
Keesokan harinya
Pagi ini Ayu kembali ke rumah sakit sebab hari ini Airene akan melakukan terapi pada kakinya dan juga untuk melakukan terapi ingatan melalui buku Diarynya lagi, semenjak Ia sadar, Airene masih belum bisa berjalan sempurna, kalau sekedar berjalan dari tempat tidur ke kursi yang ada diruangannya, hal itu masih bisa ia lakukan namun itu akan membuat badannya mudah lelah, ini terjadi akibatkan otot-otot yang menyangga tubuhnya terlalu lama tak beroperasi jadi untuk menguatkannya lagi, Airene harus melakukan terapi agar ia benar-benar bisa berjalan normal atau bahkan berlari.
“Yu Kira-kira bagusnya pakai yang mana, ini apa ini?” Airene memperlihatkan dua jilbab yang baru di belikan Mamanya kemarin.
“Hmm yang hitam aja, biar masuk sama bajunya,” kata Ayu.
“Ouh ya udah.” Tak butuh waktu lama bagi Airene, Ia langsung sarungkan jilbabnya ke kepala dan ia siap pergi untuk terapi. “Udah siap yo jalan” Lanjut Airene dengan duduk di kursi roda dan mendorong sendiri kursi itu hingga mendekati Ayu yang duduk di sofa.
“Ayo!”
Tanpa banyak basa-basi mereka berdua meluncur ke ruangan Dokter yang ada di lantai 4.
TING!
“Eh Airene!, Ayu!” Sapa seorang pria saat pintu lift itu terbuka, orang itu tak lain adalah Dokter yang selama ini mengurus Airene.
“Eh Dok, mau kemana?” tanya Ayu sambil mendorong kursi roda.
Airene yang tak mengenal pria berjas putih itu secara resmi, hanya memilih diam dan hanya mendengarkan obrolan keduanya, tapi jika di lihat secara hubungan antara dia dan Dokter, Airene jelas tahu jika Dokter itu adalah Dokter yang menanganinya dan membantunya sembuh.
“Saya baru aja mau jemput Airene, saya pikir lupa, sini biar saya bantu sampe ke ruangan.”
“Oh makasih banyak Dok, repot-repot.”
Ayu dan Dokter itupun bertukar posisi dan mereka langsung menuju ke ruangan terapi, dan di perjalanan si Dokter bertanya pada wanita yang di bantunya itu.
“Airene bagaimana kabarnya, ada keluhan?”
“Hmm nggak Dok!” jawab Airene dingin.
“Okeeee.” Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya.
Ayu yang mendengar itu sedikit menundukkan wajahnya sambil berjalan untuk melihat Airene, Ia menaikkan sebelah alisnya, seakan berkata “Kenapa, kok gitu jawabnya!” Batinnya.
Airene hanya menggeleng kecil “Nggak tau ah.” Dengan muka kesalnya.
“Baiklah kita sudah sampai,” ujar Dokter lagi dan mendorong Airene hingga ke tepi ranjang.
__ADS_1
Airene yang sudah hapal apa yang harus ia lakukan dengan segera berdiri dari kursi roda dan berpindah ke ranjang dengan sendirinya.
“Bisa Airene?” Tanya Dokter lagi setelah mengamati Airene yang kesusahan.
“Bisa, bisaa -bisaa, Aku bisa kok” Jawab Airene sambil membuat gesture penolakan dengan tangannya akan bantuan Dokter, setelah naik dia lalu membuang muka pada Dokter.
“Makasih Dok” ucap Ayu.
“Iya sama-sama Yu.”
Karena telah sampai di ruangan itu maka Airene pun segera melakukan segala perintah yang di instruksikan oleh terafis di sana, mulai dari berjalan, menggerakkan kaki secara menyilang atau sekedar mengayunkannya saja hal itu tentunya berguna dan pastinya di awasi oleh Dokter dan juga Ayu. Setelah kurang lebih 30 menit, akhirnya selesai sudah masa latihan bagi Airene dan mereka pun keluar.
“Rin , Aku perhatikan ya, kok judes plus cuek si sama Pak Dokter,” ujar Ayu sambil mendorong kursi roda.
“Aa-apaan si Yu, mana ada ya jangan yang aneh-aneh deh, emangnya lu psikolog bisa ngerti tingkah laku orang lain,” Jawab Airene kesal.
“Loh kok marah siih, kan cuman nanya!” ujar Ayu.
