Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 28 "Fakta"


__ADS_3

Tiga hari kemudian. 2:30 pagi


Clek!


Clek!.


Secara bersamaan kedua pintu kamar terbuka dan masing-masing memunculkan kedua penghuninya baik Airene ataupun Ruhi, namun yang berbeda adalah pakaian dari keduanya, Ruhi hanya memakai pakaian tidurnya sedangkan Airene mengenakan mukenanya.


“Mau kemana Rin?” basa-basi Ruhi, walaupun dia sudah tahu apa yang Airene ingin lakukan.


Sejak hari itu, Ruhi terus mengamati gerak-gerik sahabatnya itu, dan dari pengawasan Ruhi belakangan ini, Airene seakan di mabuk cinta, dia banyak melamun dan senyum-senyum sendiri terlebih lagi saat memainkan ponselnya, namun untuk membuat Airene nyaman, Ruhi memilih untuk tak ikut campur terlalu jauh sampai-sampai harus mengetahui apa yang di lakukan Airene dengan ponselnya itu.


“Aku Sholat, mau minta petunjuk.”


“Kamu beneran?” tanya Ruhi mengintimidasi, Ruhi menarik tangan Airene dan mengajaknya duduk.


“Kamu kenapa Hi, aku perhatikan kamu akhir-akhir ini jadi lebih sering memperhatikan aku, apa ini ada kaitannya sama pertemuan Dokter Fais kemarin?” balas Airene serupa.


Di tembak di awal oleh Airene, detak jantung Ruhi seakan berlubang akan kalimat Airene itu, sebab Ruhi tak menyadari kalau ternyata dia juga di awasi oleh Airene, dan memang benar jika Ia lebih perhatian setelah pertemuan itu.


“Huft… aku akui sejak hari itu, aku tak bisa melupakan kejadiannya, ini mengkhawatirkan Rin.”


“Apa yang membuatmu Khawatir, bukannya bagus kalau aku menikah, dan bukankah kamu sendiri yang bilang di kelas padaku dan Santri yang lain, jika ada lajang yang datang dengan niat baik untuk menikahi, maka tak ada salahnya untuk mempertimbangkannya, dan saat ini aku sedang mengusahakan itu, dan tengah memperaktekkan apa yang aku pelajari darimu Hi.”


“Kamu tahu dari mana kalau di lajang Rin, kamu sendiri tak tahu dia siapa?”


“Kamu kenapa Hi, kenapa kamu jadi protektif begini sama aku, seharusnya kamu dukung.”


“Aku dukung Hi, tapi tidak kali ini.”


“Kenapa tidak!” ujar Airene merendah.


Ruhi seketika kelu, lidahnya seakan membeku begitupun dengan pita suaranya, terlalu banyak rahasia Airene dengannya namun tak bisa dengan gamblang Ia menceritakannya, namun jika dia tak menceritakannya, maka semuanya akan jauh lebih buruk jika Airene mengetahui fakta sebenarnya.


“Apa hasil mu selama ini, apa kamu akan memilihnya?” tanya Ruhi kini ikut merendah sekaligus untuk menutupi kegugupannya.


“Aku sudah bilang, jikapun aku terima, aku tidak bisa sekarang Hi, aku juga ingin mengenal dia dulu, ya setidaknya aku butuh waktu, yang ku lakukan ini hanya untuk meminta langkah apa yang aku ambil jika mengatakan Ya nanti.”


“Sudah dapat?”


“Entahlah, aku masih ragu, aku tidak tahu apa, tapi seakan ada yang mengganjal, apa kamu tahu sesuatu yang aku tidak tahu Hi, atau adakah semacam rahasia yang aku tidak tahu?”


Ruhi lagi-lagi mematung, kini sebadan-badanya ikut membeku, memang udara pagi itu dingin tapi tak mampu membekukan Ruhi melebihi ucapan Airene itu, Ruhi merapakan duduknya pada Airene dan memeluk wanita bermukena itu, Ia menangis.

__ADS_1


“Huts! … Ya Allah akan ku tanggung semuanya.”


Airene hendak melepaskan pelukan mereka namun di tahan oleh Ruhi dengan erat.


“Kamu kenapa Hi?, kamu menangis?, apa aku ada salah ngomong?”


“Aku yang salah Rin, tapi apa yang akan aku ucapkan ini semoga tak membuatmu hancur.” Ruhi berkali-kali mengedipkan matanya berharap Air matanya tak terus membasahi mukena Airenen namun itu percuma air matanya tak bisa di hentikan, seakan Air mata itu sepaket dengan semua rahasia Airene padanya.


“Rin” panggilnya lembut.


“Ya, jangan buat aku takut Hi, ada apa?”


“Sebenarnya kamu itu sudah menikah!”


DEG!


Mata Airene membulat sempurna, kalimat barusan yang di dengarnya bukanlah mimpi untuknya, sebab kini matanya melihat dengan jelas jika bayanga dirinya yang tengah terpaku itu ada di dalam cermin, bahkan matanya pun turut melihat jarum jam yang tak berhenti berdetak ikut tertangkap pantulan cermin di ruang tengah itu. Airene hendak melepaskan pelukan mereka untuk kedua kalinya, namun lagi-lagi Ruhi menahannya.


