AKSILAGA

AKSILAGA
MASA LALU


__ADS_3

Sebelum riwayat gue tamat gue harus berlari sangat kencang untuk masuk kedalam kelas.


Brukkkk....


"Awwww sakit" gue terjatuh saat menabrak seseorang.


"Lo gak pa- pa?"


"Kepala lu tu gak pa-pa!" Gue menoleh pada seseorang di depan gue.


"Galang?"


"Hmm"


"Sorry" laki laki itu langsung meninggalkan gue tanpa membantu gue.


"Cihh najis gue di bantu sama dia" Gue berdiri dan berjalan menuju kelas.


"Sil Lo kok terlambat lagi? Rambut Lo juga berantakan" dini menghampiri tempat duduk gue.


"Gue telat bangun,belum ada guru kan?" Tanya gue melihat dini di depan bangku gue.


"Belum"


"Untung"


"Hmmm..."


Pelajaran pertama akhirnya sudah selesai seluruh isi kelas berhamburan keluar kelas untuk mencari surganya sekolah, kantin tempat favorit seluruh umat di sekolah.


"Kantin yuk" alin berdiri di depan gue bersama yang lain


"Gak ah malas gue"


"Kenapa ? Lo sakit?"


"Gak"


"Lo mau nitip apa?"


"Air mineral aja"


"Ok gue sama yang lain cabut dulu"


Hari ini gue sangat aneh tidak ada semangat untuk sekolah gue merebahkan kepala gue ke atas meja dengan tumpukan buku.


Plakkkk...


Suara ketukan meja itu membuat gue terkejut dan gue melihat seseorang di depan gue bersama teman temannya.


"Ngapain Lo?" Tanya gue melihat Popy and gang.


"Menurut Lo gue kesini mau ngapain? Ngemis?" Senyum Popy sangat sinis.


"Klo iya kenapa? Lo yang jelas kalo mau datang ke kelas gue jangan basa basi" oceh gue dan berdiri dari tempat dudukn gue.


"Gue lihat masa lalu Lo datang ke sekolah"


Gue terkejut dan shok siapa yang dia maksud.


"Maksud Lo?" Tanya gue dengan menaikan sebelah alis gue.


"Fandi"


Gue terdiam membisu mata gue membulat saat Popy menyebutkan nama yang sudah gue hapus sejak bertahun-tahun.


Gue berlari menerjang murid murid yang berada di lorong, gue mencari seseorang yang telah lama menghilangkan di dalam hidup gue.


langkah gue berhenti saat melihat laki laki dengan Hoodie bewarna maroon berdiri di depan gue.


"FANDI" panggil gue dan laki laki itu membalikkan badannya.


"Sila"


---


Gue menghempas badan gue ke kasur mata gue Sangat berat kepala gue sangat sakit.


"Kenapa iya datang lagi setelah memberikan luka yang sangat membekas di hati gue?" Air mata gue jatuh perlahan lahan saat melihat kenangan bersama dia.


***


"Gaes kita jadi ngumpul kan nantik malam?" Naisa menyimpan handphonenya.


"Jadi dong" gue melihat dan menoleh pada alexsya.


"Jadikan kan sya?" Tanya gue memastikan pada alexsya yang masih membisu.


"Eeh--eh kayaknya gue gak bisa deh gaes gue ada acara keluarga gue absen aja ya kali ini" alexsya membalikkan wajah menatap kedua sahabatnya.


"Eeh gimana sih Lo sya! Katanya jadi malam ini!" Naisa memasang wajah cemberut pada alexsya.


"Iya gue minta maaf sila naisa gue juga gak tau kalo orang tua gue ada acara juga malam ini" alexsya memberikan penjelasan pada kedua sahabatnya.


"Yaudah gakpapa nai,kita bisa berdua aja kok" pujuk gue pada naisa yang cemberut.


"Hmmm"


[19:45]


Gue dan naisa memasuki restoran ternama di kota pusat.


"Naii Lo udah booking tempat duduk kan?" Tanya gue pada naisa dan melihat ke seluruh penjuru restoran yang sangat ramai dan padat.


