Airene (Diary Ku)

Airene (Diary Ku)
Episode 24 : Anak Perempuan


__ADS_3

^^^-Diary ku : part 4-^^^


“Kamu sih Rin!” Zoa menyalahkanku.


“Eh jangan salahkan aku Oya,”


“Inikan ide kamu Rin.”


“Tapikan kita sepakat, jadi jangan salahkan aku.”


“Ya tapikan-”


“Siapa yang merintahin?” tanya Ayu.


“Airene!” jawab Zoa.


“Ya jangan salahkan aku dong, akukan ngga nyuruhnya begitu, harusnya kita tetap sambil nulis, ini nggak, kamu bilang sendiri Oya, biar aku yang amanin, dan ini keluar dari rencana, jadi jangan salahkan aku.” Airene membela diri.


“Iiiih, sudah-sudah, jangan malah saling tuduh, kita semua salah karena setuju ngelakuin ini, mendingan bantu aku cari bukunya biar cepat, kita harus segera menghapal nama-namanya untuk di setor besok.”


“Nah tu Ruhi bener!, dah ah kita kerjain hukuman ini dulu, nanti baru saling tuduh” ujar Ayu.


“Yang jelas aku ngga mau di salahin sendiri,” tutur Airene kekeh.


Kami di hukum oleh ustadzah karena ketahuan menulis surat cinta saat jam pelajaran, Ayu yang nulis karena tulisannya yang paling bagus, Aku yang kasih ide tulisan, karena itu untuk abang-abang bertoa, Zoa mengamati sekitar dan Ruhi yang belajar dan mencatat semua pelajaran agar kami yang tak menulis ini bisa menyalinnya saat kembali ke asrama, namun belum juga setengah jalan, ternyata Ustadzahnya mengetahui trik kami dan hasilnya kini kami harus ke perpustakaan untuk mencari nama-nama wanita yang berperan penting dalam agama Islam.


“Eh Zoa!”


“Kenapa Yu?” Zoa tengah menatap buku di depannya.


Posisi duduk kami memanjang sesuai meja yang telah di sediakan di perpustakaan ini, Ayu, Zoa, aku dan paling ujung Ruhi, kami duduk menghadap jendela yang mana setelah jendela itu depannya langsung mengarah ke kelas, jadi siapa saja yang lewat dan melihat ke jendela, maka sudah pasti tahu jika kamu kena hukuman karena di atas jendela itu tertulis dengan spanduk panjang, area terlarang, khusus Santri nakal, tak ayal jika ada yang lewat mereka semua tertawa bahagia, lebih tepatnya mentertawakan kami.


“Yu diam.” Tegur ku yang tak kalah fokusnya mencatat satu kertas ukuran f4 itu untuk mengsisi jawabannya disana.


Hukuman kami menuliskan nama serta andil para wanita-wanita tangguh itu dalam selembar HVS dan menghapalkannya lalu menyetornya kepada Ustadzah, hal ini berkaitan dengan pelajaran kami tadi, tentang sejarah Agama Islam.


“Nah kamu juga Rin, aku punya pertanyaan, Kalau kita punya anak, kamu mau namanya siapa?” ujar Ayu yang kini memanjangkan lehernya untuk bisa mentap ku.


Aku sontak mengeryitkan dahiku, sebab aku belum pernah berfikir sejauh itu untuk menghayalkan siapa nama anakku kelak. “Aku kayaknya belum ada!” ujarku sambil menggaruk dahiku, hingga aku berbalik menatap Ruhi, wanita polos yang sebentar lagi tidak polos itu menggeleng.

__ADS_1


“Hmhhh, mulai.” Ruhi menarik nafas dalam, Ia juga menggeleng atas pertanyaan Ayu itu, Ruhi paham betul jika kami bertiga sudah membahas hal random begini, maka bisa di pastikan apa yang tengah kami kerjakan akan berakhir kacau, dan hukuman ini akan jadi tugas berikutnya yang tak akan selesai karena kami sudah masuk mode khayalan.


“Siapa ya Yu?” balas Zoa bingung.


Ayu menggeser kertas dan penanya, Ia merapatkan duduknya ke Zoa, Ia menunjukkan sebuah nama yang di temuinya di buku itu.


“Ubay, kalau aku Ubay untuk anak cowok nah kalau cewenya Nusayba, terus-terus mereka kembar identik gitu ya kan, Abangnya Ubay adiknya Nusayba, aaaah imutnya.” Ayu histeris hingga bahunya terangkat sanking gembiranya, Ia tak kuasa menahan diri menghayalkan masa depannya yang cerah.


“Kalau kamu siapa Hi?” Tanyaku tiba-tiba.


“Kalau aku…” Ruhi pun menutup bukunya , ternyata Ruhi terpancing dengan khayalan bodoh Ayu.


“Aku maunya Maryam, seperti surah ke Sembilan belas dalam Alquran.”


“Kenapa Maryam?”


