
"Bibi Tania, Hiks..."
Keduanya memasuki rumah Tania. Tapi Iva yang paling menangis histeris menemui Tania.
"Lho, kenapa kalian menangis? Kalian kesini dengan siapa?"
"Denganku, Kak. Tadi mereka menelepon ku menangis meminta diantarkan kemari." ucap Vano diambang pintu dan berjalan menghampiri mereka.
"Kalian kenapa, hem? Ayo duduk dulu, kalian ceritakan pelan-pelan pada bibi."
Mereka berdua di bawa Tania memasuki ruang keluarga.
"Ayo cerita! Kalian ada apa, tiba-tiba datang menangis seperti ini."
"Bibi, Hiks... Ibu dan ayah..." Iva menceritakan semua yang mereka dengar dan rasakan tentang kedua orang tua kandungnya pada Tania dan Vano.
"Lalu?" tanya Tania tertegun.
"Kenapa ibu tidak ingin memaafkan ayah? Padahal ayah sudah meminta maaf pada ibu." ujar Iva.
Tania dan Vano mencoba memberikan pengertian pada Iva dan Vio tentang kondisi ibu mereka yang masih belum bisa memaafkan kesalahan ayah mereka. Mereka tahu bahwa proses pemulihan dan perdamaian dalam keluarga tidak akan berjalan dengan mudah, terutama ketika ada luka yang mendalam.
Tania mengecup kening Iva dengan penuh kasih sayang, "Sayang... memaafkan kesalahan seseorang yang sudah menyakiti hati kita di masa lalu tidak semudah membalik telapak tangan. Ini bukan tentang ayah kalian sudah meminta maaf kepada ibu dan masalah mereka akan selesai begitu saja, tapi ini tentang hati dan perasaan seorang perempuan sekaligus ibu. Kesalahan yang dibuat ayah kalian 15 tahun lalu masih membekas di hati Ibu kalian, bahkan untuk mengingatnya pun sakitnya masih terasa. Mungkin kalian tidak pernah tahu bagaimana ibu kalian menyimpan itu semua sendirian, tetap tersenyum di depan kalian meskipun hatinya menangis. Dan tetap memperjuangkan kalian untuk hidup sampai sekarang apapun risikonya."
Vano menambahkan, "Dengarkan Ayah baik-baik. Ibu kalian bukan orang yang jahat, suatu saat nanti pasti akan memaafkan kesalahan ayah Regan kalian. Tapi tidak sekarang, karena ibu kalian perlu waktu untuk menyembuhkan sakit hatinya. Mengerti?"
Iva mengangguk mengerti, dia merasa sedikit lega mendengar penjelasan Tania dan Vano. Namun, Vio masih terdiam, terlihat bingung dan penuh pertanyaan dalam benaknya.
__ADS_1
Tania mencoba mengambil peran lebih sebagai seorang ibu. Dia mendekati Vio dan meraih tangannya dengan lembut. "Vio, sayang... Bibi tahu ini sulit untukmu. Tapi Bibi ingin kau tahu bahwa kami semua di sini untukmu. Kami akan mendukungmu dan membantumu melewati masa-masa sulit ini. Jangan ragu untuk bertanya atau berbicara jika ada yang membuatmu bingung atau kesal. Ok?"
Vio menatap Tania dengan matanya yang masih penuh pertanyaan. "Aku hanya sedih kenapa ayah dan ibu kami seperti ini. Setelah mengetahui ceritanya, bahwa awalnya ayah kami meminta ibu untuk tidak meninggalkan kami, sejujurnya aku sangat marah padanya. Aku marah pada ayahku, tapi disisi lain aku ingin seperti anak lain yang hidup bersama ayah kandungnya. Kenapa ibu juga tidak memaafkan ayah?"
Tania mengelus rambut Vio lembut, "Ibu mu adalah manusia, sayang. Dan manusia memiliki perasaan yang rumit. Terkadang, meskipun seseorang sudah minta maaf, luka yang ada dalam hati tidak semudah itu sembuh. Ibu mu perlu waktu untuk merenungkan semuanya dan menemukan cara untuk memaafkan. Ini bukan salah ibu atau ayah kalian, tapi lebih tentang proses pemulihan."
Vio masih belum sepenuhnya mengerti, tetapi dia merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar penjelasan Tania. Kedua saudara berjanji pada Tania dan Vano bahwa mereka akan mencoba memahami perasaan ibu mereka dan tetap mendukung satu sama lain selama proses ini.
Tania dan Vano merasa lega karena telah memberikan pengertian pada kedua keponakannya. Mereka tahu bahwa perjalanan menuju perdamaian dalam keluarga tidak akan mudah, tetapi dengan dukungan dan pengertian satu sama lain, mereka yakin bahwa keluarga mereka akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Tania dan Vano duduk berdua setelah mendengar cerita Iva dan Vio tentang perasaan mereka terhadap ayah kandung mereka, Regan, yang telah lama absen dalam hidup mereka.
