
Regan dan Laura terlebih dulu mengantar anak bungsunya ke sekolah, sebelum mereka berangkat ke kantor. Tapi pertengkaran antara ibu dan anak juga tidak berhenti saat mereka berada di dalam mobil. Bukannya memisahkan, Regan malah tersenyum melihat momen ini di depannya.
"Sana!! Cepat turun!!" kata Laura dengan nada terburu-buru saat mobil berhenti di depan gerbang sekolah.
"Ibu mengusirku? Eoh, jahat sekali," ucap Iva dengan sedikit nada melankolis.
"Ibu tidak ada waktu, Iva. Ibu bisa terlambat ke kantor. Cepat turun!!" Laura memperingatkan.
Namun, bukannya cepat mengikuti perintah ibunya, Iva malah sengaja duduk santai masih di dalam mobil.
"Kau ini kenapa dari tadi membuat ibu kesal terus. Cepat sana turun, dan masuk!! Atau ibu potong uang saku mu." ancam Laura.
"Iva bisa minta ayah," sahut Iva dengan senyum nakal, mengedipkan sebelah matanya pada Regan yang sedari tadi hanya diam memerhatikan keduanya dari bangku setirnya. Regan jadi tahu betul betapa mereka berdua sering bertengkar seperti ini.
"Ibu akan sita handphone mu selama 3 bulan!!"
"Iyaa... Ini Iva juga ingin turun."
Setelah Iva berpamitan dan turun dari mobil, tersisa 2 orang dewasa di dalamnya.
"Apa yang kau lihat? Jalankan mobilnya! Aku sudah terlambat," tegas Laura.
"Kau tidak perlu takut kena marah, tidak akan ada yang memarahi mu selagi pergi dengan atasannya," Regan menjawab dengan nada tenang, tersenyum.
"Aku tidak perlu pembelaanmu. Lagipula kau bukan atasan ku!!" Laura membalas dengan nada tegas.
"Aku baru sadar, kau terlihat lebih cantik jika sedang marah seperti ini," kata Regan dengan senyum lembut saat dia memacu mobil menuju perusahaan mereka, mencoba meredakan ketegangan di udara.
...***...
Vio masih belum pulih sepenuhnya dari cedera kakinya dan belum bisa bersekolah. Hari-harinya diisi dengan kehadiran bibinya, Tania, yang dengan penuh kesabaran merawat dan menghiburnya.
Tania duduk di samping Vio di ruang keluarga, membacakan cerita anak-anak untuk menghiburnya. Mereka berdua menikmati momen ini, walaupun Vio masih merasa sedikit frustasi karena tidak bisa bermain atau pergi ke sekolah seperti biasa.
__ADS_1
"Kapan aku bisa sekolah lagi, Bibi?" tanya Vio dengan ekspresi sedih.
Tania menjawab dengan lembut, "Sabar ya, Nak. Kakimu butuh waktu untuk sembuh sepenuhnya. Dokter mengatakan, kau harus istirahat agar cepat sembuh."
Vio mengangguk, meskipun masih merasa rindu teman-temannya di sekolah. Tania mencoba untuk mengalihkan perhatian Vio dengan cerita-cerita yang menarik, dan mereka berdua tertawa riang.
Pulihnya Vio memerlukan waktu, tetapi dengan dukungan dari keluarga dan perhatian dari Tania, dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapinya.
"Apa mereka sudah berangkat?" tanya Vio dengan rasa penasaran.
"Mereka baru saja berangkat. Ingin sarapan sekarang?" Tania menawarkan.
Setelah mendapatkan jawaban dari Vio, Tania pergi ke dapur sebentar dan kembali membawa nampan berisi sarapan. Meskipun Vio awalnya mencoba menolak dengan mengatakan bahwa dia bisa makan sendiri, Tania dengan lembut menyuapinya.
"Bibi, apa tadi Ayah Regan yang mengantar Iva dan ibu?" tanya Vio dengan rasa ingin tahu.
"Iya, Regan yang mengantar adik dan ibumu. Kenapa?" Tania menjawab sambil memberikan sendok berisi makanan pada Vio.
