
“Allahu Akbar … Allahu Akbar …!”
Airene bangun dari tidurnya, Ia melihat ada yang tengah Sholat, tapi Ia tak tahu siapa yang sedang Sholat itu, karena wanita bermukena itu itu tengah membelakanginya, Airene memutar pandangannya ke setiap sudut untuk mencari apakah ada orang lain di sana, ternyata yang ada hanya dia dan orang yang Sholat itu.
“Assalamualaikum warahmatullah … Assalamualaikum warahmatullah!”
Ternyata yang sholat itu Ruhi, Airene menyandarkan badannya di ranjang, dan memilih diam dan mengamati setiap pergerakan Ruhi.
“Eh sudah bangun Rin?” tanya Ruhi setelah berdoa, Ia bangkit.
“Baru bangun aku Hi, adem ya kalau lihat kamu tu Hi, sejuuuk dipandang!”
“Aaah kamu Rin, kamu juga sama!” ujarnya pula sambil melipat mukena dan sejadahnya.
“Ngga Hi beda, aku serius, Ayu dan suster-suster disini ngga sama auranya sama kamu, pertama kali lihat kamu tenang aja gitu, apa si rahasianya?.”
“Alhamdulillahnya, aku ngga ada rahasianya Rin, aku biasa aja.” jawab Ruhi kini meletakkan peralatan sholatnya.
“Hi!”
“Ya kenapa Rin?” Ruhi tak menoleh Ia masih mengemaskan semuanya.
“Ajarin aku sholat Hi!”
DEG!
Ruhi terdiam sekejap, tangan yang tadinya Ia niatkan untuk merapikan antara lipatan mukena dan sejadah di tempatnya malah tak jadi, ia jadi berucap dalam hatinya. “Alhamdulillah!”
“Hi, kenapa?, kamu mau kan ajarkan aku?”
“Tentu Airene, aku malah senang, kamunya mau sendiri dan bahkan menawarkan diri begini, itu artinya hati kamu terbuka untuk mengenal islam.” Ruhi mendekat ke ranjang.
“Aku juga ngga tau kenapa, sejak bangun dari koma dan lihat Mama sama Ayu yang sering Sholat, rasanya aku juga pengen tapi aku ngga tau.”
“Kamu udah pernah bilang sama Ayu atau Mama buat minta ajarin?”
“Aku malu nyebutnya Hi, kalau sama teman lebih terbuka aja, lebih enak Hi, bisa nanya detail, lagi pula kamu kan juga Ustadzah, jadi lebih banyak ilmu dasar dan detailnya.”
“Alhamdulillah, aku ada sedikit ilmunya Rin, tapi jangan bilang begitu lah, kesannya aku udah khatam dalam hal itu, aku juga masih belajar . Ya sudah, kalau kamu maunya begitu, aku akan ajarin kamu tapi cuman beberapa hari ini, karena aku ngga bisa lama di sini, aku harus balik ke pondok.”
“Yaaah, ngga bisa lebih lama Hi.” Airene murung, wajahya berubah drastis.
“Ngga bisa Rin, kasihan santri kalau lama aku tinggal.”
“Gimana kalau aku belajarnya di pondok?” ucap Airene.
Kalimat itu membuat Ruhi kembali terdiam, sebab keinginan Airene ini sejalan dengan ucapan Mama Tya sebelumnya yang mengingikan Airene tinggal di pondok, mulut seorang ibu itu memang mujarab, bahkan suara hatinya mudah di kabulkan tuhan, mengingat hal itulah Ruhi terdiam.
“Ucapannya seorang Ibu memang mustajab!” gumam wanita berjilbab besar itu.
“Hi, gimana, bagus ngga kalau aku minta sama Mama untuk tinggal di pondok dulu.”
__ADS_1
“Ya bagus-bagus, sepertinya Mama akan setuju.” Ujar Ruhi.
“Assalamualaikum!”
CLEK!
Mama Tya dan Ayu masuk.
“Lagi bahas apa?, kalau ngga salah ada yang ngomongin Mama, kalau ngga salah sih!” kata Mama Tya mendekati ranjang dan di susul Ayu.
“Aku boleh ngga Ma, setelah jalannya bener, aku balik ke pondok?” ucap Airene, to the poin.
Mama Tya dan Ayu terbelalak, keduanya sama-sama menoleh dan menatap satu sama lain, lalu Mama Tya berganti menatap Ruhi yang di sampingnya, Ruhi terseyum dan mengangguk seakan mengiyakan kalimat bisu yang terucap dari tatapan Mamas sahabatnya itu.
“Mama ngga salah dengerkan?”
“Iya Ma, ngga.”
“Kalian kenapa? ngga ruhi, ngga Mama kini Ayu juga sama, ekspresinya kayak terkejut gitu, padahalkan ini cuman mau ke pondok dalam beberapa hari bukan untuk selamanya!.”
Belum ada yang mau bicara, hanya Airene yang bersuara, Airene bingung melihat semua orang di sana diam seribu bahasa.