“Jangan Rin, dengarkan aku dulu,bahkan kamu sudah punya anak, dan anak itu hampir seusia Maryam.”


“Lepaskan Hi,”


“Tidak Airene, jangan melawan dulu, aku tak mahu kita rebut pagi-pagi begini nanti semuanya bangun, dengarkan aku dulu, selagi aku menjelaskan, kamu tenang ya!”


“Kamu tak bisa menikah dengan Dokter itu karena kamu sudah punya Suami, nama dan orannya persis yang ada di buku harianmu itu, dan juga kamu sudah punya anak, namanya pun sama dengan nama yang baru baru ini kamu baca, Aisyah mereka nyata Airene.”


Berat bagi Ruhi untuk mengatakan fakta ini, namun jika tidak di katakana olehnya maka jauh akan lebih berat kedepannya, bahkan kali ini pun Ruhi harus menambah bebannya dua kali lebih berat saat tubuh Airene yang masih di pelukannya tak lagi merespon seperti terakhir kali sebelum dia mengungkapkan semuanya, tak ada lagi berontak, bahkan kini tak ada pergerakan dari Airene.


“Rin, kamu baik-baik saja?” Ruhi melepaskan pelukannya, saat di bukanya dan menarik tubuh berat Airene, Airene sudah tak sadarkan diri di dekapannya, kepala Airene terhuyung.


“Astagfirullah Aireneeee!”


Sontak ucapannya itu membuat seisi rumah bergema, Firdaus, Ayah dan Ibu mertuanya ikut terbangun.


“Ada apa itu!”


“Mas, tolong mas” pekik Ruhi.


Lekas semuanya menuju ruang tamu dan mendapati Airene sudah tak sadarkan diri di dekapan Ruhi.


“Kenapa ini nak?” tanya Ibu mertuanya.


“Umi, Aa-kuu.”

__ADS_1


“Nanti saja menjelaskannya nak, bawa dulu kerumah sakit Fir, kita tidak tahu apa yang terjadi, makin lama takutnya makin bahaya!”


“Baik Bah!” Lekas Firdaus bergegas mengambil kunci mobilnya.


Malam itu juga Airene di bawa kerumah sakit terdekat, hanya ada Ruhi dan Firdaus yang menemani.


...----------------...


Firdaus membuka tirai yang membatasi tiap ranjang di sana dan saat terbuka, yang pertama di lihatnya adalah Istrinya, Ruhi sedang menangis menatap Airene yang terbaring, wajahnya kusut dan murung, Firdaus yang baru saja dari toserba itupun masuk dan kembali menutup hordengnya.


SREEEEEEEEEEEEET!


Firdaus lekas membukakan tutup botol yang masih tersegel itu.


KRAAK!


“Sayang minum dulu.” menyerahkannya.


“Aku takut Mas!” mengambil botol tersebut.


Firdaus menyetuh bahu Ruhi untuk memberikan kekuatan, di saat genting dan kusut begini tak ada yang lebih baik dari sentuhan satu sama lain untuk saling menguatkan, terlepas ada atau tidaknya kesalahannya, yang terpenting adalah tetap saling menjaga dan perhatian.


“Bawa istigfar, duduk dulu yuk!” menarik Ruhi untuk duduk.


Ruhi yang gugup dengan kondisi Airene tak berhenti menangis melihat sahabatnya itu kini terbaring di ICU.


“A-aku ngga tahu harus apa Mas, aku sudah cerita sama Mamah tentang pertemuan Airene dengan Pria itu, dan Mama pun menolaknya, dan untuk mengatasinya Mama menyuruhku mengungkapkan semuanya pada Airene, aku ngga tahu kalau akan jadi begini.”


“Tenang ya sayang, Istigfar” ujar Firdaus sambil memeluk Ruhi yang duduk untuk kembali menenangkannya.


Firdaus kini melepaskan dekapan Ruhi dan berjongkok di depan istrinya sambil memegang kedua tangannya.


“Sayang dengar Mas mau bilang apa, jangan hakimi diri kamu dulu, kamu hanya menjalankan amanah Mamanya Airene, dan kini kamu sudah menjalankannya, kita wajar panik dan takut, tapi Mas lebih takut kalau masalah ini akan membebani hidupmu kedepannya, Mas ngga mau, lagi pula tadi Dokter sudah bilang kalau Airene hanya syok kan, jadi kita sama-sama berdoa dan berharap tak ada sesuatu yang serius terjadi pada Airene, Mas ngga mau kamu menyalahkan dirimu begini.” sambil menglapkan Air mata isrtinya.


Ruhi mengambil tangan Firdaus dan mengecup tangan suaminya yang masih berada di pipinya itu. “Cup! … Makasih Mas, udah nguatin aku.”


“Kamu ngga salah ko Hi?” ujar seseorang dengan nada beratnya.


“Airene!”


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1


Apakah Airene bisa menerima fakta ini?


__ADS_2