
"Ayah!" panggil Iva.
Regan menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Panggilan itu membuat dadanya berdesir.
"Ayah!" panggil mereka berdua.
Regan menoleh, ternyata kedua anaknya sudah berada dekat di belakangnya.
"Kalian?!" tertegun Regan menatap manik kedua anaknya satu persatu.
"Apa kau akan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun?" tanya Iva.
Ucapan dari putrinya membuatnya terdiam. Regan sadar, pasti putrinya akan sangat marah dan membencinya.
Tiba-tiba Iva berlari ke pelukan Regan dengan isakan tangisnya.
"Iva rindu. Hiks... Kenapa kau tidak mengatakan jika kau ayah kami? Hiks..."
"Maafkan ayah." Regan menyeimbangi tinggi badan anaknya dan memeluk erat putrinya.
"Jangan tinggalkan kami." ucap Vio demikian. Ia masih berdiri tidak jauh dari adiknya yang memeluk ayah mereka.
Ucapan Vio membuat Regan menariknya juga dalam pelukan. Kini ketiganya sama-sama menangis dalam dekapan.
"Maafkan ayah. Selama 15 tahun, ayah tidak pernah berhenti mencari keberadaan ibu kalian. Dan ayah juga baru mengetahui jika ibu kalian melahirkan anak kembar setampan dan secantik kalian. Ayah sungguh menyesal waktu itu. Ayah minta maaf." kata Regan sepenuh hatinya tulus meminta maaf.
"Ayah jangan pergi. Hiks..." kata Iva yang semakin terisak dan mengeratkan pelukannya.
"Tidak. Ayah tidak akan pergi. Ayah akan disini bersama kalian."
"Ayah akan berbaikan dengan ibu, kan?" tanya Iva lagi.
"Iva!! Vio!" panggilnya terdengar dingin.
Ketiganya sama-sama menoleh terkejut ketika teriakan itu menggema di telinga masing-masing.
"Ibu!!" pekik mereka berdua.
"Masuk mobil!!" ucapnya dengan tatapan tajam.
"Ibu, aku ingin dengan ayah." kata Iva.
"Apa kalian tidak dengar? Masuk ke mobil sekarang!!" teriak Laura membentak.
"Ibu, Kit-"
Iva tiba-tiba tersentak terkejut karena Laura tiba-tiba menarik tangannya dan Vio, sedikit menyeretnya mendekati mobil. Regan yang tidak tinggal diam putra dan putrinya diperlakukan seperti itupun menahan tangan Laura.
"Laura, jangan kasar pada mereka."
__ADS_1
Laura menghempas kasar tangan Regan.
"Jangan ikut campur. Mereka anak-anak ku! Kekasaran ku tidak berarti bagi mereka, dibandingkan dengan dirimu yang akan membunuh mereka!"
"Tapi aku juga ayah mereka. Kau tidak bisa seperti ini. Mereka tidak salah, aku yang salah. Marahi saja aku, jangan mereka."
"Menyingkir lah!!"
"Ayah, Hiks..." Iva tidak hentinya menangis.
"Iva! Masuk mobil!!" kecam Laura tegas.
Regan menatap kepergian mobil Laura dan anaknya dengan tatapan sendu.
Di dalam mobil.
"Anak-anak!" panggil Laura. Yang dipanggil hanya diam tidak menjawab.
"Kalian mendengar ibu?"
Mereka tetap tidak menjawab. Tapi Laura berusaha bersabar.
"Kenapa diam saja dan tidak menjawab panggilan Ibu?"
"Kenapa ibu jahat kepada kita dan ayah?" ucapan Iva tajam tanpa menatap ibunya. Jelas Laura sakit hati mendengarnya.
...***...
"Kau sudah bertemu Laura? Kalian sudah bicara?" kata Sean dengan nada dingin, meskipun ada kekhawatiran yang terpancar di matanya.
Regan mengangguk perlahan, "Hemm, Dia masih tidak ingin bicara denganku."
Regan sudah menceritakan semuanya tentang dia dan Laura pada kakaknya. Sean sangat terkejut dengan pengakuan Regan, bahkan Sean sempat menghajar Regan habis-habisan karena sudah lari dari tanggung jawab sebagai laki-laki. Untung saja Sean belum terlalu dalam menyukai Laura, sehingga dia tidak terlalu sakit hati jika harus melepas pujaan hatinya kepada adiknya sendiri. Dan sekarang, Sean menginginkan Regan mempertanggung jawabkan perbuatannya, sekaligus mendapatkan maaf dari Laura.
Sean melihat adiknya dengan tatapan tajam, "Bagaimana dengan kedua anakmu?"
Regan menelan ludah sejenak sebelum menjawab, "Iya, aku sudah bertemu dengannya. Kabarnya... rumit, Kak. Anak-anak sudah besar, mereka marah padaku tetapi menerima kenyataan bahwa aku lah ayah kandung mereka. Laura... dia masih sangat marah dan takut. Juga... Aku takut dia melampiaskan kemarahannya padaku."
