Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 16 : Semoga ini membantu


__ADS_3

Karena semua sudah meinggalkan Mesjid, kamipun juga turut melangkahkan kaki, tapi belum juga melangkah, Zoa dan Ayu malah bertengkar.


"Auuuu, sakit Zoa." Ayu mengelus-elus lengannya, kami yang tak tahu apa yang terjadi menatap Ayu dan Zoa.


"Kenapa Yu?” tanya Ruhi.


"Zoa cubit," Rengeknya sambil terus mengelus area yang di cubit Zoa. 


"Kenapa nggak kasih tau aku kalau ada Ustadzah!" tanya Zoa marah.


"Ya kami juga nggak tau, Ustadzah keluarnya tiba-tiba, Ya kan Rin?" jawab Ayu.


"Ha ha ha,  lagian Ghibah nggak liat tempat, mana di rumah Allah lagi,  kan di bayar kontan sama Allah." ucapku bahagia. 


"Kan kamu yang mulai Ren." 


"Yang jelas kamu yang tertangkap basah,  bukan aku ya, Wleee." sambil menjulurkan lidahku


"Isss maunya  selamat sendiri, temennya dalam masalah nggak di tolongin." Zoa tampak kesal, ia memajukan beberapa centi bibirnya. 


"Sudah-sudah jangan ribut, di dalam masih ada kakak senior, nanti kena marah kalau ribut malam-malam,” kata Ruhi.


"Ya udah yuk Jalan, udah malam juga aku ngantuk nih, yang lain juga udah duluan tuh liat tinggal kita aja di sini, " Ujar Ayu. 


"Yuk lah, aku juga capek nih, gerah kerudungan seharian," ucapku sambil mengibaskan-kibaskannya.


"Yuk lah,  sama aku juga," timpal Zoa. 


Kami pun meninggalkan Mesjid, dan melewati jalan setapak yang sekelilingnya di naungi pohon-pohon rindang, Ayu berjalan sambil memeluk erat lengan Zoa, dia bahkan berjalan dengan menunduk.


"Oh iya, bicara masalah ceramah tadi, nih ya aku kasih tau, dari yang aku dengar kalau disini itu mereka bisa sampai setengah dua belas lo baru selesai belajarnya," tutur Ruhi. 


"APAAAA!" Ayu kembali segar dari takutnya, suaranya mengelegar di antara lebatnya pohon. 


PLAK 


"Hutss Ayu santai, tu lihat di liati sama yang lain, bikin malu aja mana suaranya nyaring lagi," ucapku.


"Hee maaf!"


"Yang benar Hi?" tanya Zoa.


"Iya, tapi tenang nggak tiap hari kok."


"Sekalipun nggak tiap hari yang namanya bosan ya bosan aja ya nggak." ujar Ayu lagi. 


"Alaahh, kamunya aja Yu yang memang nggak niat, kalau nonton drama aja pagi ketemu pagi kamu sanggup, belajar dengar ceramah alasan ngantuk, bosan."

__ADS_1


"Apaan sih Ren, kamu juga tadi ngantukkan, jangan munafik ya anda, pakai bawa-bawa drama lagi, itu beda ya," balas Ayu lagi ketus.


"Ih kalian kenapa sih suka banget ribut, ini itu malam, nanti kita di tegur sama penunggu disini gimana, mau!"  kata Ruhi.


Aku, Ayu dan Zoa seketika terdiam, dan Ruhi masih terus berjalan, kami lalu saling lihat dan mengawasi sekitar, akhirnya aku sadar kalau pohon-pohon yang besar nan lebat itu cukup menakutkan kalau malam begini. 


“Lugh! " Aku menelan liurku. "Kok tiba-tiba merinding ya!"


"Iya nih, gara-gara si mata empat," umpat Ayu yang disebelahku.


"Lari Yuk!" ajak Zoa. 


Aku dan Ayu lalu mengangguk bersama atas ajakan Zoa itu. 


"Hitungan ketiga ya, 1...2....3, lariiiii!"


"Aaaaaaaaaaaaaaa…” teriak kami.


Dengan menyingsing baju gamis kami, the girls lari sekuat tenaga dan meninggalkan Si kutu buku itu. 


"Kalian kenapa?" tanya Ruhi saat kami berlari melewatinya, rasa takut kami jauh lebih besar dari rasa penasarannya atas tindakan kami ini. 


"Aaaaaa putus,  Zoa tunggu, Ren ... sendalku!" rengek Ayu.


"Yu cepatan," pekik Zoa. 


"Ayu kenapa lari." tegur Ruhi dengan suara yang di seram-seramkan. 


"Aaaaaa pake nanya lagi, pliss tanya Ruhi aja tuh, aku mau kabuuuuur, aaaa bu mau pulang aja." Ayu sangat katakutan sampai hendak menangis. Ayu pun berlari tanpa memakai sendalnya. 


"Ayuu inii aku ... aku Ruhi Yu ... Ayu!.... ha ha, masa aku nanya aku,  gimana sih konsepnya?"  Ruhi menggaruk kepalanya padahal dia sendiri yang usil. 


