
Dua hari kemudian
“Assalamualaikum Ma, Airene!” sambil tersenyum lepas lalu melambaikan tangannya.
“Waalaikumussalam.” Jawab Mama dan Airene.
Kedua kompak menjawab dan menatap Ayu yang baru saja datang.
“Masuk Yu, untung kamu cepat datangnya kalau nggak burung beo itu nggak berhenti buat nyuruh Mama nelponin kamu,” ujar Mama yang mengadukan tingkah Airene yang seperti kekanak-kanakan itu.
“Memangnya kamu semalam ke mana si yu! kenapa nggak ke sini, aku bosan nggak ada kamu.” omel Airene.
“Tuh dengar sendirikan Yu, kamu baru datang aja udah di tanyai macam-macam.”
“Memangnya Mama nggak ada kasih tahu kalau semalam aku sibuk Ren … Ma apa kabar?” Ayu menyalami Mama yang duduk di Sofa.
“Mama udah kasih tahu, tapi kamu tahulah sifatnya, … Aisyah bagaimana! udah sembuh,” bisik Mama di sela-sela Ayu cupika cupiki.
“Alhamdulillah Ma, pagi tadi panasnya udah turun makanya aku bisa kesini,” bisik Ayu juga.
Airene memantau dari ranjangnya. “Ngomongin aku ya?” ujarnya.
Mama dan Ayu langsung menghentikan bisik-bisiknya dan berusaha bersikap normal menyikapinya.
“Nggak ada faedahnya ya ngomongin kamu Rin.” Sahut Mama.
Wajah Airene langsung merengut, Ayu hanya tertawa kecil melihat interaksi anak dan Mamanya itu.
“Lihat tuh Ma, anaknya.” Ayu menghampiri Airene.
“Memang ya punya anak satu kerjaanya merajuk aja, udah tua padahal, kalau masih muda mah fine-fine aja, ini udah dewasa gitu!” Mama menggelengkan kepalanya.
“Lihatkan Yu, betapa membosankannya Mama, dari semalam Mama kerjaanya buat Mood aku berantakan, untung semalam ada Papa, kalau nggak, nggak tau aku apa jadinya Rumah Sakit ini.”
“Memangnya kamu biasa apa, sok-sok an sampai bilang Rumah Sakit nggak tahu mau jadi apa? huuu” ejek Mama lagi sambil menatap ponselnya, bibirnya sedikit maju .
“IIIIIIH, MAMAAAA!” Teriak Airene tangannya terbuka keduanya seakan ingin mencekek.
“Ha ha ha udah-udah, Airene jangan teriak, nanti di tegur, Mama juga usil banget si Ma.”
“Ya udahlah berhubung kamu udah ada Ayu yang nemani, Mama mau pulang sebentar ya.” Mama pun lekas berdiri dan menekan layar ponselnya, tangannya sibuk beralih-alih di layar ponselnya seperti mengetik sesuatu..
“Oke hati-hati ya Ma ” ucap Airene.
** TWING**. 📱
Ponsel Ayu berbunyi, Ia lalu melihat Mama, dan Mama seakan memberi kode kalau Ia yang mengirim pesan tersebut dengan menggerakkan ponselnya. Ayu mengangguk.
“Hati-hati ya Ma!” jawab Ayu kemudian.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam”
__ADS_1
CLEK!
Mama pun pergi meninggalakan Airene dan Ayu berduaan. Tak lama Ayu pun merogoh kantong gamisnya untuk mengambil ponsel.
“Yu!”
“Ya kenapa Ren?” Jawab Ayu tanpa melihat Airene, Ia fokus pada ponselnya.
“Hmmm, kamu dulu sesuka itu ya sama korea!”
“Iya” Ayu masih saja fokus pada layar ponsel.
"Kamu disini biar Mama yang jaga Aisyah, Mama takut kalau sama Mbak nanti Aisyah rewel lagi ” MAMA
Setelah membaca pesan itu, Ayu kembali menyimpan ponselnya dan kini menatap Airene. “Memangnya kenapa?” tanyanya.
“Nggak ada, aku mikirnya kamu nggak datang semalam karena aku banyak beratanya sebelumnya.” Airene menekuk wajahnya.
“Nggak ah, jangan berpikiran begitu, aku semalam ada kerjaan yang nggak bisa kau tinggalkan, makanya nggak bisa kesini.”
“Ouh begitu, aku pikir kamu marah … oh iya semalam Papa baru belikan ini.” Airene mengambil sesuatu dari balik bantalnya. “Tadaaaa!” Ia menunjukkan sebuah Ponsel keluaran teranyar.
