
Pagi ini, matahari baru saja muncul dengan sinarnya yang hangat.
Prang!
Klontang!
Bugh!
Brughk!
Brak!
Dug!
"Aww..." terdengar suara merintih dari suatu tempat.
"Aww... ssh!" suara merintih Naomi bergabung dengan suara Iva.
"Berisik sekali! Kalian pagi-pagi sudah sedang apa sebenarnya?" tanya Vio, keluar dari kamarnya karena terganggu oleh keributan yang tidak kunIvag reda.
"Vio, kau sudah bangun? ingin sarapan apa? Bibi akan menyiapkan," kata Naomi.
Tidak lama kemudian, Laura muncul dari kamarnya setelah mendengar kebisingan yang terus berlanjut dari dapur.
"Kalian sedang apa? Ya Tuhan, kenapa bisa berantidakan seperti ini?" Laura terkejut saat melihat dapur dalam keadaan kacau balau.
"Bibi Naomi ingin memasak. Sudah tahu dia tidak bisa masak. Iva sudah mencoba memberitahunya, tapi tetap saja dia memaksakan diri."
Laura mendengarkan penjelasan Iva dengan cermat.
"Kalian berdua siap-siap! Biarkan ibu yang urus semuanya," kata Laura kepada anak kembarnya.
Vio dan Iva kembali masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Sementara itu, Naomi membantu Laura menyiapkan sarapan untuk mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba, bel rumah berbunyi, dan Naomi mengatidakan bahwa dia akan membukanya.
"Aku saja yang membukanya."
Ceklek!
"Selamat pagi!"
Ternyata, yang datang adalah Regan. Saat pintu berhasil terbuka, Naomi tiba-tiba terdiam, terpesona oleh ketampanan pria yang berdiri di hadapannya.
"Are you an angel?" lirih Naomi.
"Maaf?" tanya Regan kebingungan.
Naomi masih terpesona, matanya tidak berkedip saat menatap pria di depannya.
"Kau pangeran dari kerajaan mana? You are very handsome."
"Ayahh!!" Iva tiba-tiba berlari dengan gembira mendekati Regan.
"A-apa? A-ayah?!" Naomi terkejut dan bingung.
.
.
.
Saat ini, Naomi dan Laura berada di ruang tamu, menunggu anak-anak mereka yang sedang bersiap di kamar masing-masing, ditemani oleh Regan. Namun, ada sesuatu yang ingin Naomi klarifikasi.
"Kau berhutang penjelasan padaku." pungkas Naomi tiba-tiba.
"Penjelasan apa yang kau maksud?" tanya Laura bingung.
__ADS_1
"Kapan kau menikah? Kenapa tidak memberi tahu aku jika kau sudah menikah dengan pria tampan tadi, huh?! Jadi, ini adalah alasan kak Vano pulang dengan cepat ke Kanada. Kau mengkhianati kakak ku?"
"Apa maksudmu dengan menikah? Aku tidak menikah, Naomi."
"Lalu, siapa pria tampan tadi? Kenapa Iva memanggilnya ayah? Siapa lagi jika bukan suamimu. Huh?!"
"Dia memang bukan suamiku, Naomi. Wajar saja Iva memanggilnya ayah, karena dia adalah ayah kandungnya."
"Jika dia bukan suamimu, kenapa Iva memanggilnya ay-APA!! Apa yang kau katakan tadi? Ayah kandungnya?"
Laura mengangguk mengiyakan.
"Jadi... dia adalah pria yang kau ceritakan? Ayah kandung anak kembar itu?"
Sebelum Laura sempat menjawab, pandangan mereka teralihkan oleh kemunculan Regan yang turun dari tangga. Naomi bergumam secara tak sadar, yang ternyata terdengar oleh Laura.
"Laura, kau akan merugi jika kau tidak bersamanya. Dia sangat tampan. Jika kau tidak menginginkannya, untukku saja."
Ctak!
Aww...
Sentilan tiba-tiba mendarat di bibir Naomi.
"Jaga ucapanmu, Naomi!"
"Ck, kau sendiri yang mengatakan tidak ingin bersamanya."
"Lebih baik kau diam, Naomi. Mulutmu terlalu berisik."
"Laura, mari kita berangkat sekarang!! Anak-anak sudah menunggu," ajak Regan.
Laura mengangkat kepalanya, menatap Regan. Entah sejak kapan ia berdiri di depannya, dan kenapa ia terlihat sangat tampan!
__ADS_1