
Bel rumah Laura berbunyi, dan Iva yang berada di dekat pintu membukanya. Saat pintu terbuka, di depannya muncul Naomi, adik Vano yang datang dari Kanada ke Indonesia.
Iva terkejut melihat Naomi. "Oh kau, Bibi Naomi?!"
Namun, sebelum Naomi bisa menjawab, Iva dengan cepat menutup pintu kembali.
BRAK!
Iva berlari setelah menutup pintu, mencoba bersembunyi.
Naomi tampak kesal dan jengkel. "Dasar anak kurang ajar!! Baru 1 bulan saja tidak bertemu, sifatnya tidak berubah. Bukannya dipersilakan masuk, malah pintu ditutup lagi dan dibiarkan di luar begitu saja. Mana anak itu sekarang?! Perlu diberi pelajaran!"
Laura baru menuruni anak tangga dan melihat kedatangan Naomi yang tiba-tiba. "Naomi, kau kemari? Kenapa tidak memberi kabar? Aku bisa menjemput-"
"Ke mana anak kurang ajar itu?" tanya Naomi, tidak fokus pada pertanyaan Laura.
Laura bingung, "Anak kurang ajar siapa maksudmu, Naomi?"
Naomi dengan tegas memanggil Iva dengan teriak, "Iva!!!"
Di dapur, Iva bersembunyi di kolong meja makan, ketakutan oleh kemarahan Naomi.
__ADS_1
"Mati kau, Iva!!" gumam Iva dengan rasa takut.
Naomi yang semakin kesal dan mencari Iva di sekitar rumah.
Setelah beberapa saat berlalu, Iva memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan menyapa Naomi seolah tidak ada yang terjadi. Ia ingin mencoba mencairkan suasana.
"Eh, Bibi Naomi, kapan datang?" tanya Iva, berani keluar dari dapur setelah Naomi tampaknya meredakan kemarahannya.
"Kesini kau anak nakal!" kata Naomi sambil masih merengekkan ketidaknyamanannya pada telinganya Iva.
"E... e... Aduhh... Sakit Bibi, Aduh. Ibu, telinga Iva sakit, aduh. Bibi, ampun. Aduhh..."
"Biarkan saja telingamu lepas. Dasar anak kurang ajar. Bisa-bisanya kau menutup kembali pintunya tanpa mempersilakan masuk. Hem, kesini kau anak nakal!"
"Ck, alasan saja!"
Iva menatap tajam Naomi sambil mengusap-usap telinganya yang memerah karena jeweran bibinya cukup keras.
Laura hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Iva dan Naomi bertengkar, bahkan ketika mereka berada di Kanada, pertengkaran seperti ini adalah pemandangan yang biasa.
"Kalian ini selalu saja bertengkar saat bertemu. Dari dulu kesannya saudara kembar itu bukanlah Iva dan Vio, melainkan Naomi dan Iva," canda Laura.
__ADS_1
"Aku mana ingin memiliki kakak seperti Bibi Naomi," keluh Iva.
"Dih... Aku memiliki keponakan seperti mu saja rasanya tidak ingin. Coba saja bertanya pada kakak mu, dia juga pasti tidak ingin memiliki saudara kembar nakal seperti mu. Makanya dia memilih diam dibandingkan bertengkar dengan mu," jawab Naomi.
"Naomi, kau tiba-tiba kemari tanpa memberi kabar?" tanya Laura.
"Aku sengaja mengambil cuti untuk menemui mu ke sini. Aku merindukan keponakan ku. Kecuali bocah ini!"
"Aku juga tidak merindukan, bibi."
"Kau tidak merindukan ku?! Baiklah, aku akan memberikan semua oleh-olehnya pada Vio saja jika begitu."
"Tidak!! Oleh-oleh itu tetap milikku. Bibi tidak bisa menariknya lagi, atau bibi akan bisulan jika menarik kembali barang yang akan diberikan pada orang lain."
"Kalian berhentilah berdebat. Naomi, bawa barang-barangmu ke kamar tamu. Iva, kau bantu bibimu!"
"Baiklah. Aku akan menemui keponakan ku yang satunya terlebih dahulu, aku sangat merindukannya. Iva, tolong kau bawakan barang-barangku ke kamar, ya!"
"Ck, kenapa tidak membawanya sendiri. Iva kan lelah dari tadi disuruh-suruh."
"Kerjakan saja! Mungkin kau akan mendapatkan tambahan oleh-oleh nanti," goda Laura.
__ADS_1
Dengan raut wajah masam, Iva menyeret paksa koper dan beberapa tas barang Naomi ke kamar tamu, mungkin harapannya bisa mendapatkan lebih banyak oleh-oleh.