Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 15 : Hantuuuuu


__ADS_3

Tiba- tiba Ayu berjalan dan menyenggol bahu Ruhi. "Kamu memang udah terbiasa cari muka atau gimana sih Ruhi," ucap Ayu menyindir.


Aku kembali di buat terkejut saat Ayu berani berkata to the poin begitu, ternyata Zoa juga sama denganku, mulutnya sampai ternganga lebar, kami tak menyangka Ayu yang paling lemot di antara kami ternyata juga bisa berperan Protagonis .


"Eh nggak Yu,  jangan suudzon dulu, aku kesini lebih dulu karena hanya ingin beradaptasi aja."


"Jadi adaptasi apa yang kamu dapatkan?" tanyaku basa-basi, sebenarnya aku benar-benar malas, tapi ini demi secuil informasi berharga, jadi aku harus melakukannya. 


"Hmm, apa ya!, a-aku jadi lebih terbiasa bangun pagi, terbiasa pakai- pakaian tertutup terusss-"


Saat kutu buku itu terus bicara hal yang tak penting, aku mulai jengah mendengannya, andai aura marahku itu kasat mata mungkin ada asap warna merah sudah membara keluar dari tubuhku, karena dia tak memberikan info yang ku butuhkan. "Sabar-sabar Airene, tahan tahan." cobaku menasehati diri sendiri.


"Yang lain Ruhiii, kalau itu kami juga sudah  tahu. Kau kan memang terbiasa begitu sejak SMP, yang lain misalnya pondok ini berhantu, atau pengurusnya galak, kakak seniornya juga, pokoknya sesuatu yang kau tahu selama tujuh hari di sini," potong Ayu.


Mendengar itu aku kembali sumringah, sebab Ayu telah menyampaikan unek-unekku,  lalu aku memberikannya jempol untuk tindakan berani Ayu itu, dan Ayu membalas dengan mengedipkan matanya dan jari jempolnya juga membalas serupa. "OK"


"Ouh, kalau di sini itu nggak ada Hantu, cuman kalau pagi-pagi itu biasanya ada suara orang-"


"Suara orang apa?" sambar Zoa. 


"Sabar Oya, dia belum sampai titik ngomongnya," kata Ayu.


"Iyaaaa, sabar dan dengar dulu, biasa itu aku dengar ada suara kakak kelas yang ngaji pagi-pagi gitu."


"YAAAAAAH! kirain suara apa." Zoa menghempaskan tubuhnya di ranjang.


"Tauu nih orang udah serius juga," ucap Ayu pula. 


"Ya kaliannya aja yang parnoan, kan udah aku bilang di sini itu nggak ada hantu, Hantunya itu ya kalian," tunjukku pada mereka berdua. 


"Apaan si Ren, awas aja nanti malam minta temani ke toilet," sahut Zoa. 


"Nggak akan, aku bisa pergi sendiri." 


"Oooo awas ya kalau bangunkan aku sama Ayu, ya kan Ai?"


Lekas Ayu mengangguk. 

__ADS_1


"Oke! kita liat aja nanti."


"Sudah-sudah jangan bertengkar, nggak baik." 


"Hmm Ruhi!


"Ya kenapa Rin?" tanya balik Ruhi. 


“Ngomong-ngomong kamu tahu-" belum selesai ku berucap Zoa dan Ayu menatapku dan saling senggol, keduanya seakan membicarakanku, terlihat dari sikap dan jelingan mata meraka.


"Nggak ada nggak jadi." Aku lalu berjalan naik ke ranjangku. "Kira-kira Si kutu buku tahu nggak ya tentang abang-abang itu … heemmm kan jadi pemasaran!, dah lah kapan-kapan aja, lagi pula aku masih males liat si kutu buku, sok asik banget, bikin mual pengen muntah." gumamku lalu membuat gesture serupa. 


...----------------...


Setelah melewati beberapa jam di pondok, aku merasa tinggal di sini tidaklah sulit, hanya saja kami harus terbiasa hidup bersosialisasi disini, apaaapa di kerjaan bersama, seperti sholat berjamaah, makan di meja panjang sama Santri yang lain, mau makan antri, begitupun Mandi.


Huuuh ini berat, biasanya di rumah aku bisa mandi kapan saja aku mau dan mau selama apapun itu tak masalah, kalau di sini itu sulit, karena akan ada santri yang lain  meneriaki siapapun yang mandinya lama. 