“Haloo, Maaaa!” panggilnya bernada manja.
“Eh iya, boleh kok boleh, iya kan Yu?” menyenggol tangan Ayu.
“Iya, bolehlah Rin, inikan untuk kebaikan kamu.” jawab Ayu.
Airene mentap dengan sinis, hingga alisnya melengkung sebelah, “Kok kamu tahu Yu, kalau ini demi kebaikan aku, perasaan aku belum bilang tujuannya ke sana buat apa, dan aku baru bilang tujuan mau ke Pondok itu hanya pada Ruhi tadi … apa ada yang tidak aku tahu?” tatap Airene.
“Eh, ngga ada ko Rin, kan di pondok itu tempat yang baik-baik, otomatis yang datang kesana pasti niatnya baik.” Jawab Ayu yang pandai bersilat lidah.
“Ouh, kirain ada yang tidak aku tahu, abisnya sikapnya pada aneh semua.”
“Ngga kok!, memangnya kamu kesana tujuannya buat apa?” ujar Ayu.
“Hmhh!” Airene bimbang untuk mengukapkan alasannya ke pondok.
“Boleh aku yang ngomong,” sela Ruhi di antara bimbangnya Airene
Airene mengangguk.
“Jadi, Airene itu mau belajar agama lagi, dia mau belajar sholat lagi dari awal, dia mau jadi muslimah yang sesungguhnya, ya kan Airene?"
Airene kembali mengangguk.
“Nah kalau begitu pas nih, tadi Mama sama Ayu kan, abis sholat di bawah kami ke ruang Dokter buat nanya masalah kapan kamu boleh pulang, kata Dokter kamu udah boleh Pulang dalam 2-3 hari lagi tapi selama pulang kamu harus rajin minum obat.”
“Ya udah, aku setuju, tapi di bolehin ya?” tanyanya lagi untuk memastikan.
“Iya boleh, nanti Mama bicara sama Papa untuk mengantarkan kamu.”
__ADS_1
“Yeees!” girang Airene.
“Tapi Rin aku ngga bisa nemanin kamu di sana, aku ada pekerjaan lain, ngga apa ya.” Ujar Ayu.
“Iya ngga apa, lagi pula aku ngga lama ko di sana, ya paling beberapa hari aja, yaaaa hitung-hitung flashback.”
“Tapi aku usahakan untuk selalu telpon kok!”
“Ya jangan sering-sering juga, nanti bukannya belajar malah asik main HP aja akunya, ntar di marahin Ustadzah kan yang di hukum aku bukan kamu Yu, ya kan Ustadazah.” goda Airene pada Ruhi yang banyak diam.
“Ah bisa aja kamu Rin, jangan panggil aku Ustadzah begitu, ngga pantas aku, ngga ada apa-apanya aku tu.”
“Memangnya ya kalau belajarnya bener, ilmunya ada, kalau di puji makin merendah, ini ngga, ilmu ngga seberapa tapi sombongnya minta ampun.” ujar Mama menimpali dengan sedikit keketusannya.
“Ayoo, Mama ngomongin siapa ayoo?” tanya Airene.
“Ngga ngomongin siapa-siapa, ya hanya bualan duniawi yang nyata di depan mata saja, sekarang lagi trendnya begitu, yang kurang pinter yang sombong lihat aja di media sosial.”
“Ma udah ma, lihat tu Ruhi, jadi terunduk karena Mama.”
“Eh, Ruhi kenapa.”
“Dia pengen negur Mama tapi dia segan karena Mama lebih tua” ujar Airene lagi menimpali.
“Eh ngga gitu kok Ma, cuman lebih baiknya kita itu ngga usah komentarin hal-hal begitu, itu aja.” Jawab Ruhi.
“Astagfirullah, kamu ada benernya, kenapa Mama jadi kayak ember bocor gini, dah lah lupain, ya anggap Mama ngga ngebual kayak tadi.”
“Iya Ma, ya”
Mama lalu mengeluarkan ponselnya dan tengah mengetik sesuatu.
TING!.
Ayu melihat ponselnya bersuara, ”satu pesan masuk : Mama” itulah yang tertera di layarnya, Ayu membacanya.
“Mama ngga nyangka, doa Mama waktu sholat tadi di kabulin Allah secepat ini, padahal kita baru merencakannya, takut-takut Airene ngga mau, eh malah mau sendiri anaknya.”
Setelah membacanya, Ayu pun terlihat membalas.
Dreeet! Dreeet!
Ponsel wanita setengah Abad itu ternyata di diamkannya.
“Iya Ma, syukurlah, aku juga terkejut, padahal keputusan tadi belum seratus persen ya Ma, masih mentah … Oh iya Ma jadi karena do’a itu Mama lambat keluar tadi?” balas Ayu.
“Iya!” balas Mama lagi.
Keduanya akhirnya mengakhiri obrolan online mereka, sedangkan Airene dan Ruhi sibuk membahas hal lain.
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...
⬇️⬇️⬇️ jangan lupa eps selanjutnya semoga suka...