
[masa lalu]
Aku, Ayu dan Zoa, kini sedang berada di pintu gerbang masalah, Ya! saat ini tahun ajaran baru itu artinya kami bertiga di haruskan melanjutkan dunia pendidikan kami di Pesantren, sebuah tempat untuk orang-orang suci, sedangkan kami, aaaah.
Sebenarnya aku bisa saja menolak atau bersikeras untuk tak mau di sini, tadinya pikirku cukup dengan membujuk Papa maka persoalan ini selesai, seharusnya begitu! Tapi kali ini tidak semudah itu, sudah ratusan alasan serta ribuan kata manisku, tak satu pun ada yang mempan untuk menghasut Papa.
Akhirnya aku bertanya-tanya kenapa bujukkanku tak berpengaruh seperti biasanya, dan aku dapat jawabannya, rupanya ada ancaman yang jauh lebih mematikan dari mulut manisku, yaitu peringatan dari Mama. Ini yang aku dengar.
"Kalau Airene tidak sekolah di Pesantren, Itu artinya Papa yang akan Mama ASRAMAKAN selama tiga tahun, Papa silahkan pilih, keputusan muktamat tidak bisa di ganggu gugat, titik."
Meskpiun itu kalimat kiasan tapi aku sangat tahu kemana maksudnya, dan setelah mengetahui hal itu, 100% aku yakin kalau Papa lebih menyelamatkan dirinya, dari pada harus bertahan selama tiga tahun, walaupun aku juga ngga yakin Mama bisa bertahan selama itu.
Nih Ya ! Sebenarnya sekolah ini tidaklah buruk, hanya saja aku sudah termakan segala image buruk dunia asrama dari beberapa temanku yang pindah dari Sekolah Pondok ke sekolah Swasta. Mereka semua mengeluh, katanya masuk sini itu sama saja dengan mempenjarakan diri sendiri.
Mereka tak tahan dengan segala peraturannya, tak boleh ini, tak bisa itu, jangan begini, jangan begitu. Itulah yang selama ini aku dengar. tapi kalau di pikir-pikir lagi yang salah itu bukan peraturannya, tapi yang salah itu diri kita pribadi, kita yang terlalu hidup bebas tanpa aturan nah saat hidup kita menerapkan aturan di sanalah permasalahannya, kita jadi sulit beradaptasi.
Berbicara adaptasi, kan salah satu perturan Pondok itu melarang santrinya untuk pacaran, Nah kalau itu mudah untukku sebab aku sejak SMP juga belum pernah pacaran, jadi hal ini bukan tantangan sulit buatku, tapi entahlah dengan kedua orang yang ada di sebelahku ini.
Aku menatap muka kedua sahabat ku, wajahnya pucat serta ketakutan. ku coba untuk mengamati apa yang sedari tadi mereka lihat hingga sebegitu risaunya.
"Apa yang mengganggu kalian, kenapa kalian berdua seperti habis di kejar setan."
"Percayalah ini jauh lebih menakutkan dari apa yang kau ucap barusan Ren" Jawab Zoa.
"Maksudmu?" Aku memandanginya, leherku sedikit memanjang karena Zoa berdiri paling ujung.
"Lihatlah, tidakkah kau perhatikan tempat ini angker, kita belum masuk Ren, tapi bulu kudukku sudah merinding, dan kita disini akan tinggal selama tiga tahun … Hiiii" Zoa bergidik ngeri.
Wanita kuat seperti Zoa rupanya takut dengan hal mistis.
"Iya, Oya benar Ren, coba perhatikan pohon-pohon rindang itu Ren, dari yang aku baca kalau pohon itu besar mereka memiliki penghuni di dalamnya," sambar Ayu.
PLAK
Dengan mudahnya tanganku mengetuk kepala Ayu.
__ADS_1
"Auuuu," Rintih Ayu kesakitan.
"Nah biar otakkmu encer Yu, inikan sekolah agama, tempatnya suci, semua orang disini tiap hari melakukan puji-pujian, jadi mana ada makhluk astralnya."
"Jangan sok tahu deh Ren, yang namanya bulu kuduk mana bisa di bohongi, kalau udah merinding itu berarti ada hantunya."
"Iiiiih Oya, jangan sebut merk nanti mereka dengar,kamu mau ketempelan," ujar Ayu yang semakin takut.
"Amit-amit! Ya Allah jauhkan dari ketempelan, amiiin,” ucap Zoa.
"Aamiin," seru Ayu jua.
