Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 20 - Aku Menyesali Perbuatanku!


__ADS_3

Mereka berempat sampai di cafe. kedatangan Vano membuat Regan penasaran siapa pria yang dipanggil putranya Ayah.


Apakah Laura sudah menikah dengan pria ini?! batin Regan.


"Jadi... Dia adalah Ayah kalian?" tanya Regan memberanikan diri.


"Lebih tepatnya bukan ayah kandung. Mereka sudah ku anggap seperti anakku sendiri." jawab Vano, dia tidak tahu bahwa pria yang dia ajak bicara adalah ayah kandung dari si kembar.


"Jadi, kau kekasih dari ibu mereka?" tanya Vano.


"Emm... Bukan juga. Tapi aku cukup dekat dengan ibu mereka." jawab Vano terlalu jujur.


Regan hanya menatap tajam pria di depannya.


.


.


.


Laura baru saja tiba di rumah setelah bekerja seharian penuh. Ketika dia melangkah masuk ke dalam rumah, dia langsung berteriak, "Vio, Iva, apa kalian sudah makan?" Namun, Laura segera terkejut saat melihat seorang pria yang berbaring santai di sofa ruang tamu mereka.


Pria itu adalah Vano, yang datang dari Kanada tanpa memberikan kabar sebelumnya. Laura langsung terdiam, matanya membesar oleh kejutan. Dia tidak pernah mengira kedatangan Vano, apalagi setelah lama terpisah.


"Kau?!!" pekiknya terkejut.


Vano tersenyum lembut melihat reaksi Laura. "Hai. Kau baru pulang?!"


"Kau kapan datang? Kenapa tidak mengabari ku jika ingin datang kemari?!"


Vano bangkit dan menghampiri Laura untuk memeluknya.


"Aku datang tadi siang. Sekalian menjemput anak-anak. Aku datang untuk menjenguk anak-anak kita. Jika aku memberitahumu, bukan kejutan namanya."


Setelahnya, melepaskan pelukan. "Dan kau, juga tidak memberitahu ku jika kau sakit. Kak Tania yang memberitahu ku. Dan aku sangat khawatir denganmu."


"Aku takut jika memberitahu mu kau akan menyusul kemari dan meninggalkan pekerjaan mu di sana. Aku terlalu sering merepotkan mu."


"Hey... Kau ini bicara apa. Aku menyayangimu, apapun yang terjadi padamu. Itu adalah tanggung jawab ku. Aku sudah berjanji sejak awal, aku akan menjagamu dan anak-anak."

__ADS_1


Laura masih terpaku, tidak tahu harus berkata apa. Selama bertahun-tahun, dia telah menjalani hidupnya sendiri dengan anak-anak mereka dengan selalu melibatkan Vano. Kehadiran Vano sekarang benar-benar tak terduga.


"Maafkan aku. Aku belum memberimu kepastian yang jelas. Aku... Aku..."


"Sstt... Senyaman mu saja. Aku tidak pernah memaksa. Jika kau nyaman hubungan kita seperti ini, aku akan menunggu mu, sampai kau benar-benar siap."


Laura memeluk Vano.


"Terima kasih, kau sudah mengerti diriku selama ini."


Vano membalas pelukan Laura. "Aku menyayangimu. Jangan pikirkan apapun. Pikirkanlah dirimu dan anak-anak, mereka lebih membutuhkan mu."


Laura masih merasa canggung dan tidak tahu bagaimana harus merespon. Ini adalah momen yang tidak dia rencanakan. Dia mencoba mengendurkan ketegangan dengan senyum kecil. "Tentu, Vano. Anak-anak pasti senang melihatmu. Tapi ini pasti kejutan besar bagi mereka juga."


Vano mengangguk. "Aku akan menjelaskan semuanya pada mereka. Aku hanya ingin beberapa waktu bersama mereka."


Laura mengerti bahwa Vano adalah ayah dari anak-anaknya, dan dia tidak ingin menghalangi pertemuan mereka. Namun, dia merasa perlu berbicara lebih lanjut tentang situasinya dengan Vano.


"Baiklah, Vano. Mari kita bicarakan ini lebih lanjut. Ini adalah momen yang tak terduga, dan aku ingin memastikan semua orang merasa nyaman."


Vano setuju untuk berbicara lebih lanjut. Sementara itu, mereka berdua duduk di ruang tamu, merasa seperti dunia mereka sedang berputar cepat dengan kehadiran Vano yang tak terduga memberi warna di rumah Laura.


