Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 29 : Putih


__ADS_3

“Kamu ngga salah ko Hi?” ujar seseorang dengan nada beratnya.


“Airene!” Ruhi memalingkan wajahnya pada Airene.


Airene memegangi kepalanya yang sakit.


Firdaus yang berjongkok pun bangkit. “Sudah enakan?”


“Alhamdulillah.”


Ruhi menggengam tangan Airene. “Syukurlah kamu cepat sadarnya, aku takut Rin!”


“Aku ngga apa-apa kok, ya cuman pusing, tapi ini sudah mendingan.”


“Maafin aku Hi, aku ngga niat buat kamu celaka.”


“Ngga apa-apa Hi, walaupun kini aku masih tak percaya dengan semua ucapanmu itu, tapi tetap saja aku akan meminta keteranganmu.”


“Baiklah, aku akan jawab semuanya, tapi tidak sekarang ya dan harus tunggu Mama Tya dulu, aku-,”


“Kamu udah hubungi Mama?” Potong Airene.


“Belum, aku takut!”


“Baguslah, aku minta untuk kamu jangan kasih tahu Mama, aku tidak mahu dia tahu kejadian ini.”


“Tapi Rin?”


Airene menarik tangan yang sebelumnya di genggam Ruhi dan kini Ia menaikkan tangannya di atas tangan Ruhi, “Aku mohon, biarlah ini jadi rahasia di antara kita Hi.”


Ruhi mendongak pada Firdaus yang ada di sebelahnya untuk meminta bantuan tentang keputusan itu, Firdaus yang balas menatap Ruhi, mengangguk menyetujuinya, merasa dapat dukungan dari Suaminya, Ruhi kembali beralih pada Airene.


“Baiklah aku setuju, tapi maafkan aku atas kejadian ini.”


“Sudahlah, jangan di pikirkan aku hanya pusing saja.”


“Ya udah, kamu Istirahat aja dulu, biar lebih baikkan”


“Baiklah, nanti subuh bangunin aku ya.”


Ruhi mengangguk dan bangun membenarkan selimut untuk Airene.


...****************...


Angin berhembus meniup jilbab Airene, kini Airene berada di taman Rumah Sakit, duduk di kursi dekat pohon yang lebat daunya, Ia melamun sambil menunggu Ruhi, kini isi kepalanya penuh tentang fakta yang di dengarnya pagi tadi, belum lagi di tambah dengan pertanyaan kenapa keluarganya menyembunyikannya darinya, dan sesuai kesepakatannya dengan Ruhi, siang ini dia akan mendengar semuanya dari Ruhi tentang apa yang terjadi dengannya.


“Hi!” Ruhi menyetuh pelan bahu Airene, untuk menyadarkannya, Ruhi pun beralih duduk di sebelahnya. “Kamu siap!”


“Aku udah siap, bahkan aku sudah siap sejak bangun pagi tadi.”


“Aku yang belum siap Hi, aku takut kamu pingsan lagi!”

__ADS_1


“Percayalah Hi.” Airene berkaca-kaca. “A-aku, huts!” tetunduk tak kuasa menahan diri.


Merapatkan duduknya, “Kalau belum siap jangan di paksakan Hi!


Airene menggeleng dan menyeka air mata yang sedikit tumpah di pipinya. “Aku pengen tahu semuanya Hi, please Hi, jangan hiraukan aku, aku pengen tahu siapa suamiku?”


“Oke-oke Rin, aku akan kasih tahu semuanya, tapi hanya yang aku ingat ya, karena ada beberapa yang aku tak tahu.”


“Baiklah, yang penting aku tahu apa yang di sembunyikan keluargaku."


“Pertama, ada alasan kenapa Mama dan Papa menyembunyikan ini darimu Rin, jangan kamu berfikir buruk dulu ya.” Ruhi menarik nafasnya dalam, dadanya terasa menyempit dan sesak hanya sekedar mengeluarkan fajta yang selama ini di simpannya, Ruhi mengeluarkan ponsel dan memainkan jarinya untuk mencari koleksi fotonya. “Ini.”


Airene pun mengambilnya dan membesarkan foto itu, terlihat sepasang pengantin berbaju putih yang berlatarkan sebuah masjid tengah terseyum sambil memperlihatkan jari manis masing-masing yang kini berlingkarkan sebuah cincin.


“Itu foto kamu menikah dengan Kak Zaid.”


“Kak Zaid yang di pondok?”


Ruhi mengangguk pelan. “Ya, Muhammad Zaid Abdillah adalah suamimu yang sah, bahkan baru-baru ini dia datang menemuimu, maafkan aku Rin.”


“HAAA!”


“Pengantar paket tempo hari adalah Kak Zaid, dia datang dan memintaku untuk menyembunyikan kedatangannya dari Mama dan yang lainnya.”