Hari menjelang malam kini kami berada di masjid, kami santri baru di perkenalkan dengan beberapa kegiatan pondok dan juga peraturannya, hari ini belum ada pembelajaran penting, karena ini masih hari pertama jadi kami hanya melakukan ibadah sholat, nah pikirku aku bisa kembali melihat si suara sexy itu, tapi sudah tiga sampai empat kali Adzan aku tak kunjung mendengar suara si abang -abang bertoa! kemana sih dia, aduuh suaranya bikin candu.


Sinkat cerita dan mengabaikannya, seteleh sholat Isya kami semua mendengarkan ceramah singkat dan baru selesai jam 11 malam. Ceramah yang sangat Singkat. Singkatnya saja dari Isya sampe jam 11 bagaimana ceramah panjangnya. Uuuuh.


"Baiklah untuk malam ini sampai disini dulu, semoga ceramah singkat ini bisa membantu kalian agar lebih baik lagi ke depannya, Ustadzah akhiri, Wabillahi taufik wal hidayah summa salamu alaikum Warah matullah waabatakatuh."


Dengan di ucapkanya salam tadi maka kami pun akhirnya bisa kembali ke kamar.


"Aaaakh, aduuuuh pinggangku sakit!" ujarku sambil melakukan peregangan. 


"Iya nihh, beuuh, satupun nggak ada yang nyangkut." ucap Zoa. 


"Hoooah, ngantuk banget! Ceramahnya panjang " ucap Ayu lemas setelah keluar Mesjid. 


"Isss Ayu, nggak baik kalau nguap ada suaranya di silent atuh." tegur Ruhi yang keluar belakangan.


"Memangnya kenapa Hi!" tatap Zoa pada ruhi. 


"Kalian tidur ya pasti, makanya nggak dengar apa kata Ustadzah tadi, kalau ngantuk ada bunyinya itu kita malah di ketawai setan tau, jadi kalaupun nguap ya di tutup mulutnya dan jangan bersuara, apalagi sampai “huuuuaaah” gitu." Ruhi memperaktekkannya. 

__ADS_1


"Ih yang benar?" lekas Ayu menutup mulut dan melihat di sekitar badanya dengan tatapan takut. "Audzubillahiminasyaiton nirojim, hus ,usss." 


"Ya mana kita dengar ya kan Ai, Yak? katanya ceramah singkat, singkat apanya dari Isya sampe jam segini," ucapku sambil memasang sendal. 


Tanpaku sadari ternyata ucapanku di dengar oleh santri putri lain yang juga keluar Mesjid, mereka menatapku sinis mungkin dalam hati mereka "Siapa sih ni cewek berani bener."


Akupun segera menutu mulutku dan berbalik menatap teman-temanku yang masih berdiri di teras masjid dan Ustadzah pun keluar dari mesjid. "Untung Nggak di dengar sama Ustadzah" gumamku.


"Tau nih Ustadzah nggak tau apa ya kalau udah jam 11, main gas aja." sambung Zoa. 


Reflek aku menutup mulut, dia yang berucap kami yang ketar-ketir, Zoa tak menyadari jika Ustadzah sedang berdiri di belakangnya. Kami bertiga yang tahu itu seketika diam, Ayu dan Ruhi menunduk, dan aku mencoba memberi tahu Zoa dengan menunjuk-nunjuknya kalau ada Ustadzah di belakang.


"Matilah kita Zoa … aduh teledor amat tu mulut," gumamku lagi sambil terus memberi kode, kepalaku juga ikut menunduk ketakutan. 


“Kalian kenapa?” Zoa heran dengan kami bertiga.


"Oyaaaa tuu, di belakang!" ucap Ayu pelan sambil menarik gamis Zoa.


"Kenapa!" tanya Zoa lagi.


"Permisi Ustadzah," tegur Santri lain.


Sontak Zoa terkejut, matanya yang tadinya sipit karena ngantuk jadi bulat sempurna, mulutnya pun menganga dan ia mencoba untuk berbalik dengan perlahan. 


"Lain kali jangan biasakan ghibah ya?" tegur Ustadzah sambil menepuk pelan punggung Zoa. 


"Heee, Ustadzah ...  maaf Ustadzah tabiat lama," ujar Zoa sambil menyalaminya. 


"Ya sudah, Ustadzah duluan ya,  inget! sampai kamar langsung tidur sebab besok subuh Ustadzah tunggu kalian disini ya, sampai ketemu besok, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam," sahut kami semua.


......Bersambung......


...****************...


Bagaimanakah kelanjutannya? Simak eps 16 ⬇️⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2