Tania merasa sangat bersalah atas semua peristiwa ini, dan dia ingin memberikan dukungan yang terbaik kepada keponakannya. Dengan mata berkaca-kaca, dia memandang Vano, yang telah menjadi ayah sambung Iva dan Vio sejak mereka lahir.
"Tolong maafkan aku, Vano," ucap Tania dengan tulus. "Aku tahu bahwa ini semua sangat sulit bagimu. Kau telah menjadi ayah yang luar biasa bagi Iva dan Vio sejak mereka lahir, dan aku sangat menghargai semua yang telah kau lakukan."
Vano tersenyum lembut, meskipun ada sedikit kesedihan di matanya. "Tidak perlu meminta maaf, Kak Tania. Aku selalu tahu bahwa aku bukan ayah kandung mereka. Tetapi aku mencintai Iva dan Vio seperti anak kandungku sendiri. Kesejahteraan mereka selalu menjadi prioritasku."
Vano tersenyum dan mengangguk, "Aku tahu bahwa saat ini Iva dan Vio merasa campur aduk tentang ayah kandung mereka. Aku selalu menasihati mereka untuk tidak membenci ayah mereka jika mereka bertemu dengannya suatu hari nanti. Karena aku tahu, bahkan jika dia membuat kesalahan, dia tetap ayah mereka."
Tania mengangguk setuju, "Kau benar, Vano. Saatnya mereka memutuskan bagaimana mereka ingin berhubungan dengan ayah kandung mereka. Dan kita akan selalu ada di samping mereka, memberikan dukungan dan cinta."
...***...
Setelah menghabiskan waktu dengan Tania dan Vano, Iva dan Vio merasa sedikit lebih tenang meskipun perasaan mereka masih campur aduk. Mereka kembali ke rumah dengan harapan bahwa suatu hari nanti, ibu mereka akan bisa memaafkan ayah mereka. Mungkin!
Sementara itu, di rumah Regan, suasana masih tegang. Regan sedang duduk sendirian di ruang tamu, merenung tentang langkah-langkah yang harus dia ambil untuk memulihkan hubungan dengan Laura dan anak-anaknya. Dia tahu bahwa perjalanan ini akan memakan waktu, tetapi dia bersedia untuk melakukan apapun yang diperlukan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan Laura kembali masuk. Wajahnya terlihat lelah dan terharu setelah menjemput Iva dan Vio.
"Ibu, maafkan kami sudah marah-marah tadi. Kami berjanji tidak akan seperti itu lagi, dan menurut apa kata ibu." ucap Iva.
Laura mengecup kening kedua anaknya. "Maafkan ibu juga sudah membuat kalian marah."
"Ibu ingin makan apa? Kita berdua akan siapkan makanan untuk ibu." tawar Vio.
"Apa kalian akan memasak untuk ibu?"
"Tidak. Kita akan memesannya." terkekeh Vio.
"Eeiyy... Ibu kira kalian akan memasaknya."
"Haha... Mana bisa kita memasak. Ibu ingin dipesankan apa?"
"Eemm... Ibu pesan..."
Laura tersenyum bahagia melihat perubahan suasana hati Iva dan Vio. Dia sangat senang mendengar permintaan maaf mereka dan merasa terharu oleh tawaran mereka untuk memesan makanan.
"Ibu pesan sushi saja, sayang. Kalian bisa memesannya dari restoran favorit kita," kata Laura dengan senyum yang tulus.
Iva dan Vio mengangguk dengan antusias. Mereka segera mengambil ponsel mereka dan mulai memesan sushi dari restoran tersebut. Sementara itu, Laura duduk di ruang tamu, merenung sejenak tentang semua perubahan yang telah terjadi dalam hidup mereka.
Semua ini masih terasa seperti mimpi baginya. Dia merasa bersyukur telah mendapatkan kembali kedua anaknya dan berharap bahwa keluarga mereka dapat semakin erat dan bahagia ke depannya.
Ketika sushi tiba, mereka semua berkumpul di meja makan, tersenyum dan berbicara dengan gembira. Itu adalah awal yang baik untuk mereka membangun kembali hubungan keluarga mereka.
__ADS_1
Makan malam bersama adalah langkah pertama dalam perjalanan mereka menuju perdamaian dan keselarasan dalam keluarga yang telah lama terpisah. Semoga kebersamaan dan cinta akan selalu membimbing mereka melalui segala rintangan yang mungkin datang.
Dengan perut kenyang dan hati penuh cinta, mereka merasa lebih dekat satu sama lain daripada sebelumnya. Dan dengan tekad yang kuat, mereka siap menghadapi masa depan bersama-sama sebagai keluarga yang utuh.