
TING!
Saat pintu lift kembali tertutup rapat, Ayu tak bisa menahan gejolak di dalam dirinya untuk tak mengejek Airene, tapi Ia sadar kalau ia memulainya duluan maka Airene akan murka, Ayu paham sekali karakter Airene, sekalipun Ia sudah hilang ingatan tapi Ayu rasa beberapa sifat alaminya masih ada.
Akhinya dalam beberapa detik setelah insiden Dokter tadi Ayu mengulumkan bibirnya kuat-kuat dan saat ingin tertawa ia menambahnya dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan, namun hal itu di sadari oleh Airene.
“Kalau mau ketawa, ya ketawa aja Yu, jangan di tahan-tahan.”
“Eh … nggak kok, aku nggak mau ketawa” Ayu kembali bersikap biasa.
“Baguslah, tapi Yu … hmmmm, ngomong-ngomong, kamu kenal Doter tadi?”
TING
Ayu tak langsung menjawab pertanyaan Airene itu, ia terlebih dahulu mendorong Airene dan berjalan menuju taman Rumah Sakit sesuai dengan keinginan yang di buat tiba-tiba oleh sahabatnya itu.
“Memangnya Kenapa!” jawab Ayu setelah beberap alangkah dari lift.
“Nggak ada, soalnya aku lihat kalian kayak udah kenal lama,” dalih Airene.
“Ia kami udah kenal lama, tapi ya ngga terlalu lama juga, kamu tau itu dari mana?”
“Pertama dia manggil nama kamu tanpa pakai awalan mbak atau kakak gitu, terus yang kedua kalian juga ngobrolnya asik gitu waktu aku terapi tadi.”
Ayu menganggukkan kepalanya. “ Ohh, jadi Spy nih ceitanya.”
“Ih nggak ya, aku nggak sengaja aja liat kalian.”
“Rupanya kamu tak sepenuhnya berubah Ren … Oke-oke aku paham, pertama Dokter Fais itu lebih tua dari kita sepuluh tahun cuman wajahnya aja yang kelewat muda, terus yang kedua, aku sama dia udah kenal sejak kamu sadar 3 bulan lalu alasannya aku ingin tahu segala informasi tentang kesembuhan kamu, dan waktu kamu terapi tadi aku cari tahu banyak tentang kondisi kamu.”
“Memangnya aku ni kenapa sih kok bisa jadi begini?.”
“Sebelum aku jawab, ini kita mau cari tempat di mana?” tanya Ayu saat mereka sampai di depan taman.
“Tuh sana aja yang nggak terlalu panas,” tunjuk Airene tepat di bawah pohon rindang.
__ADS_1
Mereka lalu bergegaas kesana, saat menuju kursi, Ayu sempat memejamkan matanya dan berdoa “Ya Rabb, bantu aku kuat menjelaskan ini di depan Airene dan bantu aku mengontrol diriku sendiri.”
Saat sudah sampai Airene pun pindah duduk ke kursi taman lalu di ikuti Ayu.
“Oke, aku akan jawab pertanyaan kamu mumpung Dokter Fais udah kasih izin aku tentang boleh apa nggak ceritakan ini sama kamu, jadi dulu kamu itu kecelakaan dan otak kamu mengalami benturan keras, setibanya di rumah sakit kamu sempat sadar beberapa menit kemudian kamu pingsan, setelah di lakukan CT Scan dan tes darah di temukannya cedera otak yang menyebabkan pendarahan atau cloting pembuluh darah otak, Dokter pun memutuskan untuk melakukan Medically induced coma”. Ayu kembali berlinang saat mengingat kembali kejadian mengerikan itu, dia sudah berusaha untuk tak emosiaonal namun situasinya tiga tahun lalu itu dalam sekilas membuatnya rapuh lagi, potongan demi potongan mengerikan itu hilir mudik di kepalanya.
“Separah itukah dulu Yu, kalau memang berat jangan di lanjutkan,” ucap Airene sambil mengusap punggung Ayu.
“Aku minta maaf, lalu akhirnya Tim Dokter dan kelurga sepakat untuk membuat kamu koma supaya proses pembengkakan otak tidak berlangsung lebih parah, lalu-”
“Sudah-sudah jangan di teruskan aku tak ingin melajutkannya, rasanya cukup hari ini aku mendengar cerita mengerikan ini, Aku tak ingin hari ini di isi dengan kesedihan sudah cukup pagiku buruk dengan kejadian tadi, sudah jangan di teruskan Yu,” pinta Airene.
