Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 19 : Tak Kuasa


__ADS_3

“Saat Ini-.”


CLEK


Saat keluar dari toilet, Ayu sudah mendapati Airene yang menutup buku Diarynya, wanita yang baru sembuh itu mematung dan menatap ke luar jendela kamarnya, diamnya cukup lama, sampai-sampai keluarnya Ayu dari kamar mandi tak mebuyarkan lamunannya itu.


Ayu berjalan pelan menghampiri, Ia berusaha untuk tidak mengejutkan Airene dengan memanggilnya, ketika sudah sangat dekat, Ayu menggoyangkan tangannya di depan wajah Airene, hal itu juga tak berhasil. Hingga Ayu meletakkan tangannya di atas tangan Airene.


“Eh Ayu?”


Lamunannya pergi, Airene bahkan menutup wajahnya sebentar dan memukul-mukul pipinya pelan untuk menyadarkannya, dia bahkan sadar jika dia melamun begitu jauhnya.


“Kenapa?” tanya Ayu lembut.


“Entahlah, perasaanku jadi kacau setelah membaca bagian yang ini?” Membukakan lagi ujung cerita yang terakhir di bacanya. “Entah kenapa setelah membacanya aku seperti kehilangan arah, seakan kejadian di cerita itu merasukiku dan-.”


“Mana? sini coba ku lihat!” potong Ayu sambil memindahkan buku itu ketangannya.


Ayu membaca part buku yang membuat Airene tersihir itu, setelah membacanya, Ayu paham kenapa Airene begitu.


“Apa kau masih mencintainya?” gumam Ayu.


“Apa orang itu benar-benar kuliah ke mesir Yu?” ujar Airene kembali menatap ke luar jendela, mukanya masih murung.


Ayu tak kuasa melihat raut wajah sahabatnya yang bersedih itu, Ayu menolehkan wajahnya berlawanan dengan Airene, Ia menunduk.


“Bagaimana bisa aku merebutnya darimu Rin?, dalam posisi begini saja kau bisa terpaku begitu lama hanya dengan membaca kisah lama, kau bahkan bisa murung saat tahu dia dulu ingin kuliah ke mesir, lalu apa yang terjadi jika kau tahu semuanya nanti, apa yang terjadi padamu jika dia akan pergi darimu untuk selamanya? ... Tidak, inii tidak boleh terjadi.” Ayu menggelang.


“Kamu kenapa Yu?”


“Eh, Rin, ngga! Aku ngga apa-apa … masalah pria di buku itu, kita bahas nanti ya, kayaknya kamu jadi ke bawa suasana, aku jadi takut untuk melanjutkannya, ya walaupun aku tak tahu banyak kisahnya, tapi nanti akan aku ceritakan, gimana?”


“Okelah, aku juga jadi ngga mood, di buatnya, aku istriahat dulu kalau gitu, kepalaku jadi nyeri.”


“Benarkah, apa perlu aku panggilkan Dokter?” Ayu bergegas hendak melangkah.


“Jangan-jangan” tahan Airene. “Aku hanya sakit sedikit, kalau ku bawa tidur, mungkin akan hilang.”


“Baiklah, tidurlah dulu, aku akan disini menunggumu!”


Di bantu Ayu, Airene pun merebahkan tubuhnya, dengan mudahnya Airene terpejam dan hanyut dalam mimpinya, melihat itu Ayu menjauh dan beralih duduk di sofa dan meneteskan air matanya di sana.


TOK! … TOK! … TOK.


“Assalamualaikum!”


Lekas Ayu menghapus air matanya. “Waalaikumussalam.” Ayu bangkit dan membukakan pintu.

__ADS_1


CLEEK!


“Ayuuu.” Ucap orang di sebelah sana.


“Ruhiiii!” lekas Ayu memeluk temannya itu.


Tanpa basa-basi Ayu menangis di bahu Ruhi.


“Yang sabar Yu, kamu bisa bertahan.”


Ayu tak menjawab, Ia hanya sesegukan dengan sedikit mengangguk atas kalimat Ruhi itu, tak lama Ayu melepaskan pelukkannya, tapi Ia masih tak bisa berhenti menangis.


“Kenapa Yu?” Ruhi mengajak Ayu duduk.


Selama tak ada Zoa dan Irene koma, Ruhilah yang jadi tempat bersandarnya Ayu jika lagi ada masalah, Ayu suka melepaskan masalahnya dengan berbagi cerita dengan Ruhi, karena tak jarang Ruhi bukannya hanya mendengarkan tapi juga memberikan saran-saran berbau agama yang selalu membuat Ayu kembali kuat menjalaninya.


Begitu pun hari ini, Ayu menghubungi Ruhi untuk memintanya datang ke Rumah Sakit untuk kembali meminta saran si Ustadazah itu, ya sekaligus untuk menjenguk Airene yang juga sudah siuman.


“Huts!, tadi, ta-di. Huts Iren Hi”


“Kenapa Irene?” mengambil tangan Ayu dan menggenggamnya untuk memberikan kekuatan.


