Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 26 - Pandangan Yang Berbeda


__ADS_3

Pria itu menoleh, bertepatan dengan jatuhnya berkas dari tangan Laura.


Regan menatap Laura dengan senyum yang sangat tipis. Tapi Laura menatapnya terkejut, dengan bibir yang sedikit terbuka. Memberi kesan menggemaskan untuk Regan.


Regan melangkah ke arah Laura. Sampai di depan Laura, dia menunduk, mengambil berkas yang terjatuh. Lalu, menyodorkannya di depan wajah Laura yang masih melongo setengah sadar.


"Kau menjatuhkannya." ucap Regan memutus keheningan.


Laura yang baru tersadar, mengerjapkan mata beberapa kali. Lalu, bergantian menatap Regan dan berkas di depannya.


Tidak ada respon dari Laura. Regan maju mengikis jaraknya dengan Laura. Laura tersentak dan melangkah mundur, Regan maju mendekat, hingga Laura terpojok di sebelah pintu.


"Ka-kau... I-ingin apa?" ucap Laura terbata.


"Kau lupa menutup pintunya, Sekretaris Laura!"


Regan menutup pintu ruangannya, tapi dirinya juga tidak berniat menjauhkan tubuhnya dari Laura. Regan malah semakin menatap lekat wajah Laura dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan kini wajah Regan berada 3 cm dari pipi kanan Laura, jika Laura menoleh sedikit saja, bisa dipastikan kecelakaan itu akan terjadi.


"Bi-bisakah k-kau ja-jauhkan wajahmu da-dariku!"


"Tidak bisa, sebelum kau memaafkan aku."


Wajah Regan semakin mendekat, tapi Laura segera mendorongnya menjauh.


Laura ingin mengumpati pria di depannya, tapi sudah lebih dulu suara pintu yang terbuka.


"Tuan muda Regan, rapat akan segera di mulai beberapa menit lagi." ucap Mila.


"Kau pergi lebih dulu saja. Aku akan menyusul!" ucap Regan.


Mila keluar ruangan setelah mendapat jawaban dari tuannya. Posisi Mila sendiri adalah sebagai sekretaris di perusahaan Regan, ia menyamar menjadi divisi yang bekerja di perusahaan Sean atas perintah Regan sendiri. Dan perangkap yang mereka buat berhasil membuat Laura masuk ke dalamnya.


"Kita lanjutkan nanti. Ayo, kita harus segera ke ruang rapat sekarang. Semua sudah menunggu."


Dalam hati Laura sudah mengumpati Regan dengan macam-macam nama binatang. Sudah terlanjur kesal sampai ubun-ubun dengan sikap Regan.

__ADS_1


...***...


Rapat telah selesai 25 menit yang lalu. Kini Regan sedang duduk manis di kursi kebesaran Sean. Sedangkan Laura, semenjak rapat selesai telah disibukkan dengan berkas-berkas sialan itu.


"Apa Laura sudah menyelesaikan laporannya?" tanya Regan pada Mila.


"Sepertinya belum, Tuan muda. Tadi Nona Laura masih sibuk keluar masuk ruangan untuk mengumpulkan laporan-laporan itu. Dan ini sebagian laporan dari saya."


"Kau letakkan saja di sana, nanti ku tanda tangani. Dan biarkan dibawa Laura sekalian."


"Baiklah. Saya permisi..." pamit Mila keluar dari ruangan Regan.


Di Ruangan Laura, hampir 4 jam Laura berkutik pada laptop dan berkas-berkas di mejanya. Bahkan ia melewati jam makan siangnya. Dan sekarang saatnya menjemput anak-anak di sekolah, tapi sebelum itu dia akan menyerahkan berkas-berkas sialan itu keruangan bosnya.


"Bos sialan!! Jika bukan adik dari atasanku, sudah ku bakar hidup-hidup dia." geram Laura.


Saat ini Laura berada di depan pintu ruangan CEO. Dia mengetuk pintu dan memasuki ruangan.


"Tuan, ini semua berkas yang anda minta!"


Regan tidak menjawab, dia menatap Laura menghiraukan berkas-berkas yang Laura sodorkan. Lalu, Regan berdiri berjalan mendekati Laura. Semakin Regan mendekat, Laura memundurkan langkahnya. Laura berusaha menghindar.


