Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 11 : Pujaan Hati


__ADS_3

^^^[Di Tempat Lain - Saat ini.]^^^


Ponsel milik Ayu berdering, saat di lihat, itu dari Zaid, Zaid menelponnya.


“Assalamualikum!”


“Waalakumussalam, Ya Kak ada apa?


“Kamu dimana! kata Mama kamu sama Airene, kalian dimana?”


“Ouh iya, aku sama Airene lagi di taman, tiba-tiba dia minta kesana, tapi dia aku tinggal sebentar, aku baru keluar dari kamar kecil, kenapa Kak?”


“Sekarang kamu tepatnya di mana soalnya Aisyah sama Mas. Kami baru ketemu Mama, Mama kangen sama Aisyah jadi kami kesini sekalian antar Aisyah buat Suntik Vitamin.”


Ayu melirik tanggal yang ada di jamnya, Ia lalu memukul keningnya karena merasa melupakan sesautu. “Astagfirullah! maaf Kak aku lupa, harusnya hari inikan jadwalnya Aisyah buat suntik.”


“Ya nggak apa-apa santai aja! Ada Mama yang bantuin Mas pegang Aisyah, jadi aman.”


“Sekarang Kakak di mana, Kakak masih di Rumah Sakit? Biar aku ke ruangannya, ruangan yang kemarinkan?”


“Nggak usah, suntiknya juga udah selesai , ini Mas sama Aisyah sudah mau turun. Aisyah nyariin kamu.”


“Ouh ya udah, aku tunggu di sini di depan pintu keluar dekat taman.”


“Oke, tunggu ya , kami udah mau turun nih.”


"Lagi bicara sama Ayu," ucap seorang wanita yang tak lain adalah Mama, suaranya sampai tersambung ke dalam telpon.


“Iya Mama.” jawab Zaid pula.


“Speakerin ... Omanya Aisyah, tolong bawa anaknya Mama ke atas, waktunya makan obat,” ucap Mama lagi.


“Oke Ma, Abis ini aku bawa Airene ke atas … ya sudah ya Mas aku tunggu di bawah, Assalamualaikum.”


TUT TUT TUT

__ADS_1


...----------------...


^^^Taman RS-Airene^^^


“Fuuuh … Aku nggak sanggup untuk melanjutkannya, dan ternyata aku sejak remaja sudah jadi gadis yang nakal sampai-sampai kami di sekolahkan di pesantren.” Airene kembali mengurut pelan kepalanya, kepingan masa lalu itu kembali hadir dalam bentuk kasar.


“Ini Ayu kemana lagi, kenapa lama!” Omel Airene dan Ia kembali mengecek Ayu di pintu keluar, dan kebetulan ada Ayu di sana, tapi Airene perlu menyipitkan matanya untuk lebih mengenali sahabatnya itu.


“Kenapa berdiri di situ si Yu, jelas-jelas aku disini nungguin dia, eh ko kayak nungguin seseorang?”


Belum rapat mulut Airene mengomentari Ayu, tiba-tiba ada seorang pria yang tengah menggendong anak kecil keluar dari Rumah Sakit dan menghampiri Ayu, hal itu memancing rasa penasaran Airene.


Airene yang melihat itu menaruh tanganya di atas alis agar bisa melihat dengan jelas moment misterius itu.


“Itu siapa ya? mana bawa bayi lagi … hmmm! apa itu calon suaminya Ayu, kalau iyaaa berarti apa Ayu akan menikah dengan duda anak satu, Ehh atau jangan-jangan Ayu memang sudah menikah dan pria ituuuuu … heeeem siapa tadi namanya? ” Airene lekas membuka kembali buku Diarynya dan mencari nama Pria yang Ayu taksir sejak di bangku SMP itu.


“Mana ya ... nah ini dia, namanya Artama Narendra, ya! kurasa tebakan ku benar, Ayu berjodoh dengan Pria itu … dan Pria disana ituuuu … Eh!” Saat kembali melihat Ayu ternyata moment itu telah berakhir, yang Airene dapati kini adalah Ayu tengah berjalan ke arahnya dan sedang melambaikan tangan dari kejauhan dan Airene membalas.


“Cepat banget … Belum juga ada lima menit.”


“Maaf ya aku lambat, tadi tiba-tiba mules.”


