
Pagi ini seluruh murid kelas 12 telah berkumpul di Lapangan. Tak lupa dengan stranger dan atvenger.
"Gue gak bisa duduk sama Lo ya sil"
"Lah kok gitu? Lo kan udah janji bakal duduk sama gue?!"
"Iya sorry... Tapi gue duduk sama pacar gue Amas" rayu Tina.
"Lo gak bisa gitu dong! Masa gue duduk sendiri?! Lo jangan jadikan pacar sebagai makanan pokok Lo!"
"Tapi sil... Amas pacar gue!"
"Kesal banget gue sama Lo tin! Ingkar janji!" Kesal gue memalingkan wajah.
"Sorry... Gue bakal cari teman duduk Lo kok"
"Siapa? Lo sama Amas, Elsa sama udin,dini sama Dika,Dila sama putra,Farah sama alin!"
"Hmm sama siapa ya?" Pikir Tina, membuat gue bingung.
"Lo sama Galang aja gimana?" Tawar Tina.
"Gak!" Tolak gue mentah mentah.
"Yah gimana dong? Lo gue tawarin Galang gak mau?"
"Gue gak mau duduk sama dia!"
"Jadi sama siapa?"
"Gak usah Lo cari! Gue sendiri aja!"
"Yakin Lo? Gak bakal ngambek sama gue?"
"Ya jelas gue ngambek sama Lo!"
"Iya sorry..."
"Ntr gue traktir deh Lo" sogok Tina.
"Gak butuh!" Tolak gue sok jual mahal.
"Yakin gak butuh?"
"Yakin!"
"Yaudah gue traktir yang lain aja"
"Ehh... Jangan dong!" Cegah gue.
"Kan Lo sok muna!"
"Iya iya gue maafin tapi Lo harus traktir gue makan!"
"Iya bawel!"
"Perhatian seluruhnya buat berkumpul di Lapangan"
"Yaudah yuk" Tina menarik tangan gue menuju ke lapangan.
"Seluruhnya udah hadir?"
"Sudah" jawab kami serempak.
"Baiklah kita langsung memasuki bus masing masing yang sudah tertera di Mading"
Seluruh murid kelas 12 berhamburan memasuki busnya masing masing.
Gue terpaksa duduk sendiri, meski kami masih satu bus tetap aja gue gak ada kawan sebangku.
"Gue duduk di samping Lo ya?" Gue berdiri tepat di samping seseorang yang memiliki baju maroon.
"Lo? Duduk sama gue?" Mata gue membulat saat laki laki itu membalikkan badannya ternyata galang.
"****** gue!" Batin gue.
"Hmm...iya" cengigir gue pada Galang.
"Gak!" Tolaknya.
"Is lo kan sendiri Lang! Gue gak ada kawan duduk!"
"Teman teman Lo mana?"
"Udah ada pasangan" manyun gue.
"Makanya jangan kelamaan jomblo" sindir galang.
"Setidaknya gue gak perang PHP-in seseorang" sindir gue balek dan memalingkan wajah.
"Lo ngomong apa barusan?"
"Gak papa!"
"PHP-in seseorang? Gak salah lo?"
"Lah itu Lo dengar! Dasar budek!"
Gue menerobos dan duduk di dekat kaca. Bodoamat dia mau marah apa gak!
"Siapa yang suruh Lo duduk di situ?"
"Keluar"
"Diam Lo ya! Gue bayar!"
"Lo tu yang diam!"
"Bawel amat sih loh!"
"Udah lengkap semuanya?" Pak Bambang memasuki bus gue,dan memeriksa kelengkapan.
"UDAH PAK" jawab kami serempak.
"Galang kamu kok masih berdiri? Duduk" pak Bambang memerintah Galang duduk di kursinya.
"Dasar! Kepala batu!" Sindir gue namun dapat di dengar Galang.
"Aneh" balasnya.
---
Galang.
"Lo yakin mau tunangan sama kakak sila?" Gue melihat Nabil yang memasang sepatunya.
"Emang kenapa? Lo gak Caya?"
