
Masa lalu - Part 3
"Grrrrgtt, aduuuuuuh!" Aku merasakan perutku sedang tidak baik-baik saja.
Karena merasa ingin buang hajat maka aku bangkit dan menatap jam dinding yang sedikit lebih nyaring di saat kami semua tidur, pukul 03:00 WIB, pagi pertama di pondok yang tidak menyenangkan.
Aku lalu melihat semuanya sedang tertidur pulas, dan aku pun turun dari ranjangku perlahan agar tak ketahuan, karena turun ini sedikit membutuhkan tenaga aku tak sengaja melepaskanya
Pesss 🥴
"Aduuuh!" Aku panik, segera ku tutupi dengan tanganku tapi untungnya ini hanya seperti ban kempes yang kecil, jadinya tidak akan menjadi huru-hara, apalagi sampai membangunkan ketiga manusia ini.
"Yu ... Ayuuu temani akulah ke toilet ... Dangger nii!"
"Eeeeaaaahkh ... apa?" matanya terbuka sedikit.
"Aku sakit perut Yu."
"iiiiii nggak ah, minta Oya tuu, aku ngantuk, takut," ucap Ayu sambil memejamkan matanya lagi.
"Oya ... Yaaak bangun!" Aku menggerakan-gerakkan badannya.
"Kenapa?" mengucek matanya.
"Mules ni?"
"Nggak ah Ren, Katanya malam tadi berani jadi pergii aja sendiri, kan disini nggak ada hantunya." Zoa kembali menarik selimutnya.
“Iiii punya temen nggak bisa di andalkan,” kesalku.
Ketika dua orang dekatku ini tak mau menemaniku, aku lalu menoleh sedikit ke arah Vanaya Aruhi, Aku terpaksa menyebut nama lengkapnya karena aku terdesak. Aku mendekati ranjangnya.
Rrrrggrrrt (suara perut)
" Heeem Hi, Ruhi ,... Tut, ha lepas lagi.” Sakit perutku sampai pada puncaknya “ Dahlah pergi sendiri aja, lama niii," dengan terpaksa aku membatalkan niatku untuk meminta bantuan Si Mata Empat.
Antara berani atau terpaksa aku melangkah ke pintu, lalu tak lupa mengambil jilbabku dan dengan perlahan aku membuka kuncinya, saat pintu kamar itu terbuka, angin dari lereng bukit menerpa wajahku..
Fuuuuuussh
"Eeeeeee, dinginnya." Aku memeluk diriku sendiri, ku tatap suasana pagi itu, bulan terang serta di temani bintang-bintang, sayangnya keindahan itu berganti seram saat mataku melihat jalan ke arah toilet, toilet yang jaraknya hanya beberapa meter itu, malam ini terlihat sangat jauh olehku.
"Ya Allah tolong, mana-.” Mataku melihat semua pohon bergerak kesana kemari seakan ingin mengajakku berdansa denga mereka.
Grrrrtr!
"Dah lah masa bodoh ... dia mau seram, mau nyap-.”
Toot!
Sekali lagi aku tak dapat menahan hasratku ini, aku merasakan ada yang berada di ujung jurang, segera aku berlari dengan tetap fokus pada tujuanku, tak perduli pada pohon itu, yang penting satu penyiksaan ini berakhir sisanya nanti saja ku pikirkan jika sudah selesai BAB, pikirku.
__ADS_1
"Please jangan bersuara apaalgi negur ya, aaaaaaaa." Teriakku dalam hati sepanjang perjalanan ke toilet, karena takut mendengar sesuatu, aku juga menutup telingaku. " Ya Robb tolong!"
Clek
"Aaaaaah aman.”
Segera ku tunaikan hasratku itu, selama aku memprosesnya banyak suara-suara hewan malam. Aku hanya bisa menutup mata dan telingaku selama itu, akhinya sekitar sepuluh menitan, aku berjibaku mengeluarkan dia, aku selesai dan bersiap menghadapi jalan setapak mengerikan itu lagi.
"Ya Al-" Aku langsung menepuk mulutku. " Heh Airene, masa minta tolong dalam toilet, penghinaan namanya itu, aduuh bagaimana ini … aaa tolong! mana takut banget, apa aku tidur di sini aja ya? " dan aku menatap sekelilingku.
"Eeee, Ih nggak ah." Aku bergidik saat melihat antara sekat-sekat tembok itu, dalam bayanganku ada orang yang mengintipku.
