
Di Perusahaan Luminex Corp
"Laura, sampai kapan kau akan seperti ini padaku? Apa kau tidak akan memaafkan ku selamanya? Aku tahu aku salah. Aku ingin perbaiki semuanya."
"Maaf. Tugas saya sudah selesai. Saya harus pergi."
Laura ingin berbalik, tapi lengannya ditahan Regan.
"Laura, kita harus bicara. Aku tidak bisa seperti ini terus." ucap Regan.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Permisi!" Laura menampis tangan Regan dan pergi.
"Termasuk jika anak-anak menginginkan kita kembali?"
Ucapan Regan berhasil menghentikan langkah Laura. Regan menatap punggung Laura yang menegang.
"Aku yakin mereka tidak akan pernah memaksaku untuk memaafkan mu. Mereka sudah tahu siapa penjahat di sini." ketus Laura.
Regan, yang sudah merasa putus asa dengan situasi ini, tiba-tiba merasakan kegeraman mendalam. Dia menarik Laura yang hendak kembali dan menyudutkannya di dinding. Regan menatap Laura dengan mata yang memancarkan keputusasaan dan penyesalan.
"Laura, aku tidak akan membiarkan ini terus berlanjut," ucap Regan dengan nada tegas. "Kita harus menyelesaikan masalah ini sekarang. Anak-anak tidak harus tahu tentang perselisihan kita, tapi mereka perlu tahu bahwa kedua orang tua mereka mencoba untuk memperbaiki hubungan ini."
Laura terdiam, terjebak dalam tatapan intens Regan. Meskipun hatinya masih penuh dengan kemarahan dan sakit, dia tidak bisa menghindari kenyataan bahwa anak-anak mereka adalah yang terpenting.
Laura semakin marah, dan dia memberontak. Dia menolak tegas, "Aku tidak akan membiarkan diriku diatur olehmu, Regan! Kau telah merusak segalanya dan meninggalkanku dalam kegelapan. Sekarang kau ingin kembali? Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan mu!"
Laura berusaha melepaskan diri dari cengkraman Regan, tetapi Regan masih kuat menahannya di dinding. Mereka berdua berdiri dalam ketegangan, emosi memuncak, dan atmosfer ruangan terasa tegang.
__ADS_1
Regan mencoba untuk meredakan situasi, "Laura, aku tahu aku telah membuat banyak kesalahan, dan aku menyesalinya. Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku ingin memperbaiki masa depan kita bersama-sama. Tolong, berikan aku kesempatan."
Laura menghela nafas dalam-dalam, dan dia merasa konflik ini semakin rumit.
Laura masih penuh amarah, dan dia berteriak pada Regan, "Sampai kapan pun, Regan, aku tidak akan memaafkanmu! Kau telah merusak hidupku dan hidup anak-anak! Kau pikir cukup dengan kata-kata maaf?"
Regan merasa patah semangat mendengar kata-kata tegas Laura. Dia tahu bahwa apa yang telah dia lakukan adalah kesalahan besar, dan mengubah pandangan Laura tentang dirinya akan memerlukan waktu yang sangat lama, jika itu pun mungkin.
Dia mencoba menjelaskan dengan suara yang rendah, "Laura, aku tahu aku tidak bisa menghapus semua kesalahan yang telah aku lakukan. Tapi aku benar-benar menyesalinya. Aku tidak akan pernah berhenti berusaha untuk memperbaiki semuanya, bahkan jika itu memakan waktu bertahun-tahun."
Laura hanya menggelengkan kepala dengan tegas, air mata mengisi matanya. "Kata-katamu tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Regan. Aku akan melindungi anak-anak dan menjaga mereka dari semua masalah yang kau timbulkan."
Laura masih belum bisa meredakan amarahnya. Dengan gerakan tegas, dia berhasil melepaskan diri dari cengkraman Regan dan keluar dari ruangan CEO dengan membanting pintunya. Suara bantingan pintu itu terdengar bergemuruh, mencerminkan ketegangan dan kekesalan yang ada di antara mereka.
Regan tersadar akan dampak tindakannya yang terlalu memaksakan, dan dia merasa bersalah. Dia duduk di singgasana Sean, merenungkan situasi yang semakin rumit ini, dan merasa bahwa perjalanan untuk memperbaiki hubungan mereka akan menjadi sangat sulit.
...***...
