
“Airene kamu kenapa?” mendekati Airene yang sudah bersimbah air mata.
“Hi!” Airene langsung berjalan dan memeluk Ruhi yang kini kearahnya.
Melihat datangnya Ruhi ke arahnya, membuat airene berfikir kalau dia harus menangis puas di dekapan Ruhi, menangis di pundak seseorang sambil menangis memang dapat membuat orang yang menangis lebih merasa tenang setelahnya, mereka butuh pundak untuk bersandar dan melepaskan semua kesedihannya.
“Tenang-tenang, cerita ada apa? … sedalam itukah sakitnya Rin, apa yang Zaid luahkan padamu.” Ruhi mendongakkan kepalanya berharap air matanya tak ikut menetes.
Ruhi tahu siapa si pengantar paket itu, dia tak lain adalah Zaid, Zaid sendiri yang menghubungi Ruhi untuk meminta izin menemui Airene, tapi Zaid minta pada Ruhi dia harus menyembunyikan pertemuan ini dari siapapun, dan Ruhi menyetujuinya.
Airene yang sedikit baikan melepaskan pelukan mereka, Airene masih belum berhenti terisak, dia masih saja sesegukan di depan Ruhi.
“Kenapa?” tanya Ruhi lagi sambil mengelap air mata Airene.
“E-en-tah kenapa, ceritanya menyakitiku Hi!” Airene tak bisa melanjutukan kalimat yang lebih panjang dari itu, air matanya bagaikan kran yang bocor hingga dia sendiri tak bisa untuk menahannya berhenti menetes, air mata itu seperti tersimpan puluhan tahun dan akhirnya tumpah dan berujung tak bisa Ia hentikan.
“Cerita siapa?”
“Pengantar paket itu, dia cerita tentang masalah keluarganya tapi hatiku ini tak bisa mengabaikan rasa sakit yang dia pendam Hi, dia sangat tertekan dengan kehidupannya, belum lagi masalah anaknya yang belum pernah bertemu Ibunya, aku ngga sanggup mendengar fakta itu Hi.”
“Itu sebabnya kau begini.”
Airene hanya mengangguk.
“Tunggu disini, aku mau lihat dulu, apakah dia masih ada!” Ruhi lalu berjalan ke depan dan ternyata, Zaid sudah pergi.
TWING
Airene melihat ponselnya, sebuah pesan dari “Bang Zaid”
“Hi, titip Airene ya, maaf kedatanganku cuman buat dia nangis, bantu tenangin ya, tadi dia langsung masuk, kayaknya dia ngga kuat dengar cerita ku, aku juga belum sempat pamitan, tapi ya ngga apa lah, sekali lagi titip Airene ya, terima kasih banyak, terakhir salam sama Firdaus!”
Ruhi menutup ponselnya dan masuk. “Dia sudah pergi!” ujar Ruhi masuk dan membawa gelas kosong.
“Baguslah!” ujar Airene memilih duduk.
“Sesedih itukah ceritanya?”
__ADS_1
Airene kembali mengangguk. “Mungkin aku berdosa karena menatap matanya, tapi tatapannya itu menyiratkan kesedihan yang selama ini dia pendam Hi, dia seakan ingin mengatakan banyak hal, tapi aku ngga kuat untuk mendengarnya lebih jauh, sakit Hi.”
“Sudah-sudah, kamu harus tenang, jangan di pikirkan ya, mungikin dia hanya butuh teman untuk bercerita dan pikirnya kamu orang yang pas untuk mendengarkannya Rin.”
“Iya, di awal dia bilang aku mirip Istrinya.”
“Dia bilang begitu?”
“Iya!”
“Ya udah, sudahlah nangisnya, aku mau masuk kelas, kamu mau ikut atau nenangin diri dulu?”
“Aku ikut ajalah, biar bisa lupain kejadian tadi.”
“Ya sudah, kamu udah siap.”
“Udah.”
Keduanya lalu berjalan menuju kelas, dan di perjalanan, seorang santri mendatangi mereka.
Ruhi dan Airene berhenti lalu berbalik, kini di belakang mereka sudah ada dua santri putri yang menunduk sambil memegang sebuah wadah yang di dalamnya terdapat beberapa kertas yang di gulung.
“Yang tadi Ustadzah!” Menyerahkannya.
Ruhi pun mengambilnya tanpa banyak bertanya sebab dia sendiri tahu apa itu. “Terima kasih ya, ada waktu luang nanti kita jawab sama-sama,” ujar Ruhi.