"Udah kok tapi gue lupa no berapa"


Tak lama kemudian pelayan restoran menghampiri kami berdua


"Permisi mbk ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan pada kami berdua.


"Iya mbak kami berdua cari tempat duduk yang sudah di booking atas nama naisa"


"Ooh atas nama mbak naisa ada di kursi no 5 mabk"


"Makasih mabk"

__ADS_1


"Sama sama mabk" pelayan Tersebut meninggalkan kami berdua.


"Itu naiii tunjuk gue pada kursi no 5"


Kami berdua menghampiri kursi dan memesan makanan.


"Gue samain aja sama Lo ya nai" gue menutup buku menu restoran.


"Yaudah"


"Mbk minumannya signature chocolate dua"


"Ok tunggu dulu ya mabk.."


Pelayan Itu pergi, tak lama kemudian pelayan itu membawa dua buah minuman.


Saat asik berbincang mata gue terpanah kesatu arah dimana ada seseorang yang gue kenal saling berpegangan.


"Naiii...." Panggil gue sambil melihat ke arah Fandi dan alexsya


"Kenapa?" Naisa mengikuti arah mata gue dimana Fandi memegang tangan alexsya sambil mencium telapak tangannya.


"apa ni sil?"


"Gue gak tau! Hati gue kacau naii,retak,emosi gue naik ke ubun-ubun" sila menoleh pada naisa yang memandang keduanya sangat bingung.


"Lo harus sabar dulu sil,jangan gegabah"


"Iya"


"Kita liatin aja dulu apa yang akan terjadi selanjutnya" naisa berusaha untuk menenangkan sila.


Tak berapa lama kemudian alexsya dan Fandi beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari restoran. Begitu juga dengan sila dan naisa yang mengikuti diam diam seperti detektif.


"Alexsya..." Panggil Fandi membuat langkah kaki alexsya berhenti.


"Apa?"


"Kamu mau jadi pacar aku??" Fandi mengungkapkan perasaan pada alexsya membuat wanita itu canggung.


"Akk-- aku? Kamu kan pacar sila Fandi,aku gak mungkin bisa nikung sahabat sendiri" jelas alexsya pada Fandi yang memegang tangan.


"Aku gak cinta sama dia lagi syaa... Please kasih aku kesempatan buat mengisi hati mu"


"Gak bisa Fandi,jika status kamu sama sila aja masih pacaran aku gak bisa menerima kamu"


"Aku janji bakalan mutusin sila asal kamu juga janji mau jadi pacar aku?"


"Asal kamu tau Fandi sila cinta mati sama kamu,kamu gak boleh sakitin hati dia"


"Aku juga cinta sama sila tapi dulu syaa... Setelah aku melihat kamu aku jatuh cinta"


"Kamu mau ya jadi pacar aku?" Fandi memegang erat tangan wanita itu. Sedangkan alexsya mengangguk tanda iya.


"Iya aku mau jadi pacar kamu,tapi untuk sementara waktu didepan sila kita anggap teman biasa aja"


Di sisi lain naisa dan sila melihat kejadian itu tepat Dimata mereka, sila yang sudah kehabisan kesabaran menghampiri mereka berdua.


"Sillll Lo mau kemana?" Naisa shok melihat sila yang meninggalkannya dan menghampiri kedua sejoli tersebut.


"Bagus....bagus... Bangat Fandi alexsya!" Sila berdiri di Belakang mereka berdua dengan tangan di depan dada dan mata yang memanas.


"Apa? Ini yang namanya sahabat Lo bukan sahabat gue ternyata sya.. Lo nikung gue dan Lo PENIKUNG! Gue benci sama Lo sya.."


"Sila gue bisa jelasin" alexsya memegang tangan sila dan wanita itu menepisnya.


"Gak usah pegang gue sya.. Lo itu jahat! Gak ada yang bisa Lo jelasin lagi gue udah dengar semuanya!"


"Dan buat Lo!" sila menunjuk ke arah Fandi yang masih terdiam atas kehadirannya.


"Gue bakal akhiri hubungan kita! Kita PUTUS! Anggap aja dulu kita gak ada hubungan apa apa!"