...***...


"Tidak, kak. Anak-anak sebentar lagi pulang. Lagipula tadi aku dari Perusahaan dan aku sudah membelikan anak-anak makanan."


"Baiklah. Hati-hati! Salam untuk si kembar."


Di rumah Laura~


"Paman, terima kasih sudah mengantarkan kami. Ayah tadi juga mendadak menelepon jika dia tidak bisa menjemput."


"Tidak apa. Kebetulan saja tadi paman ada kunjungan di sekolah kalian."


"Paman, ayo masuk terlebih dahulu. Di luar sangat panas. Paman tidak sibuk, kan?"


"Tidak. Kebetulan paman sudah tidak ada pekerjaan."


"Ayo kita masuk!!" Iva menarik pergelangan tangan Regan untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Dan Vio mengikuti keduanya dari belakang. Ada perasaan tidak suka pada Regan karena Iva selalu akrab dengannya.

__ADS_1


Tit! Tit!


Ceklek!


Suara seseorang menekan tombol pin kunci pintu rumah, dan membuka pintu, mereka bertiga memasuki rumah yang sepertinya sepi penghuni.


"Sepi sekali. Mungkin ibu masih bekerja." ucap Iva.


Namun tidak, perkiraannya meleset. Laura terlihat menuruni anak tangga.


"Kalian sudah pu-" kalimatnya terhenti karena lagi-lagi melihat pria yang dihindarinya, namun penuh keberanian Regan masih menampakkan wajahnya. Dan mereka saling menatap.


"Ibu, Pa-" perkataan Iva terhenti karena dengan cepat Laura menyelanya.


"Kalian berdua masuk kamar!!" titah Laura penuh penekanan.


"Tapi, Ibu. Paman-"


"Ibu bilang, masuk ke kamar!" ucap Laura, setengah marah.


Mereka berdua saling pandang, lalu pandangan mereka sama-sama beralih pada Laura dan Regan yang masih saling menatap. Tanpa banyak tanya, mereka berdua menaiki tangga dengan wajah bingung dan memasuki kamar.


"Kau pergi dari sini!!" usir Laura dengan nada tinggi setelah memastikan kedua anaknya menutup pintu kamar.


"Laura," panggilnya lirih.


"Keluar sekarang!!" bentaknya lagi.


Regan meraih tangan Laura, tapi segera dihempaskan kasar oleh Laura.


"Tolong. Aku tidak akan pernah bosan meminta ini padamu. Aku menyesal. 15 tahun aku mencari mu dan anak-anak."


"Jangan coba temui anak-anakku! Menjauh lah dari mereka." kecam Laura.


"Kenapa? Mereka juga anakku. Aku ayah kandung mereka, kau tak bisa menjauhkan anak dari ayahnya."


"Ayah macam apa yang ingin membunuh calon anaknya hanya demi kepentingannya sendiri. Itu yang kau sebut ayah?!!"


"Aku menyesal mengatakan itu, tak seharusnya aku meminta mu mengorbankan janin dalam kandunganmu. Aku tahu, aku sangat menyakitimu waktu itu dan kau juga sangat terluka. Tapi aku sadar, di hari kelulusanku, ketika aku sudah yakin untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku, untuk menerima janin itu sepenuh hati dan aku bertekad untuk menikahi mu waktu itu, merawat sama-sama anak kita yang akan lahir nanti. Dan diwaktu bersamaan itu pula, aku kehilanganmu." jelas panjang lebar Regan.

__ADS_1


Lalu, menjelaskan kembali, "15 tahun aku terpuruk seperti mayat hidup yang bahkan tidak layak untuk hidup, hidupku hanya mencari mu dan anak kita. Sampai temanku membangkitkan ku dari keterpurukan. Dan aku berpikir, ketika aku menjadi orang yang sukses dengan kekuasaan yang ku miliki, aku bisa segera menemukanmu kembali. Tapi selama 15 tahun aku tidak henti mencari mu. Dan takdir menemukanku denganmu kembali dengan cara seperti ini, Dengan kedua anugerah yang tuhan berikan padaku. Anak kita. Maafkan aku. Kembalilah padaku. Kita mulai semuanya dari awal."


Laura tidak menjawab, dirinya hanya menunduk dengan isakan tangis yang sudah dia tahan sedari tadi.


__ADS_2