“Dia tadi termenung saat memikirkan kak Zaid, aku tak tega Hi.” Kembali Ayu memeluk Ruhi dengan deraian air mata yang mengalir di pipinya.


Ruhi cukup tahu banyak tentang permasalahan keluarga dari sahabat-sahabatnya itu, terlebih lagi sejak Airene koma, dan kali ini pun arah pembicaran Ayu dapat di tebak dengan mudahnya Oleh Ruhi.


“Tapi aku takut!, takut kalau hasilnya malah sesuai dengan keputusan yang kelurga kami buat Hi.”


“Yu, ngga baik percaya dan menyakini sesuatu itu saat Allah belum memutuskannya, karena jika kamu minta dan keputusan nanti final, kamu bisa aja selamat dari permasalah ini.”


“Kenapa, kenapa aku ngga sekuat kamu Ruhi, kenapa aku ngga bisa berfikir jernih sepertimu, aku selalu takut kalau apa yang mereka pinta itu yang akan terjadi, aku takut nantinya Airene malah menyalahkan ku dan menuduhku mengambil miliknya, aku ngga mau itu, tapi di sisi lain aku mulai nyaman Hi.”


“Ayu!” Ruhi melepaskan pelukannya dengan Ayu. “Aku ngga salah dengarkan, Istigfar Ayu!”


Ayu kembali tertunduk di depan Ruhi, dia tak mampu menghadapi masalah yang di bebankan padanya ini, dia bagaikan tumbal dalam situasi ketiga keluarga ini, yang kini bisa Ayu lakukan dia hanya menitikkan air matanya.


“A-aku, … Huts, a-aku tak siap berpisah dengan Aisyah, Hi.”


Mendengar itu Ruhi langsung memeluk Ayu, sebab dia tahu, Ibu mana yang kuat jika harus berpisah dengan anak mereka. Cukup lama keduanya berpelukan, hingga sebuah suara membuat keduanya membuka pelukan mereka.


“Eaaakh!, Yu, Ayu?” panggil Airene. Dengan suara beratnya, khas ornag bangun tidur.


“Kamu yang kuat, Yu!, aku selalu doakan kamu agar bisa melewati ini, Allah tak akan memberikan kesulitan untuk orang baik sepertimu Yu, hapus air matamu, Airene bangun tuh, jangan sampai dia melihat kamu menangis begini.”


“Baiklah!”


“Yu!”

__ADS_1


“Ya Rin.” Ayu lekas menyeka Air matanya dengan tisu, dan mendekati Airene, begitupun dengan Ruhi. “Kenapa?”


Pertanyaan Ayu tak ada jawaban dari Airene, wanita yang baru bangun itu menatap bingung dengan wanita yang ada di sebelah Ayu, melihat itu, Ayu menoleh pada apa yang Airene lihat, Ruhi tersenyum.


“Assalamualaikum Rin, sehat?”


“Wa-waalaikumussalam.” Airene sedikit gagu.


“Kamu tidak mengenaliku?”


Airene menggeleng.


“Aku, Anaya Aruhi, kamu ingat!”


Airene beralih menatap Ayu, sebab dia sudah tak asing dengan nama yang memiliki dua suku kata itu, karena di tatap Airene, Ayu paham akan maksud tatapannya itu. Lekas Ayu mengangguk.


“Iya, aku Ruhi yang sama dengan Ruhi yang ada di buku Diarymu itu.” Ruhi beralih posisi dengan Ayu lalu memeluk Airene. “Aku senang kau kembali sehat Rin.”


“Terima kasih Ruhi, maaf aku tak mengenalimu.”


Melepas pelukan. “Tak apa, aku mengerti kondisimu, yang terpenting saat ini kamu harus sehat dulu, dan aku dengar dari Ayu kamu sudah bisa jalan.”


“Alhamdulillah, sedikit-sedikit bisa Ustadzah!” goda Airene.


Mendengar itu Ruhi menutup mulutnya dengan tangan karena malu di gelar begitu oleh teman lamanya itu, sedangkan Ayu hanya terbelalak karena Airene bisa menggoda orang yang baru di kenlanya itu, karena Ayu tahu tipe Airene sedikit kaku dnegan orang baru terlebih lagi untuk bercanda begini.


“Aireneee, aku jadi malu!”


“Aku yang memberi tahunya jika kamu sudah jadi guru di pondok,” sambar Ayu.


“Terima kasih sudah mau menjenguk ku!”


“Iya sama-sama Rin, ini juga karena aku ada acara seminggu di sini, makanya aku mampir, karena kalau menunggu jadwal kosong dari pondok agak susah.”


“Nggak apa-apa, aku paham, lagi pula Ayu juga berjanji mau bawa aku ke Pondok nanti.”


Lekas Ruhi menatap Ayu.


“Nanti Hi, tunggu dia bisa jalan dulu.”


“Ouh.”


...“Bersambung”...


...****************...


Apakah sebenarnya terjadi? Cek eps selanjutnya 🤪

__ADS_1


__ADS_2