
“Bun… Airene.” Tegur Firdaus yang baru datang.
“Eh, Mas.”
Ruhi dan Airene melepaskan pelukan mereka.
“Mas udah urus semua, kita mau pulang sekarang?”
“Ayuk!, ayo Rin, kita lanjut di rumah aja.”
Airene tak menjawab, dia hanya mengangguk sambil menyeka air matanya lalu ikut bangkit dan berjalan bersama Ruhi serta Firdaus ke mobil.
“Bun, kita mau makan dulu abis itu Sholat di sekitar sini, atau lanjut jalan langsung pulang?”
Ruhi menyingkap lengan gamisnya melihat jam. “Makan dulu aja Mas, Mas kan juga belum makankan, lagi pula kalau lanjut pulang ngga enak tangan kosong, ya sekaligus beli makan buat Maryam juga Mas.”
“Ya sudah!”
Akhirnya ketiganya melaju dan sedikit belanja untuk keperluan bulanan dan di tengah jalan mereka berhenti di salah satu masjid untuk menunaikkan kewajiban mereka.
...****************...
“Hi?” Airene menahan tangan Ruhi yang ingin melangkah keluar masjid.
“Ya kenapa Rin!”
“Aku kayaknya udah ambil keputusan deh!”
“Keputusan?”
Airene mengangguk cepat.
“Tunggu dulu, kita lanjut di teras aja!”
Keduanya keluar dari masjid dan saat keluar, terlihat oleh Ruhi kalau Firdaus sudah menunggu di dalam mobil.
“Ada apa Rin?”
“Aku mau pulang?”
Ruhi mencoba mencerna kalimat Airene, matanya berkedip-kedip.“Iya-iya abis ini kita langsung pulang, maaf ya bawa kamu mutar-mutar dulu!”
__ADS_1
“Ngga, bukan itu, maksud aku bukan pondok, aku mau pulang ke rumah.”
“Haaah!” Ruhi berkerut.
“Aku bisa pulang sendiri kok!”
“Tunggu-tunggu ini bukan masalah kamu bisa atau tidaknya pulang sendiri Rin, aku dan Mas Firdaus bisa antar kamu saat ini juga, tapi yang buat aku bingung, kenapa mendadak!”
“Ini mungkin mendadak Hi, tapi sejak tadi aku terus memikirkannya, setelah aku tahu apa yang di sembunyikan keluargaku, aku rasa aku harus ikut membereskan apa yang aku mulai, walaupun aku tak tahu apapun, sejak kau sibuk belanja dan aku memilih banyak diam, aku diam karena aku memikirkan keputusan ini, dan tadi waktu Sholat aku udah buat keputusannya.”
“Jangan begini Rin, aku jadi merasa bersalah karena sudah menguangkapkannya.”
“Jangan merasa bersalah Hi, justru karena kamu berani ungkapin semuanya, aku jadi tahu, kalau tidak! mungkin hal yang lebih buruk bisa saja terjadi.”
“Kamu yakin, apa kamu siap?”
“Aku yakin dan siap Hi, ku rasa semakin aku diam, maka semakin lama kebenarannya terungkap.”
“Tapi Rin, itu ngga mudah, bagaimana kamu mengatasinya?”
“Aku akan cari tahu semuanya, aku mau pulang dalam keadaan orang-orang tak tahu jika aku sudah tahu semua rencana itu, aku mau pulang sebagai Airene yang sama yang mereka lihat sebulan belakangan ini, bukan Airene yang beridi saat ini di depanmu Hi, bukan sebagai Airene yang mengetahui kalau dia sudah menikah dan punya anak, dan selagi aku pulang, rencana pernikahan Ayu dan Kak Zaid belum di putuskan, aku masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya.”
“Tapi Rin?”
TWING
Saat sedang asik berbicara tentang keputusan Airene itu, ponsel Ruhi berbunyi, lekas Ruhi memeriksanya dan terlihat itu dari Sang Suami, Firdaus.
“Bentar ya Rin dari Abinya Maryam, mungkin dia udah lama nunggu di mobil.”
“Ya udah balas aja dulu.”
(Sayang, ngobrolnya masih lama.)
“Sebentar ya Mas, ini Airene minta pulang ke rumahnya!” Balas Ruhi.
Ruhi memasukkan kembali ponselnya. “Udah aku balas, kita lanjut ngobrolnya di mobil.”
Airene mengangguk, dan keduanya lalu masuk ke mobil, dan Airene langsung menyampaikan niatnya untuk Pulang ke rumahnya pada Firdaus, tanpa pikir panjang, Firdaus setuju untuk mengantar Airene pulang siang itu juga.