"Bukan gitu bil, tapi kok aneh gitu? Lo suka sama orang yang baru Lo kenal"
"Siapa yang bilang gue sama Maura baru kenal?"
"Maksud Lo?"
"Gue udah dari dulu kenal sama dia, kami juga satu sd, selalu bareng pergi sekolah,baju sering kapel,sering main bareng, sampe Sampe di bilang anak kembar,dan waktu SMP-nya juga di bilang semoga langgeng dunia akhirat,ada juga teman gue yang doain semoga jodoh, akhirnya emang terbukti gue sama dia bakal tunangan"
"Tunangan belum tentu jodoh"
__ADS_1
"Tergantung takdir,dan keseriusan"
"Emang kayak Lo?" Sindir Nabil.
"Maksud Lo?" Tanya gue kebingungan.
"Suka ngantungin cewek,suka PHP-in cewek" jelas Nabil.
"Siapa?" Gue menaiki satu alis.
"Sila"
"Maksud Lo?"
"Gak usah pura pura bodoh loh! Udah ayok cabut! Ntar lo ketinggalan bus" Nabil beranjak dari kursinya dan masuk kedalam mobil. Diikuti oleh Galang.
Di perjalanan menuju sekolah banyak pertanyaan pertanyaan aneh pada pikiran gue,apa mungkin yang di maksud Nabil benar? Gue PHP-in sila dan gue ngegantunginya?
Mobil hitam itu terparkir di area sekolah,gue menuruni tas gue dan menuju kerombongan.
"Galang tunggu" suara lembut itu membuat gue memberhentikan langkah kaki,gue melihat ke sumber suara. Citra, wanita itu mendekati gue.
"Hai cit" panggilan itu membuat raut wajah citra berubah tidak ada kata kata manis lagi tidak ada kata kata romantis lagi.
"Ini buat kamu" citra menyodorkan sebuah kotak kecil pada gue.
"Apa ini?" Tanya gue dan mengambilnya.
"Bekal buat kamu sayang..." Kata kata manis citra dan kata kata pahit nabil membuat pikiran gue bercampur aduk.
"Makasih.."
"Itu dong?"
"Maksudnya?"
"Satu hari ini kamu gak ada panggil aku sayang,atau kata kata manis lainnya" sebal citra,dan memanyunkan bibirnya, dia wanita termanja dan terlalu alay.
"Makasih citra sayang Galang" gue mengelus rambutnya pelan.
"Aku pergi dulu ya,bye..." Gue melambaikan tangan pada citra yang tersenyum,gue gak bakal mau lama lama berhadapan dengannya.
---
"Lo mau?" Tawar gue sama laki laki yang asik memainkan handphone,gue mengulurkan chitato.
"Gak, makasih" tolaknya.
"Yauadh" gue mengambil tangan gue kembali.
Dan tidak ada percakapan antara kami,gue gak ada akan memulainya lagi karena gue tau dia akan bersikap dingin dan buat apa gue mengejar cowok orang?
"Woii" Udin mengejutkan kami berdua dari belakang kursi.
"Berduaan mulu" Sindir Amas.
"Apa?" Galang melihat kedua sahabatnya.
"Keluar dong lang,ikut kita karaokean" ajak Amas.
"Gak" tolaknya.
"Gitu amat Lo Lang,sil lo mau ikut?" Ajak Udin.
"Kemana?" Tanya gue.
"Ke hati gue..." Gombal Amas.
"Yaelah mas,ingat cewek Lo!" Udin memukul kepala Amas pelan.
"Wkwkw gak kok sil, canda" kata Amas.
"Ikut karaokean disana ada teman teman Lo juga" jelas Amas.
"Sorry gue lagi mager" tolak gue.
"Yaelah tinggal berdiri aja susah amat,jelas kali kalian berdua gak bisa jauh jauahan meski ada batu yang menghalang" sindir Udin,dan Galang tau maksudnya.
"Diam Lo din!" Bentak Galang.
"Gitu amat Lang! Canda kali" gombal Udin.
"Udah...udah Din! Jangan di ganggu singa yang sedang tidur,biarkan mereka berdua" Amas menarik tangan Udin.