"Apa yang kau harapkan, hum?" Tania bertanya, mencurigai bahwa ada sesuatu yang tidak Vio sampaikan.
"Hanya berharap ibu tidak ingin pergi bersamanya. Aku harap Ayah Vano segera kembali. Agar dia yang bisa menjaga ibu," ungkap Vio dengan perasaan cemas.
Tania menatap Vio yang menunduk. Dia merasa sedih melihat kekhawatiran dan keinginan Vio untuk tidak melihat kedua orangtuanya bersama-sama. Meskipun situasinya rumit, Tania akan selalu berada di samping Vio dan berusaha memberikan dukungan sebanyak yang dia bisa.
Tania merasa penting untuk memberikan pengertian yang baik kepada Vio mengenai perbedaan antara ayah kandung dan ayah sambung. Meskipun situasinya agak rumit karena Regan awalnya tidak mengakui janin yang dikandung Laura, Tania mencoba menjelaskan dengan lembut.
"Vio, pria yang kau anggap ayah sekarang, Vano, adalah ayah sambung mu. Itu artinya, dia mungkin tidak biologis, tetapi dia sangat mencintai dan peduli padamu, Iva, dan ibumu, Laura," Tania mencoba menjelaskan.
Vio mendengarkan dengan serius, mencoba memahami apa yang sedang dijelaskan bibinya.
"Sebelumnya, memang ada masalah dan kebingungan, tetapi seiring berjalannya waktu, Ayahmu Regan telah berusaha untuk menjadi ayah yang baik untuk kalian berdua. Dia telah berubah dan mencintai kalian dengan tulus," tambah Tania.
Vio merenung sejenak, mencerna kata-kata Tania.
__ADS_1
Tania tersenyum. "Vio, Kau adalah anak yang beruntung memiliki dua ayah, ayah kandungmu, Regan, yang akan kembali memperbaiki hubungan, dan ayah sambungmu, Vano, yang selalu ada untukmu."
Namun, Vio menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tapi, bibi, jika bisa aku tidak ingin menjadi anak beruntung yang memiliki dua ayah itu. Sulit bagiku untuk menerimanya!"
Tania merasa simpati pada Vio, memahami bahwa perasaan anak itu tidak bisa diubah dengan kata-kata saja. Dia memeluk Vio dengan lembut, memberikan dukungan dan pengertian, sambil tetap memahami kompleksitas perasaan anak itu.
...***...
Pukul 12 siang, di perusahaan tempat Regan dan Laura, suasana kantor sedang sibuk. Regan, yang merencanakan makan siang bersama dengan Laura, berjalan menuju meja kerja Laura dengan senyum di wajahnya.
"Laura, apa kau siap untuk makan siang?" tanya Regan dengan ramah.
Laura mengangkat kepala dari pekerjaannya dan menatap Regan dengan ekspresi ragu. Dia tidak terlalu senang dengan ide ini.
"Maaf, aku memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Aku tidak memiliki waktu untuk makan siang bersama," tolak Laura dengan nada tegas.
Regan mencoba untuk tetap tenang dan memahami, "Laura, kita bisa mengambil istirahat sejenak. Ini kesempatan untuk berbicara dan berdamai. Aku ingin memperbaiki hubungan kita, dan makan siang bersama bisa menjadi awal yang baik."
Laura masih enggan, "Jangan berpikir ini akan mengubah segalanya."
Regan tersenyum, menghormati keputusan Laura.
"Jika begitu, Ayo!"
Laura hanya menatap tidak jelas pria yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Kau tidak sedang lupa untuk menjemput sekolah putri kita, kan?"
"Putriku!! Aku bisa menjemputnya sendiri."
"Kita berangkat sekarang, sebelum dia pulang lebih dulu."
Regan memasukkan ponsel Laura yang tergeletak di meja ke dalam tas, lalu tangan kanannya mengambil alih dan membawa tas Laura, sedangkan tangan kiri meraih tangan Laura, digenggamnya dan ditariknya lembut untuk bergegas pergi menjemput buah hati mereka.
__ADS_1