“Kenapa tiba-tiba Rin?” tanya Firdaus sambil melirik spion tengahnya.
__ADS_1
Airene yang mendapat pertanyaan itu kaku, sebab dia tak memiliki jawaban pasti untuk menjawab pertanyaan Firdaus itu. Airene menyetuh bahu Ruhi yang duduk di kursi depan, Ruhi yang sejatinya tak bisa bohong pada suami hanya diam dan tak tahu harus berbuat apa, sedangkan Firdaus yang sibuk menyetir melihat kode Airene pada Istrinya itu.
“Kalau tidak bisa jawab, ya tidak apa-apa, itu hak kamu Rin, tapi aku di sini sebagai Abang dan sebagai teman seangkatan dari Zaid hanya bisa mendoakan semoga kamu kuat menjalani apa yang akan Allah hidangkan untuk mu nanti.”
DEG!
Jantung dan nafas Ruhi seakan berhenti kala mendengar kalimat itu, Ruhi yang terkejut melotot bahkan kepala yang sebelumnya tertunduk itu spontan terangkat sanking hebatnya kalimat suaminya itu, sebab meskipun Ruhi tahu banyak rahasia keluarga Airene dan segala permasalahannya, Ruhi tak pernah menceritakan setitik pun permasalahan itu pada orang lain, terlebih lagi suaminya, teman seranjangnya itu.
“Mas tahu?” tanya Ruhi sambil menoleh pada Firdaus.
“Ya! Mas tahu-”
Mendengar itu Airene yang terkejut hingga menutupi mulut dengan tangannya, sebab walaupun baru mengenal kepribadian suami sahabatnya itu, Airene tak menyangka hal itu bisa di ketahui Firdaus yang notabenenya tak pernah ikut campur urusan orang lain.
“Kemarin Zaid hubungi Mas dan kami sempat bertemu beberapa hari yang lalu, dia meminta Mas untuk mendoakan dia kuat menjalani rumah tangganya, itu saja,” sambungnya.
Airene langsung berlinang kala tahu suaminya sampai meminta untuk di doakan begitu, Airene yang duduk tepat di belakang kursinya Ruhi langsung tersandar lesu, Ia memiringkan kepalanya untuk mencari posisi terbaiknya, di tatapnya keluar kaca setiap barisan pohon yang mereka lewati, barisan pohon itu bagaikan ingatan di masa lalu yang di cobanya untuk Ia ingat lagi, namun semuanya kosong, ia termenung memikirkan semuanya.
“Apa yang aku lakukan, hingga semuanya seburuk ini,” gumam Airene, tanpa sadar air matanya tumpah mengalir pelan membasahi pipinya.
Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka sampai di kota, Airene yang banyak melamun itu tanpa sadar tertidur dengan bekas air mata yang mongering di pipi lembutnya.
“Rin, Airene bangun! Kita hampir sampai.”
Airene pun dengan mudahnya kembali sadar, di tatapnya luar jendela, pepohonan itu kini sudah berganti rumah-rumah bagus indah nan megah.
“Kita sudah sampai di komplek rumah mu, rumahmu yang pagarnya putih itu.” Tunjuk Ruhi pada Rumah yang akan mereka singgahi itu.
Lekas Airene memanjangkan lehernya, Ia terus memperhatikan rumahnya bahkan sampai menurunkan kaca mobilnya, hingga sampailah mereka di depan rumah besar itu, mobilnya belum sepenuhnya berhenti dan saat itulah dari celah-celah pagar baik Airene dan Ruhi melihat kalau di depan rumah itu lagi ada senda gurau keluarga bahagia yang bermain dengan anak gadis mereka, mereka berkejar-kejaran bahkan tertawa bersama.
Airene yang seketika paham siapa yang Ia lihat itu, lekas menekan tombol penutup kaca mobilnya, Ia bahkan menekannya berkali-kali berharap kaca mobilnya langusung tertutup, Melihat itu Ruhi mengkode Firdaus untuk tidak menghentikan mobil mereka di depan Rumah Airene.
Firdaus yang juga paham dan melihat hal itu kembali menginjak gasnya dan mobil yang sudah berjalan pelan itu pun melaju menjauh dari depan rumah itu. Setelah menjauh, Ruhi melihat dari kaca spionnya, ada pria yang keluar dari rumah itu dan Ia menatap ke arah mereka.
“Kak Zaid memperhatikan mobil kita.” Ucap Ruhi.
...Bersambung...
...****************...
...****************...
__ADS_1
Akankah kepahitan itu di mulai.... ⬅️⬅️⬅️ cek eps selanjutnya ya