"Selamat buat kalian berdua bersenang senang di atas penderitaan gue! dan gue bakalan ingat masa ini selamanya!"


Sila meninggalkan alexsya dan Fandi dan ia menarik tangan naisa yang masih bengong gak percaya bahwa sahabat sangat luar biasa.


Di perjalanan pulang naisa masih fokus menyetir mobil dan tidak membuka suara,ia yakin bahwa Sahabatnya masih shokk dan trauma gak nyangka bahwa begitu tajamnya seorang sahabat saling menikung.


"Sill.." naisa membuka pembicaraan dengan hati hati.


"Gue tau kok rasanya di tikungan,Lo harus sanggup dan rela"


"Gak ada guna jika Lo terus menangisin laki laki berrengsek kayak Fandi"


"Lo harus kuat sil"


"Jangan lemah"


"Gue yakin bakalan ada jalan terbaik untuk Lo"


Tidak ada jawab dari perempuan itu ia masih mengusap wajah yang telah terguyur air mata.


"Kita langsung pulang aja" sila membuka pembicaraan dan melihat ke arah luar jendela.


"Iya"


Naisa membawa mobil itu menuju depan rumahnya.


"Lo yakin bisa pulang sendiri? Lo gak mau kalo gue yang antr Lo dan besok gue balikan mobil Lo"


"Gak usah nai gue bisa kok" sila berusaha tersenyum meskipun matanya bengkak.


"Yauadh Lo hati hati ya"


"Iya"


Sila melaju dan meninggalkan naisa yang masih berdiri di depan pagar rumahnya.


"Kasihan gue liat Lo sil,gue bakalan bantuin Lo karena Lo sangat berjasa bagi gue"


Naisa melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


---


Gue menghempas badan gue ke kasur dan mengambil bantal guling, malam ini gue sangat kacau pikiran gue berlipat ganda pusingnya mata gue bengkak, ingus gue meleleh gak berhenti, hati gue kacau, gak ada harapan hidup bagi gue, rasanya gue pingin mengakhiri hidup gue,seorang sahabat yang sudah bisa bisanya menikung gue, seorang pacar yang gue sayang ninggalin gue demi sahabat gue,gue gak nyangka Fandi sejahat itu pada gue,Fandi brengsek Fandi playboy Fandi bullshit.

__ADS_1


Tokk....tok....


Suara ketukan pintu membuat gue


Harus beranjak dan membuka pintu. Ternyata Maura kakak gue, mungkin ia sudah tau kalo gue sama Fandi sudah putus, untuk info seperti itu sangat lah mudah ia dapatkan dari naisa atau dari Fandi yang membuat sg dengan alexsya.


"Ngapain Lo?" Tanya gue melihat Maura berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Gue denger Lo putus ya sama Fandi?"


"Bukan urusan Lo" gue ingin menutup pintu namun tangan Maura cepat menghalangi


"Udah Lo gak usah bohong,gue udah tau" Maura menerobos masuk kedalam kamar gue.


"Sini Lo duduk"


"Apaan sih raa,Lo jangan kepo sama urusan pribadi gue"


"Lo gak usah ****,gue kakak lo, wajar gue juga khawatir sama Lo" Maura tiba tiba memeluk sila membuat wanita itu menangis.


***


Keesokan harinya di pagi yang sangat buram di hati gue,gue harus masuk sekolah dengan kabar yang tidak baik gue harus menghadapi ocehan anak anak yang lain dengan kejadian semalam dimana alexsya dan Fandi sudah resmi pacaran dan gue harus menerima rasa sakit hati ini. Gue memasuki kelas seluruh sorotan mata melihat gue aneh,mata yang bengkak dan raut wajah yang kurang baik.


"Sillll" Bella memukul meja di depan gue membuka gue terkejut.


"Kenapa?"


"Naisa masuk rumah sakit"


---


Sungguh nasib yang malang bagi gue! Sahabat satu satunya yang gue punya harus terbaling di rumah sakit akibat ulah gue dan alexsya serta Fandi.


Gue berlari di lorong rumah sakit dengan air mata yang berjatuhan di pipi. Gue melihat naisa babak belur akibat di pukuli seseorang siapa lagi kalo bukan alexsya.


