
Beberapa langkah masuk kedalam, aku kembali mendengar suara yang membuatku seketika penasaran dengan pemiliknya itu.
"Di beritahukan kepada Santri Putra agar segera berbaris." ucap pemilik suara misterius tadi.
Aku yang tadinya menikmati suasana tempat ini jadi tak karuan lagi, sebab suaranya benar-benar membuatku di mabuk kepayang.
"Hmm kayaknya di balik tembok ini ada sesuatu?" ucapku penuh keyakinan.
Dan demi menghilangkan rasa penasaranku, aku lalu melepaskan ransel dan Koperku dan sedikit mengangkat bagian ujung baju gamisku untuk melakukan terobosan.
"Bismillah, 1 … 2 … 3 Hiyaaa " Aku melompat setinggi-tingginya demi bisa melihat ada apa di sebelah tembok itu.
"Tolong kepada Santri putra agar berbaris yang rapi." ucapnya lagi
Saat aku melompat, pandangan pertamaku tertuju pada seorang pria yang sedang memegang alat pengeras suara dan dia tepat berdiri di atas mimbar dan tengah memberi arahan pada santri baru, .
“Hah benar ada sekolah putranya di sebalah, waaaaaah" Aku kegirangan,
"Lancang depan!"
Aku lalu menolehkan kepalaku untuk melihat apakah kedua sahabatku itu sudah masuk ke area Pondok apa belum, ada jalan berliku antara gerbang dan jalan utama asrama, dan kini kedua nya belum terlihat.
"Zoa sama Ayu kenapa ngga masuk, apa mereka benar-benar mau pulang … ah bodo, lagi Ah ... 1... 2 … 3."
"Heeey heyyyy … siapa di sana yang melompat itu, hentikan-hentikan," tegur seseorang, tapi kali ini suaranya milik perempuan.
merasa teguran itu untukku, maka aku membantalkan lompatanku dan menoleh kearahnya,.
"Kamu Santri barukan?" tanya wanita yang lebih tua dariku itu.
"Iya Kak."
"Kenapa kamu tadi melompat-lompat begitu?"
"Hmm … mati ni aku, baru hari pertama udah ke tangkap basah aja."
Saat hendak menjawab, Ayu dan Zoa akhirnya masuk dan berlari ke arahku.
"Ren kamu kenapa?" tanya Ayu.
"Iya Ren, kok kayaknya tegang banget," sambung Zoa.
Keduanya bertanya dengan polosnya seakan wanita yang di depanku ini yang sedang menatapku bagai elang pada tikus itu hanyalah tugu batu, apakah mereka tak bisa melihat situasinya.
"Kalian berdua anak baru juga?" tanya Elang wanita itu lagi.
"I-i-iiya Kak," jawab Ayu gagu.
__ADS_1
"Begini! tadi teman kalian ini melompat-lompat, dan itu tidak sopan, disini sopan santun harus di jaga, nggak manis anak perempuan berlaku seperti tadi, apalagi kalau Nyai sampai lihat. kamu bisa dalam masalah.” ucap Wanita itu.
"Nyai?" Dahiku berkerut.
"Nyai itu sebutan untuk pemimpin wanita di Asrama putri, dia adalah istrinya Pa Kyai pemilik Pondok Ini."
"Ouh." Aku mengangguk saja.
"Kalau gitu kami minta maaf kak, dia dari tadi memang udah penasaran sama apa yang ada di sebelah," ujar Ayu.
"Ou, lain kali jangan di ulangi, di sebelah itu asrama khusus Putra, Apa kalian tidak tahu disini juga ada Pondok untuk putranya juga?"
Kami bertiga menggeleng bersamaan
"Oke kalau begitu, biar kakak kasih tahu, disini itu Pondok putra dan putri tapi demi menjaga pandangan sesama. Makanya ini di beton agar nggak ada Zina, jadi saya ingatkan kalian dari mulai hari pertama kalian masuk ke sini, kalau kalian dan semua Santri baru di larang untuk masuk, mengintip, apalagi melompat lompat seperti tadi untuk melihat lawan jenis kalian di sebelah. kalian paham?" ucapnya tegas.
"Paham Kak!"
"Baguslah, kalau begitu mari kita masuk, sebentar lagi acara penyambutan Santri baru akan di mulai, jangan lupa bawa barang-barang kalian."