"Bye kalian semoga lebih serius lagi" Udin mengikuti Amas.
"Aneh banget teman loh!" Gue melihat kepergian mereka. Tapi tidak ada jawaban dari laki laki itu.
Gue mengambil handphone gue di dalam tas untuk menghilangkan kegabutan.
---
Akhirnya kami sampai di tempat camping,di dekat perbukitan yang indah dan banyak pohon pohon, iyaiyalah gak mungkin banyak mall.
Gue dan Galang serta murid lainnya turun dari bus.
"Udah pada turun semuanya?" Kata pak Bambang.
"UDAH PAK" jawab serempak. Dan murid murid meluruskan tangannya.
"Yaudah ikuti saya" arahan pak Bambang.
Kami semua mengikuti guru itu dari belakang.
Di atas bukit di tengah tengah pohon di belakang tebing di kelilingi api api yang menerangi gelap malam, aku disini menunggu mu dan kamu pergi dengan yang lain,tapi aku tetap berusaha kuat buat kamu kembali lagi, nyatanya benar,kamu kembali buat aku. Aku merasa ada yang aneh, benar kamu sangat aneh setelah dengan dirinya, apa mungkin dia penyebab kamu berubah?.
Kami semua membentuk lingkaran yang di tengah tengahnya ada api yang menyala akibat kayu bakar.
"Sil,Lo nantik malam jadi kan?" Tina membisikan sesuatu pada gue yang mampu membuat Galang mendengarnya.
"Iya,tapi cuma kita bertiga sama alin?" Tanya gue.
"Iya" jawaban terakhir Tina,kami semua mendengar komedi pak Bambang,kini guru itu berdiri di tengah tengah lingkaran dengan canda tawa, membuat gue berfikir bahwa rencana Tina benar atau salah?
"Malam semuanya" guru itu membuka pembicaraan.
"Malam pak..." Jawab murid murid kls 12 serempak.
"Ada udang di balik batu..."
"Cakep..."
"Kalo ada kamu pasti ada aku... "
"Ashipppp...." Jawab kami serempak diiringi tawa.
"Pak saya mau nanya?" Udin menaiki tangga ke udara.
"Apa Udin?" Tanya pak Bambang
"Kalo ada saya disini pasti ada Elsa kan pak?" Tanyanya dan menatap wanita di samping,yang menyembunyikan rasa malunya.
"Iyain aja pak,dia bucin..." Di lontarkan oleh Dika sambil merangkul dini.
"Kayak Lo gak aja dik" diikuti oleh yan.
"Udah udah...."
__ADS_1
"Kalian semua wajar jadi bucin budak-cinta " jelas pak Bambang.
"Pak kalo... singa yang bamgun buat menunggu seseorang tapi dianya telah pergi dengan yang lain? Gimana pak?" Farah melirik kearah gue.
"Apa ya yang bagus?...." Pikir pak Bambang sambil menopang dagu.
"Bapak ga tau, jawabnya far.." jalas pak Bambang.
"Saya tau pak!" Keyla menunjuk tangan.
"Apa?"
"Di PHP-in pak" kayanya.
"Bole..la boleh..." Putra dan yang lain mentertawakan.
"Lang!" Sorak Dika dari jauh.
"Apa?" Jawabannya.
"Lo ga mau jujur sama sila?" Dika menyoraki dari jauh hingga seluruh sorotan mata menatapnya dan menatap kami berdua.
"Apaan sih loh dik!" Ketus gue,dan menatap tajam kearah dika.
"Santai sil! Jangan emosi" Dika tersenyum sok manis.
Sedang laki laki itu tidak mempedulikan sama sekali.
"Gas lah lang! Ntr Lo nyesel!" Putra bersorak di samping amas.
"Diam Lo!" Ketus gue gak terima.
"Udah...udah kok kalian pada berantem?" Pak Bambang melihat kedua sejoli tersebut.
"Iya betul tu.... Ntar kalian jodoh lagi!" Niki menyoraki keduanya,namun Popy yang gak terima memukul kepala Niki pelan.
"Sakit ****!" Ketus Niki pada Popy.