“Waoooou ponsel baru nih, jadi kamu udah boleh pegang HP?”
“Udah, semalam Papa tanya sama tu Dokter, dia ngebolehin kok asal ngga lama-lama.”
Ayu menatap curiga
“Jangan aneh-aneh ya Yu, nggak ada nomor dia di sini, coba aja periksa!” Airene menyodorkan ponselnya.
“Aku paham ya, tatapanmu itu udah menjelaskan semuanya.”
“HA HA HA!” Ayu terawa puas karena Airene mengerti arti tatapannya.
“Tuh tuh lihat,benarkan!, mana mungkin ketawa kalau nggak benar, dasar ngeselin.” Airene menggembungkan pipinya.
CEKREK
Ayu mengambil gambar Airene yang sedang kesal. Airene bingung.
Ngapain sih Yu?”
“Hmm captionnya gara-gara Dokter, selesai.”
Airene tercengang matanya membulat sempurna. “ Ih Ayuuu, sini nggak! aku nggak iklas ya, demi Allah nggak Iklas, kalau sampai kamu buat sesuatu kita nggak usah temenan.” Ancam Airene.
“Ha ha ha ha … Orang nggak ada apa-apa , yee ngambekkan.”
“Biarin, siapa suruh nulisnya gitu, coba nulisnya itu Gara-gara LMH” Ujar Airene dan seketika ia tersenyum simpul.
“Hah LMH, apa itu?” Ayu berkerut.
“Masa nggak tau, LMH itu si Oppa Lee Min Ho, ganteng banget, nih coba lihaaat.” Airene menunjukkan hasil serachingannya pada Ayu.
__ADS_1
Ayu tercengang saar mengambil dan meliha ponsel baru itu, sebab rata-rata isinya semua tentang aktor Korea itu.
“Omo, omooo.. Jjinja?” Ayu memperlihatkan skil dasar bahasa koreanya, “Wah ini benaran Airenekan? kamu nggak sakitkan Rin?” Ayu menempelkan tanganya ke kening Airene.
Menyingkirkan tangan Ayu. “Iiih apaan sih Yu, memangnya kenapa?”
“Nih ya dulu itu, kamu orang yang paling kesal dan bete kalau aku udah cerita sesuatu yang berbau Korea.”
“Hee, awalnya aku cuman iseng lihat-lihat aktor Korea karena kamu suka Korea, pikirku dengan begitu ngobrol kita bisa nyambung, eh malah ketemu Oppa yang lain, namanya Ji Chang Wook otomatis terkapar aku Yu!”
Ayu bertepuk tangan kagum, Ia tak menyangka begitu mudahnya Airene suka Korea hanya unutk nyambung bicara
padanya. “Ha ha ha, ini namanya karma kalinya, dulu benci sekarang cinta.”
“Ya udahlah nggak peduli, yang penting bisa liat wajahnya hmmmm ganteng banget.”
“Ihh demi Allah Ren geli aku liat kamu halu gitu.” Ayu menaikkan kedua bahunya.
“Nggak perduli, yang penting Sarangeee.” Airene melakukan Finger heart dengan senyumnya yang manis.
“Astagfirullah al adzim, nyebut Rin, nyebut.”
“Iya-iya, cuman becanda, sarange” goda Airenei lagi.
“Wah benar sakit ni anak, baru punya HP sehari, udah tahu Oppa, sarange, Finger Heart! waaaah kacau.”
Airene tak memperdulikan omongan Ayu ia tetap focus memainkan jarinya di ponsel.
“oh ya Yu, kita dulu nakal ya!”
“Maksud kamu Rin?”
Airene menaruh lagi ponselnya.
“Kamu bawa buku Diaryku?”
“Ada ... sebentar!”
“Soalnya dulu kita masuk pesantren Karena nilai kita jelakkan!”
“Nggak cuman karena itu, kita dulu nggak tau aturan, sesuka hati kita mau apa! … Nih bukunya, bahkan dulu kita pernah di tangkap kakak senior sebab kita ngintip asrama cowok.”
“Itu beneran!” Airene terbelalak.
“Iya”
“Baca aja halaman selanjutnya, nih ya aku bahkan masih ingat kejadian memalukan itu, sumpah malu banget, kita di lihat satu asrama putri, Ihhhh.”
“Serius mana-mana! coba aku mau baca kayaknya seru.” Airene dengan cepat membuka halaman selanjutnya.
Diary Part 2 ⬇️⬇️⬇️
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...
Semoga suka dan terhibur ⬇️⬇️⬇️ jumpa di eps 13