“Baik Ustadzah, kami permisi, asslamualaikum Ustadzah!”
“Waalaikumusslam!”
Santri itu pergi dan kini Airene dan juga Ruhi melanjutkan langkah mereka.
“Kertas apa ini Hi?” sambil memegang puluha kertas kecil yang di gulung itu.
“Ouh ini, tadi ada sesi tanya jawab, tapi ngga semua bisa nanya, jadi aku minta aja mereka nulis pertanyaan ringkasnya lalu di gulung begini, naah nanti kalau sempat aku jawab satu-satu di kelas.”
“Ouuuuh” sambil mengangguk, tangan Airene pun spontan mengambil satu kertasnya. “Boleh ku buka?”
__ADS_1
“Silahkan!”
Airene pun dengan semangatnya membuka gulungan yang panjang itu. “Waah pertanyaanya panjang nih, jawab langsung ya?”
“Kalau bisa aku jawab ya, kalau ngga PR!”
Ruhi lalu membelokkan arah mereka dengan menarik tangan Airene dan memilih duduk dikursi taman.
“Siap ya..., pertanyaanya … Assalamualaikum Ustadzah … Waalaikumussalam. Andai kita hijrah lalu kita di uji, apakah bisa di katakana kalau ujian itu cara Allah menghapuskan dosa kita dari kesalahan kita di masa lalu?” lekas Airene melihat Ruhi atas pertanyaan itu.
Ruhi sendiri hanya mengangguk menanggapi pertanyaan salah satu muridnya itu.
“Apakah ini semacam mendapat hukuman setelah berhijrah untuk membayar kesalahanya saat dia masih nakal dulu.”
“Ya, bisa di artikan begitu!” ujar Ruhi lalu membetulkan arah duduknya dengan sedikit menyanmping, Ia memegang tangan Airene. “Terkadang manusia terlalu banyak mencari kambing hitam atas masalah mereka, dan malah menyalahkan orang lain, sebenarnya wajar kita marah atas ucapan orang lain, marah dengan nyinyiran orang sekitar, tapi sebelum marah, cobalah marah pada diri sendiri, berkacalah pada diri sendiri apa yang dulu kita lakukan, anggaplah nyinyiran dan omongan orang lain itu, dulu kita melakukannya pada orang lain juga, dan kini di balas oleh Allah di dunia setelah kita hijrah untuk menghapuskan dosa-dosa kita, dengan begitu kita akan lebih santai menanggapi masalahnya karena kita sadar itu untuk menutupi dosa yang dulu, bahkan bukannya lebih bagus jika di balas di dunia dari pada di akhirat, karena itu lebih berat, dan orang yang mendapatkan ujian dan penghapusan dosa itu, merekalah orang yang beruntung.”
“Ouh, begitu, kamu udah pernah ngga Hi, ngerasa begitu.”
“Aku!” tunjuk Ruhi pada dirinya sendiri.
“Iya!”
“Ya pernahlah, bahkan sering, dan aku ya gitu aja nanggapinnya, marah sama diri sendiri dulu, isntrofeksi diri dulu, dan bilang wahai masalah aku punya tuhan yang bisa menyelesaikan masalah, jika engkau masalah yang besar aku punya tuhan yang lagi maha besar, udah gitu aja.”
“Enaknya kalau punya iman gede kayak kamu, gampang aja liatnya ngadepin masalah, kayak ngga ada masalah di hidupnya.”
“Ahhh, jangan bilang begitu, aku begini pun atas izin dan ridhonya Allah, kalau ngga mana mungkin aku bisa, aku juga lemah kok, tinggal kitanya aja lagi, seberapa yakin kita bergantung pada-Nya, kalau kita yakin seyakin-yakinnya, insyaallah! Dia juga akan mempermudahnya, perbanyak waktu hubungin Allah, pasti masalah duniawi kita selesai dengan mudahnya.”
“Begitu ya, ajarin aku ya, aku juga pengen bisa bergantung sepenuhnya begitu, karena aku ngga tahu apa kejutan hari esok yang akan menghampiriku.”
“Bissmillah, kalau besok ada kejutan, terima aja ya dengan iklas, kamu pasti bisa menghadapinya tentunya dengan meminta petunjuknya … Ya sudah yuk!, kita masuk kelas, mau di mulai nih!”
“Ayuuuk!”
Keduanya memilih bangkit dan kembali berjalan menuju kelas.
...Bersambung...
__ADS_1