
"Kenapa wajahmu seperti itu? Kemasukan lalat, aku tidak tanggung jawab." ucap Mila.
Kiran masih menatap kosong kepergian 4 orang tadi.
"Tadi... Tuan Regan... Laura... Dan satu kurcaci itu."
Mila, mulai mengerti maksud Kiran.
"Seperti yang kau lihat, anak tadi adalah anak kandung Tuan Regan dan Nona Laura. Sebenarnya mereka memiliki anak kembar, hanya saja yang datang anak perempuannya saja."
Kiran terkejut, "A-Apaa!! Kau tidak sedang bercanda??"
"Untuk apa aku bercanda mengenai Tuan Regan. Jika kau tidak percaya, kau tanyakan saja sendiri pada orangnya, sudah ya aku pergi... Cepat bereskan barangmu, sudah jamnya pulang." ucap Mila, meninggalkan Kiran yang masih termangu dalam kebingungannya.
...***...
Setelah berjalan-jalan bertiga sepanjang siang, Regan akhirnya mengantarkan Laura dan Iva ke rumah menjelang malam. Iva sangat senang dengan hari yang menyenangkan itu, tetapi juga merasa sangat lelah setelah seharian berkeliling.
Malam mulai turun ketika mereka tiba di depan pintu rumah. Iva, yang sudah tertidur di jok belakang mobil, dengan lembut digendong oleh Regan ke pelukannya. Iva terbangun sedikit, masih setengah sadar.
"Ayah... aku... lelah..."
Regan tersenyum pada putrinya yang mengantuk. "Sudah, sayang. Ayah akan membawamu ke tempat tidur sekarang."
Laura mengikuti dari belakang, senyuman lembut terukir di wajahnya melihat kedekatan antara Iva dan Regan.
Setelah meletakkan Iva di kamarnya dan menutup pintu dengan lembut, Regan kembali ke ruang tamu. Laura sudah menunggu dengan segelas air hangat untuknya.
"Kau pasti lelah setelah seharian seperti ini." kata Laura.
Regan menerima segelas air hangat dari Laura dan duduk di sampingnya di sofa.
"Ya, tapi hari ini sangat berarti bagiku. Aku senang bisa menghabiskan waktu dengan kalian berdua."
Laura tersenyum penuh pengertian. Mereka duduk bersama, merasakan kedamaian yang hadir di antara mereka. Regan meraih tangan Laura dengan lembut dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Terima kasih, Laura, karena telah membiarkan Iva dan aku menjadi bagian dari hidupmu."
Secara mendadak, datang Iva yang menghampiri kebersamaan mereka. Baru saja Iva dipindahkan ke tempat tidur, namun ia terbangun karena rasa kantuknya malah hilang.
"Huft... Untung saja ayah belum pulang. Jika langsung pulang, pupus sudah harapanku."
Iva menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Iva, kenapa kau terbangun?" tanya Laura.
"Hyaaa!!! Pegal sekali rasanya." ucap Iva, tidak merespon pertanyaan ibunya.
"Jika begitu, segera bersihkan tubuhmu!" titah Laura.
"Ayah akan pulang?" lontar Iva demikian.
Regan mendudukkan bokongnya di sebelah Iva.
"Memang kenapa, hum?"
"Ayah tidak ingin menginap? Besok kan hari libur."
Iva memandang ibunya, "Boleh kan, ibu?"
"Kau tahu, kita sudah tidak ada kamar. Kamar tamu juga sudah dipakai Bibi mu."
"Aku bisa tidur dengan anak-anak." usul Regan.
Dan keduanya menatap Laura penuh harap.
"Kalian akan menganggu Vio, dia sudah tertidur. Bagaimana jika dia terbangun dan melihatmu ada di sana?"
"Aku akan mengatasinya. Tidak akan membuat keributan sampai membangunkan putraku."
Cukup lama Laura berpikir dengan dirinya sendiri, namun karena Iva memohon padanya, Dia harus menyetujui permintaan putrinya dengan membiarkan Regan menginap.
__ADS_1
.
.
.
Regan keluar dari kamar anaknya saat waktu akan menjelang larut malam, niatnya ingin mengambil minum di dapur, tapi setelah sampai menuruni tangga langkahnya terhenti, dan berbelok arah ke ruang tengah.
"Kenapa belum tidur?" tanya Regan pada Laura yang masih duduk di sofa.
Laura sedikit terlonjak dengan kedatangan Regan tiba-tiba, lalu menfokuskan kembali pandangannya pada TV.
"Aku menunggu Naomi pulang. Anak-anak sudah tidur?"
"Sudah."
Regan memposisikan diri duduk di samping Laura, membuat Laura meliriknya sekilas.
Keduanya sama-sama bungkam. Laura fokus pada layar televisi, sedangkan Regan lebih memilih memperhatikan wanita di sampingnya.
Hingga Regan merasakan berat sebelah bahunya, ketika menoleh, Laura sudah tertidur di bahunya dengan bantal sofa di pelukannya. Sudut bibirnya tersenyum, mengelus rambut Laura, dan mengusap lembut pipi putih itu.
Regan mengangkat tubuh mungil Laura, bertepatan dengan pintu rumah yang terbuka.
Ceklek!
"Astaga!! Kenapa dengan Laura?" tanya Naomi yang baru memasuki rumah.
"Dia hanya ketiduran karena menunggumu pulang. Aku akan memindahkannya ke kamar."
"Agh, Baiklah. Hati-hati. Jangan sampai kau terjatuh ketika menaiki tangga."
Ucapan Naomi membuat Regan menganggukkan kepala.
Regan meletakkan Laura di ranjangnya, menyelimutinya sampai batas dada.
__ADS_1
Regan tidak langsung pergi dari kamar Laura. Kesempatan ini dia gunakan untuk memandang wajah wanita lamanya. Tidak hanya elusan lembut di kepalanya, tapi beberapa kali Regan memberikan kecupan di pipi dan kening Laura.
"Sebentar lagi, aku akan menikahi mu, membuatmu dan anak-anak hidup bahagia bersamaku. Setelah ini, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu ataupun meninggalkanmu. Aku mencintaimu."