Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 25 : Pakeeeeet


__ADS_3

TOK! TOK! TOK!


“Assalamualaikum … PAAAKEEEEET!” ucap pria pengantar paket dengan lembut tak layaknya beberpa oknum yang kasar dan berteriak.


“Waalaikumussalam!” jawab keduanya.


Airene reflek memutar kepalanya menatap pintu, Ia belum berdiri, tapi seketika isi kepalanya di isi oleh pemilik suara barusan, seperti gema orang yang berteriak di dalam gua, gemanya terus bermain di liang gua, begitulah kini Airene, suara pengantar paket itu seakan membuatnya kembali ke masa lalu dan bermain dengan suara lain yang tak bis di ingatnya, suara itu seakan membangkitkan kepingan-kepingan kasar yang sedikit ada di ingatan, tapi sayangnya kepingan rusak itu tak bisa di raih otaknya.


“Rin!” Tangan Ruhi menyetuh paha Airene, suara pria itu juga membuyarkan lamunan Ruhi, jika tadi Ruhi yang terdiam mendengar ocehan panjang Airene, kini Airene yang terpaku di depannya.


“Eh, tuh ada paket Hi, … kamu pesan sesuatu Hi?”


“Tidak!”


“Coba lihat dulu sana, mungkin kamu lupa, kalau aku sudah jelas ngga ada!” dengan PD-nya Airene menyangkalnya, sebab jangankan untuk memesan belanjaan dari aplikasi, untuk video call saja dia masih bingung untuk memakai kamera depannya.


“PAAAAAKEEEEEEE!”


“Sebentar!” Akhirnya Ruhi yang berdiri, namun saat mau melangkah, pintu kamar Airene terbuka dan memunculkan anak semata wayangnya cemberut. “Maryam!”


“Bunda kenapa ngga cariin aku!” rajuknya dengan membuang mukanya.


Airene dan Ruhi saling tatap, sebab keduanya melupakan anak kecil yang masih bersembunyi di kamar itu, Airene yang melihat mulut bebek Maryam memberi kode pada Ruhi dengan jelingan mata ke arah Maryam agar segera mengurus gadia kecil itu, Ruhi yang paham mengangguk dan mendekati anaknya yang marah, sedangkan Airene kini bangkit dari kursinya dan menemui pria yang suaranya menghantui telinganya itu.


Selangkah demi selangkah Airene mendekati pintu, tapi saat semakin dekat detak jantungnya terpacu kuat, seakan ada magnet alami yang membuatnya begitu, padahal itu hanyalah pengantar paket biasa.

__ADS_1


“Paket untuk siapa?” tanya Airene sambil membuka pintu yang sejak tadi menghalangi pandangannya untuk melihat pria pengantar paket itu, setelah pintunya melebar, Airene mentapa pria itu, lebih tinggi darinya, sorot matanya tajam, menggunakan topi dan masker, dan tak lupa jacket dari perusahaan jasa tempatnya bekerja.


Pria itupun hanya diam mengamati wanita berjilbab yang kini di depannya, cukup lama dia diam, hingga air matanya ingin jatuh barulah dia memutar kepalanya dan menghilangkan jejak kesedihan yang seketika terbentuk itu.


“Ahh, maaf, pesanan atas nama Airene Ratu Yandrahadi!” ucapnya lengkap nama Airene.


Airene langsung mengeryitkan dahinya, dirinya berhak bingung sebab memang tak pernah memesan apapun, tapi kini dia di hadapkan dengan sebuah fakta jika benar namanya tertulis di struk belanjaan online itu.


“Hi, Ruhi!” menoleh ke dalam untuk mengajak Ruhi melihat kejanggalan ini, namun ternyata Ruhi sudah tak ada lagi di kursi tamu, begitu pun dengan Maryam, keduanya entah kapan perginya, Airene sampai tak menyadarinya.


“Barangnya apa?” tanya lagi pada pengantar paket itu.


“Maaf Mbak saya ngga tahu, ini pesanan Mbaknya, sudah di bayar!” menyerahkan pesanannya dan berbalik karena tugasnya sudah selesai.


Airene menerimanya, walaupun hatinya ragu untuk memegang kotak berbalut plastic hitam itu, di bacanya tulisan di kertas, tak ada nama pengirimnya, yang ada hanya namanya sebagai penerima paket itu.


BRAAAAAAAAK!


Pengantar paket itu oleng dan membuat beberapa paket yang di tasnya jatuh berhamburan, Pria itu setengah berdiri, dia berpegangan pada pagar untuk menopang tubuhnya.


“Astagfirullah Mas!” sontak Airene meletakkan barangnya di meja dan memegang lengan pria yang rapuh itu.


Pria lemah itu mengangkat kepalanya, telinganya masih jelas untuk sekedar mendengar ucapan kekhawatiran dari mulut wanita yang kini memeganginya.


“Akhh, maaf-maafkan saya Mbak!”

