
“A-aa-pakah le-laki itu, k-k-kak Zaid Hi?
Wajah takut Ruhi tak bisa Ia sembunyikan, ini yang dia takutkan, dia takut Airene mengetahui ini dan melihat sahabatnya perlahan-lahan tersayat di depannya, Ruhi yang menceritakannya saja tak bisa menahan kesedihannya, inikan lagi Airene yang baru saja sembuh dan sudah mendapat ujian begitu beratnya.
Pertanyaan sudah terlontarkan, bahkan rahasia sudah sebagian terkuak, wanita mana yang tak terluka jika mengetahui pria yang di cintainya bersama sahabatnya sendiri, tak ada bangkai yang bisa di sembunyikan lebih lama, karena baunya pasti akan tercium juga, Ruhi pun tak bisa menyembunyikan fakta yang sudah setengah di keluarkan dari mulutnya, bersamaan dengan menutup kedua matanya, air mata Ruhi menetes mengiyakan pertanyaan Airene itu.
Airene yang melihat jawaban singkat Ruhi, diam termenung tapi tidak dengan air matanya, tetes demi tetes jauh membasahi bajunya, hatinya tak bisa bohong mengetahui hal itu, meskipun belum bertemu secara langsung dan kembali bertukar cerita layaknya suami istri, tapi hati Airene bagaikan luka yang di beri asam, perih dan menyakitkan, sakitnya tak bisa ia tutupi.
“Rin kamu lihat ini dulu?” Ruhi kembali memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya.
Airene dengan lambat mengambil ponselnya, mulutnya belum sepatah pun berucap, hanya isakan yang terdengar.
Di ponsel itu terlihat seorang perempuan yang tengah menggendong boneka bayi dengan pakaian yang lusuh dan tak terurus, bahkan di gambar itu tak nampak raut ceria dari wajahnya, gambar itu di ambil di pojok salah satu rumah mewah.
“A-AAYYU?” tunjuk Airene.
Ruhi mengenggam kembali tangan Airene. “Rin, itu Ayu, di foto itu dia terlihat berantakan setelah keguguran Rin, bayinya ikut Papanya.” ucap Ruhi lemah.
Mata Airene yang tadinya sayu, kembali terbuka lebar, Ia melotot pada Ruhi. “Ayu gila Hi?”
“Hhmmm… dia keguguran setelah tahu Artama meninggal.”
Airene yang mendengar itu menggeleng dan menutup telinganya kala otaknya mulai menyatukan asumsi-asumsi yang Ia takutkan, dalam pikirannya Zaid dan Ayu menikah saat dia koma.
“Rin, Rin kamu tidak apa-apa, ayo masuk! aku takut kamu kenapa-kenapa?”
“Tidak Hi, aku tidak apa-apa, sekarang jawab, apa Ayu dan suamiku menikah.”
“Rin tatap aku!” ujar Ruhi mengarahkan wajah Airene yang terunduk untuk mentapnya. “Dengar dulu apa yang akan aku katakan dan jangan berfikir yang macam-macam dulu, Ayu dan suamimu tidak menikah, mereka hanya jadi Ayah dan Ibu bagi Aisyah, sejak Aisyah di bawa pulang, Ayulah yang merawat Aisyah hingga saat ini, dan di depan Aisyah, Ayu dan Suamimu berpura-pura sebagai suami Istri, Ayu tahu Zaid adalah suamimu, tapi ada yang perlu kamu tahu?”
“Apa itu Hi!” Airene mengambil tangan Ruhi yang di pelipisnya dan menggenggamnya lagi untuk meminta kekuatan.
“Ayu dan Zaid di paksa menikah oleh orang tuanya dan oleh orang tua Zoa”
__ADS_1
“Haaaa, apa?” Airmatanya tak bisa terbendung.
“Ya Rin, orang tua Ayu meminta Zaid jadi suami Ayu untuk menggantikan kepergian Artama.”
“Kenapa harus suamiku Hi?” tanya Airene pelan tanpa emosi.
“Karena semuanya menganggap kaulah penyebab kepergian Artama dan juga hancurnya hidup Zoa.”
“Aku?” Tunjuk Airene dirinya sendiri.
“Ya, Zoa kini cacat, dan orang tuanya meminta tanggung jawab Papa dan Mamamu, begitupun dengan Ayahnya Ayu, mereka bertiga membuat kesepakatan dengan orang tuamu, bahwa kau juga harus merasakan apa yang Ayu dan Zoa alami, kau juga harus merasakan kehilangan katanya.”
“Apa-apaan itu Hi!” Akhirnya Airene mengeluarkan suaranya, nadanya besar hingga membuat orang di sekitarnya melihat ke arahnya.
