Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 24 - Ingin Ikut Ayah?!


__ADS_3

Di perusahaan RVenture Corp, Regan merasa kelelahan dan terbebani oleh pekerjaan dan kehidupannya yang rumit. Dia tahu bahwa dia harus menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan keluarganya, terutama setelah semua yang terjadi belakangan ini.


"Regan, aku minta kau tanda tangani berkas ini. Jangan lupa juga besok pagi-pagi sekali kita ada rapat."


"Hem... aku tidak lupa. Sebentar lagi aku akan pulang. Kepalaku pusing."


"Istirahatlah! Kau terlihat sedang banyak pikiran. Seharusnya tadi setelah dari sekolah anakmu, kau tidak kembali ke kantor."


Setelah selesai urusan berkas, Regan berdiri dari duduknya.


"Aku pergi dulu." pamit Regan pada Elwin.


"Baik. Hati-hati, Regan!" kata Elwin, mengkhawatirkan kondisi Regan yang terlihat sangat lelah.


Sementara itu, di Luminex Corp, Sean memberitahu Hadwin tentang perjalanannya ke Amerika dan memintanya untuk membantunya mengurus bisnisnya di sana.


"Hadwin!" panggil Sean.


"Iya. Ada apa, Tuan? Anda membutuhkan bantuan?"


"Lusa aku akan ke Amerika selama beberapa bulan. Aku butuh kau untuk membantu ku di sana sementara waktu, karena Regan tidak bisa menemaniku. Apa kau bisa?" jelas Sean.


Hadwin mengangguk tulus, "Saya akan membantu Anda, Tuan. Tapi bagaimana dengan semua yang di sini? Siapa yang akan mengurusnya?"


Sean menjelaskan, "Semua urusan di sini akan diurus oleh Regan sementara waktu. Dia akan melihat segalanya dengan baik."


Setelah berbicara sebentar lagi, Sean berpamitan, "Baiklah, saya harus pergi sekarang."


Hadwin menjawab, "Saya akan menyelesaikan sebagian berkas yang lain."


Sean berjalan keluar, memikirkan perjalanan ke Amerika yang akan datang. Di sisi lain, Hadwin siap membantu Sean mengurus bisnisnya, dan Regan harus menghadapi tanggung jawab di RVenture Corp serta masalah pribadinya. Semua dari mereka memiliki tantangan yang berbeda dalam hidup ini.

__ADS_1


Perjalanan hidup mereka akan terus berlanjut, penuh dengan perubahan dan perjuangan, tetapi mereka akan berusaha untuk menghadapinya dengan tekad dan dukungan satu sama lain.


Mereka adalah bagian dari sebuah kisah yang tak pernah berhenti, dan setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat ke arah yang mereka inginkan.


...***...


Dokter duduk di dekat Regan, menyampaikan hasil pemeriksaannya dengan lembut pada Sean. "Saya sudah meninjau hasil pemeriksaan Tuan Regan. Secara fisik, dia tidak memiliki masalah serius. Namun, saya melihat tanda-tanda kelelahan yang cukup besar."


Sean merasa sedikit lega mendengar bahwa tidak ada masalah serius dengan kesehatannya. Namun, dia masih merasa tertekan oleh semua masalah yang dia hadapi.


"Semoga saja dia ingin mendengarkan. Dia sangat keras kepala sekali."


Dokter melanjutkan, "Saya tahu bahwa beliau memiliki banyak pikiran dan tekanan dari berbagai aspek kehidupan, terutama dengan situasi keluarganya. Beliau harus mengambil istirahat. Kesehatan mentalnya juga sangat penting. Kondisinya saat ini sangat lemah. Jika Tuan Regan tidak dapat menjaga kesehatannya, bisa dipastikan kondisi Tuan Regan akan semakin memburuk."


Sean mencoba memberikan dukungan pada adiknya, "Regan, dengarkan perkataan dokter. Kau memang keras kepala, tetapi kesehatanmu dan kesejahteraanmu lebih penting."


Regan menarik napas dalam-dalam, akhirnya mengerti bahwa dia harus meresapi saran dokter dan memprioritaskan kesehatannya. "Baiklah, aku akan mencoba untuk istirahat. Terima kasih, dokter."


Setelah berkonsultasi dengan dokter, Regan akhirnya bersedia untuk mengambil istirahat sementara waktu. Dia tahu bahwa dia harus meresapi saran dokter dan mencoba meredakan beban yang selama ini dia rasakan.


"Saya akan memberikan suntikan vitamin. Agar Tuan Regan badannya tidak terlalu lemas. Apa resep yang saya minta sudah ada?" tanya balik Dokter.


"Asisten saya sudah membawanya, dan dia sedang dalam perjalanan kemari." jawab Sean.


"Baiklah. Minumkan kepada Tuan Regan sesuai aturan petunjuk. Jika begitu, saya permisi." pamit Dokter.


"Saya antar sampai depan." ucap Sean, berjalan di belakang Dokter.


"Terima kasih."


Sean berharap dengan segala dukungan yang dia berikan, adiknya akan segera pulih dan menghadapi masa depan yang lebih baik. Hidup mereka mungkin penuh dengan tantangan, tetapi mereka akan melewati semuanya bersama-sama, sebagai keluarga yang kuat.

__ADS_1


...***...


Beberapa hari kemudian...


"Kenapa ayah tidak menemui kita, ya, beberapa hari ini?" tanya Iva, melihat ke arah gerbang.


"Mungkin ayah sibuk." jawab Vio.


"Atau ayah sudah tidak ingin lagi menemui kita karena ibu?"


"Kau ini bicara apa sih?"


"Aku rindu ayah. Tapi nomornya saja kita tidak ada. Huaaa.... Bagaimana ini?" rengek Iva.


"Kecilkan suaramu! Membuat malu saja!" hardik Vio pada adiknya.


"Ck, tapi aku benar-benar..." terpotong.


"Merindukan ayah?" bicara seseorang melanjutkan dari belakang.


Keduanya sama-sama menoleh.


"Ayah!!" Iva segera berlari menghambur ke pelukan Ayahnya.


"Ya Tuhan... Apa putri ayah benar-benar serindu itu?"


"Sangat, sangat, sangat, sangat rindu ayah! Rindu sekali!!"


Regan terkekeh. Lalu, menarik Vio juga ke dalam dekapannya yang bersama Iva, yang sedari tadi hanya diam saja.


"Ingin ikut ayah?"

__ADS_1


Keduanya saling pandang. Ikut ke mana maksud ayahnya?!


__ADS_2