan tak lupa ia menitipkan Airene pada suster yang juga sedang bersama pasien lain “Sus, bisa tolong lihat-lihatkan ya teman saya.”


“Oh Iya.”


“Hmm, yaelah di kira aku orang jompo pakai di titip segala,” gerutu Airene.

__ADS_1


Setelah Ayu pergi, Airene kembali melanjutkan cerita masa lalunya.


...----------------...


...“ HARI KELULUSAN ” – Masa lalu...


“Kami Panggil siswa pertama dengan raihan prestasi memuaskan dan akan menerima Beasiswa penuh untuk melanjutkan kependidikan selanjutnya-”


Saat MC itu masih menyanjung sang peringkat pertama dengan segala kalimat indahnya dan itu menurutku amat berlebihan, Aku langsung menolehkan wajahku ke arah Zoa dan Ayu , hanya dengan gerakan bola mataku yang di mulai dari samping kiri dan memutar ke kanan ditambah dengan ekspresiku yang jengah, kedua sahabatku ini langsung memahami maksudku, Zoa membalas dengan raut muka jijik dan ingin muntah sedangkan Ayu hanya meyeringai dan sekali mengangguk.


“Apaan coba begitu aja di puji, geli banget.”


“Setuju Ren, muak mau muntah.”


“Iya Aku sependapat.”


Saat bahasa Isyarat itu kami lakukan tanpa ku sadari ternyata dari kejauhan orang tuaku sedang mengawasiku dari tempat duduk wali murid.


TWING ! 📱


“Airene jangan begitu, apakah kamu iri dengan prestasinya, seharusnya kamu malu dengan apa yang kamu dapat selama tiga tahun di sekolah ini, lihat orangtuanya sangat bangga sedangkan kamu-”


Membaca pesan dari Mama, darahku mendidih, bagaimana bisa Mama membandingkan aku dengan si lugu itu, ya orang lugu yang aku maksud itu adalah Anaya Aruhi Si Kutu Buku yang saat ini berhasil mencuri perhatian seluruh wali murid atas prestasinya itu.


Menurutku prestasi itu tidak begitu penting, yang terpenting adalah skil, karena di dunia bekerja nanti skil adalah yang utama dan prestasi hanyalah bumbu yang membuatmu jadi lebih bernilai, terlebih lagi bagiku seorang wanita yang sejatinya nanti akan menjadi Ibu Rumah Tangga dan mengurus semua keperluan dan pekerjaan rumah, apa pentingnya Prestasi, ha ha... itu tidak akan membuat sapu bisa mengerjakan tugasnya dengan rumus MTK, atau pun piring tidak akan bersih dengan gaya gravitasi bumi. Begitulah penilaianku terhadap prestasi.


“Mama tidak salah ketikkan?, Aku! IRI, terlebih lagi iri dengan prestasi begitu! itu tidak ada dalam kamus Iren Ma, Ayolah Ma sejak kapan Mama jadi begitu peduli dengan yang namanya prestasi!”


📱 TWING!


“Oke teruslah bersikap begitu, Kita lihat hasil apa yang kamu dapat nanti, saat ini kamu mungkin bisa berkata begitu,tapi hari esok kita tidak tahu Airene , Hentikan sifat arroganmu itu dan ya kalau hari ini kamu berada di posisi terbawah lagi, lihatlah apa yang akan Mama lakukan untuk kamu.”


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...


Bagaimanakah cerita masa lalu Airene, Ayu dan Zoa, semuanya akan di kupas di eps berikutnya ⬇️⬇️⬇️


__ADS_2