
Regan membawa Laura ke Mansionnya. Mereka berdua masuk, dengan Regan yang menggendongnya.
"Kenapa kau membawaku kemari! Turunkan aku!" Laura berteriak sambil mencoba melepaskan diri dari gendongan Regan.
"Di sini akan ada yang merawat mu. Paling tidak, sampai kakimu benar-benar sembuh," ujar Regan dengan tenang, mencoba meredakan ketegangan Laura.
"Tidak. Aku akan pulang. Di rumah ada Naomi dan anak-anak, paling tidak aku tidak sendirian, kan. Jadi, turunkan aku!" Laura tetap bersikeras.
Regan menatap Laura yang bicara tanpa henti, dengan ekspresi yang penuh dengan rasa gemas. Dia mendekatkan wajahnya, sedekat mungkin dengan wajah Laura, membuat Laura terkejut. Dengan refleks, tangan Laura menutup bibir Regan yang jaraknya sudah sangat dekat dengan bibirnya.
"Apa yang kau lakukan? Jauhkan wajahmu!" desis Laura, matanya melebar dan mengerjap beberapa kali.
Regan bukannya menjauhkan wajahnya, melainkan dengan gemasnya menciumi telapak tangan Laura yang masih menutupi bibirnya. Laura terkejut, langsung menarik tangannya dari bibir Regan.
"Kau be--" Laura berusaha bicara, tapi ucapan Laura seketika berhenti ketika mendapat ciuman mendadak di pipinya.
"Berhentilah mengoceh. Atau ciuman akan mendarat cepat di bibirmu, aku akan dengan senang hati melakukannya. Beserta bonus, tentunya," goda Regan dengan senyum nakal.
Laura benar-benar menutup bibirnya rapat-rapat, membuat Regan tersenyum. Demi apapun, Regan sangat gemas melihat bibir wanitanya cemberut tapi tidak berani mengumpat.
"Good girl," bisik Regan sambil tertawa.
Laura dibawa menuju kamar Regan. Ia akan membiarkan Laura istirahat di ranjang berukuran king size itu, yang sudah belasan tahun hanya ditiduri sendirian oleh pemiliknya.
"Ini kamar siapa?" tanya Laura setelah mereka masuk ke dalam sebuah kamar.
__ADS_1
"Kamar kita," jawab Regan dengan senyum penuh arti.
"Apa!!!" Laura terkejut.
Ctak! Laura refleks menyentil bibir Regan dengan keras.
"Akh... kenapa menyentil bibirku, sakit tahu... lebih baik kau cium," kata Regan sambil memprotes.
"Jaga bicaramu!!" Sentak Laura masih kesal.
"Memang apa yang salah? Ini memang kamar kita nanti setelah kita menikah," ujar Regan, mencoba meredakan ketegangan.
Laura melemparkan tatapan tajamnya pada Regan yang masih menggendongnya.
Setelah membiarkan Laura beristirahat, Regan mendapati kedua anaknya yang mendatangi mansionnya setelah pulang dari sekolah yang dijemput oleh Elwin.
"Kalian sudah sampai?" tanya Regan kepada kedua anaknya.
"Di mana Ibu?" tanya Vio dingin.
"Ibu ada di kamar ayah," jawab Regan.
"Aku akan kesana," ujar Vio dan berlari menaiki tangga.
"Hati-hati. Ibu sedang istirahat," kata Regan memberi peringatan.
__ADS_1
Sedangkan Iva mendekati Regan dan bertanya, "Ayah."
"Hum!" Regan mengangguk, memberi izin untuk melanjutkan pertanyaan Iva.
"Sedang apa Ibu di kamar ayah?" tanya Iva dengan rasa ingin tahu.
Regan mengangkat alisnya dengan ekspresi yang naik turun. "Sedang membuatkan kalian adik baru."
"Eeiyy,,, menikah dulu, baru bisa berikan kami adik baru," celetuk Iva dengan polos.
"Pasti secepatnya, doakan ayah," kata Regan kepada putrinya.
"Itu pasti, Ayah. Aku selalu berdoa untuk ayah dan Ibu agar bisa bersatu," kata Iva sambil tersenyum.
"Good girl," puji Regan.
Ceklek!! Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Ibu!!!" seru Vio.
"AAAA... Vio!!" Laura terkejut.
"Ya Ampun!!! Maaf Ibu," kata Vio dengan cepat dan menutup pintu kamar kembali.
Yang benar saja, Vio membuka pintu ketika Laura sedang berganti pakaian, dan dengan tubuhnya yang setengah polos. Untung Vio tidak sampai melihatnya dengan jelas.
__ADS_1