AKSILAGA

AKSILAGA
TAKDIR ARSILLA


__ADS_3

Gue berjalan di lorong rumah sakit gue melewati orang orang yang berada di sana. Sungguh hari ini gue sangat KACAU. gue gak tau harus berkata apa sekarang! Semuanya menjadi satu!


"Ra..ra..." Gue menghentikan langkah gue dan melihat kakak gue berdiri di depan pintu kamar rumah sakit bersama papa gue.


"Sila" Maura memeluk gue se-erat eratnya.


"Ke.. kenapa?" Gue melepas pelukannya Maura dan menatapnya.


"Mama koma sil" mata gue membulat gue terjatuh dan terduduk di depan pintu UGD.


"Kenapa bisa raa??" Tanya gue pada Maura yang duduk di samping gue..


"Mama kecelakaan lift di mall saat pergi sama gue" jelas Maura.


"Tuhan...!!!!" Gue mengacak ngacak rambu gue frustasi.


"Gue selamat tapi mama Harus celaka demi nyelamatin gue" Maura merangkul gue,air mata gue mengalir sangat deras. Melihat mama tercinta gue harus terbaring di rumah sakit dengan banyak alat rumah sakit. Papa? Sama seperti gue hanya bisa menunggu hasil dari dokter atau pasrah kepada Tuhan.


"Lo tenang! Kita bakalan nunggu dokter keluar dari ruang itu"


Gue emang nakal tapi percaya lah gue masih Patuh pada ucapan orang tua gue dan masih menyayangi mereka berdua.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu Kelur. Dokter yang berpakaian jas putih itu Kelur. Berharap Tuhan mendengar doa gue.


"Gimana keadaan istri saya dok?" Tanya papa panik.


"Iya dok! Gimana keadaan mama kami?" Maura berdiri di samping papa.


"Maaf... Kami sudah berusaha tuhan berkehendak lain" dokter itu menundukkan kepalanya tanda pasrah.


"Maksud dokter?" Gue memotong pembicaraan.


"Mama kalian telah pergi menghadap Tuhan"

__ADS_1


"Ga... gak... gak dok!"


"Dokter bohong kan?!"


"Mama gak mungkin meninggalin kami dok!"


Maura menahan gue yang kehilangan kesadaran.


"Sill.... Cukup silll.... Lo harus tenang!"


"Gak Ra! Mama gak mungkin pergi!"


"Sila!"


"Please bukan Lo aja yang kehilangan gue dan papa juga!"


Papa memeluk kami berdua.


"Pa...."


"Iya sila.... Betul kata kakak kamu saat ini kita kehilangan mama buat selamanya"


Papa memeluk kami berdua sangat erat, rasanya gue belum siap menerima kenyataan dari Tuhan.


Sama halnya dengan kami laki laki itu meneteskan air mata namun ia berusaha tegar demi anak anaknya.


"Papa sayang sama kalian"


"Kalian harus sabar dan Kuat!"


"Paa..... Sila belum siap paa...."


Gue melepaskan pelukan itu dan melihat lekat pada laki laki paruh baya itu.

__ADS_1


"Kamu kuat"


"Kamu harus kuat"


"Kamu bisa"


"Iya sil... Ada aku dan papa..."


"Kita harus ikhlaskan mama...."


Lagi lagi air mata itu jatuh gue masuk kedalam ruangan itu ada jasad nyokap gue yang terbaling lemah dan kaku di selimuti kain panjang putih.


"Maa...." Gue berusaha kuat dan membuka perlahan kain itu. Namun hal hasil gue lemah! Air mata itu tetap terjatuh di pipi gue. Seluruh wanita bakalan nangis jika melihat orang yang di sayang pergi!


"Ma... Aku minta maaf belum bisa membahagiakan mama.." gue memeluk jasad yang kaku itu tapi gue berusaha tidak meneteskan air mata gue ke jasad mama gue.


"Aku ikhlas ma.."


"Hanya waktu yang dapat membuat kita bertemu lagi..."


"Maa... Aku cinta mama.. selamanya"


"Aku harus kuat ma.. supaya mama tenang disana.."


"Aku bakal ingat perkataan mama.."


"Jadilah diri mu sendiri dan berguna bagi orang lain"


"Biarkan saja seseorang membenci mu karena mereka lemah!"


"Aku sayang mama ..."


Pelukan terakhir bagi ku.

__ADS_1


__ADS_2