“Itu bukan nanya ya lebih ke menuduh, orang aku biasa-biasa aja tadi ya nada bicaraku aja yang kayak gini terdengar kasar.”
“Sebenarnya kalau kau ngga bicara pun, gesture mu tadi sudah menjelaskan semuanya.”
“Iya deh iya. maaf!”
“AYUU … tunggu!” teriak seseorang lagi.
Mendengar hal itu, lantas membuat Ayu menghentikan langkahnya dan berbalik. “Dokter Fais.” ucapnya pelan.
“Mau ngapain lagi sih, yaudah Yu lanjut jalannya,” omel Airene.
“Sebentar, dia manggil tau, nggak sopan main pergi aja … kok kamu kayak nggak senang sama Pak Dokter, apa jangan-jangan.” Ayu mulai menggoda Airene.
“Jangan Aneh-aneh Yu, kalau kau sampai bicara yang macam-macam aku lari ni,” ancam Airene.
“Lari aja sana, kayak kuat aja.” Ledek Ayu.
“Tau ah Yu, ngeselin banget jadi sahabat.” Airene kesal hingga menekuk wajahnya.
Airene yang marah segera mendorong sendiri kursi rodanya agar segera masuk ke Lift dan meninggalkan Ayu untuk berduaan dengan Si Dokternya itu, tapi belum juga satu putaran Ia mendorongnya, kursi roda tersebut malah macet alias tak bisa bergerak.
__ADS_1
“Ayuuu, kok nggak bisa gerak ya!” tanya Airene bingung tanpa menoleh kebelakang.
“Mana aku tau, lihat aja sendiri!” Jawab Ayu santai, Airene pun menoleh kebelakangnya.
Pria berjas putih itu menampakkan senyumnya yang sejuk di pandang. “Mau kemana buru-buru, mau ke kamar ya?, biar saya bantu, kebetulan saya juga mau ke lantai atas.” ujar Pak Dokter yang menahan kursi roda Airene.
Airene tercengang dan mematung sedangkan Ayu malah terkekeh puas melihat situasi yang tak di rencanakan ini.
“Gimana! boleh saya bantu?” Tanyanya lagi memastikan.
“Do-Dokter, … heeem saya nggak jadi mau ke kamar, kita mau ke taman, ya kaaan Yu, Saya bosan Dok di kamar terus, ya sudah Dokter saya permisi.” Airene bergegas meninggalkan Bapak Dokter baik tersebut “Yu cepaat, kalau nggak mau temani aku, aku ke taman sendiri.”
“Ya sudah Dokter, saya izin ke bawah dulu, permisi Dok.” Ayu lalu menyusul Airene yang sudah masuk ke Lift.
“Hati-hati!” ucap Dokter pada Ayu yang sudah jauh, Ayu hanya memberikan jempolnya sebagai kode untuk menjawapi si Dokter berkulit putih itu.
Saat Ayu sudah mengejar Airene, dan pintu lift sudah mau tertutup rapat, tiba-tiba pintu lift itu kembali terbuka lebar karena ada yang menahannya dengan sepatu, tepat saat pintu hendak tertutup rapat.
TING
“Eh kok!” Ayu kaget.
Tiba – tiba si pemilik sepatu muncul dari balik pintu yang gagal tertutup itu.
“Maaf mengganggu lagi, tapi Kita belum saling mengenal secara resmi?” Kata Dokter yang bernama fais itu, namanya terpampang jelas di dadanya, lalu memberikan tanganya pada Airene untuk berkenalan.
Ayu hanya tercengang lalu menutup mulutnya, sedangkan Airene bernafas kasar.
“Hmmmm, kita udah kenal kok Dokter, saya Airene dan Dokter, adalah Dokter. jadi kita sudah saling mengenal satu sama lain dan saya rasa itu sudah lebih dari resmi, kalau begitu sekali lagi saya mohon undur diri, permisi,” jawab Airene judes sambil menekan berkali kali tombol lift.
Pak Dokter yang merasa permintaannya di tolak itu pun akhirnya menarik kembali tangannya serta melangkah mundur dan membiarkan lift itu kembali tertutup dengan membawa turun kedua wanita yang memang sudah di kenalnya itu.
TING
...Bersambung...
...****************...
Siapa ni yang juga judes sama cowok yang ngga di suka?
__ADS_1
Jom cek eps 7 ⬇️⬇️⬇️