“Ya benaran mules Ren, kok nggak percaya?”


“Ya mana aku tahu, bisa aja ketemu pujaan hatinya!” Singgung Airene.


Ayu melotot “ Apa Airene lihat Kak Zaid sama Aisyah?” tebaknya dalam hati. “Maksud kamu pujaan hati bagiamana Ren?” lanjut Ayu bertanya agar ia tak salah bicara.


“ Oppa-oppa!” ejek Airene.


Ayu menjadi bingung dengan ucapan Airene, Ia menaikkan Alisnya, “Bicara apa sih Rin, ini nih aku bilang jangan baca kebanyakan, otak kamu belum bisa nerima banyak hal.” Omel Ayu.


“Ah pura-pura nggak tau, kamu barusan ketemu sama Oppa koreamu itukan?”


“Oppaaaa? Oppa Korea siapa sih! … Ouh aku ngerti pasti kamu baca halaman selanjutnyakan?” tebak Ayu untuk mengalihkan tuduhan Airene.

__ADS_1


“Heeeee.” Airene terseyum bodoh.


“Ni ya aku kasih tau, sudah nggak ada oppa-opp-an lagi sekarang, aku udah berubah Ya Ren,” tegas Ayu.


“Teruss yang ketemu sama kamu dan bawa anak tadi siapanya kamu?, Aku liat dari sini kamu bicara sama cowok tadi di depan sana,” ujar Airene yang akhirnya to the poin.


DEG!


Jantung Ayu seakan berhenti berdetak untuk sesaat, dia belum siap untuk melangkah jauh untuk menjelaskan siapa Zaid pada Airene.“Aku harus cari alasan apa ya, pikir Ayuuu cepat, berpikir. … Ouh, pria itu dia dulunya kakak kelas ku, kenapa memangnya?” tanya Ayu balik dengan tegas untuk menutupi rasa gugupnya.


“Kok jawabnya nggak santai gitu, aku hanya nanya ya, hmm kalau boleh tahu ni namanya siapa?”


“Udah ah udah Ren, kamu kebanyakan baca Diary ni, jadi otak kamu nggak benar. Ayo kita ke atas Mama udah hubungi aku nanyai kamu, katanya harus segera ke kamar buat makan obat.” Ayu mencoba untuk mengelak.


“Oke kalau nggak mau jawab, nanti aku tanya sama Mama aja,” ucap Airene sambil berpindah duduk ke kursi rodanya.


“Tanya aja sana, syukur-syukur Mama mau jawab, bukannya kamu juga tahu sifatnya Mama, pertanyaan berapa lama kamu di sini aja nggak di jawab apalagi tentang masalah pribadiku,” ucap Ayu yakin tanpa keraguan sedikitpun.


“Iya juga ya … ayolah Yu jawablah siapa sih dia, jangan buat aku penasaran, biar aku tebak apa dia calon suami kamu?.” Airene sedikit mendongak pada Ayu.


DEG!


Pertanyaan itu seketika membuat Ayu menghentikan dirinya dan otomatis kursi Roda yang di dorongnya juga ikut berhenti, bagai siang bolong di sambar petir kalimat Airenee menghujam relung hati Ayu dan itu membuat Ayu langsung membelakangi Airene.


Melihat kedua tangannya yang tiba-tiba gemetar. “ Ya Allah kenapa aku takut ini terjadi, aku belum siap untuk menanggung beban ini, aku mohon tempatkanlah aku pada posisi yang tepat, permudahlah posisiku Ya Rabb.” Ayu menyeka air matanya.


“Eh … eh kok berhenti Yu… Yu Ayu kamu kenapa?” Airene menarik gamis Ayu


Ayu berbalik. “Aku minta sama kamu jangan bicara yang bukan-bukan dulu Ren, fokuslah pada Kesehatan mu dulu,” ujar Ayu lalu kembali mendorong Airene.


“Aku minta maaf Yu, kalau ucapanku membuatmu menagis.”


“Tidak apa-apa, kamu tidak salah Ren. Aku yang salah karena aku terlalu mudah emosional.” Balas Ayu dan mereka kembali ke kamar tanpa ada pembahasan atau bualan lagi, keduanya memilih diam.


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...


Jangan Lupa Comen ya Guys... 🙃 ⬇️⬇️⬇️ Lanjutkan eps 12


__ADS_2