Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 20 : Aku tidak mau!


__ADS_3

3 Hari yang lalu.


Ponsel milik Papa Wisnu berdering, di layarnya tertera nama Alex, sahabatnya.


“Halo!”


“Halo Wisnu, bagaimana kabarmu, bagaimana Zoa?”


“Tidak usah bertanya banyak hal Wisnu, yang jelas keadaan keluargaku tak sebahagia keluargamu yang kini kembali lengkap, aku ucapkan selamat atas sadarnya Airene, selamat sekali lagi, tapi kau harus ingat akan perjanjian kita, jika kau ingin terus bersama Airene, lakukan tugasmu, jika tidak, maka aku tak segan-segan melaporkannya atas tuduhan pembunuhan, ingat jika kau mengingkari janjimu, maka mitra kerjamu dan juga sahabatmu yang bernama Alex mati saat kau mengingkari perjanjian ini.”


“Lex, Alex, kita bisa bicarakan ini baik-baik, Airene baru saja sadar, tidakkah kau berikan kami waktu untuk bernafas dulu.”


“Oh tidak, kau sudah ku berikan nafas selama tiga tahun, selama itu juga kami tak bisa bernafas dengan lancar di karenakan ulah anak semata wayangmu, andai kau bisa mendidiknya mungkin keretakan di antara kita bertiga mungkin tidak ada, aku tidak akan lagi memberikan waktu, yang jelas saat ini, kau harus segera menjalankann kesepakatan itu, buat Airene menyesali apa yang telah di perbuat, jika kau tak bisa melakukannya berikan dia padaku.”


“Tidak!”


“Maka lakukan.”


“Baiklah, akan aku usahakan untuk menyadarkannya atas apa yang telah dia lakukan, semampuku.”


“Baiklah, itu adalah kesepakatan terbaik yang aku berikan, jika aku tak menganggap pertemanan dan kekeluargaan kita dulu, mungkin aku tak akan segan-segan memenjarakan Airene, dan kau sendiri tahu hukuman apa yang bisa anakmu terima jika masuk penjaga.”


“Sudah Lex, sudah, aku mohon jangan di teruskan, aku akan coba untuk membuat dia membayar apa yang telah dia lakukan, tapi aku minta padamu jangan ikut campur dalam masalah ini, biarkan aku dan Tya yang mengaturnya.”


“Baiklah, sampai jumpa!”


Tuut! Tuuut! Tuuut!


Papa Wisnu menatap layar ponselnya, panggilan itu mati saat dia belum mengucapkan kata penutupnya.


“Aku paham bagaimana perasaanmu, aku juga mungkin akan marah jika anak yang lahir sempurna di depan mataku, tiba-tiba harus menjalankan sisa hidupnya dengan bantuan kaki palsu begitu.”


“Kenapa Pa?” tanya Mama Tya dengan menyetuh pundak suaminya.


Papa Wisnu menoleh, dia memegang tangan istrinya yang masih di pundaknya itu, Ia merebahkan kepalanya, sekedar ingin merasakan hangat dari sentuhan Istri kesayangannya itu. Lalu mama Tya beralih posisi dan menatap wajah sendu Suaminya.


Terseyum. “Alex tahu kalau Airene sadar!”


“Siapa yang memberi tahunya?” tanya Mama lembut.


“Entahlah, yang jelas dia meminta kesepakatan kita yang dulu itu harus di jalankan.”


“Pa kasihan Airene, dia baru saja sadar, kalau kita tiba-tiba memberinya banyak informasi masa lalu, dia akan kesakitan Pa.”


“Kita coba bertahap sayang, Papa juga tak sanggup harus menyiksa anak kita, tapi kita coba.”


“Kasihan Airene Pa!”


“Ma, tidakkah Mama kasihan dengan Ayu dan Zoa, mereka korban dari ulah Airene, Zoa kehi-“


“Pa sudah, jangan Papa ungkit, Mama belum lupa semuanya. Tidak sedetik pun Mama melupakan apa yang menimpa kedua gadis kita itu, Mama prihatin, tapi Airene-” Mama Tya menghentikan ucapannya dan tertunduk.


Ibu mana yang sanggup menyiksa anaknya sendiri, ada ungkapan, lebih baik Ibu yang menderita dari pada harus melihat anak yang mengalaminya, seorang Ibu berani menadahkan tangannya untuk meminta pada tuhan agar posisi mereka di tukar agar saat anak sakit, si anak tak merasakan sakitnya, sebab Seorang Ibu akan mengalami dua kali rasa sakit saat melihat bayi yang di lahirkannya terluka. Ibu rela berkorban apapun demi anaknya, sosok Ibu adalah garda terdepan jika berkaitan dengan anak.


“Ya sudah, seperti rencana kita dengan Ayu dan Zaid, pertama kita gunakan buku itu saja, sisanya kita lihat selanjutnya, Papa harap rencana ini tidak sampai pada pernikahan Ayu dan Zaid.” Ucap Papa lalu memeluk istrinya itu.

__ADS_1


...----------------...


Saat ini – Rumah Sakit.


“Assalamualaikum!”


CLEK!


“Waalaikumussalam.” Jawab ketiganya lalu Ayu dan Ruhi berbalik, sedangkan Airene hanya menggeser kepalanya untuk melihat siapa yang masuk itu.


“Woouw ramai ya?” ujar Mama Tya.


“Mama!”


Ayu dan Ruhi mendekati wanita yang lebih tua dari mereka itu untuk menyambutnya, sedangkan Airene hanya duduk di ranjangnya dan menunggu Mamanya menghampirinya.


“Kapan datang sayang?” tanya Mama pada Ruhi yang lebih dulu menyalami.


