
Sedari tadi, Iva terus mengganggu Lea, mengikuti gadis itu ke mana pun dia pergi. Hubungan antara Iva dan Lea semakin dekat setelah Lea menjenguk Vio di rumah sakit, dan Lea tampaknya tidak terganggu dengan kehadiran Iva.
Lea menghela nafas, sedikit lelah dengan kecerewetan Iva. "Apa kau tidak lelah mengikuti ku sedari tadi? Kau benar-benar tidak bisa diam."
Iva tersenyum manis. "Tidak, selama itu berarti aku bisa bersama denganmu. Kau yakin tidak ingin ikut bersama-sama? Sopirmu belum datang, kan?"
Lea menjawab dengan tenang, "Aku akan menunggu sopirku. Lebih baik kau traktir aku makan di kantin, aku sedang lapar."
Iva mengerutkan keningnya. "Ck, kau ingin memerasku?! Tadi saat istirahat, aku sudah membayar semua makananmu, dan sekarang aku harus membayar lagi."
Lea tersenyum dengan santai. "Ayo saja. Aku tidak suka mendengar keluhanmu. Atau aku mungkin tidak ingin berbicara lagi denganmu."
Iva cemberut kesal, tetapi senyumannya justru membuat Lea semakin senang. Sepertinya Lea menemukan hiburan dalam membuat Iva kesal.
"Tuan Regan! Kau di sini? Ada perlu apa anda kemari? Saya rasa hari ini tidak ada jadwal dari yayasan," tanya Miss Ayuni, wali kelas Iva dan Vio, ketika melihat Regan muncul di sekolah.
"Hari ini memang tidak ada pertemuan resmi. Tapi saya sedang menunggu seseorang," jawab Regan.
Miss Ayuni sedikit terkejut. "Seseorang? Apa dia bekerja di sini?"
Regan mencoba menjelaskan, "Bukan, tapi-"
Saat itulah, Iva muncul dan berlari ke arah Regan. "Ayahh!"
Regan menoleh terlihat putrinya yang berlari ke arahnya.
"Saya kemari untuk menjemput putri saya." tegas Regan.
"Putri?!! Bukankah Tuan Regan mengatakan belum menikah. Tapi kenapa--"
Tak lama, Laura datang menghampiri Regan dan putrinya,
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Laura kepada Iva.
"Ibuu..." Iva mengamati wali kelasnya yang tampak bingung.
__ADS_1
"Maksud Tuan Regan, anda-" Miss Ayuni mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu Guru, ini ibu dan ayah saya," kata Iva, memperkenalkan orang tuanya pada guru mereka.
"Saya Laura. Ibu dari Vio dan Iva. Senang bertemu dengan anda." ucap Laura.
"Halo, nyonya Laura."
"Dan ini ayah ku!" kata Iva dengan bangga.
Regan tersenyum mengangguk, melirik si guru wanita yang menatapnya sedikit terkejut.
"Jadi Tuan Regan, anda-"
"Benar Bu Guru. Dia ayah saya, berarti suami dari Ibu saya, dan itu artinya ayah saya sudah menikah dan memiliki 2 anak. Iya, kan, yah?"
Laura melebarkan matanya terkejut mendengar penjelasan putrinya, sedangkan Regan, tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan tingkah putrinya.
"Ck, kau ini. Ayo kita pulang."
"Jika begitu, kami permisi Miss Ayuni. Kami harus pulang, karena kakak Iva sedang sakit di rumah." kata Laura.
"Silakan."
Setelah berpamitan. Iva menempatkan dirinya di tengah-tengah Laura dan Regan, tangan kanan kirinya dipergunakan menggandeng tangan kedua orang tuanya, meninggalkan guru wanita yang masih menatap ketiganya.
Di Dalam Mobil~
"Kau itu kenapa mengatakan begitu. Gurumu nanti bisa salah paham." ucap Laura pertama kali berbicara.
"Biarkan saja. Aku tidak suka guru itu." jawab Iva.
"Memang kenapa? Miss Ayuni itu cantik." kata Regan.
"Ayah tidak tahu saja. Guru itu selalu membicarakan ayah dengan guru perempuan lainnya." tegas Iva, tidak suka pada Miss Ayuni.
__ADS_1
"Sebegitu populernya ayah di sekolah?" tanya Regan.
"Miss Ayuni selalu menggoda ayah, bahkan setelah ayah pergi pun, Miss Ayuni masih saja memandangi ayah. Sampai-sampai dia berjalan sambil tersenyum. Kan seram, yah."
"Sejak pertama kali ayah ke sekolah, perhatian Miss Ayuni tidak teralihkan dari ayah. Bahkan jika di ruang guru, Miss Ayuni selalu bicara tentang ayah dengan teman-temannya. Seluruh murid dan staff juga tahu jika Miss Ayuni menyukai ayah."
"Lalu, salahnya di mana?"
"Ya jelas salah, ayah!! Miss Ayuni menyukai ayah, dan ayah juga sudah memiliki 2 anak. Yang benar saja. Ck, kecuali jika guru itu tidak memiliki rada malu untuk mendekati ayah."
"Tapi, ayah juga terlihat belum menikah. Kau juga tahu setampan apa ayah ini, wajar saja Miss Ayuni menyukai ayah." ucap Regan.
"Maksud ayah! Ayah ingin menikah jika Miss Ayuni mengajak ayah menikah, seperti itu?"
"Kenapa tidak, jika perempuannya ingin."
Laura yang sedang minum tiba-tiba tersedak. Untung saja mobil Regan berhenti tepat lampu merah.
"Astaga, Laura... hati-hati minumnya! Bagaimana bisa tersedak seperti ini. Jika minum jangan terburu-buru."
Regan membantu membersihkan mulut Laura yang basah dengan tissue, hingga membuat wajah mereka berada sangat dekat sekali. Sampai deheman Iva di kursi penumpang, membuyarkan keduanya.
"A-aku bisa sendiri."
Regan tersenyum, lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Laura.
Iva mencoba memahami situasi yang aneh ini, tetapi Regan dan Laura sama-sama menahan tawa.
"Ibu kenapa? Tiba-tiba tersedak saat ayah mengatakan ingin menikah dengan Miss Ayuni."
Laura berusaha menutupi tersedaknya dengan alasan yang tak masuk akal. "I-Ibu tidak apa. Ha-hanya terkejut tadi ada ku-kucing yang hampir ter-tertabrak di pinggir jalan sana."
"Lalu, kenapa ibu gugup?" tanya Iva terus menggodanya.
"Diamlah!! Jangan banyak bertanya!! Dan kau, fokus pada jalanan dan setir mu saja." tegas Laura pada Regan.
__ADS_1
Regan tersenyum. "Iya, aku fokus pada jalanan."
Ayah dan anak itu seketika bungkam, dan menahan tawanya ketika melihat Laura salah tingkah dengan wajah yang memerah.