Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 31 - Menuju Keselarasan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Vano mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke Kanada. Sedangkan Regan, merencanakan cara untuk mendekati Laura tanpa menyinggung perasaannya yang masih rapuh. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan anak-anak dan Laura, yang juga sangat berarti baginya.


Saat Vano kembali ke Kanada, Regan berusaha menjadi ayah yang lebih baik untuk anak-anak Laura, memberikan dukungan dan kasih sayang kepada mereka. Dia juga berharap dapat merengkuh hati Laura kembali, dengan sabar dan kesabaran yang sejati.


Regan sekarang berada di rumah sakit untuk membantu merawat Vano. Meskipun Laura masih merasa ragu-ragu, dia melihat perhatian dan kebaikan Regan terhadap Vio. Ini membuka peluang untuk Regan agar berbicara secara lebih terbuka.


"Aw... Aw... Aw..." Vio meringis. Kakinya masih kelu akibat efek dari jatuh dari tangga beberapa hari kemarin yang membuatnya tidak bisa digerakkan.


"Pelan-pelan saja! Jangan paksakan jika memang tidak bisa pakai dua kaki." ucap Regan membantu Vio berjalan.


"Ck, manja!" ketus Iva. Dia cemburu karena perhatian Regan sekarang fokus pada kakaknya.


"Sstt... Kau juga sana, bersihkan dirimu! Bertengkar terus sedari tadi." ucap Laura.


Sudah 1 minggu Vio di rawat di rumah sakit. 2 hari yang lalu demamnya juga sudah turun. Dan hari ini Vio diizinkan untuk pulang, tapi setiap seminggu sekali juga dia haruskan pergi kontrol. Dan selama di rumah sakit, Laura maupun Regan tidak pernah absen menjaga Vio, dan ketika mereka sedang bekerja, akan ada Tania yang menjaganya, meskipun Tania sedikit belum bisa memaafkan Regan, tapi perlahan Tania mulai melihat sisi lain pada Regan.


Berakhirlah mereka di rumah Laura. Regan yang bersikeras mengantarkan mereka pulang, meskipun Laura berulang kali menolak. Selama perjalanan tidak pernah sepi dari perdebatan si kembar, mereka terus saja bertengkar, hingga sampai rumah pun mereka masih tetap beradu mulut. Iva tidak pernah berhenti mengoceh atas sikap manjanya Vio pada Regan, membuat Laura pusing memijit pelipisnya.


Berganti hari. Malam sebelumnya, Tania menginap di rumah Laura untuk membantu menjaga Vio. Kebetulan, suami Tania sedang dalam perjalanan bisnis selama dua hari, sehingga Tania akan menginap selama dua hari di rumah Laura.


"Cepatlah, kau bisa terlambat jika lambat begini," pintanya sambil memandang jam.


"Sebentar, Bu... Ini masih terlalu pagi," Iva merespons dengan menguap.


"Kemarin pun kau mengatidakan seperti itu. Tapi apa? Kau terlambat," Laura menggumamkan ketidaksetujuannya.

__ADS_1


"Iya, iya... Aku habiskan sarapan terlebih dahulu," sahut Iva, mencoba memperbaiki diri sendiri bahwa tidak akan terlambat.


"Kalian ini masih pagi tapi sudah ribut dari tadi," ucap Tania, keluar dari kamar tamu dengan senyum di wajahnya.


"Keponakan kakak yang satu ini sangat sulit diatur," keluh Laura, mencoba untuk meredakan kekesalannya.


Di sela-sela kebersamaan mereka, terdengar suara bel pintu ditekan.


"Biar ibu saja yang membuka pintunya. Kau cepat selesaikan sarapanmu, atau kau naik sendiri naik bus," Laura memperingatkan Iva yang masih duduk di meja makan.


"Iva masih berusaha, Bu. Tolong jangan mengomeli ku terus," kata Iva dengan nada memelas.


Laura membuka pintu sambil masih mengomeli putrinya. Namun, tanpa sadar, pintu sudah terbuka lebar, dan di hadapannya terlihat seorang pria tampan tersenyum.


"Kenapa, hum??" tanya pria itu.


"Ibuu... sepatu Iva di mana??" teriak Iva dari dalam.


Belum sempat Laura menanyakan maksud kedatangan Regan sepagi ini, suara putrinya membuatnya kesal lebih dulu.


"Ck, Anak itu benar-benar..."


Laura meninggalkan Regan begitu saja tanpa memberi tahu maksud kedatangannya. Tidak apa, pria itu bisa langsung masuk tanpa perlu diundang oleh tuan rumah.


"Kau ini sudah besar, tidak bisakah kau mencarinya sendiri. Ibu sedang membukakan pintu untuk tamu, tapi kau malah berteriak seperti itu, apa itu sopan?" Laura menjawab tegas.

__ADS_1


"Lalu, mana tamunya?"


"Oh, tamunya-"


Laura menepuk jidatnya, baru ingat dia meninggalkan tamunya di depan pintu. Ketika berbalik badan, dia dikejutkan oleh tamunya yang sedang bersandar di samping pintu kamar putrinya.


"Eoh... Ayah di sini?" Iva bersorak gembira.


"Kalian meributkan apa, hum??" Regan mencoba mencari tahu tentang kehebohan yang terjadi.


"Uh. Bukan Iva, Ayah! Ibu yang sedari tadi mengomel. Padahal Iva masih sarapan dan Iva hanya bertanya soal sepatu saja," Iva menjelaskan dengan wajah polosnya.


"Kau menyalahkan ibu? Padahal ibu hanya menyuruhmu untuk segera siap-siap. Ibu tidak ingin kau terlambat lagi seperti kemarin karena kau tidak segera bergegas," Laura membalas.


"Ayolah ibu, ini masih terlalu pagi. Iva tidak akan terlambat. Lagipula jam pelajaran pertama juga ada rapat guru, pastinya juga tidak ada pelajaran."


"Kau masih membantah ibu!! Kau ingin mejadi murid nakal, huh?!!" Laura semakin frustrasi.


Laura melipat kedua tangan di depan dada dan menatap putrinya yang memasang wajah memelas lelah beradu mulut dengan ibunya. Si putri kemudian melirik ayahnya yang berdiri di belakang ibunya, tampaknya ingin ikut campur.


"Regan, lebih baik kau ajak mereka berangkat. Daripada rumah ini ambruk karena keributan mereka berdua," saran Tania.


"Aku akan melihat keadaan Vio terlebih dahulu," jawab Regan.


Setelah Regan pergi ke kamar putrinya, Tania melihat ibu dan anak yang masih bersitegang di depannya.

__ADS_1


"Lebih baik kalian cepat bersiap, atau kalian akan semakin terlambat," tegur Tania kepada ibu dan anak tersebut.


__ADS_2