"Lo bisa diam ga Niki?" Ghea membisiki di telinga Niki,namun dapat di dengar oleh popy,yang kesal.
"Gaes gue punya rencana nih" alin berdiri ditengah tengah lingkaran.
"Apa cepetan?!" Ketus popy.
"Santai dong pop'!" Ketus alin.
"Rencana apa lin?" Tanya Farah.
"Gimana kita adakan game,dengan pasangan duduk?"
"Gimana setuju? Setuju?"
"SETUJU..." Sorak semuanya,namun gue dan Galang hanya melihat satu sama lain gak suka!.
"Gimana pak boleh ya?" Alin meminta izin pada guru tersebut.
"Hmmm..... menurut bapak sih boleh boleh aja asal jangan yang macam macam dan jangan yang aneh aneh" jelas pak Bambang.
"Iya pak,asal kami senang pasti bapak senang kan?" Kata dila.
"Iyaaa" pak Bambang menyetujui usulan game dari alin.
"Gimana cari mainnya Lin?" Tanah Keyla.
"Kita bakal TOD satu sama lain,dan dari kalian harus memiliki 5 pertanyaan perorang, jadi di haruskan berpasangan,jika kalian yang gak punya pasangan kalian harus cari,dan jika pasangan kalian adalah gebetan kalian sendiri,lebih bagus buat tod" usulan alin membuat gue canggung harus berhadapan dengan Galang,teman sebangku gue.
"Gimana gaes setuju?" Alin memastikan teman temannya lagi.
"SETUJU"
"SANGAT SETUJU"
Seluruh murid bubar dari lingkaran mengambil pulpen dan buku buat pertanyaan pada pasangannya,setelah beberapa menit kami kembali ke lapangan dengan bentuk berpasang pasangan.
"Lang" panggil gue pada laki laki yang duduk di samping gue,yang masih fokus dengan handphonenya, meskipun gak ada sinyal.
"Lang!" Panggil gue, meskipun masih tidak ada jawaban.
"Hm?"
"Apa aja pertanyaan Lo?"
Laki laki itu menyimpan handphone miliknya kedalam saku.
"Belum mulai kali,udah Lo tanya aja!" sewotnya.
"O!" Balas gue sewot dan memanyunkan bibir gue kedepan,kesal.
"Gaes,kita ambil no undian ya,siapa yang no pertama maju ke depan" alin memberikan acak nomor undian pada murid arwana.
"Yang aku harap kita nomor terakhir ya..." Elsa menyandarkan kepalanya pada bahu udin.
"Iya semoga ya sayang.... Aku gak meleset..." Udin memegang lembut kepala Elsa.
"Lebay banget sih Lo berdua pacaran!" Sindir gue, melihat keduanya pacaran ala alay!
"Iri aja loh sil!" Ketus Elsa gak terima.
"Betul tu sil,sana Lo sama galang aja kalo mau sandar sandaran" diikuti oleh Udin.
"Ewh!" Jijik gue.
"Lo kira gue mau Lo nempel nempel di bahu gue?" Sindir laki laki itu dari belakang, membuat gue membisu.
Gue membalik badan melihat kearahnya "hehehe.... Gak kok" cengigir gue dan memberikan senyum fake. Gue melangkah pergi dari hadapannya.
"Tunggu"
"Apa?"
"Kita nomor pertama"
"What?" Gue reflek membalik gak percaya urutan pertama.
"Lo serius?"
"Lo pekak ya? Gue bilang kita no pertama" ulang Galang.
"Gue gak pekak Galang! Gue hanya memastikan!" Ketus gue.
"Oh" jawabannya tanpa dosa.
"****** gue,blm siapin pertanyaan" ngeluh gue dan Mengigit bibir gue cemas.
"Udah gak usah lebay! Cuma tod!"
"Lo emang udah siapin pertanyaan?"
"Udah"
"Apa aja?"
"Kepo amat jadi cewek"
"Dasar pilit!" Gue pergi meninggalkan laki laki itu,tapi sebelum menjauh gue mengejeknya dengan mengulurkan lidah.
Mungkin dia tampak kesal.tapi gue gak peduli!
__ADS_1
---