Airene memejamkan matanya, dadanya terus kembang kempis dengan cepatnya, jantungnya memompa kuat, bahkan Airene berulang kali mengatur nafasnya agar tetap tenang mendengar semuanya. “Baiklah, lalu apa lagi, kalau aku tak salah dengar kau bilang aku punya anak, apa itu benar, aku tak salah dengarkan pagi tadi.”


Ruhi menggeleng, dan tangannya menyentuh perut Airene. “Kau tahu bekas jahitan yang ada di perutmu!”


“Ini!” Airene ikut menyetuhnya.


“Menyelamatkan kami berdua, apa yang terjadi padaku?”


“Kamu kecelakaan!”


Airene sontak menutup mulutnya dengan tangan karena tak percaya dengan hal itu.


“Kamu kecelakaan, dan saat itu kamu masih mengandung delapan bulan.”


“Bagaimana aku bisa kecelakaan!”


“Aku tidak tahu sebabnya apa Rin, maafkan aku.”


“Apa aku di tabrak, atau menabrak orang lain atau aku kecelakaan tunggal.”


“Bisa di bilang kau kecelakaan tunggal, mobilmu menghantam tebing, terbalik dan terbakar, untungnya kau selamat.”


“Lalu bagaimana dengan Kak Zaid?”


“Dia tak kenapa-kenapa”


“Alhamdulillah!”

__ADS_1


“Karena bukan dia yang bersamamu malam itu.”


Airene mengeyitkan dahinya. “Maksudmu aku semobil dengan orang lain, begitu?”


“Iya Rin, kau bersama dia!” Ruhi menggeser layar ponselnya dan di sana ada foto pernikahan Ayu dan Artama.


Airene menatap sekali lagi ponsel Ruhi. “Ayu sudah menikah?”


“Ya, dan malam itu kau bersama Artama!”


“Bukankah-,” Airene menghentikan ucapannya.


“Ya Rin, Artama yang sama dengan di bukumu itu, kau dan Ayu sama-sama dapat pria yang kalian cintai.”


“Berarti pria yang aku lihat di rumah sakit dan menggendong anak perempuan itu adalah suaminya, Artama!” Tebak Airene dengan yakin.


Ruhi menggeleng. “Artama dinyatakan meninggal setelah kejadian itu Rin!”


“Apaaa!” Airene menutupi sebagian wajahnya dengan tangannya dan kembali sebutir air mata Airene jatuh mengenai tangannya, Airene tak percaya dengan semua yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya.


Ruhi yang melihat Airene syok langsung memeluknya, dan Airene membalas pelukan itu.


“Kalau kamu tidak kuat, aku tidak akan melanjutkannya Rin!”


“Lanjutkan Hi, keluarkan semuanya, dan aku minta kau berjanji padaku, berjanji sebagai seorang sahabat, jangan beri tahukan siapapun kalau aku tahu fakta yang sebenarnya.”


“Rin!” Ruhi melepaskan pelukan mereka.


“Aku mohon Hi, pasti banyak yang kau dan aku tak tahu, aku mau cari tahu sisanya sendiri Hi!”


“Aku mohon jangan Rin, jangan gegabah, kami melakukan ini demi kabaikanmu!”


“Lupakan kebaikan itu Hi, sekarang aku mau tahu siapa anak dan pria yang Ayu temui di rumah sakit itu, apa Ayu menikah lagi?”


“Aku tidak tahu siapa yang kamu bicarakan Rin.”


“Tunggu-tunggu, boleh kau lihat gambar di ponselmu lagi.”


Ruhi memberikannya, Airene pun kembali membesarkan foto saat pernikahannya dengan Zaid, dia menjauhkannya dari wajahnya dan mencoba mengingat kembali apa yang di lihatnya di rumah sakit, dan berusaha untuk menyamakan gambar Zaid dengan pria yang di lihatnya itu.


“Apa ini hanya perkiraanku kalau mereka terlihat mirip?” gumam Airene. “Apa jenis kelamin anakku Hi?” tanya Airene sambil terus menakar kesamaan antara foto suaminya dengan bayangan laki-laki di rumah sakit yang ada di ingatannya.


“Perempuan, namanya Aisyah!”


BHUUUK


Ponsel Ruhi terlepas dari tangan Airene, tangannya masih di posisi yang sama, Airene memutar wajahnya pelan menatap Ruhi, Air matanya tak bisa di kendalikan dan jatuh dengan sendirinya saat potongan-potongan kejadian itu mulai menemukan titik terang di kepalanya, tangan Airene yang lain gemetar seketika, begitpun bibirnya jadi bergerak seakan ada yang mau di ucapkannya tapi tak mampu Airene mengutarakannya.


“A-aa-pakah le-laki itu, k-k-kak Zaid Hi?”


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...


Apakah ada hal lain yang berlaku di belakang Airene selama ini?...


__ADS_2