Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 37 - Efek Kepergian Selama Bertahun-tahun


__ADS_3

Regan dan Laura telah mengantar kedua anak mereka, Vio dan Iva, ke sekolah pada hari pertama setelah Vio pulih dari sakitnya. Semua terasa normal, dan suasana ceria pagi itu memberikan semangat baru bagi Vio.


Tepukan pelan dari Lea memecah lamunan Vio, dan dia tersenyum melihat teman sekelasnya.


"Hai, Vio. Sudah sembuh?" tanya Lea dengan simpati.


"Seperti yang kau lihat. Kau ingin ke kelas? Ayo kita pergi bersama-sama," kata Vio, mengulurkan tangannya.


Lea dengan senang hati menerima tawaran Vio dan menggandeng tangannya. Mereka berdua berjalan menuju kelas dengan gembira.


Namun, tanpa sepengetahuan keduanya, Iva sedang mengawasi interaksi mereka dari kejauhan, dan ekspresinya penuh kekesalan.


"Main tinggal saja. Rupanya ingin bertemu Lea, ya," kata Iva dengan nada kesal, berpikir bahwa Vio sengaja mendekati Lea.


Iva, meskipun kesal dengan kedekatan Vio dan Lea, tahu bahwa dia harus berpikir dengan matang sebelum bertindak. Dia tidak ingin membuat masalah di hari pertama sekolah setelah Vio pulih dari sakit.


Iva memutuskan untuk mencari teman-teman sekelasnya yang lain dan tidak melibatkan dirinya dalam urusan kakaknya. Sambil berjalan ke arah kelas, dia memikirkan cara untuk menarik perhatian teman-temannya dan merasa lebih spesial.


Sementara itu, Vio dan Lea tiba di depan kelas mereka dengan senyum ceria. Mereka bersiap untuk memulai hari sekolah dengan semangat tinggi.


...***...


Di ruangannya, Laura disibukkan dengan berkas-berkas yang menumpuk. Dia bahkan melewati jam makan siang. Urusan kedua anaknya, sudah diserahkan pada Naomi untuk menjemputnya. Dan seharian ini pula, selama di perusahaan Laura tidak bertemu Regan. Mungkin saja pria itu juga sibuk dengan berkas-berkasnya. Hingga tiba-tiba Mila memasuki ruangannya dengan tidak santai.


BRAK!


"Nona Laura!!" panggil Mila mengejutkan Laura.

__ADS_1


"Kenapa Mila? Ada apa? Kenapa kau panik seperti itu?"


"Tuan muda Regan Pingsan!!"


"A-apa?? Di-di mana dia sekarang? Kita kesana sekarang."


"Di ruangannya-" Belum sempat Mila menyelesaikan bicaranya, Laura sudah berlari keluar ruangan.


Kini keduanya berlari menyusuri koridor menuju ruang utama.


"Tuan Elwin sudah memanggil dokter pribadi Tuan Muda. Nona tidak perlu khawatir."


"Lebih cepat sedikit, Mila!"


"Nona!! Aku lelah, hah... hah... hah... Kenapa kita tidak naik lift saja?!"


Saat sampai di depan ruangan Regan, Laura membuka kasar pintu ruangan utama. Membuat beberapa orang di dalamnya terkejut.


"Regan!" panggil Laura mencari keberadaan Regan.


"Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Laura pada Elwin.


"Dokter sedang menangani Tuan, Nona!" jawab Elwin.


Tak berselang lama, Dokter keluar dari kamar yang tersedia dalam ruangan Sean bekerja itu.


"Seperti yang saya katakan, jika Tuan Regan terlalu kelelahan. Kondisinya akan semakin menurun. Dan lagi, Tuan Regan tidak boleh banyak pikiran untuk saat ini." kata Dokter.

__ADS_1


Dan berkata kembali, "Tolong jaga Tuan Regan. Obatnya tidak boleh terlambat diminum. Dan lagi, jangan biarkan Tuan Regan sendirian, itu akan membuat pikiran tidak fokus ke mana-mana, dan akan semakin mengganggu kesehatannya."


"Kami akan menjaganya dengan baik. Terima kasih, Dokter!"


"Jika begitu, Saya permisi." Dokter keluar ruangan dan diikuti Paman Baran untuk mengantar kepergiannya.


Sedangkan di dalam, Elwin menatap Laura yang sedari tadi menatapnya penuh tanda tanya.


"Ingin masuk?" tanya Elwin diambang pintu kamar.


Laura mengangguk, dan Elwin mengantar Laura memasuki kamar pribadi.


Di dalam kamar, terlihat Regan terbaring dengan wajahnya yang pucat. Laura dan Elwin sama-sama menatap sendu. Entah apa yang dipikirkan Laura, hatinya sakit melihat keadaan Regan yang lemah.


"Sejak kapan dia seperti ini? Bukankah dulu dia tidak memiliki riwayat sakit apapun?" tanya Laura.


"2 tahun setelah kepergian mu tanpa kabar, hidupnya berantakan. Dia jadi jarang tidur, makan, bahkan untuk menjaga atau merawat dirinya sendiri pun dia tidak peduli. Dan 5 tahun belakangan ini kondisinya semakin lemah. Dia terlalu gila bekerja, dan sebagian besar waktunya dia gunakan untuk mencari mu serta anaknya. Regan sering bermimpi buruk tentangmu. Bahkan di setiap mimpinya dia selalu memanggil namamu. Dan setiap dirinya bermimpi buruk, sesaat kemudian kondisinya akan menurun, seperti yang kau lihat sekarang."


Laura seketika langsung menatap Elwin, terkejut dengan apa yang Elwin jelaskan padanya.


Laura mendengar penjelasan Elwin dengan wajah yang penuh perasaan campur aduk. Sedih, bersalah, dan juga khawatir. Dia tidak pernah membayangkan bahwa kepergiannya dari kehidupan Regan akan memberikan dampak begitu besar pada pria itu.


Elwin mendekati Laura dengan sikap yang penuh empati. "Nona Laura, janganlah begitu. Ini bukan salah Nona. Regan selalu mencari Nona dan anak-anak, itu yang membuatnya terlalu stres. Bagi Regan, Nona dan anak-anak adalah segalanya."


Laura menatap Regan yang masih terbaring lemah.


Elwin mengangguk mengerti. "Tuan Regan pasti akan sangat senang melihat Nona di sini dan mengkhawatirkannya."

__ADS_1


Mereka berdua duduk di sekitar tempat tidur Regan, menunggu kesadarannya kembali.


__ADS_2