“Ngga tahu, tapi kayaknya seru aja ... dah ah lanjut nulis Rin … eh tunggu, kalau kamu Rin?” tanya balik Ruhi, Ia bahkan tak jadi membuka bukunya.


“Kalau aku? … siapa ya, aku belum kefikiran, Aisyah mungkin!” celetukku dengan mudahnya.


“Kok kalian berdua pengennya anak perempuan!” sambar Zoa.


“Kayaknya kalau anak cewe enak aja.” Jawab Ruhi.


“Kalau aku maunya cowok dulu!” kata Ayu, “biar bisa jagain adik-adiknya nanti, kamu Oya?” sambungnya bertanya pada Zoa yang sedari tadi belum memberikan jawaban.


“Aku… a-ku mungkin nanti pakai nama-nama yang lebih kekinian aja, Zidan mungkin, Muhammad Zidan.”


“Bagus tuh ada nama rasulnya.” Kata Ruhi.


“Berarti Oya dan aku sama-sama mau anak cowok duluan!” ucap Ayu.


“Kalau aku kayaknya cewe juga deh!” ucapku.


Saat sibuk berdiskusi tentang khayalan masa depan yang entah kapan terealisasinya, kami tak menyadari jika Ustadzah sudah berdiri tepat di depan kami dari luar sana, Dia melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan elang yang mengunci mangsanya, sontak kami membuyarkan halusinasi itu dan kembali mencatat lembar hukuman kami.


...----------------...


【Saat ini】

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Yam... Maryam!


Gadis bernama Mayam itu, terkejut, matanya terbuka lebar serta mulutnya ternganga saat mendengar dari balik pintu ada yang memanggilnya. Sedangkan Airene yang masih membaca diary tentang asal mula nama gadis di kamarnya ini akhirnya menutup buku dan beralih menatap wajah anak kecil yang panik di sebelahnya.


"Bagaimana Ibu tahu aku di sini tante?" ucapnya pelan.


"Entahlah, Tante pun tak tahu, cepat-cepat sembunyi di situ dulu!" Tunjuk Airene pada kolong di samping kasurnya.


Lekas Maryam berpindah ke samping kasur dan menundukkan badannya untuk bersembunyi. Airene hanya terseyum melihat kelakuan bocah itu, Ia pun berjalan membukakan pintu untuk Ruhi. Saat pintunya terbuka, Ruhi memanjangkan lehernya untuk mengecek keberadaan putrinya, namun karena ranjangnya tak terlalu tinggi jadi dengan sedikit mengintai saja maka akan terlihat apapun yang ada di sebaliknya, tak terkecuali Maryam kali ini.


“Biarin dia di dalam” ujar Airene menutup pintu kamarnya dan keluar.


CLEK!


Keduanya lalu memilih duduk di ruang tamu.


“Udah lama dia di kamarmu Rin, capek aku nyarinya, sampai-sampai aku minta bantuan Abinya buat nyariin, kalau udah ngumpet, rapaaaaat bener, susah lah nyarinya.”


“Ya lumayan lama, sampai-sampai aku habis baca satu halaman Diary tentang kita di hukum.”


“Di hukum?, yang mana?” Ruhi berkerut, Ia bukan tak bisa mengingatnya karena kejadiannya itu sudah lama, melainkan karena hukuman yang mereka dapat semasa awal mondok yang terlalu banyak.


“Hmhh, kamu ingat kita menghayal nama-nama anak saat di ruang perpustakaan?”


Mendengar itu Ruhi terkejut, nafasnya seakan berhenti sebentar kala mendengar kalimat Airene, tangannya mengepal kuat seakan ingin melepaskan semua bebannya dan memberi tahukan pada Airene yang sebenarnya tapi Ia tak bisa.


“Ayu kasih nama anaknya kembar, Ubay kalau ngga salah, karena dia maunya anaknya laki-laki, kalau kamu maunya Maryam, persis anakmu saat ini, Kalau Zoa mau anak laki-laki juga namanya ada muhammadnya, nah aku Aisyah, kamu ingatkan.!”


Ruhi tak merespon, dia kaku mendengar Airene menyebutkan semuanya dengan jelas, kejadian bertahun-tahun itu kini berputar kembali di ingatan Ruhi, bukan hanya kejadian itu yang di putar ulang, tapi kejadian yang kini sudah terjadi juga kembali bermain di kepala Ruhi.


“Bukan cuman aku yang menamai anakku dengan nama yang kita buat saat itu Rin, tapi kamu dan Ayu juga sudah menyediakannya dan bahkan kini, anak khayalan bernama Aisyah itu sudah jadi nyata, berapa lama lagi aku harus menyembunyikan dia darimu Rin, Ya Rabb, bantulah teman hamba kembali ke keluarganya, Hamba mohon!”


...Bersambung...


Kenapa harus di sembunyikan?


Cek Episode selanjutnya ⬇️⬇️⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2