
“Eh eh, ganti gaya, ganti gaya gini, gini,” unjuk Zoa Pada kami, Zoa memang sudah pro dalam hal mengambil gaya, dia memang ada bakat dalam hal modeling, jadi kalau masalah foto, serahkan pada Zoa maka semua urusan akan selesai. “ Jangan lupa mulutnya. UUUUUU ” Mulut Zoapun maju beberapa senti. Aku dan Ayupun mengikutinya.
“1 … 2 … 3”
Cekrek!
“Sekali lagi ya Kak” Pinta Zoa pada sang Fotografer.
“1 … 2 … 3”
Cekrek!
“1 … 2 … 3”
Cekrek!
Dan benar saja, ketika di lihat hasilnya bagus, Dari kami bertiga Zoalah yang paling paham, Dia juga menyukai segala sesuatu tentang dunia fotografer, selain bercita-cita jadi model dia juga jago berkelahi. Jadi bisa dikatakan Zoa Amelia Pradipta adalah tameng kami saat berhadapan dengan geng-geng di sekolah ini. Sekali pun itu geng Pria.
“Ih baguskan! siapa dulu! Oya.” sambil menyombongkan bakatnya.
PROK … PROK … PROK
“Baguussss!”
Suara tepuk tangan yang di beri jeda dengan satu kata yang di ucapkan penuh penekanan barusan, Aku menelan sekali lagi liurku. entah kenapa liurku jadi sedikit pahit kali ini, Aku paham betul siapa yang bersuara barusan. Seketika kami menjadi kaku, itu adalah suara Mama aku paham betul, meskipun tanpa melihat aku yakin itu Mama.
Aku, Zoa dan Ayu menghentikan aktifitas kami dan membalikkan badan bersamaan, dan ternyata bukan hanya Mama, di hadapan kami saat ini sudah berjejer enam orang dewasa, dan itu semua orang tua kami.
__ADS_1
“Hee Ma. Pa.” Dengan wajah manisku, aku pun menyalami Mama dan Papa serta yang lainnya.
Begitu juga dengan Zoa dan Ayu, selesai mencari muka dengan para orang tua kami dengan bersalaman, kami pun mengambil posisi masing-masing di ketiak setiap Papa untuk menghindari Boom Atom yang akan meledak, Mama sudah naik pitam terlihat dari raut mukanya, maka satu satunya tempat perlindungan ya Papa.
“Terseyumlah yang lebar, cekrak-cekrek yang banyak, beri tahu dunia kalau kalian sudah lulus, jangan lupa keterangan kata-kata cantik nan puitis seakan kalau kalian bertigalah yang paling bersinar diantara teman-teman yang lain, malu Airene!” Bentak Mama. “Sedikit aja kamu malu bisa ngga, mau jadi apa kalian bertiga hah? ... Mama tidak habis pikir sama prestasi kalian, bukannya ada perubahan malah stuk di situ- situ saja, Apa Ka-”
“Tya, hentikan! malu dilihat keluarga yang lain,” ujar Tante Avina menengahi, Mamanya Zoa.
Mendapat teguran dari teman seperjuangan serta teman sepergosipannya Mama akhrinya diam.
“Huh selamat!” Untung ada tante Avina, kalau tidak! Mama akan Kultum di sekolah ini dan satu sekolah tahu kalau kami adalah bahan materinya.
“Tapi Vin, Anak-anak-.”
“Sabar Tya, bukan cuma kamu yang kesal dan malu, Aku dan soraya juga, Iyakan Ya.”
Mendengar Tante Soraya buka suara kali ini, Aku terbelalak, ucapannya itu merubah pendapatku selama ini, jika ku pikir tante soraya adalah protagonis, ternyata dia adalah antagonis berbulu domba.
Mataku seakan mau keluar. Begitupun dengan Zoa, kami berdua saling lempar jelingan mata melihat tante Soraya berucap begitu, Sebab amat jarang tante Soraya angkat bicara, bahkan menurutku kali ini tante Soraya jauh lebih garang dari tante Vina dan Mama. Dan satu lagi, sekelas Om Salman hanya bisa diam seribu bahasa. Padahal Om Salman adalah garda terdepan Ayu dalam hal apapun.
