AKSILAGA

AKSILAGA
RASA CINTA & KEKECEWAAN


__ADS_3

Gue menghempas badan gue ke atas kasur sudah hampir satu Minggu kepergian mama dan gue juga belum masuk sekolah rasa niat gue ke sekolah juga tidak ada,perkataan Galang selalu terngiang ngiang di kepala gue,gue sudah berusaha buat mencerna perkataan namun sulit,gue tau maksud perkataan ia menembak gue tapi mengapa sulit bagi hati gue? Apa gue tidak menyukainya? Hati dan pikiran gue bertolak belakang.


"Lo gak berangkat sekolah?" Maura membuka pintu kamar gue.


"Gak" gue memeluk bantal guling dan memejamkan mata.


"Lo harus sekolah sil..." Maura mendekati gue.


"Gue belum mau Ra..."


"Lo jangan paksa gue.."


Gue menghela nafas berat. Dan tetap memejamkan mata gue.


"Galang jemput Lo tu dibawah"


"Dia mau ngajak Lo berangkat bareng"


Mata gue terbuka lebar gue beranjak dari tempat tidur gue dan melihat dari luar kamar,benar laki laki itu menunggu gue di bawah.


"Kok dia ada disana?" Gue mendekati Maura yang duduk di ranjang gue.


"Ntah" Maura menaiki kedua bahunya.


"Tuhan! Gue belum mau sekolah! Ngapa juga tu anak harus datang!" Gue mengacak rambut gue frustasi.


"Lo itu harus sekolah sila.."


"Lo jangan berkurang di kamar trus."


"Gue tau emang berat rasanya tapi ingat lah mama gak suka sama orang yang lemah"


"Bukan elo aja yang kehilangan mama tapi gue dan papa juga sila..."


"Lo harus banggakan papa..."


"Papa udah kerja banting tulang Lo masih malas buat sekolah?"


"Setidaknya Lo harus menghargai jasanya!"


Maura penepuk pelan pundak gue dan keluar dari kamar.


'Huffg!'


Gue menarik nafas dalam dalam dan mengembuskan pelan pelan.


'Huffg!'


"Oke sil... Demi mama buat papa"


Gue menuruni anak tangga satu persatu gue melihat Galang yang duduk di sofa dan bercerita bersama papa.


"Lang!" Panggil gue membuat keduanya menoleh.


"Sila kamu belum siap?" Papa memotong pembicaraan dan melihat gue yang memaki celana selutut dan baju kaos panjang.


"Sila mau ngomong sama Galang dulu pa"


"Kamu ganti baju dulu! Cepat kamu udah terlambat mau pergi ke sekolah"


'Huffg!'


Gue menghela nafas berat dan memalingkan wajahnya malas, gue berlari menaiki tangga dan masuk kedalam kamar buat ganti baju berang ke sekolah atas permintaan papa dan Maura.


Gue Menganti baju gue dan memasuki buku kedalam tas dengan sigap dan siap gue turun kebawah sudah tidak ada papa yang berbicara dengan Galang,gue berjalan kearah dapur melihat Maura sedang menyiapkan makan buat papa.


"Ra... Papa mana?" Gue meneguk susu di atas meja.


"Di kamar"


"Papa gak kerja?"


"Iya nantik"


"Ohh,gue pergi dulu ya Ra..."


"Hmm...iya hati hati" gue mengecup pipi kakak gue.


"Bye Ra.."


"Bye!"


Gue berjalan kearah Ruang tamu melihat Galang memainkan handphone.


"Yuk Lang!"


"Lama banget sih Lo!" Galang menyimpan handphone dan berjalan meninggalkan gue di Belakang.


"Iya sorry.."


"Lo sih jemput gue mendadak!"


"Gue malas sekolah!"

__ADS_1


Omel gue dari belakang,dan laki laki itu memberhentikan langkah-langkah membuat gue terhantuk dengan badan besar dan teganya.


"Asal Lo tau sil.. bukan gue yang minta tapi kakak Lo" Galang membalikan badannya dan melihat kearah gue.


'sungguh tatapan yang manis'


"Jadi Lo gak ikhlas jemput gue?" Tanya gue sok cuek.


"Ayo masuk"


Galang meninggalkan gue dan masuk kedalam mobilnya.


Di perjalanan menuju sekolah tidak ada pembicaraan Galang yang fokus menyetir dan gue yang hanya melihat kearah jendela. Dengan alunan musik 'halu dari feby putri' membuat gue termenung sejenak pertapa indah lagu ini sampe terngiang-ngiang.


Senyumanmu yang indah bagaikan candu


Ingin trus ku lihat walau!.


Galang memakirkan mobilnya. Gue dan Galang berjalan di lorong sekolah dengan sorotan Adek kelas yang menatap julid dan mulut mulut yang asal ceplas-ceplos. Gue dan Galang berbeda arah,ia berjalan kearah kanan dan gue kearah kiri. Langkah gue berhenti melihat Popy dan kawan kawan menghalangi jalan gue.


"Enak ya berangkat bareng sama Galang" Popy menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


"Apaan si" gue menghela nafas berat dan memalingkan wajahnya malas.


"Kasian banget gue liat Lo udah ga punya ibu!" Sindir Niki dari belakang Popy.


"Jaga ucapan Lo Niki!"


"Santai sila!"


"Jangan emosi!"


