Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 5 : Diary ku


__ADS_3

Saat mengamati hadiah itu, mata Airene tertuju pada tulisan di pojok kanan bawah buku tersebut “By Airene R.Y” Di tulisan dengan tulisan cantik yang saling berkaitan.


“R.Y. Ratu Yandrahadi bukan!” tebaknya,


“Yupsss, itu adalah nama yang selalu kamu bangga-banggakan Ren.”


“Ouh begitu, heeem boleh aku buka?”


“Buka aja, inikan memang punya kamu, tapi aku pesan satu ya.”


“Apa itu?” sambar Airene.


“Bacanya jangan kebanyakan ya!, nanti kamu stress, jadi hari ini cukup bagian depannya aja dan kalau udah baca satu halaman bukunya aku ambil lagi.”


“Kenapa di ambil lagi, kalau begitu bukan hadiah namanya, itu kasih pinjam, huuu,” ejek Airene.


“ Ya kalau mau protes tu sama Mama, orang semua ini atas persetujuan Mama kok.” Ayu kesal.


“Iiiih curang lu Yu, bawa – bawa orang tua, nggak asik!” Rengut Airene.


“Dih merajuk, tapikan semua ini kami lakukan demi kesembuhan kamu juga Ren.”


“Oke-oke aku paham,” ucap Airen bersamaan gerakan tangan yang menyimbolkan kalimat serupa.


Hadiah yang Ayu berkan adalah sebuah buku Diary milik Airene, Airene memiliki hobi menulis, salah satunya ia suka menulis semua kisah hidupnya dalam bentuk cerita, tapi anehnya diary Aerin ini lebih mirip novel menurut Ayu, sebab Airene Menuliskan kejadian yang di alaminya secara rinci, dari sebelum hingga puncak peristiwa yang ia hadapi di semasa hidupnya. Sedangkan Airene tak mahu itu di sebut Novel sebab baginya cerita yang ia tulis tak memiliki alur yang berkesinambungan seperti novel, jadi dia menamai bukunya itu dengan sebutan diaryku memoriku.


Baginya menulis potongan demi potongan perjalanan hidupnya itu bertujuan agar suatu saat nanti Ia bisa kembali mengenang ceritanya jika kalau sudah tua nanti, namun Allah SWT malah berkehendak lain, Airene belum tua tapi ia sudah menggunakan diarynya tersebut untuk membantu ingat akan kenangan masa silamnya dan hidup menjadi Airene yang dikenal oleh keluarga dan sahabatnya lagi. Akhirnya Buku setebal ibu jari itu Airene buka, pada lembaran pertamanya tercantum biodata wanita hilang ingatan itu secara yang lengkap.


“Date 10-07-05.” Tertulis di pojok paling atas sebelah kanan. “Ini maksudnya bagaimana?” Tanya Airene.


“Kamu nulis ini tanggal 5 bulan Juli tahun 2010 ”


“Oooooh kebalik … hmmm berarti udah-” Airenee menggigit jarinya kembali.


“Kurang lebih dua belas tahun yang lalu,” jawab Ayu.


“Wooow, lama juga ya, kalau begitu sekarang usiaku sudaaah-” Airene lalu memainkan Jarinya untuk menghitung. “28 tahun! iya nggak?”


“ Iya, bulan depan usiaku juga 28, kita hanya berbeda beberapa bulan,” ucap Ayu.


“Benarkah, kalau begitu nanti aku juga akan siapkan hadiah juga.”


“Aahh jangan ren, dengan sadarnya kamu, itu adalah kado terbaik yang akan aku terima bulan depan.”


“Ah maasa, yakiiiiin ni.” Airene menatap Ayu tajam.

__ADS_1


“Tapi kalau kamu maksa ya aku terima,” Jawab Ayu lagi sambil membuang mukanya seakan tak ingin menyiakan hadiah gratis itu.


“Iiiii lucu banget sii, ya udah nanti aku cari kado special buat kamu ya.”


“Benar ya, SPESIAL!” Balas Ayu mempertegas kalimatnya.


“Iya spesial buat sahabat aku … dah ah aku mau lanjut baca.”


“Oh monggo.”


Airene kembali membaca semua data tentang dirinya di buku itu, namun saat Ia membaca pada kolom Sahabat, Ia menemukan keanehan di mana Airene tak mengenali satu nama yang ada di sana “ Zoa dan Ayu ” Airene menoleh pada Ayu.


“Kenapa?”


“Siapa Zoa!”


Pertanyaan itu membuat Ayu tertunduk sebentar. “Dia teman kita dulu”


Airene mengangguk paham. “Oh kalau sekarang dia dimana?”


Ayu menggeleng. “Tidak ada yang tahu.”


“Oh iya, berarti yang di foto itu Zoa kan?” Tebak Airene pula.


“Foto?” Ayu menyipitkan matanya, bingung dengan kalimat Airene.


Ayu termenung “Astagfirullah, kenapa aku baru sadar kalau disana ada fotonya Zoa, Dasar Ayu teledor banget siii, Gini nih kalau udah bahagia. Lupa segalanya.” Ayu marah dengan dirinya sendiri akibat lalai.


“Yu … Ayu! Halooo.” Airene mengibaskan tanganya di depan muka Ayu.