“Rin tenang, Istigfar Rin!”
Airene pun menuruti ajakan Ruhi itu.
“Kenapa dengan Aisyah?”
“Aisyah di asuh oleh Ayu untuk membuat Ayu kembali normal, dan itu berhasil sekarang kau lihat sendiri bagaimana hidup Ayu, dia kembali tersenyum, tapi Ayu tidak menginginkan Kak Zaid, namun
peraturan lainnya adalah, jika kau tidak di penjara maka Ayu harus menikah dengan Zaid di depan matamu agar kau juga merasakan kehilangan yang sama Rin dan peraturan itu berlaku setelah kau sadar dari koma Rin.”
Kembali jatuh air mata Airene, entah berapa kali air mata itu jatuh membasahi pipi dan bajunya, Airene kembali mendekap Ruhi untuk meminta kekuatannya.
“Apa yang tejadi sebelum kecelakaan itu Hi, kenapa seakan-akan hanya aku yang di pojokkan, bahkan tak terlihat ke untungan untukku, Ku masuk penjara maka Mama dan Papa, aisyah dan Kak Zaid yang kehilangan aku, akupun kehilangan mereka, jika aku tidak masuk penjara, maka aku yang kehilangan anak dan suamiku, kenapa begitu Hi, apa yang harus aku lakukan untuk membuat semuanya normal lagi Hi, apa aku harus berkorban?”
“Rin dengar aku, kau tatap aku!” Ruhi kembali membuka pelukan mereka. “Jika aku jadi kau pun aku tak tahu harus apa, karena aku sendiri tak tahu apa yang terjadi padamu malam itu, apakah kau memang patut di salahkan untuk semua ini, tapi jika kau pun bersalah, ini lebih berat dari buah simalakama Rin, aku yang mendengar rencana ini pun tak sanggup Rin, aku selalu mendoakanmu agar kau bisa kuat menghadapi ini.”
“Kasihan Ayu Hi, dia sakit karena kehilangan suami dan anaknya Hi”
“Aku tahu dan aku melihat semuanya dengan mataku, tiga keluarga tiba-tiba terpecah, hari itu bagaikan kiamat di
__ADS_1
keluarga kita Rin, persahabatan runtuh, kepercayaan hilang, yang tersisa hanyalah keinginan balas dendam.”
“Apa yang harus aku lakukan Hi?”
“Kita sama-sama berdoa aja semoga kamu dan kita semua bisa keluar dari masalah ini dan kembali jadi keluarga utuh.”
“Amin Hi, aku tak bisa bayangkan apa yang mereka semua hadapi saat aku koma, mereka pasti tertekan Hi, dan wajar saja saat itu aku bisa merasakan kesakitan Kak Zaid, ternyata begini beban yang ada di pundaknya-” Airene diam tiba-tiba dia tak melanjutkan kalimatnya dia menatap langit “Hi?” Panggil Airene lembut.
“Kenapa Rin?” ikut menatap ke atas.
“Hi, jika aku benar-benar bersalah atas semuanya, apakah salah jika aku berkorban agar semuanya kembali seperti
dulu.”
“Berkorban bagaimana?, apa yang kamu bicarakan Rin, ini pasti hanya salah paham Rin, kamu pasti bisa menemukan jalan keluarnya dan kamu juga belum tentu bersalah.”
“Aku belum memikirkan hal apa yang akan aku korbankan jika aku memang bersalah, tapi aku teringat tentang jawaban yang kau berikan saat kita tanya jawab di taman waktu itu, maka aku ridho dan iklas berkorban untuk kebahagiaan keluarga kita jika itu cara Allah untuk menghapuskan dosa-dosaku di masa lalu Hi.”
“Riiin!” Ruhi mentap Airene tak percaya dengan jawaban yang barusan keluar itu.
“Kamu tenang ya Hi, inikan hanya rencanaku, apa hanya mereka yang bisa merencanakannya , dengan tahunya aku semua ini, akhirnya kebingunganku terjawab, akhir-akhir ini aku bertanya pada diriku kenapa aku pulang ke pondok, bukannya langsung ke rumah, ternyata ini rahasianya, Allah mengingkan aku kuat secara mental dengan belajar agama di sini, dia mengingankan kepribadianku di isi oleh agama agar aku bisa melewati semuanya dengan santai, jikalah aku benar-benar bersalah suatu hari nanti, kau pegang ucapanku.”
“Apa yang kau bicarakan Airene?”
“Aku siap berkorban jiwa dan ragaku Hi.”
“Aireneee!” Lekas Ruhi memeluk sahabatnya itu.
...Bersambung...
...****************...
Cek epa selanjutnya ⬇️⬇️⬇️
__ADS_1