__ADS_1


“Duduk, duduk dulu Mas!” dengan cepatnya Airene menggeser kursi di sana dan mempersilahkan pria itu duduk.


“Terima kasih!” tatapnya mata Airene.


Keduaya bertemu dalam satu tatapan, cukup lama hingga Airene kembali membuat otaknya mengingat kepingan kasar tentang sesuatu, tatapan itu seakan bukan yang pertama di lihatnya, bahkan bayangan dirinya di mata pria itu juga bukan yang pertama kali, kepingan kasar itu seakan mengatakan ini memang bukan yang pertama bagi keduanya.


“Astagfirullah,“ lekas Airene berpaling. “Maaf! , biar saya ambilkan air!” ujar Airene yang berlalu meninggalkan pria misterius itu, setelah menjauh, Airene bersembunyi di balik pintu dan menolah pada pria yang kini bisa di lihatnya dari jarak manapun, di pegangnya dadanya, rasa yang sama menghampirinya, rasa gugupnya bahkan semakin bertambah kuat setelah mentapnya.


Tak lama Airene kembali dan membawakan segelas Air. “Silahkan di minum!”


“Terima kasih Mbak sudah baik sama saya, maaf sebelumnya kalau merepotkan, tapi saya ingin mengatakan ini, Mbak mengingatkan saya dengan Istri saya.” Ujarnya sambil mengambil gelas dan menegak air hangat tersebut.


Pernyataan Pria itu, membuat Airene semakin merasa ada yang tak beres, di kepalnya kuat kedua tangannya yang ada di bawah meja, Ia ingin marah tapi magnet itu ada di antara keduanya yang membuat Airene tak bisa berontak atapun menjauh untuk tak melayani pengantar Paket lancang itu.


“Maaf jika saya lancang, tapi melihat Mbak membuat hati saya tentram, seakan ada kedamaian yang selama ini hilang dalam hidup saya, kalian berdua benar-benar mirip, tapi sayangnya kini dia sedang tak bersama kami, saya dan anak saya harus berpisah untuk sementara waktu, bahkan mungkin kami akan di paksa berpisah.” Pria itu langsung terunduk, setetes air matanya terlihat jatuh membasahi celananya.


Kata pisah yang di ucapkannya membuatnya tak mampu lagi menahan diri, Air mata pria itu sudah menjelaskan semuanya, menjelaskan tentang betapa hancurnya dia jika hal itu terjadi padanya, Airene yang melihat pria berbahu lebar itu tertunduk, tak kuasa menahan kesedihan yang sama, padahal dia tahu mereka tak ada hubungan, Ia juga berlinang seakan hancurnya pria itu akan membuatnya juga hancur.


“Tadinya kami bersama, aku menjaganya, tapi saat di sadar, dia pergi dan harus pergi, aku hanya bisa mengamatinya dari jauh, tapi yang menyakitkan adalah, anakku! … anak kami tak mengetahui siapa ibunya, bahkan mereka belum bertemu hingga saat ini, aku ingin mempertemukan mereka tapi keadaan memaksaku untuk diam dan membiarkan dia jauh dari ibunya, aku ingat dia sering menghayalkan bayi yang di kandungnya, dia bilang padaku saat bayinya lahir nanti, dia akan menamai dengan nama yang indah, lalu saat sudah sedikit besar dia bermimpi untuk membawa kami berlibur di sebuah pantai dan mengambil gambar sambil bermain pasir, itu adalah cita-cita kecilnya untuk anak kami, tapi hingga kini hampir tiga tahun sudah berlalu, dia bahkan belum menyetuh putrinya sedikitpun, aku hancur jika harus mengingat itu, terlalu banyak moment antara aku dan dia, setiap kali aku melihat wajah putri kami yang tengah tidur, entah kenapa aku selalu melihat dia ada di tengah-tengah kami, setiap kali aku patah, entah kenapa tengan lembutnya seakan menguatkanku, bahkan hingga saat ini aku di sini berkat dia.” Pria itu mengangkat kepala dan menatap Airene.


Airene yang di tatap untuk kali kedua tak lagi mengelak, dia kini membalas tatap itu sambil sesegukan di depan pria itu, tatapan sendu pria itu semakin membuat Airene ingin menangis, Airene terbawa emosional dengan cerita pria itu, Ia hanya diam dan tak sepatahpun berucap, hingga akhirnya Airene yang masih menatap pria itu tak kuasa menahannya lagi, Ia ingin menangis sejadi-jadinya tapi tidak di denpan pria itu, Airene menggeser kursinya dan berlari masuk ke dalam rumah dengan menyeka airmatanya, Ia kembali menyembunyikan dirinya di balik pintu.


“Ke-kenapa i-i-ini,?” sesegukan sambil mengenggam tangannya di dada, Airene tak mengerti kenapa dia bisa sesakit itu mendengarnya.


...Bersambung...

__ADS_1


Siapakah pria tersebut, apakah ada hubungan di antara keduanya?


⬇️⬇️⬇️⬇️ Eps 26


__ADS_2