“Baru aja Ma, Mama apa kabar?”


“Alhamdulillah! Mama lebih baik.”


Lalu giliran Ayu pula, mereka cupika cupiki.


“Mama kesini karena dirumah ada Papa, jadi Aisyah sama kakeknya, tapi dia juga sudah lebih baik panasnya turun” bisik Mama.


Ayu hanya mengguk kecil untuk merespon bisikan Mamanya itu.


Tak lama, sebual ketukan pintu kembali terdengar.


“Masuk!”


“Permisi Ibu, waktunya pasien minum obat!”


“Ouh ya silahkan!” Ucap Mama.


Suster itu berlalu dan menghampiri ranjang Airene, dia terlihat membawa obat-obatan dan jarum suntik, Ketiganya, hanya diam saja dan memperhatikan Suster itu menyuntikkan Obat pada Airene.


“Jangan lupa minum Obat ini juga ya Mbak!”


Airene mengangguk, Suster itu pun pergi dan di bantu Ayu, Airene meminum obatnya, tak lama berselang Airene pun tertidur karena efek obatnya.


“Airene tidur!” ucap Ayu yang menghampiri Mama dan Ruhi yang duduk di Sofa. “Jadi bagaimana Ma?”


“Papa sama Mama setuju untuk tidak memulangkan Airene ke rumah untuk saat ini!”


“Kenapa Ma?”


“Sayang, kasihan Airenenya … Ok, kalau kita bawa Airene pulang, lalu kita bantu dia untuk tahu siapa Zaid dan Aisyah, selanjutnya dia melihat kamu menikah sama Zaid, dan dia melihat dengan matanya jika Aisyah lebih memilih kamu dari dia, bagaimana perasaan Airene sayang.”


“Ma, tapi aku tidak mau menikah dengan Kak Zaid ma!”


“Tapi Ayah kamu?”


“Aku akan bujuk dia!”

__ADS_1


“Sudah?”


Ayu menggangguk.


“Berhasil?”


Lalu Ayu menggeleng.


“Lihat!, Mama tidak bisa melihat anak-anak Mama hidupnya hancur, cukup Zoa, tidak dengan kamu Ayu, jika Mama biarkan Airene kembali pada Zaid, otomatis Aisyah akan ikut juga, Ayuuu, kamu bagaimana, belum lagi Aisyah ngga bisa lepas sama kamu, kamu juga begitu, Mama juga ngga mau satu anak Mama sembuh, yang satunya lagi sakit, Mama ngga bisa lihat kamu sakit seperti dulu.”


“Maaa, aku bisa bertahan yang terpenting saat ini Airene kembali sembuh total biarkan dia kembali ke keluarganya.”


“Mama juga pengennya begitu sayang, tapi perjanjian itu.”


“Ma, sekalipun Ayah sama Papa Alex memaksa, tetap tidak bisa jika aku dan Kak Zaid tidak mau!”


“Maka Airene akan di penjara,kamu tidak lupa itukan Ayu!” Mama Tya tertunduk, dia memegangi kepalanya. “Mama tidak siap jika Airene memakai baju tahanan dan harus menyandang gelar residivis selama hidupnya, dia akan lebih hancur Yu.”


“Ma yang tenang, istigfar Ma, pasti ada jalannya.” Akhirya Ruhi bersuara.


“Mama ngga tahu lagi harus bagaimana Hi, kehidupan kami tak lagi bahagia sejak hari itu, semuanya tercerai berai, berantakan, Mama pikir jika Airene sembuh, maka akan baik-baik saja, tapi perjanjian itu, membuat otak Mama mau meledak memikirkan jalan keluarnya.”


“Baiklah, Lalu kita kemanakan Airene setelah ini, Ma?”


“Mama sama Papa berfikir agar dia di apartemen saja.”


“Sendirian?”


“Mama akan temani dia.”


“Ma kalau begitu dia pasti akan bertanya kenapa dia tidak di ajak pulang, Ma kita kaji buruknya dulu, okelah kalau kita suruh dia tinggal di sana, lalu bagaimana jika dia tahu tentang keluarganya dari media sosial,televise, atau tentang siapa Papanya dan siapa keluarganya, secara semuanya ada di internet Ma.”


Ketiga keluarga ini merupakan keluarga terkemuka, keberadaan mereka cukup di sorot dalam hal bisnis, sanking berpengaruhnya, tak ada yang tahu jika kecelakaan itu terjadi hingga menewaskan orang lain, hal ini karena campur tangan keluarga Zoa, Alex memiliki banyak kenalan orang-orang penting, makanya kasus ini bisa di tutup rapat.


“Lalu jika dia tahu, kalau dia tidak single dan bertanya dimana anak dan suaminya, apa yang akan Mama jelaskan?” lanjut Ayu.


“Sudahlah Ayu, Mama juga bingung, kepala Mama jadi sakit memikirkannya,”


“Maafkan Ayu Ma?”


“Tidak Yu, kamu tidak perlu minta maaf, pertanyaanmu memang ada benarnya, bagaimana jika dia akan hal itu, dan Mama belum punya jawabannya.”


“Ma istirahat saja dulu Ma, jangan di paksakan!” ucap Ruhi kembali.


“Baiklah.” Mama pun menyetujui ucapan Ruhi, saat hendak menyandarkan tubuhnya di Sofa, baru sedikit terpejam Mama kembali membuka matanya secara mengejutkan.


“Mama kenapa?” Tanya Ayu.


“Bagaimana jika Airene kita suruh tinggal di Pondok?” ucap Mama sambil menatap Ruhi.


...Bersambung...


"Apakah rencananya akan berhasil?"


Ceeeek di eps selanjutnya 🙃⬇️⬇️⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2