Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 40 - Merawat Luka


__ADS_3

"Selamat pagi, Tuan Muda!" sapa Mila saat memasuki ruangan Regan.


"Pagi. Apakah Laura sudah datang?"


"Sepertinya belum, Tuan. Mungkin sebentar lagi."


"Jika sudah datang, beritahu dia untuk segera ke ruangan ku!"


"Baik, Tuan Muda."


Dari parkiran menuju lobby dan lorong-lorong yang sepi, Laura berlarian terburu-buru, tanpa memedulikan bahwa ia memakai sepatu hak tinggi. Yang terpenting sekarang adalah dia harus sampai ke ruangannya lebih dulu. Dia terlambat.


Di persimpangan lorong menuju ruangannya, Laura bertemu dengan Mila yang membawa secangkir teh.


"Nona Laura! Kenapa kau-"


"Berikan minum dulu."


Laura memotong perkataan Mila dengan nafas tersendat-sendat, belum mendapatkan jawaban dari pemiliknya. Laura langsung menyambar gelas di tangan Mila dan meneguknya sampai habis.


"Nona, kau terlambat 1 jam 20 menit. Kau-"


"Maafkan aku, Mila. Mobilku tiba-tiba ban nya kempes, dan aku harus menunggu orang bengkel untuk memperbaikinya. Selain itu, mencari taksi juga sangat sulit di jam kerja begini. Aku sungguh minta maaf."


"Kenapa kau tidak menelpon ku? Aku bisa menjemputmu tadi, daripada kau menunggu taksi."


"Maafkan aku, Mila, aku tidak terpikir untuk menelpon mu."


"Ck, kau ini. Oh iya, tuan muda mencari mu, sebaiknya kau segera ke ruangannya. Aku rasa dia menunggumu."

__ADS_1


"Apa yang dia cari padaku? Dan kenapa dia di sini? Bukankah hari ini tidak ada rapat? Dan bukankah seharusnya dia di perusahaannya sendiri?"


"Jangan tanyakan padaku. Aku tidak memiliki jawaban untukmu. Lebih baik kau segera pergi, dia sudah menunggumu sangat lama, dan kau juga terlambat tidak sebentar."


"Baiklah, aku akan ke sana. Terima kasih untuk tehnya."


Ruangan CEO berada...


Tok! Tok! Tok!


"Tuan memanggil saya?"


"Kau terlambat."


"Maafkan saya, Tuan. Tadi ada sedikit masalah di perjalanan."


"Laura, duduklah!"


Laura menurut, duduk di sofa berhadapan dengan Regan. Sebenarnya, dia juga merasa sangat lelah karena berlari dari tempat mobilnya berhenti sampai ke kantor.


Ketika Laura sudah duduk, Regan berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam kotak, lalu berjalan mendekati Laura. Laura terkejut saat Regan tiba-tiba berlutut di depannya.


"Tu-tuan. A-apa yang kau lakukan?"


"Lebih baik kau diam saja."


Laura segera berdiri dari duduknya, sementara Regan masih berlutut di depannya.


"Tidak, Tuan. Lebih baik kau berdiri."

__ADS_1


"Apa kau akan membiarkan kakimu memar dan lecet seperti ini? Ini akan semakin parah jika didiamkan."


Laura terkejut, lalu melihat kakinya yang terasa perih. Benar saja, kakinya sudah lecet dan ada sedikit memar.


Regan berdiri, memegang kedua pundak Laura, dan menuntunnya untuk duduk kembali.


"Lebih baik kau diam dan duduk dengan baik. Kali ini, patuhilah aku. Aku tidak ingin kau mendapat masalah."


Laura diam, dan menuruti perkataan Regan. Laura memperhatikan saat Regan melepas sepatu haknya, dan sedikit meringis ketika Regan mengoleskan sesuatu pada luka di kakinya.


"Selesai."


Regan menengadahkan kepalanya, bertatapan dengan Laura yang menatapnya. Dengan Laura yang duduk di sofa dan Regan yang masih berlutut di depannya.


Regan menyentuh lembut kaki Laura yang terluka, membuat Laura merasa tidak nyaman. Namun, saat mereka saling pandang, ada ekspresi lembut dan perhatian di wajah Regan yang membuat Laura merasa aneh.


"Duduklah dengan baik, Laura. Aku tidak ingin melihatmu menderita," kata Regan dengan suara lembut.


Laura menelan ludah, masih terkejut oleh tindakan Regan yang begitu peduli padanya. Dia kemudian menuruti perintah Regan dan duduk dengan hati-hati di sofa. Pemandangan ini sangat tidak biasa, mengingat hubungan mereka seharusnya lebih formal.


Regan kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari meja dan membukanya. Di dalamnya terdapat perban dan obat-obatan kecil. Dia mulai merawat luka lecet di kaki Laura dengan cermat. Tangan Regan yang kuat menjadi begitu lembut saat merawat Laura, membuatnya semakin bingung.


"Terima kasih, Tuan," ucap Laura dengan suara pelan, seakan-akan merasa seperti dalam mimpi.


Regan tersenyum kepadanya. "Kita seharusnya merawat satu sama lain, Laura. Ayo, pastikan untuk memberi tahu jika kaki ini masih terasa sakit."


Mereka berdua duduk di ruangan itu dalam keheningan yang nyaman setelah perawatan selesai. Ini adalah momen yang sangat tidak biasa dalam hubungan mereka, dan keduanya merasa seperti ada perubahan yang tak terduga dalam dinamika antara sepasang mantan kekasih.


Tentu saja, ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam benak Laura tentang mengapa Regan melakukan semua ini, tetapi dia merasa bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Yang pasti, hari ini adalah hari yang berbeda di Perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2