"Benarkan kata Niki? Lo ga punya ibu lagi?" Popy melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ucapan Niki emang benar! Tapi gue gak suka dengan caranya bicara!" Jelas gue dan meninggalkan mereka bertiga.


'hufg!'


Gue menghempaskan tas gue di atas meja yang menimbulkan suara yang besar.


"Masuk masuk udah emosian"


"Ngapain Lo?"


Alin menyimpan handphonenya.


"Gue kesal aja sama cabe atvenger!" Ketus gue.


"Maksud Lo Popy Niki sama Ghea?"


"Ngapa mereka?"


"Ngatain gue gak punya ibu lagi!"


"Serius Lo?"


"Iya Lin!"


"Bawel amat sih!"


"Wah... Ga bisa di biarin nih! Harus kita balas nih!"


"Udah jangan!"


"Gue lagi gak mood buat berantem!"


Gue mengeluarkan handphone gue dari dalam tas dan melihat alin yang masih ngoceh ngoceh ga jelas.


"HAI GAES!"


PLAK..


Suara pukulan meja melihat mata kami berdua menoleh pada orang yang di depan. Melihat segerombolan Manusia mengusik ketenangan kami.


"Ngpin sih Lo? Ganggu aja!" Ketus alin melihat dila.


"Gue punya berita bahagia ni!"


"Apa?"


"Cepatan!"


"Tina RESMI PACARAN SAMA AMAS!"


"WHAT?"


"WHAT?"


jawab kami serempak dan saling menoleh satu sama lain tidak percaya yang di ucapkan Dila.


"Iya! Gue gak bohong!"


"Sekarang Tina mana?"

__ADS_1


"Lagi di kantin di traktir Amas!"


Dila duduk di depan sila dan meneguk air di atas meja.


"Din! Sini Lo!"


"Gue masih ga percaya gaes kalo Tina bakalan pacaran sama Amas!"


"Masa sih?"


"Iya ****!"


Dini berdiri di depan meja alin, melihat kearah luar keributan yang berlangsung tadi.


"Oia!"


"Sil!"


"Hmmm...?"


"Nantik kita bakalan tanding basket"


"Sama siapa?"


"Nth la ya..."


"Pokoknya kita di suruh ke lapangan" jelas Dila.


"Malas Banget anjing!"


"Sama" ngeluh alin di samping sila.


---


Seluruh anggota stranger telah berkumpul di lapangan siap bertanding dengan lawan basketnya. Siapa lagi kalo bukan atvenger.


Seluruh murid murid arwana menyaksikan pertandingan basket antara kapten basket pria yang dipimpin oleh Galang dan anggotanya Dika,Udin,Amas,putra,. Dengan kapten basket wanita yang dipimpin oleh silla, dan anggota Tina,dini,alin,Farah.


Pertandingan basket sangat minim skornya, sama sama memperoleh angka yang sama, membuat Ando sulit buat memilih siapa pemenangnya. Akhirnya Ando memutuskan buat memberi satu kali lagi kesempatan untuk mencari pemenang.


Akhirnya tim stranger pemenangnya yang mencetak skor tinggi dari tim atvenger membuat nama atvenger jatuh di bawah kepemimpinan sila.ia sangat senang bisa menginjak ginjak Galang dan anggotanya.


"Ngapa liatin gue kayak gitu? Gak percaya kalo gue pemenangnya?" Sila berdiri didepan laki laki yang menatap dengan tatapan tidak bisa di artikan.


"Jangan senang dulu! Mungkin ini keberuntungan Lo!" Galang beranjak dari hadapan wanita itu dan meninggalkannya.


"Lang tunggu!" Dika mengikuti laki laki itu dari belakang dan meninggalkan yang lain.


"Dasar lemah" batin sila berkata.


"Tunggu.." langkah gue berhenti saat nama gue di panggil Udin.


"Ngapa?"


"Harusnya gue yang nanya sama Lo"


"Maksud Lo?"


"Galang Lo apa-in?"


"Gue masih normal kali,Din!"


"Bukan gitu, maksud gue,Lo kan tadi pagi berangkat bareng sama Galang?"


"Trus?"


"Dia Lo apa-in?"


"Lo kalo ngomong yang jelas bgsd!"


"Galang gak bicara dari pagi pas lo sama dia keluar dari mobil,Lo ada bicara yang gak baik sama dia?"


"Dia baperan?" Tanya gue tanpa beban dosa.


"Manusiawi kali!"


"Nth..."


"Bodoamat!"


"Bagus kali dia ngambek!"


Gue beranjak dari hadapan Udin dan menghampiri kawan kawan gue yang sudah dari tadi keluar dari lapangan.


---


"WOII! melamun aja loh!" Gue menepuk pundak alin yang berdiri di dekat pohon yang mengarah ke warbar.


"Silll.... Lo lihat deh..." Gue mengikuti arah mata alin menuju kesebuah tempat dimana ada seorang laki laki sedang berpelukan dengan perempuan.


" tiba tiba hati ini rasanya di remuk, rasanya seperti ada yang menghantam perut gue dengan benda yang keras dan membuat rasa sakit yang sangat mendalam, rasanya mata gue memanas,hati ini juga memanas, rasanya pikiran dan hati gue sedang berkerjasama, sama sama bisa merasakan kekecewaan yang mendalam, pikiran gue yang merespon hati gue yang menerima."


"Tuhan apa ini?"

__ADS_1


"Rasanya air mataku ingin mengalir,tapi buat apa dan buat siapa?"


---


__ADS_2