...----------------...


-Saat ini-


"Ha ha ha ha aduh, perutku, duh, jelek amat perangaimu dulu Yu." ucap Airene setelah membaca kisah mereka. 


"Memangnya kenapa Ren?" tanya Ayu yang kebingungan.


"Ya aneh aja,  ha ha ha aduuuh pegel rahangku .... nggak tau aku mau bilang apa, ternyata asik juga ya punya buku gini jadi  bisa baca kisah di masa lalu." 


"Kamu udah baca sampai mana?"


"Itu sampai kamu lari tapi sendalnya lepas, terus si Ruhi nanya ada apa tapi kamu malah suruh dia nanya sama dirinya sendiri kan aneh ...  ha ha ha." Airene tertawa sangat puas.


Ayu terseyum " Heeeee.. Aku juga nggak bisa berhenti kalau baca bagian itu, abisanya udah tahu aku takut, eh dia nanya pake suara berat-berat gitu, kan makin merinding akunya. Ya aku tinggal larilah dia."

__ADS_1


"Ha ha ha." Airene sangat terhibur dengan tak berhenti tertawa. 


"Dan yang lucu lagi,  aku ingat saat itu, kita bertiga udah masuk kamar dan duduk deketan dalam satu kasur pake selimut saking takutnya untung ranjangnya nggak patah..  Memang si Ruhi jailnya minta ampun padahal dia orang baru di geng kita, tapi dia berani jailin aku," ucap Ayu sedikit kesal. 


"Terus-terus!" Airene antusias. 


"Heeeem, apa ya … Oh! Ruhi datang bawa sendal aku dan dia malah ketawa-ketawa, lalu ya kita cerita-cerita gimana rasa takutnya kita bertiga saat itu pokoknya nggak terulaang deh itu, dan kamu malah jadikan ini cerita dan catat di Diary kamu ... Itu aja, pokoknya selama di pondok banyak deh moment bersejarahnya," ujar Ayu sedikit terharu.


"Iya juga ya ...  sduuuh perutku jadi kram nih gara-gara kamu Yu." Airene memegang perutnya. 


"Udah-udah Ren, jangan berlebihan ketawanya ... Oh iya! dari yang sejauh ini kamu baca gimana ada yang membuat kamu ingat tentang itu semua ," tanya Ayu. 


"Hmm gimana ya ...  sku cuman bisa ngebayangin sih, otakku jadi kayak flashback gitu, ya walaupun semuanya kasar, sebab aku ngga bisa ingat wajah-wajah orang lain yang belum aku temuin."


"Bagus deh Ren, kata Fais apapun yang membuat otakmu bekerja itu bagus untuk kesehatan dan kesembuhan kamu, asal ngga sampai menimbulkan rasa sakit."


“Oh iya Ruhi itu sekarang dimana?, aku jadi mau ketemu sama dia." ujar Airene mengalihkan pembicaraan. 


"Hmm terakhir kali aku ketemu dia di pondok, sekarang dia Ustadzah di sana, panggilannya Ustadzah Ana? "


"Di pondok kita sekolah!" tanya Airene dengan kagum.


"Iya!" 


"Waaah, hebat ya, nanti antar aku kesana ya, mana tahu itu juga bagus buat aku," ujar Airene. 


"Oke, tapi tunggu sembuh dulu, dan kamu minimal udah bisa jalan sendiri dulu, soalnya cape juga kalau aku harus dorong atau tuntun kamu di pondok, mana sekarang pondok udah tambah besar lagi." ujar Ayu. 


"Hmmm iya deh iya ...  nggak iklas banget pake bawa-bawa luasnya pondok lagi." Airene menatap Ayu dengan malas. 


"Ha ha ha ... canda Ren canda."


"Ya udah aku mau lanjut baca nih, kamu mau ngapain juga terserah ya ...  Atur sesuka mu."


"Iya - iya lanjut sana, aku mau ke toliet dulu." Ayu lalu meninggalkan Airene sendirian. 


CLEK 


Ayu berdiri membelakangi pintu dan ia meneteskan air matanya.


"Semoga ini bisa membantu kamu Ren, kamu harus sadar kalau kita dulu itu sangat bahagia tanpa adanya rasa yang membuat kita jadinya tercerai-berai begini. Aku tidak menyalahkanmu tapi andai waktu bisa di ubah dan kita semua bisa berpikir jerniah maka kejadian itu tidak akan membuat kita kehilangan orang-orang yang kita sayang.. hutsss dan Abang mungkin tidak-" Ayu segera menutup mulutnya, Ia sesegukan menahan rasa sakitnya yang selama ini ia pendam.


" Aku merindukanmu, yang tenang ya!" 


...Bersambung...


Apa yang sebenarnya terjadi, hal apa yang sedang di sekbunyikan? Cari tahu di eps selanjutnya ⬇️⬇️⬇️

__ADS_1


...****************...


__ADS_2