Sean mengangguk, mengerti bahwa situasinya tidak akan mudah. "Regan, kau tahu bahwa ini bukan hanya tentangmu, kan? Ini tentang keluargamu, anak-anakmu, dan Laura juga. Kau harus memahami perasaan mereka."
Regan merasa bersalah dan frustrasi. "Aku tahu, Kak. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku merindukan mereka."
Sean mendekati adiknya dan meletakkan tangan di pundaknya, memberikan dukungan. "Kau harus bersabar, Regan. Cobalah untuk memperbaiki hubunganmu dengan anak-anakmu, dan bicaralah dengan Laura. Ini bukan akhir dari segalanya, hanya awal dari perjalanan panjang untuk memperbaiki keluargamu."
Regan menghela nafas dalam-dalam. Dia tahu bahwa ini akan menjadi perjuangan yang panjang dan sulit, tetapi dia bersedia untuk melakukan segalanya untuk keluarganya. "Aku akan mencoba, Kak. Terima kasih atas dukungannya."
Sean tersenyum dan memberikan dorongan lagi, "Aku tahu kau bisa melakukannya. Ingatlah, keluarga selalu penting."
Mereka berdua duduk di ruang tamu, bersiap untuk menghadapi perjalanan panjang menuju rekonsiliasi dan perdamaian dalam keluarga mereka yang terpisah begitu lama.
__ADS_1
"Jangan menyerah. Usahamu tidak akan sia-sia, jika kau benar-benar mencintainya." kata Sean dijawab dengan anggukan oleh Regan.
...***...
Sudah 30 menit Laura di depan pintu kamar anaknya. Berulang kali dia mengetuk pintu kamar anaknya yang dikunci dari dalam karena mereka sedang dalam suasana marah.
"Sayang... Buka pintunya, ibu ingin bicara." teriak suara Laura dari luar.
"Tidak ingin. Ibu harus memaafkan ayah dulu." jawab Iva dari dalam.
"Tidak semudah itu, nak. Kalian tidak mengerti. Buka dulu pintunya."
Tidak ada jawaban dari dalam kamar yang terkunci.
Suara pintu terbuka, menampilkan dua sosok putri dan pangeran Laura dengan wajah ditekuk cemberut. Laura tersenyum melihatnya, menggemaskan.
"Maafkan ibu, ya. Yuk, kita makan. Ibu sudah siapkan makanan kesukaan kalian."
"Iva tidak lapar." jawab dingin Iva.
"Aku juga." timpal Vio.
Mereka berdua memilih pergi menghiraukan ibunya.
"Kalian ingin ke mana?" tanya Laura.
Keduanya tidak menjawab. Pergi begitu saja keluar dari pintu rumah, tanpa merespon panggilan dari sang ibu.
...Laura merasa hatinya remuk melihat kedua anaknya pergi tanpa mendengarkan permintaannya. Dia tahu bahwa memperbaiki hubungan dengan mereka tidak akan mudah, tetapi dia tidak akan menyerah begitu saja....
Sambil menahan air mata, Laura memutuskan untuk menjemput mereka kembali. Dia keluar dari rumah dengan langkah tergesa-gesa, berusaha menemukan Iva dan Vio yang telah meninggalkan rumah.
Setelah mencari sekitar beberapa waktu, Laura akhirnya menemukan mereka berdua di taman dekat rumah. Mereka duduk di ayunan, tetapi ekspresi mereka tetap teguh.
Laura mendekati mereka dengan hati-hati dan duduk di samping Vio. Dia memandangi wajah kedua anaknya dengan kasih sayang. "Sayang, ibu tahu kalian marah padaku. Tapi ibu ingin kalian tahu bahwa ibu mencintai kalian lebih dari apapun di dunia ini."
Iva dan Vio masih memandang ibu mereka dengan skeptis. Mereka belum siap untuk memaafkan.
Laura melanjutkan, "Kalian berdua adalah segalanya bagi ibu. Ibu tahu bahwa ibu dan ayah telah membuat kesalahan besar, tetapi kita semua bisa belajar dari kesalahan. Yang penting adalah kita bersama lagi sebagai keluarga."
Iva akhirnya mengalihkan pandangannya dari ibunya dan menatap tanah dengan ragu. "Apa ibu akan kembali tinggal dengan ayah?"
Laura merasa seolah jantungnya berhenti sejenak, karena dia tahu bahwa keputusan ini tidak akan mudah. "Ibu belum tahu pasti, sayang. Yang pasti, ibu ingin memperbaiki hubungan dengan kalian terlebih dahulu. Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama-sama."
Vio akhirnya angkat bicara, "Apa ibu akan memaafkan ayah?"
Laura mengecup kening putranya lembut. "Tidak, sayang. Ibu tidak akan bisa memaafkan dia. Ibu ingin tetap bersama kalian, untuk selamanya dan hanya bertiga."
Iva dan Vio saling pandang, masih ragu dan penuh keraguan.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi satu hal yang pasti, mereka akan menjalani perjalanan ini bersama-sama, sebagai keluarga yang sebenarnya.