"Ibu, hari ini kenapa pulang terlambat? Sibuk sekali, ya, di kantor?" tanya Iva.
"Iya. Bahkan ibu juga tidak menjemput kami." pungkas Vio.
"Iya, maaf. Pekerjaan ibu sangat banyak hari ini. Jadi, ibu harus lembur di kantor." jawab Laura sambil menyantap makanannya.
"Dengan ayah?" tanya Iva.
"Hem! Benar!" jawaban Laura mampu membuat Iva tersenyum senang. Tidak dengan Vio yang mengepal tangan mungilnya yang sedang memegang sendok, ingin sekali menyumpal mulut adiknya itu.
__ADS_1
"Ibu kenapa tidak mencoba memaafkan ayah?" tanya Iva lagi. "Sepertinya ayah sudah sangat menyesali perbuatannya. Beri kesempatan sekali lagi, Bu."
"Apa laki-laki itu yang menyuruhmu berbicara seperti itu pada ibu?" tanya Laura dengan nada dingin.
"Tidak, Bu. Ayah tidak meminta ku untuk mengatakan itu pada ibu. Ini dariku sendiri. Aku hanya ingin ayah dan ibu baikan."
Iva mencoba menjelaskan lebih lanjut, "Ibu, aku hanya merasa bahwa kita semua merindukan keluarga yang utuh. Ayah sangat menyesal dan berusaha untuk memperbaiki semuanya. Bukankah kita bisa memberinya kesempatan?"
Laura melihat mata Iva yang penuh kebaikan dan ketulusan. Hatinya tersentuh, tetapi masih terlalu penuh dengan luka dan keraguan. Dia berbicara dengan lembut, "Iva, sayang, aku tahu kau ingin keluarga yang bahagia. Tapi ini tidak semudah yang kau bayangkan. Kadang-kadang, kesalahan yang telah terjadi terlalu besar untuk diperbaiki."
Vio merasa kesal dan tak bisa menahan emosinya lebih lama. Dia akhirnya membentak dengan suara tegas, "Iva, kau tidak mengerti bagaimana perasaan ibu! Ayah bukanlah orang yang pantas mendapatkan maaf. Menurutku, Ayah kita adalah Ayah Vano, yang selalu ada untuk kita sejak kecil. Aku tidak akan memaafkan kesalahannya sama seperti ibu!"
Kemarahan Vio masih membara, terutama pada adiknya yang tidak sepenuhnya mengerti perasaan ibunya. Dia merasa perlu untuk menjelaskan lebih lanjut, "Iva, kau tidak tahu seperti apa perasaan ibu setiap kali dia menatap wajah pria itu. Itu bukan hanya masalah memaafkan atau tidak, ini tentang luka yang dalam yang sulit untuk disembuhkan oleh ibu."
Iva terdiam, merasa sedikit menyesal atas kata-katanya sebelumnya. Dia bisa merasakan kekuatan dalam perkataan kakaknya dan sekarang lebih memahami perasaan ibu mereka.
Laura mencoba meredakan ketegangan, "Anak-anak, cukup. Kita semua harus memberi waktu pada diri kita sendiri untuk memahami dan menerima kenyataan ini. Apapun yang terjadi, kita harus ingat bahwa kita saling mencintai."
Makan malam mereka berlanjut dalam keheningan yang agak lebih tenang, meskipun perasaan rumit masih menggantung di udara. Laura berharap suatu hari keluarga mereka bisa menemukan jalan untuk sembuh dan merangkul masa depan dengan lebih baik.
"Selesaikan makan malam kalian, lalu kembali ke kamar kalian!" titah Laura.
"Ibuu..." rengek Iva.
"Tugas sekolahmu masih banyak. Selesaikan makannya, lalu kerjakan. Atau Ibu akan menelepon guru mu."
"Baik, Bu." jawab Iva lesu.
__ADS_1
Iva merasa dicueki oleh kakak dan ibunya. Dia merasa terasing dalam perasaan dan pandangannya yang berbeda tentang ayah mereka. Meskipun dia ingin keluarga mereka kembali bersatu, terasa seperti tidak ada yang mendengarkan atau memahaminya.
Saat makan malam berlangsung, Iva memutuskan untuk lebih banyak diam. Dia merenungkan perasaannya sendiri dan berharap suatu hari keluarga mereka bisa menemukan cara untuk mengatasi perpecahan ini tanpa mengabaikan perasaannya yang tulus.