"Baik kak!" sahut kami lagi.
Kakak itu pun berjalan lebih dulu baru kami bertiga mengekorinya.
"Kenapa Yak!"
"Itu tadi bagian dari rencana atau rasa penasaranmu aja?"
"Lebih ke penasaran si Yak, memangnya kenapa?"
"Kirain mau langsung lancarkan rencana di hari pertama Ren," bisik Zoa.
"Ah ya kali, tapi kayaknya aku akan merubah pikiran deh Yak."
"Oyak, Ren, cepat, lambatnya ya ampun, ngomongin apa sih?" ujar Ayu.
"Kalian juga nanti tahu, tunggu aja" Aku lalu mempercepat jalanku untuk mengajar Ayu.
Lalu kami memasuki barisan, rupanya kami terlambat, memang belum mulai tapi yang lain sudah membuat barisan masing-masing alhasil kami berada di posisi paling belakang, Satu persatu satri putri di Absen sekaligus pemberian kamar, siapa dengan siapa, satu kamar di isi oleh 4 Atau 5 orang saja, saat sedang di Absen rupanya Aku, Zoa dan Ayu sekamar dan ada satu orang lagi Yaitu Anaya Aruhi.
Saat namanya di panggil aku kebingungan, sebab kalau hanya sama nama itu wajar saja, orang yang namanya Udin saja bisa sampe sedunia, kalau itu hanya nama!
Anehnya itu bentuk serta potongannya sama persis dengan orang yang kami kenal itu. Aku menatap kedua teman sekamarku dan memainkan alisku, mereka berdua menggeleng lalu aku balas lagi dengan menaikkan kedua tanganku setinggi dada dengan telapak tangan terbuka.
“Anaya Aruhi?”
__ADS_1
“Nggak tau.”
“Sama, nggak ngerti.”
Begitulah kira-kira, dan benar kecurigaanku saat ia berbalik ternyata benar itu si kutu buku yang membuat aku bertengkar dengan Mama karena prestasinya yang mentereng dia adalah Anaya Aruhi yang sama.
Kami bertiga Syok berat, tapi tidak sampe pingsan, hanya tak bisa berkata-kata. Kami sudah pergi sejauh ini namun tetap ketemu dengannya, apakah perbandingan prestasi jilid dua akan kembali terjadi, Huhh mengerikan, mari kita lihat!.
...----------------...
“Aku di atas … cop!” teriak Ayu saat memasuki kamar.
“terserah deh Yu, aku mau di bawah kek, di dinding kek ngga urus, yang penting tiduuuur, kalau kamu Ren?”
“Hmmm kalau aku-” Belum sempat aku berfikir, kutu buku itu menyambarku.
“Assalamualaikum!”
“Heh kenapa!” jawabku.
“Nggak baik Ren kalau ada yang salam nggak di jawab, jawab dulu.” ucapnya.
Aku memutarkan bola mataku, “Heeeeeh! Assalaamuaaalikuuuum warah matullaaaahiii waabarakaaaatuh,” jawabku bernada.
“Jadi gini setiap ranjang itu sudah ada namanya, Ayu sama Zoa atas dan bawah dan Airene sama aku, tapi terserah kamu mau pilih atas atau bawah, aku ngikut aja.”
“Aku atas.”
“Alhamdulillah baguslah, soalnya memang kamu di situ tempatnya, nama aku ada di bawah, semuanya juga udah aku simpen barang aku di bawah.”
“Yeee kalau gitu ngapain nawarin, aneeeh!” Seketika moodku di hancurkan olehnya.
“Barang kamu mana ruhi?” ucap Zoa.
“Iya mana?” jelas Ayu pula.
“Ouh udah masuk lemari duluan, aku di sini udah seminggu yang lalu.”
Mendengar jawabannya aku melotot, bukan karena terkejut tentang ucapannya, tapi otakku langsung berpikir untuk menjadikan Si Kutu Buku itu sebagai bahan informasiku tentang abang-Abang ber-toa tadi, karena pastinya dia lebih tahu tentang info pondok ini, dan juga tentang pria itu.
“Ada gunanya juga rupanya si Kutu buku ini,” gumamku.
...Bersambung...
...****************...
⬇️⬇️⬇️⬇️ jangan lupa tinggalkan comen ya guys 🥴🥴🥴
__ADS_1