Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 41 - Penemuan Gosip


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Mila masuk ke dalam ruangan Laura dengan cepat, "Nona, ini berkas yang kau min-- Astaga! Kenapa dengan kakimu, nona? Perlu aku panggilkan dokter? Aku bisa memberikanmu obat? Atau--"


Laura dengan tenang menjawab, "Kakiku tidak apa, Mila. Jangan berlebihan seperti itu."


Mila masih khawatir, "Tidak apa bagaimana? Ada lebam-lebam seperti itu, ada yang lecet juga, tapi kau mengatakan tidak apa, jalanmu saja pincang begitu. Pasti karena nona berlari sangat jauh tadi pagi."


Mila kemudian memberi saran, "Atau... perlu ku panggilkan Tuan Regan, agar menyuruh tim medis untuk mengobatinya?"


Laura menjelaskan, "Jangan berlebihan, Mila. Dia sudah mengobatinya."


Mila menyatakan, "Oowwh... tindakannya cepat sekali. Pantas saja tadi nona sangat lama di ruangannya. Aku pikir--"


Laura memotongnya, "Berhenti membual, Mila. Jangan banyak bicara. Ada perlu apa kau kemari?"


Mila menjawab, "Merindukan Tuan Regan."


Laura terkejut dan memandang Mila dengan tajam. Matanya terbuka lebar, tapi bukan rasa takut yang terlihat, malah tertawa terbahak-bahak.


Mila merespons dengan humor, "Hahaa... nona, jangan melototi ku seperti itu. Bukannya menyeramkan, malah terlihat menggemaskan. Hahaa... coba saja kau begitu di depan Tuan Regan, pasti dia tidak tahan melihatmu."


Laura memperingatkan, "Hentikan tawamu, Mila!! Tidak ada yang lucu."


Mila menjawab, "Hahaaa, seandainya saja Tuan Regan di sini dan melihat itu, aku pastikan dia--"


Laura bertanya tajam, "Melihat apa?!"


Tiba-tiba, Regan masuk ke ruangan Laura tanpa mengetuk pintu, membuat Mila yang tadinya tertawa terbahak-bahak menjadi diam.


Regan dengan tenang berkata, "Eoh, Tuan Regan. Tidak apa-apa. Jika begitu saya permisi, Tuan dan Nona Laura. Maafkan saya, saya permisi."

__ADS_1


Tanpa mendapat jawaban dari keduanya, Mila meninggalkan ruangan Laura dengan senyum tersembunyi di wajahnya. Sebelum pergi, ia membungkuk sopan pada Regan.


Kepergian Mila membuat Laura kesal, terlihat dari wajahnya yang ditekuk. Regan beralih pandangan dari kepergian Mila pada Laura yang terlihat menahan kekesalan di depannya.


Laura bertanya, "Apa?!!"


Tiba-tiba saja Regan menghampiri dan menggendongnya ala bridal style menuju luar ruangan.


Laura mencoba melepaskan diri, "Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri."


Tetapi Regan dengan lembut menolak, "Kakimu sakit. Jangankan untuk jalan, untuk berdiri saja kau kesulitan."


Laura memaksa, "Jangan berlebihan. Kakiku hanya memar sedikit, bukan keseleo, dan aku masih sanggup untuk berjalan sendiri."


Regan tersenyum sambil memeluknya semakin erat, "Lebih baik kau nikmati saja dalam gendonganku. Bahkan seluruh wanita harus berusaha mati-matian untuk mendekatiku, tapi kau dengan mudahnya sekarang dalam gendonganku, harusnya kau beruntung."


Laura merasa malu karena menjadi perhatian seluruh karyawan yang menyaksikan mereka sejak keluar dari ruangan. Regan menggendong Laura dengan lembut berjalan menyusuri lobby perusahaan.


Sekarang Regan bisa merasakan perasaan Laura yang berusaha bersembunyi. Laura memeluknya erat, menyembunyikan wajahnya di antara bahu dan ceruk leher Regan. Regan tersenyum dalam kemenangan, mempererat dekapan tangannya pada pinggang dan paha Laura.


"Ini bukan keinginanku. Apa kau tak lihat, semua karyawan memperhatikan kita."


Laura merasa malu diperhatikan seisi kantor. Ya, sejak keluar dari ruangan Laura, Regan menggendong Laura berjalan menyusuri lobby kantor. Bahkan sejak keluar dari ruangan, hingga lift, bahkan di lobby pun keduanya tidak luput dari pandangan seluruh karyawan.


Saat berhasil keluar, mereka tidak sengaja bertemu dengan Paman Baran bersama salah satu wanita dan mereka langsung menghampiri Tuannya.


"Selamat siang, Tuan Regan. Apa Anda butuh bantuan?" tanya Paman Baran.


"Oh, tidak, terima kasih. Istriku sedang tidak enak badan, jadi aku akan membawanya pulang. Saya permisi dulu."


"Baiklah, Tuan Muda. Hati-hati di jalan."

__ADS_1


Dan Regan membawa Laura meninggalkan gedung menuju basement.


"Paman! Tadi Tuan Regan ingin ke mana?" tanya Nabila, merupakan salah satu karyawan muda yang bekerja di perusahaan Regan.


"Istrinya sedang sakit. Tuan Regan mengantarkan istrinya pulang." terus terang Paman Baran menjawab.


Nabila terkejut, "Istri?? Bukankah Tuan Muda Regan belum menikah?! Dan bukankah jika tidak salah, wanita yang digendongnya tadi Nona Laura?!"


"Jangan bergosip, kembalilah bekerja."


"Aku tidak bergosip, Paman. Aku bahkan hafal pakaian yang dipakai Nona Laura tadi pagi. Bukankah itu berarti Nona Laura istri dari Tuan Regan? Benarkan?!"


"Jangan bicara yang tidak berdasar, itu akan membuat fitnah. Lagipula kau hafal sekali sampai ke pakaian yang dikenakan."


"Paman kan tahu, sejak awal aku sangat mendambakan sosok Tuan Regan."


"Jangan bermimpi, nanti jika kau jatuh dari ketinggian, tidak ada yang bisa menolong mu." ketus Paman Baran.


"Paman selalu meremehkan ku. Lihat saja nanti aku akan dapatkan sosok itu. Ck, Pasti berhasil."


"Baiklah, baiklah... sebaiknya kita makan. Ini sudah jam makan siang."


"Paman yang traktir."


"Tentu saja, untuk keponakan cantik paman, apa yang tidak paman beri."


Ya, Nabila adalah keponakan Paman Baran dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan Regan setelah lulus kuliah lewat pamannya yang bekerja di mansion Regan.


Kembali pada Laura dan Regan. Sejenak kemudian, ketika mereka tiba di mobil Regan, Regan membuka pintu dengan lembut dan meletakkan Laura di kursi penumpang. Sebelum ia memasuki mobil, ia menatap Laura dengan tulus.


Saat mereka berdua duduk di dalam mobil, Laura merasa bingung. Dia ingin bertanya mengapa Regan melakukan ini, tetapi suasana yang tidak biasa ini membuatnya ragu untuk melakukannya. Hari ini adalah hari yang berbeda di perusahaan, dan keduanya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2