"Dah lah, lari tutup mata! eh enggak buka dikitlah tapi tutup telinga aja," ucapku sendiri. "Huftttttt, 1 … 2 … 3.”
CLEEEK
“Lariiiiiii!"
BUGHHH
Tanpa ku sadari aku menabrak sesuatu.
"Auu" rengeknya.
"Aduuh!"
"Airene kenapa?"
"Ruhii? ... Ruhikan? " tebakku, lalu aku memastikannya dengan mengucek mataku.
"Yang benar?" Aku memperhatikan dari atas sampai bawah, "Coba angkat kakimu, injek tanah nggak?" Dengan bodohnya aku berani bertanya begitu. Jika dia bukan Ruhi maka aku sedang menginterogasi hantu.
"Ini aku Rin, Niii .... niii ... ni!" ucap Ruhi sambil memukul dirinya dan mengangkat bajunya untuk melihatkan kakinya.
"Aaaah benar." Segera aku memeluknya
"Rin! … Rin kenapa? " tanyanya bingung.
"Iiii aku takut banget, tadi minta tolong tu anak bedua mereka nggak mau, mau bangunkan kamu perutku udah sakit, jadi aku ambil jilbab dan langsung lari aja soalnya dah mau keluar sedikit."
"Ouh ... untung kamu kentut tadi," ucap Ruhi.
"Memangnya kenapa!" tanyaku tanpa rasa malu.
"Karena baunya, aku jadi susah nafas," ucap Ruhi.
Mataku terbuka sempurna, pipiku merah seperti kepiting rebus karena malu, Image yang ku jaga selama ini runtuh sekejap karena bau dari kentutku yang mampu membangunkan orang lain, bayangkan sebau apa itu.
"Hee, Maaf ya Hii, aku nggak bisa nahan lagi." Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Ya sudah nggak apa-apa, mungkin kalau nggak nyium itu, aku nggak ke bangunan sekarang."
__ADS_1
"Kamu bangun memang khusus buat nemani aku di sini."
"Tadinya sih iya, tapi kamu mau ikut aku nggak." ucapnya mengalihkan topik.
"Kemana?"
"Kamukan tadi takut, naah gimana kalau kita dengar yang indah-indah malam ini."
Aku menaikkan alisku, "Maksudmu?"
Ruhi tak menjawab, dia hanya senang dan langsung menarikku.
"Kemana sih!"
"Ya udah ikut aja."
Kami berjalan di bawah sinar bulan yang hampir purnama, kerikil-kerikil bahkan bisa terlihat dan aku menyadari kalau ini jalan setapak yang sama menuju ke Mesjid.
"Inikan jalan ke mesjid?"
“Suuuhts, pelankan suaramu … nah tu, dengar nggak? " sambil menaruh tangan di kupingnya
Dengan dia berucap begitu, hatiku tambah tak tenang, sebab apa yang kami lakukan ini sedikit ilegal, apalagi dia menyuruhku bicara pelan dan mendengarkan dengan seksama, kini kami sedang berada di halaman mesjid, dan Ruhi sedang menyuruhku untuk menguping sesuatu. Dalam pikiranku aku membayangkan mendengar suara-suara makhluk mistis, sebab yang aku tahu Rumah Allah itukan ada juga Jin baik yang menunggunya.
"Ihhh nggak ah nanti dengar yang bukan-bukan, takut ah!" Aku menolak.
"Iiii coba pasang kupingnya baik-baik," perintahnya.
Dengan wajah takut aku memiringkan wajahku ke arah Mesjid dan memasang telapak tanganku di area kuping untuk memperjelas pendengaranku.
"Yaaa ayyuhallaziina aamanuu."
Aku terkejut, dan menatap Ruhi.
"Dengarkan!" Ucapnya lagi tanpa rasa takut bahkan terseyum.
"Iiih suara siapa itu?"
"Mau tau, Yu kita kesana!" ajak Ruhi dengan menarikku.
Aku menggeleng dan menahan badanku "Nggak-nggak, aku takut!"
"Iih ayoo, kesempatan kita nggak banyak, bentar lagi santri lain turun, lagi pula Kakak kelas ini juga mau selesai dari sini." ucap Ruhi.
Aku kembali bingung dengan yang dia ucapkan, Isi kepalaku tertuju pada kata Kakak kelas.
"Maksudnya?"
"Maksdunya-maksudnya, banyak nanya Airene, ayooooo!" Ruhi semakin menarikku.
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...
Baca Eps selanjutnya ⬇️⬇️⬇️