"Ouh aku tahu niiih, disini itu nggak ada hantunya, tapi di tubuh kalian tuh yang jadi sarang hantunya, makanya kalian tadi merindingkan, mereka kabur karna tubuh kalian yang kotor itu mau di sucikan disini ha ha ha ha." ucapku bercanda.
"Nggak lucu ya Ren." tatap Zoa serius.
"Iya nggak lucu Ren." sambar Ayu pula.
"Jadi sekarang kalian maunya apa, mau balik ke rumah? ya silahkan, selagi kita belum masuk pintu gerbang nih dan juga gerbang masih terbuka lebar." ucapku santai
"Kok kamu bisa santai sih Ren, bukannya awal-awal kamu yang paling nentang kita sekolah pesantren?" tanya Zoa.
"Kalau aku sih ya udahlah terima aja, jalanin, paling ntar aku buat keributan terus di keluarkan selesai deh, amankan!" Jawabku lagi santai.
Tanpa ku sadari kedua karibku itu menatapku.
"Kamu yang bener Ren?" tanya Zoa.
"Iya aku serius, lagian kan nggak ada dalam perjanjian kalau kita nggak boleh sampai di D.O. jadi bebas donk" tegasku.
Entah kenapa, sehari sebelum aku ingin menginjakkan kakiku disini, tiba-tiba otakku memberi saran yang terbaik. Yaitu buat masalah hingga di keluarkan.
Dengan adanya kartu itu makanya aku bisa santai dan pamit dari rumah dengan senyum yang Iklas, bahkan Mama dan Papa bingung dengan sikapku itu, nggak kayak Zoa dan Ayu, heh kasihan. Mereka benar-benar tertekan meninggalkan Rumah.
Saat kami sedang rapat dewan, tiba-tiba terdengar suara toa storing dan akhrinya membuag telinga kami pengang.
__ADS_1
Wiiiiiiiiiiiinggggggg
"Cek cek, 1 halo." Suara pria dengan nada yang serak basah.
"Suara siapa tuh?, dari suaranya saja aku tahu di pasti ganteng" Bisikku dalam hati, lalu aku mencari-cari sumber suara tersebut.
"Iiiih siapa sih, Toa rusak di hidupin." Omel Ayu sambil mengorek kupingnya.
"Kamu cari siapa Ren? " tanya Zoa padaku yang penasaran.
"Di sini ada guru cowoknya juga ya?" tanyaku sambil terus mencari.
"Kalian ngomongin apa?" tanya Ayu pula.
"Itu suara cowok tadi, itu suaranya gurunyakan" tanyaku lagi.
"Memangnya kenapa kalau itu suara gurunya?" tanya Ayu balik.
"Ya nggak ada, mana tau-"
"Heh Airene Ratu Yandrahadi yang terhormat, ini itu asrama cewek, khusus cewek jadi jangan mimpi ya ada ustadz yang ngajar kita. Apalagi Ustadz Ganteng muda, usianya cuma beda beberapa tahun dari kita, jangan mimpi,” tegas Ayu.
"kok nyolot si Yu?" tanya Zoa.
"Tau nih." Aku masih sibuk mengintip untuk mencari sumber suara tadi.
"Heh Zoa Amalia, memangnya kamu nggak tahu apa maksud pertanyaan Si anak curut ini, dia nanya suara itu suara guru disini benar apa bukanm itu karena dia berharap dia bisa naksir sama tuh guru, hmmm dah hapal aku otak busuknya Airene. Udah ketebak Ren."
"Yee biarin, mana tahukan beneran ada, yaaaa sambil menyelam minum air deh, uuuuh enaknya." ucapku terseyum girang sambil sedikit bergoyang bahu.
"Tuh tuh lihat, benarkan apa yang aku bilang," Ujar Ayu yang menyakinkan Zoa atas ucapannya barusan.
"Yaudah Yuklah masuk, jadi nggak sabar." ucapku lagi.
Aku lalu bergegas menarik koper miliku dan masuk untuk melihat situasi di dalam pesantren ini, Pondok Pesantren Al Imtinan itulah namanya, terletak di salah satu desa yang lumayan jauh dari kotaku, bisa di bilang ini Pelosok, soalnya tempatnya masih alami, memang sedikit angker tapi aku yakin tempat seperti ini tidak ada hantunya. Dan hantu itu baru saja datang, mereka tiga orang.
__ADS_1
...Bersambung...
Lanjut Eps selanjutnya ya 🙃🙃⬇️⬇️⬇️