Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 25 - Berkas dan Kejutan


__ADS_3

"Whooaaa... Ini rumah ayah? Bahkan lebih besar dari rumah milik ayah Vano." ucap Iva terkagum-kagum.


Regan hanya tersenyum melihat reaksi anak bungsunya.


"Ayah tinggal sendiri?" tanya Iva.


"Ayah tinggal berdua dengan kakak. Tapi, terkadang sering ditinggal ke Amerika."


"Ayah! Iva boleh, kan, main ke rumah ayah lagi?"


"Tentu saja. Sering-seringlah main kemari. Meski tidak ada ayah, kalian bisa kemari. Nanti ayah akan mengatakan pada paman Baran dan bibi Rieta, kalian adalah anak-anak ayah."


"Siapa mereka ayah?" tanya Iva dengan wajah polosnya.


"Paman Baran adalah kepala keamanan dan Bibi Rieta kepala maid di sini. Jika kalian membutuhkan sesuatu, minta saja pada mereka."


Dari arah pintu masuk, terdengar seseorang memasuki Mansion, yang tanpa disadari oleh ketiganya di ruang tengah.


"Regan, aku sudah mengurus sebagian ber-" ucap Sean terpotong karena menyadari kehadiran keponakannya "Oh! Kalian di sini?"


"Paman Sean?" pekik Iva terkejut.


"Apa yang membawa keponakan paman kemari, hum?"

__ADS_1


"Keponakan?!"


"Dia, kakak Ayah. Sean!"


"Oow... Benarkah?! Kak, sepertinya aku tahu kenapa kau bisa tampan." ucap Iva membuat bingung semua orang.


"Kenapa?" tanya Vio.


"Lihat saja, gen keluarga ayah saja visualnya luar biasa, apalagi dicampur gen ibu. Pantas saja kita jadi seperti ini. Wah, Luar biasa!" ucap Iva tidak hentinya terkagum-kagum.


Pernyataan Iva berhasil membuat kedua orang dewasa di depannya terbahak, sedangkan Vio hanya mendengus kesal. Dia kurang percaya diri untuk mengakuinya.


Saat itulah Regan memutuskan untuk membawa kedua anaknya ke mansionnya. Mungkin ini saat yang tepat untuk lebih mendekatkan hubungan mereka sebagai keluarga dan menghabiskan waktu bersama. Mereka berdua terlihat senang dan bersemangat untuk menjelajahi rumah besar ayah mereka. Selain itu, momen kebahagiaan ini juga membantu Regan merasa lebih dekat dengan anak-anaknya setelah semua yang telah terjadi.


...***...


"Nona Laura! Rapat hari ini diadakan pukul 10. Saya sudah meletakkan berkas bahan rapat nanti di meja nona untuk di cek." ucap Mila. Laura menerima berkas dari seorang rekan kerjanya dari divisi penelitian.


"Terima kasih, Mila. Aku akan memeriksanya. Dan untuk adik dari Tuan Sean, apa dia sudah di ruangannya?" tanya Laura.


"Oh, Tuan muda belum datang. Dia biasanya akan datang 30 menit sebelum rapat." jawab Mila.


"Baiklah, Mila, terima kasih. Nanti kau kabari aku jika adik Tuan Sean sudah datang, ya. Aku akan ke ruangan ku." titah Laura.

__ADS_1


Sedangkan di lobby, seseorang memasuki gedung dengan didampingi beberapa bodyguard di belakangnya. Menerima sapaan dan penghormatan dari para pekerja. Regan, memasuki lift menuju ruangan utama gedung di lantai 40.


Saat sampai di ruangannya, Regan meraih gagang telepon dan menelepon seseorang.


"Tolong kau bawa berkas yang saya minta kemarin ke ruangan saya!" titah Regan dalam telepon.


Di ruangan Laura...


Mila kembali mengetuk pintu ruangan Laura.


"Masuk!" teriak Laura dari dalam.


"Nona! Apa berkasnya sudah selesai? Tuan muda ingin berkasnya dibawa ke ruangannya." kata Mila.


"Ini masih ku periksa. Biar aku antarkan jika sudah selesai." ucap Laura masih berkutat dengan berkasnya.


"Baiklah jika Nona Laura yang akan mengantarkannya. Saya akan menyiapkan berkas lain untuk rapat nanti. Permisi." pamit Mila setelahnya.


Setelah berkas itu selesai Laura cek, Laura tergesa-gesa menaiki lift menuju lantai 40. Tidak ingin atasannya menunggu terlalu lama, karena dalam 15 menit lagi rapat akan di mulai.


Sampailah Laura di depan ruangan CEO, dia menarik nafas dalam sebelum mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Laura memasuki ruangan setelah ada jawaban dari dalam dan dilihatnya seorang pria sedang berdiri di pojokan jendela kaca dengan telepon genggam di tangannya.


"Tuan, ini berkas yang anda minta!"


__ADS_2