"Kau ingin ke mana? Ingin menjemput anak-anak?" tanya Regan.


Laura tidak menjawab. Nafasnya hanya terengah-engah menahan amarah.


"Aku sudah menyuruh asistenku menjemput anak-anak." ujar Regan.


Laura menoleh menatap Regan tidak percaya.


"Aku ingin kau tetap di sini." pungkas Regan. Ia sengaja membelai pipi Laura.


"Kau!!" Laura menggeram kesal dan menghempas tangan Regan yang menyentuhnya.


...***...

__ADS_1


Ternyata memang benar adanya, Asisten Regan, Elwin, telah menjemput kedua putranya. Kini mereka bertiga sedang dalam perjalanan.


"Paman, apa yang dan ibu sibuk sekali sampai tidak bisa menjemput kami?" tanya Iva.


"Iya. mereka sedang banyak pekerjaan di perusahaan. Kalian tahu jika paman Sean dan asistennya sedang ke Amerika. Jadi, ayah ibu kalian yang keteteran hari ini." kata Elwin menjelaskan.


"Paman, aku jadi ingin pergi ke perusahaan ayah." pinta Iva.


"Lain kali saja paman antar kalian kesana. Sekarang mereka sedang tidak bisa diganggu." ucap Elwin, berusaha menjelaskan dengan bahasa anak.


"Paman bisa membantu kami?" tanya Iva yang lebih banyak bicara dibandingkan Vio.


"Apa yang bisa paman bantu untuk kalian?"


"Bantu kami persatukan ayah dan ibu kembali. Bantu ayah mendapatkan maaf dari ibu. Dan buat ibu luluh kembali pada ayah." pinta Iva.


"Tidak bisa. Paman tidak perlu mendengarkan permintaannya!" timpal Vano.


"Uh?!" Elwin tampak berpikir keras ditambah terkejut dengan pernyataan Vio.


"Kenapa kak?" tanya Iva, menoleh menatap kebingungan ke arah kakaknya.


"Dia bukanlah Ayah kita! Aku hanya memiliki satu ayah, yaitu hanya ayah Vano!" tegas Vio.


"Tapi, ayah Vano hanya ayah sambung kita. Sedangkan, ayah kandung kita sendiri adalah Ayah Regan. Jadi, Ayah Regan lah yang lebih pantas diakui oleh anaknya sendiri." kata Iva.


"Apakah dia pantas untuk mendapatkan pengakuan dari kita? Apa kau tidak dengar cerita yang dikatakan ibu kita? Ayah yang ingin kau akui itu, bahkan meminta ibu untuk membunuh kita!" bentak Vio menjelaskan pada adiknya.


"Tapi, sekarang ayah sudah meminta maaf pada ibu." ucap Iva tidak terima.


Vano mendengarkan kata-kata adiknya dengan ekspresi serius. Dia kemudian menjawab dengan tegas, "Tapi, Ayah Regan bukanlah ayah sejati kita, Iva. Ayah Regan adalah ayah dari keluarga lain. Ayah kita yang sesungguhnya adalah yang memiliki kita sejak kita lahir."


Iva terlihat bingung dan mencoba menjelaskan, "Tapi Ayah Regan sangat baik pada kita, Vano. Dia sangat mencintai kita. Bahkan ayah sudah beberapa kali meminta maaf pada ibu."


Vano tetap kukuh dalam pendiriannya, "Semua kesedihan tidak bisa ditebus dengan kata maaf. Bertahun-tahun ibu kita sangat menderita. Aku tahu itu, Iva, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa Ayah Regan bukan ayah sejati kita. Kita harus tetap setia pada Ayah yang rela membesarkan kita sendiri."

__ADS_1


Elwin mencoba untuk menengahi, "Anak-anak, ini adalah situasi yang rumit. Kalian harus tahu bahwa kedua ayah kalian peduli pada kalian. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk bersama jika itu tidak terjadi secara alami."


Iva dan Vano masih memiliki pandangan yang berbeda tentang Regan, tetapi mereka mengerti bahwa situasinya rumit. Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan, merenungkan perasaan masing-masing tentang keluarga mereka.


__ADS_2