Ayu menatap Airene. “Demi Allah Rin, tak sedikitpun aku lupa semua kejadian hari itu, itu adalah hari terburuk dalam sejarah hidupku, aku harus ikhlas dan kehilangan dua orang yang paling ku sayang.”
Melihat Ayu yang terpaku menatapnya, serta air mata Ayu yang seketika terbentuk itu, Airene mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereke. “Oh iya Yu, Diaryku kamu bawa nggak!”
“Oh,, Diary ya, huts” Ayu menyeka air matanya yang hendak tumpah dan mengambil tasnya dan mengeluarkan Diary Airene.
“Hari ini aku boleh baca lagikan? semoga aja ada cerita lucunya, mood aku jadi berantakan ni.”
“Ya sudah jangan baca banyak-banyak, cukup dua halaman aja.”
“Yaudah boleh, tapi jangan sampai kamu pusing ya, kata Fais itu bahaya.”
Mendengar Ayu menyebut nama seseorang, Airene seketika terseyum. “Aseeeek udah nyebut nama aja, nggak pakai gelarnya lagi nih,” ejek Airene.
“Yeee biarain , cemburu ya, secarakan tipe kamu yang kayak gitu, yang lebih tua. OOOPS!” Ayu menutup mulutnya, seakan keceplosan, padahal dia memang niat mengucapkan itu.
“Apaan sih Yu ” dengan mudahnya Airene kembali kesal.
“Tuh kan benar, pipinya jadi merah.”
“Jangan sok tahu deh.”
“Kita itu udah temenan dari kecil ya, jadi aku hapal semua tentang kamu, kalau kamu nggak percaya, heeeeem, aku punya buktinya, bahkan kamu sendiri yang tulis itu,” ujar Ayu.
__ADS_1
“Masa sih Yu!” Airene tercengang.
“Tunggu ya… ” Ayu lalu mengambil Diary itu dan membukanya.
“Ih nggak sopan tahu, baca diary tanpa izin orangnya,” ujar Airene
“Ya mau gimana lagi, masa aku minta izin waktu kamu koma, kan nggak lucu, masa aku bicara sendiri tapi kamunya tidur, inikan juga demi kebaikan kamu, lagi pula aku tetap bisa minta izin kok, nih ya, Rin aku izin baca diarymu ya.” ujar Ayu bercanda sambil focus mencari kalimat tersebut.
“Ngga gitu konsepnya … jadi kamu udah baca semua isinya?”
“Aku dah hapal semua jalan cerita Diarymu!”.
“Issss parah, ini sama aja aku telanjang depan kamu Yu. Kamu udah tau semuanya,”
“Heh nyonya Airene, jangankan isi buku Diarymu, aku itu tahu semuanya tentangmu.”
“Apaaa! Semuanya!” Airene ternganga.
“Iyaaaa, hmmmm … nah ini nih,” tunjuk Ayu pada isi Diary yang membuktikan ucapan Ayu itu benar.
“Mana-mana, masa iya sih, coba lihat.” Airene mendekatkan kepalnya pada Ayu dan melihat tulisan yang Ayu tunjuk.
...“Ketimbang memilih pria yang seusiaku, aku lebih tertarik dengan pria yang jauh lebih tua di atasku ” Tulisnya....
Melihat fakta itu, Airene tak menyangka kalau standarnya adalah Pria yang lebih tua darinya, Ia terseyum geli lalu membuang muka dan menutup mulutnya rapat.
“Diiih, dihh geli banget liat kamu Rin, kayak anak ABG aja, malu-malu segala.”
“Tau ah, sini bukunya aku mau baca kayaknya seru!.” Airene kembali terseyum.
“Nihhh.” Ayu menggeleng melihat tingkah Airene. “Atur-atur Ren … Aku ngga tau apakah kamu akan bisa terseyum setelah tahu semuanya ini, aaah tugasku berat.”
Airene pun tak menyiakan kesempatan itu, Ia langsung membacanya.
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...
Btw dalam hal medis di atas, author meniru cara penanganan dari pasien yang koma selama 6th, hal ini thor ketahui dari membaca salah satu blog tentang koma itu sendiri, semoga informasinya benar ya.. Kalau salah tolong tegur ya 🙃