Kini gue berdiri di samping ranjang naisa,sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka gue,ia terbaling lemah kepalanya yang terbalut perban luka luka di mukanya membuat gue merasa bersalah. gue merasa Tuhan tidak berada di posisi gue melainkan di posisi alexsya. Kabar yang gak gue sangka naisa meninggalkan gue untuk selamanya,ia... selamanya gak ada kata persahabatan lagi antar kita karena ia telah mendahului gue,naisa telah meninggal akibat alexsya.


"Gue bakalan balas dendam Lo ke alexsya naii, terimakasih telah jadi sahabat gue selamanya,gue gak akan lupa sama jasa Lo meskipun Lo terlalu baik bagi gue dan gue merasa tidak pantas jadi sahabat Lo! Gue bersyukur Tuhan memberikan sahabat seperti Lo" gue mengusap air mata di wajah gue dengan kasar tanda kebencian pada alexsya selamanya. Gue beranjak dari tempat tidur terakhir naisa dan keluar dengan wajah yang berbeda.


---


"Alexsya!!" Gue menghampiri kelas alexsya yang kosong hanya ada dia seorang diri. Seluruh murid telah pulang,nth lah dengan alexsya.


"Sila" alexsya berdiri dari duduknya dan menghampiri gue.


"Lo benaran jahat! Gue nggak nyangka klo Lo pelaku utama pembunuh naisa,Lo sahabat sampah"


"Gue bisa jelasin sama Lo sil,bukan gue pelakunya"


"Gak usah banyak alasan!,udah jelas tertera di cctv kalo Lo pelaku pembunuh naisa di pabrik itu,gue udah anjurkan permohonan tahanan Lo ke polisi,dan gue sebagai sahabat naisa bakalan membenci Lo! Anggap aja kita gak pernah yang namanya sahabat! Gue benci sama sahabat yang menikung gue dan membunuh Sahabatnya sendiri!!"gue pergi ninggalin alexsya di dalam kelas hati gue sungguh kacau sangat KACAU.


---


"Permisi" seorang pengendara itu memakirkan motornya di depan rumah gue.


"Fandi" Maura mendekati pada pemilik motor tersebut.


"Ngapain? Cari sila?"


"Iya kak"


"Gak ada"


"Kenapa kak?"


"Dia gak masuk sekolah hari ini dan untuk hari berikutnya"


"Maksud kak?" Fandi masih bingung atas ucapan Maura.


"Sila bakalan pindah sekolah,dan buat Lo mending pergi sebelum gue semakin murka!" Maura menunjuk pintu gerbang yang terbuka.


"Tapi kak..." Pembicaraan Fandi terpotong.


"Gak ada tapi tapi"


"Lo pergi Fandi! Lo gak pantas di bilang seorang laki laki jika buat air mata Adek gue mengalir gara gara laki laki brengsek kayak Lo! Atau jangan jangan adk gue salah pilih pasangan? Atau ia bodoh akibat cinta Lo?"


"Cihh... Sampah!"


"Pergi!"


Pintah Maura yang mengusir Fandi,laki laki itu pun beranjak dari halaman rumah sila.


Hari berikutnya gue gak masuk sekolah gue merasa gak ada gunanya jika sekolah kalo ujung ujungnya hanya menerima cacian murid murid yang lain dan melihat kebahagiaan alexsya dan Fandi.


Tokkk....tok..


"Ia bentar" gue beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintu kamar.


"Ngapain?" Tanya gue melihat ke arah Maura yang memberikan surat.


"Apa ini?"


"Surat pemindahan sekolah baru buat Lo"


"Maksud Lo?"


"Gue bakalan urus surat pindah Lo!"


"Gue di pindahin?"


"Iya"


"Kenapa?"


"Gak usah bodoh Lo arsilla jangan bodoh akibat cinta!"


"Tapi raa"


"Diam!"


Maura pergi meninggalkan gue yang masih bingung.


"Mau kemana gue di pindahkan?"

__ADS_1


"Siapa yang bakal jadi kawan gue?"


---


__ADS_2