“Eh iya Ren.” Ayu kaget.


“Mikirin apa?”


“Oh nggak ada, aku memang suka tiba melamun gitu … Oh iya lanjut aja bacanya, kalau ada yang mau ditanya, ya tanya aja, tapi tentang halaman satu dulu, nggak boleh kemana-mana,” ujar Ayu tegas.


“Kayaknya nggak ada dan ternyata nggak asik ngenalin diri sendiri,” ucap Airene lemah.


“Iyaaa inikan baru awal, tapi aku yakin kamu pasti penasan untuk buka halaman selanjutnya kan?” Tatap Ayu nakal sekaligus menggoda Airene dengan menusuk pinggangnya pelan.


“Auuu,ihh jailnya” Airene pun menghindari Ayu. “ Hmmm Yu ! ” Panggilnya sambil meletakkan buku itu ke meja dan menghadap ke Ayu.


“Kenapa?”


“Ngomong – ngomong aku disini udah berapa lama ya?”

__ADS_1


“Memangnya kenapa?”


Airene lalu memandangi langit-langit kamar rumah sakit itu. “Ya nggak ada, soalnya kalau aku tanya Mama sama Papa pasti mereka nggak mau jawab, katanya takut aku kepikiran, jawab dong Yu, udah berapa lama sih, please!” Airene menyatukan kedua tangannya sekaligus memelas pada Ayu.


Melihat raut wajah Airene yang begitu dan nada suaranya yang merayu itu, Ayu galau antara menjawab pertanyaan sahabatnya itu atau tetap merahasiakan fakta demi fakta tentang Airene. Sebab Ayu juga mengkhawatirkan kondisi Airene.


Ayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Bukan nggak mau jawab, tapi nanti Mama marah sama aku, dia tadi udah pesan jangan bahas yang berat-berat dulu Ren, heeeee Sorry!”


“Yu!, aku janji nggak bilang Mama, tapi aku mohon kasih tahu aku tahunnya aja?... udah itu aku nggak nanya lagi,janji.” Airene mengangkat kelingkingnya.


“Issss, kamu tu ya suka deh bikin aku dalam masalah Ren, tapi janji nggak usah kasih tahu Mama kalau aku kasih tahu ini.”Ayu juga menaikan kelingkingnya dan Ayu pun mulai masuk dalam bujukan Airene.


“Iya ... janji! lagipula inikan hanya tahunnya bukan rincian tentang sakit yang aku derita Yu.”


“Oke-oke … Jadi kamu udah koma selama tiga tahun. Udah ya puas.” Ayu jengkel


Mendapat jawaban yang ia ingin tahu selama ini, Airene hanya mengedip-ngedipkan kedua matanya serta tatapanya kosong seperti tak tahu arah dan hal itu membuat Ayu panik.


“Ehhh, eh Airene, Ren.. Airene kamu kenapa?” Ayu mengoyangkan badan Airene agar kembali sadar. “Kalau kamu kenapa-kenapa aku yang mati Ren.”


Saat Ayu tak tahu apa yang telah terjadi pada Airene, tiba-tiba wajah Airene berubah dari tanpa ekspresi menjadi terseyum hingga tertawa.


“Hee … he ha, ha haaa haaaa haaaaa.” Airene malah tertawa geli sendiri sambil bertepuk tangan seakan ada yang mengendalikan tubuhnya.


“Ih mampus, dah kenapa niii anak … Airene lu ketempelan, eh Astagirullah Ayu mulutmu … Eeeeh Airene nyebut, nyebut Ren.” Ayu semakin panic dengan kelakuan tak biasa Airene ini.


“Waaaaaa.” Teriak Airene di depan muka Ayu, sontak saja itu membuat Ayu terkejut.


“Astagfirullah hal adzim Aireeeeene, Ihhh.” Ayu mengepalkan tangannya ingin memukul Airenei.


“Haha ha ha … kamu tahu Yu, aku ngiranya, sepuluh tahun atau lima belas tahun Yu … Eh rupanya tiga tahun, aku udah parno duluan tadi,” ucap Airene seperti tanpa beban.


Melihat Airene yang begitu bahagia atas rasa penasarannya yang telah terjawab. Ayu malah bertindak sebaliknya, Ia kini diam menatap dalam Airene dan mengajak hati kecilnya bicara,“ Kamu tidak tahu Ren, apa saja yang telah terjadi selama tiga tahun ini, kini semuanya telah berubah.”


“Ren … mau berapa pun itu bersyukurlah Ren kalau kamu masih di beri kesempatan kedua sama Allah.”


“Iya Yu, aku bersyukur sekali diberi kesempatan ini, tapi ya itu tadi aku tak menyangka ternyata lebih cepat dari dugaanku.”


“Ya sudah kalau begitu, ingat ya jangan terlalu di pikirkan hal-hal yang dapat membuat kamu pusing, dan jangan sesekali berfikir apa saja yang telah kamu alami selama tiga tahun ini, nanti semuanya akan di beri tahu oleh Mama atau pun aku tapi secara bertahap.”


“SIAAAP BOS!” Sahutnya dengan gesture hormat pada Ayu.


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1


Mau tahu kelanjutannya kepoin Eps 6 ⬇️⬇️⬇️


__ADS_2