Mendengar Sang Papa di beri peringatan, Ayu memberikan kode padaku dan Zoa dengan mengibaskan tanganya di sekitar leher dan mengerakan bibirnya tanpa bersuara “MATI.”
“Ya sudah kali ini terserah pada kaum Mama mau di apakan gadis-gadis berakhlak mulia ini, Yang jelas kami para Ayah sudah sepakat bahwa kami tidak akan ikut campur dalam hal ini, sebab kami juga malu dengan apa yang anak-akan kita lakukan hari ini, ya kan Tyo,” ujar Om Alek. Papanya Zoa.
Mendengar nama Papa disebut, aku pun menatap Papa dan melihat ia mengangguk setuju dengan penuturan Om Alek,
“Papaaaa!.” Wajahku memelas dan manarik kemeja batik Papa.
__ADS_1
“Sayang! ini yang terbaik untuk kalian bertiga.” Jawab Papa sekaligus melepaskan tanganku yang manarik bajunya.
Zoa dan Ayu ternganga, terlebih lagi aku dong! Sebab diantara ketiga Superhero kami, hanya Papa yang memiliki kekuatan untuk merubah keputusan dari Para Mama. Dan kali ini rasanya kami bertiga benar-benar dalam bahaya besar. Ini gawat, Para pahlawan kami sudah melepas jubahnya untuk melindungi kami.
Dan Ya ! sedikit informasi kalau para orang tua kami sudah berteman sejak masih di bangku kuliah hingga kini memiliki kami, entah mereka janjian membuat kami, Kami tidak tahu, yang jelas usia kami hanya beda beberapa bulan saja, sehingga persahabatan meraka itu juga menurun pada kami. Makanya setiap keputusan yang di buat untuk kami mereka pasti berembuk demi kebaikan anak-anaknya. Katanya sih begitu.
“Ya sudah kita lanjutkan nanti, mari kita cari makan dulu sekaligus memutuskan akan bagaimana pendidikan mereka selanjutnya,” ujar tante Soraya.
“Apa maksudnya tan?”
“Nanti kami jelaskan ya!. Intinya kali ini kami yang akan memutuskan kalian bersekolah di mana. bukan kalian lagi, sudah cukup dari SD sampai SMP kalian yang memilih mau bersekolah dimana, tapi tidak kali ini hasilnya sudah terlihat, me-nge-ce-wa-kan. Kami bertiga sudah memilihkan tempat terbaik.” Kata Tante soraya sekaligus di iyakan oleh kedua sahabatnya itu.
“Bu nggak bisa begitu bu! bukannya-”
“Ayu jangan membantah ya!, kamu jadi tidak punya attitude akhir-akhir ini, sering membantah ibu, suka meninggikan suara, di suruh sholat susah, sekarang pilih! mau tetap bisa nonton aktor korea kamu itu dengan ikuti pilihan Ibu atau kamu buat keputusan kamu tapi kamu tidak kan bisa bertemu mereka lagi bahkan sekalipun itu hanya sekedar menghayalkannya.”
Ayu menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak mendengar akan di pisahkan dengan actor kesayangannya itu, mungkin dalam benak Ayu Lee Min Ho adalah segalanya, “Baik Bu aku ikut Ibu.” ucapnya lemah kemudian terunduk.
“Sudah-sudah, kita lanjutkan nanti lagi, Aku sudah pesan sebuah restoran untuk kita sekeluarga, dan ini restoran baru,” Sahut Mama.
Tanpa banyak basa - basi lagi kami sekeluarga berangkat ke restoran tersebut, di perjalanan kami sepakat tak ada ha ha hihi lagi, tak ada suara, yang rame hanyalah pesan masuk yang kami silent, kami berontak di sana, tapi apalah daya dan pendek cerita keputusan itupun akhirnya di bikin, bahwa kami bertiga akan di masukkan ke sekolah berbasis asrama yakni pondok pesantren.
Tidak ada HP, tidak ada pacaran, tidak ada korea, semua yang menyenangkan tidak akan ada lagi, selamat tinggal SMA, dan selamat memperpanjang ke jomloan.
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1